Jerat Cinta Pak Dosen

Jerat Cinta Pak Dosen
Bab 72


__ADS_3

"Azka gak punya mommy, Azka hanya punya bunda! Kamu tetap onty Azka karena onty teman ayah," bantah Azka.


"Azka mau pulang! Onty pembohong, katanya mau antar Azka ke rumah sakit tengok bunda sama adik Azka, tapi sampai malam Onty gak antar Azka!" teriak bocah berusia empat tahun itu sambil berdiri hendak keluar dari kamar itu.


"Azka malam ini tidur di sini dulu, besok pagi onty antar Azka ke rumah sakit. Ini sudah malam, Boy. Bagaimana?" Grace mencoba membujuk sang anak.


Janda Arshaka itu tetap menampilkan senyum manisnya agar anak anak luluh. Wanita itu ingin sekali tidur memeluk darah daging yang telah ditinggalkan begitu saja karena desakan orang tuanya. Mungkin ini adalah malam pertama juga terakhirnya bersama sang anak setelah beberapa tahun lamanya berpisah.


Dalam hati kecil Grace usahanya untuk mendapatkan hak asuh Azka akan gagal, mengingat betapa kejamnya dia meninggalkan anaknya yang masih merah saat itu. Meskipun begitu, dia juga merasa berhak untuk mengasuh sang anak, mengingat umur sang anak yang masih di bawah lima tahun.


Azka kini telah keluar dari rumah mewah itu sembari menggendong tas sekolahnya. Dia nekat akan pergi walau tidak diantar oleh wanita yang dianggapnya hanya sebagai teman sang ayah.


"Azka! Tunggu, ini sudah malam. Besok onty antar, sekarang tidur dulu," teriak Grace seraya mengejar sang anak yang kini telah berdiri di depan pintu gerbang.


"Pak Kus, tahan anakku! Jangan biarkan dia keluar!" perintah Grace pada satpamnya.


Wanita itu berhenti mengejar dan berteriak. Napasnya tersengal karena berlari mengejar sang anak. Jantungnya berdetak terlalu cepat, sehingga dadanya terasa sesak.


Setelah degup jantungnya terasa kembali normal, Grace berjalan pelan mendekati sang anak. Begitu sampai di depan Azka, dia berlutut untuk menyamakan tingginya dengan sang anak. Tangan ibu kandung Azka itu terulur, mengusap rambut bocah itu dengan penuh kasih.


"Azka, jangan pergi ke rumah sakit sendirian. Malam-malam seperti ini tidak baik keluyuran. Di luar sana banyak penc*lik yang mencari anak-anak yang berkeliaran di malam hari," ucap Grace menakut-nakuti sang anak.


"Tidak usah di luar sana, di sini pun ada penc*lik!" sindir Azka kesal dengan bibir mengerucut.

__ADS_1


Grace meringis mendengar ucapan sang anak yang mengatakan dirinya seorang penculik secara tidak langsung. Sang anak ternyata dididik dengan baik oleh ayah dan ibu sambungnya. Terbukti sejak tadi, anak itu pintar sekali menjawab setiap ucapannya.


Akhirnya, Grace memilih mengalah mengantarkan sang anak ke rumah sakit. Memaksakan bersama sang anak pun percuma karena anak itu tetap menganggap dirinya orang lain. Dia akan mendekati anaknya itu perlahan, agar Azka tidak menilai buruk padanya.


"Ok, onty akan antar kamu ke rumah sakit. Tapi, onty ganti baju dulu. Tidak mungkin, 'kan, ke rumah sakit berpakaian seperti ini?"


Azka mengangguk antusias dengan mata yang berbinar karena akhirnya dia bisa bertemu dengan orang tua dan adiknya.


Setengah jam kemudian, Grace keluar menggunakan baju kaos dan celana jeans panjang. Tak lupa hoodie dan snakers kesayangannya. Rambut coklatnya diikat ekor kuda, sehingga janda muda itu tampak seperti anak ABG.


"Siap berangkat?" tanya Grace begitu mereka sudah duduk di dalam mobil.


"Ready!" jawab Azka singkat seraya mengacungkan jempolnya.


Sepanjang perjalanan bocah kecil itu ngoceh, tiada henti bercerita. Semua teman dan orang-orang terdekatnya diceritakan, tidak ada yang terlewat. Otak anak itu sangat cerdas seperti sang ayah.


Grace tersenyum mendengar celotehan sang anak, sesekali dia menimpali ucapan sang anak. Matanya berkaca-kaca, terharu dengan kecerdasan dan kedisiplinan yang dimiliki oleh anak usia empat tahun itu.


"Azka bisa pandai seperti ini, siapa yang ajarin?" tanya Grace penasaran.


"Kadang ayah, kadang bubun, kadang juga Mbak Rina. Nggak tentu sih? Kalau ke rumah eyang, belajar juga sama eyang," cerita Azka antusias.


Ternyata kamu dikelilingi oleh orang-orang yang tepat, Nak.

__ADS_1


Mereka kini telah sampai di rumah sakit di mana Shaila dirawat. Grace menanyakan ruang rawat istri baru Arshaka. Namun, jam berkunjung sudah habis, sehingga mereka tidak diizinkan masuk untuk menjenguk.


Grace pun menghubungi Arshaka agar turun menemui mereka di lobi. Saat menunggu Arshaka datang, Azka mulai menguap karena sudah mengantuk. Wanita yang melahirkan Azka itu menawarkan pada sang anak untuk tidur di pangkuannya agar bisa tidur nyaman.


Azka menolak tidur di pangkuan wanita yang baru beberapa kali ini ditemuinya. Dia memilih duduk di kursi panjang yang ada di lobi rumah sakit dengan terkantuk-kantuk. Merasa lama menunggu, bocah kecil itu menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi, lalu kembali memejamkan mata sambil memeluk tasnya.


Arshaka turun ke lobi dengan tergesa-gesa karena sang istri baru saja tertidur, begitu juga dengan si kembar Zahran dan Zayyan. Sebelum turun ke lobi, ayah tiga anak itu meminta bantuan seorang perawat untuk berjaga di ruangan sang istri. Ayah muda itu takut si kembar tiba-tiba menangis saat dia menjemput anak sulungnya.


"Sorry, lama. Tadi nunggu perawat buat jagain mereka," ucap Arshaka begitu sampai lobi.


"Tidak masalah. Azka sepertinya sudah ngantuk berat. Sejak tadi minta diantar ke sini, aku gak tega. Jadi, mau tidak mau aku harus antar dia."


Ada rasa canggung di antara keduanya. Sebenarnya sudah tidak ada masalah lagi jika Grace tidak menuntut hak asuh Azka. Namun, tuntutan yang telah dilayangkan Grace membuat suasana menjadi canggung.


"Aku berharap masih ada kesempatan untuk mengenal dekat anakku. Bisa tidur memeluknya sepanjang malam. Namun, rasanya itu hanya mimpi karena dia menganggap aku hanyalah orang lain yang kebetulan numpang lewat di kehidupannya," ucap Grace menumpahkan keinginan yang telah lama dipendam seorang diri.


Arshaka terdiam, tidak bisa menimpali ucapan sang mantan istri. Dia juga bisa merasakan betapa sedihnya tidak diakui oleh darah daging sendiri. Terlepas dari kesalahan yang dilakukan, mereka tetap ibu dan anak.


"Seharusnya kamu lebih bersabar. Jangan hanya karena tidak bisa bersabar kamu kehilangan momen bersama Azka untuk selamanya! Dia anak yang kritis, setiap apa yang kita ucapkan harus jelas. Tidak mudah memang menghadapi anak yang kritis karena kita harus memiliki pengetahuan yang luas untuk menjelaskan setiap pertanyaan yang dia lontarkan," saran Arshaka bijak.


"Aku akan bersabar. Yaah, walaupun nanti aku gagal mendapatkan hak asuh itu. Aku masih berharap ada kesempatan untuk mengasuh anakku, walau terlambat."


"Kesempatan akan selalu datang. Hanya saja waktu yang kurang tepat dengan keadaan kita."

__ADS_1


__ADS_2