
Siang hari yang terik, Keenan baru saja memasuki ruangannya usai memberikan materi pada para mahasiswa di kampus tempat dia membagikan ilmu. Dahinya tampak bulir keringat yang semakin menambah sempurna ketampanannya.
Terdengar suara pintu diketuk dari luar, tanpa berprasangka apapun Keenan menyuruh masuk orang yang mengetuk pintu ruangannya.
"Ada apa?" tanya Keenan begitu mendengar ada suara langkah kaki mendekat, tetapi pandangan matanya tertuju pada laporan di tangannya.
"Dokter Keenan, saya membawakan makan siang untuk Dokter. Ini hasil masakan saya sendiri, silakan dicicip," ucap Laras seraya meletakkan paper bag berisi beberapa kotak makanan.
Gadis dewasa yang memiliki tubuh proporsional itu mulai mengeluarkan kotak makannya satu persatu dan meletakkannya di atas meja kerja Keenan, yang sebelumnya sudah dia bereskan. Dokter baru itu kebetulan masuk jam dua siang, sehingga dia menyempatkan diri untuk memasak. Tentu saja tujuan utamanya memasak untuk menarik perhatian pemilik rumah sakit.
Tak lupa minuman kesehatan yang dia buat tadi pagi juga dia letakkan di atas meja. Kemudian, Laras mulai membuka kotak makan itu satu persatu. Bau harum masakan memenuhi rongga hidung Keenan yang belum sempat makan siang.
"Saya sudah makan tadi di kampus, jika kamu ingin makan silakan. Saya tidak melarang kamu untuk makan di ruangan saya. Alangkah lebih baiknya, kamu makan di meja sebelah sana karena saya mau bekerja," ujar Keenan sembari tangannya menunjuk ke arah set sofa tak jauh dari meja kerjanya.
Baru saja Keenan, diam. Ternyata perutnya tidak bisa diajak kerja sama. Terdengar suara bunyi perut keroncongan dari tubuh pemilik rumah sakit GH (Guinandra Hospital) itu, tanda bahwa dia lapar.
"Tidak usah malu-malu, Dokter. Saya ikhlas kok berbagi makanan dengan Dokter Keenan. Kerja sih boleh saja, tetapi kesehatan juga harus diperhatikan," ledek Laras dengan senyum mautnya. Jika Keenan belum menikah mungkin dia akan sulit menolak pesona dokter baru itu.
Tak peduli dengan penolakan sang atasan, Laras tetap melanjutkan menikmati makan siangnya. Ekspresi gadis itu saat makan, membuat Keenan pun tertarik ingin ikut makan, tetapi dia harus menahan diri untuk menjaga image.
"Tidak usah malu atau jaim, Dok. Kalau kepengen makan saja, saya masak banyak hari ini. Saya tidak menaruh racun atau pelet dalam masakan saya, kok!" Laras kembali mengeluarkan suara di sela makannya.
__ADS_1
Setelah berpikir sejenak, Keenan pun ikut makan masakan yang dibawa oleh dokter baru itu. Ternyata masakan Laras tidak kalah enaknya dengan masakan sang istri. Tiba-tiba saja dia teringat oleh istri kecilnya yang berada di propinsi sebelah.
"Jangan sungkan, Dok! Ayo cepat habiskan keburu asisten Dokter datang dan menghabiskan semuanya sendiri," ajak Laras agar Keenan segera menghabiskan makan siangnya.
Keenan merasa ingin menenggelamkan dirinya di kutub selatan, dari pada selalu mendapat cibiran dari anak buahnya itu. Namun, itu tidak mungkin karena jarak antara Jakarta dengan kutub selatan sangatlah jauh.
Dengan perlahan, akhirnya nasi beserta lauk di depannya sudah habis. Masakan Laras sangatlah enak sehingga banyak teman sejawatnya yang menyukai masakannya. Baru beberapa minggu bekerja di Guinandra Hospital, sudah banyak tenaga medis di sana menyukai masakan Laras.
Gadis itu sangat mahir masak sejak kecil karena ibunya seorang chef yang memiliki sebuah restoran. Laras bercita-cita menjadi dokter karena sang ibu yang divonis kanker rahim saat usianya menginjak tiga belas tahun. Namun, ibunya meninggal karena kecelakaan beberapa bulan yang lalu bersama dengan sang ayah.
Orang tua Laras dan Bram meninggal dalam kecelakaan pesawat saat melakukan perjalanan bisnis. Ayahnya seorang pengusaha makanan instan yang diekspor ke mancanegara, sehingga sering melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri. Sepeninggal orang tuanya, bisnis keluarga itu dikelola oleh sang paman.
***
Shaila mematikan kompor lalu menyambut sang anak. Tangannya meraih kertas yang berisi hasil karya sang anak. Istri Shaka itu melihat gambar seorang anak dengan orang dewasa di kanan-kirinya.
"Ini siapa, Sayang?" tanya Shaila seraya menunjuk gambar laki-laki di sebelah kanan.
"Ini ayah, Bun. Terus ini Mamas Azka, ini Bubun gendong adik bayi," jawab Azka dengan polosnya, anak itu minta dipanggil Mamas begitu tahu akan memiliki adik.
Shaila tersenyum mendengar jawaban anak sambungnya. Anak kecil itu sangat tulus padanya, sehingga ibu dan anak sambung itu sudah memiliki ikatan batin dan terlihat bagai anak dan ibu kandung.
__ADS_1
"Mamas Azka sayang gak sama ayah, bunda dan adik?" tanya Shaila sembari mengajak anaknya ke kamar untuk mengganti pakaiannya. Namun, sebelumnya dia meminta asisten rumah tangganya untuk melanjutkan memasak untuk makan siang nanti.
Sambil menemani sang anak berganti pakaian, Shaila bertanya apa saja kegiatan bocah itu di sekolah tadi. Hari ini bocah itu pulang lebih cepat dari biasanya, sehingga ibu muda itu banyak bertanya pada sang anak.
Bocah yang baru mengenyam pendidikan PAUD itu bercerita banyak tentang kejadian apa saja yang dilihatnya selama sekolah tadi. Tak lupa dia juga bercerita tentang kejadian selama di perjalanan pulang dan perginya. Azka sangat antusias bercerita pada sang ibu karena ibunya adalah seorang pendengar yang baik.
Shaila mendengarkan cerita anaknya dengan sesekali menimpali dengan pertanyaan agar anak merasa diperhatikan dan disayangi. Bagi istri Arshaka, bercerita dan bermain bersama anak-anak akan bisa menambah kecerdasan sang anak. Di usia Azka saat ini adalah masa keemasan seorang anak, dia akan menyerap setiap kata dan perbuatan yang dilihatnya.
Sebagai orang tua, Shaila tidak ingin melewatkan masa keemasan sang anak begitu saja. Di usia saat inilah dia harus lebih dekat dengan anak, walaupun kadang ulah sang anak membuatnya kewalahan. Masa keemasan, anak akan lebih aktif bertanya dan bergerak. Tentu saja orang tua kadang merasa tidak sanggup menghadapi anak yang hiperaktif.
Anak-anak yang hiperaktif hanya perlu didampingi dalam setiap kegiatannya. Orang tua hanya mengarahkan dan memberi contoh yang baik, maka anak dengan sendirinya akan mengikuti apa yang kita ucapkan dan lakukan.
Tidak perlu merasa terbebani dengan keaktifan anak, karena anak yang aktif menunjukkan bahwa anak itu sehat dan cerdas. Jika anak hanya diam saja, kita malah harus merasa khawatir dan curiga. Mungkin anak dalam keadaan sedang tidak baik-baik saja, entah itu kesehatan badannya atau pun mentalnya.
Selesai bercerita dan berganti pakaian, Shaila mengajak sang anak untuk makan siang.
"Mamas Azka sudah lapar, belum?" tanya Shaila begitu mereka telah sampai di dapur.
"Mamas mau tunggu ayah pulang, Bun. Kita makan sama-sama," sahut bocah kecil itu, membuat mata Shaila berkaca-kaca terharu.
Tak lama kemudian, terdengar suara bel berbunyi tanda ada tamu yang datang. Shaila bergegas berjalan ke pintu utama, diikuti oleh sang anak.
__ADS_1
"Siapa, Bun?" tanya Azka begitu sang ibu membuka pintu.