Jerat Cinta Pak Dosen

Jerat Cinta Pak Dosen
Bab 14


__ADS_3

Shaila membawa mobilnya yang diberikan oleh sang ayah saat usianya genap 18 tahun, tetapi mobil itu tidak pernah dipakai. Gadis itu lebih suka naik bus atau kereta jika bepergian. Berbanding terbalik dengan sang ibu yang anti menggunakan kendaraan umum sejak kecil.


Shaila dan Shania sendiri memiliki kesamaan, yaitu gaya hidup sederhana. Keduanya tidak menampakkan harta yang dimiliki oleh orang tua. Namun begitu, Shania lebih terbuka sehingga memiliki banyak teman.


Berbanding terbalik dengan sang kakak, si adik lebih suka menyendiri dan menutup diri. Walaupun begitu keduanya tidak pernah meributkan segala sesuatu, saling berbagi dan saling membantu.


Setelah menempuh perjalanan selama tujuh puluh menit, Shaila sampai juga di rumah sang suami. Tadi saat di jalan anak sambungnya minta dibelikan donat dan ice cream, sehingga waktu untuk sampai rumah menjadi sedikit lebih lama.


Arshaka langsung keluar begitu mendengar suara mobil berhenti di car port. Laki-laki itu merasa tidak memiliki janji temu dengan siapa pun. Rasa penasaran yang tinggi membuat dia mempercepat langkahnya agar segera sampai di teras.


"Ayah, lihat ini! Bubun beliin Azka donat banyak banget," teriak Azka begitu turun dari mobil, tak lupa membawa kotak yang berisikan donat.


"Azka, ja ...."


Bruugh!


Azka terjatuh karena tersandung kaki sendiri dan donat pun berhamburan keluar dari kotak. Bocah kecil itu sangat antusias memperlihatkan kue yang tadi dibeli oleh ibu sambungnya. Selama ini dia jika meminta sesuatu hanya dibelikan khusus untuk dia.


Berbeda dengan sang ibu sambung yang membeli beberapa kotak donat dengan alasan berbagi dengan orang lain. Tidak hanya dibawa pulang untuk ayah dan pengasuh, tetapi orang-orang di pinggir jalan pun diberi oleh ibu sambungnya itu.


Shaila reflek berlari mendekati Azka, membantu memungut donat yang berceceran. Gadis itu mengumpulkan donat menjadi satu lalu mengambil wadah untuk dibuang ke tempat sampah. Di kotak yang dipegang Azka masih ada dua buah lagi, sehingga anak itu tampak cemberut.


"Yaahh, punya Azka habis donatnya, Bun," adu Azka dengan mata berkaca-kaca, seakan tak rela donat yang kotor tadi dibuang ibu sambungnya.


"Di mobil masih ada lagi, 'kan tadi kita beli banyak. Jangan nangis! Anak laki-laki harus kuat," sahut Shaila menenangkan sang anak. "Lain kali jangan lari, cukup jalan saja. Tidak ada yang kejar, bukan?"

__ADS_1


Shaila kembali ke mobil untuk mengambil sisa donat yang dibelinya tadi. Setelah itu dia membawa masuk dan diletakkan di meja makan. Tak lupa meminta bantuan Rina untuk memindahkan donat ke dalam wadah agar tidak keras saat disimpan di kulkas.


Sebelum semua dimasukkan dalam wadah penyimpanan, Shaila terlebih dahulu menyisihkan untuk suaminya. Saat akan membawa ke kamar ternyata sang suami sudah menuju ke dapur.


"Kalian dari mana? Kenapa pergi nggak pamit?" tanya Arshaka dengan wajah datarnya.


"M-maaf, Pak. Tadi kami ke rumah daddy antar Kak Shania sekalian ambil mobil saya," sahut Shaila sembari meminta maaf dengan kepala tertunduk.


"Lain kali kalau mau keluar rumah izin dulu. Sekarang kamu sudah bersuami, bukan anak lajang lagi yang bisa bebas berkeliaran ke mana kamu suka. Sekarang mandi sana, sebentar lagi Maghrib," nasehat Shaka mengingatkan istri kecilnya.


"Baik, Pak. Oh iya, ini ada donat untuk Bapak," ujar Shaila sambil meletakkan satu piring donat di depan Arshaka.


Setelahnya Shaila langsung melesat ke dalam kamar untuk sekedar mencuci muka karena tadi sudah mandi di rumah orang tuanya sebelum pulang. Setelah itu keluar dari kamar mencari anak sambungnya yang kini entah dimana setelah mendapat satu kotak donat.


Shaila yang tidak tahu menahu tentang itu membebaskan Azka makan apa saja hari ini. Tanpa dia tahu akibatnya pada bocah tiga tahun itu.


Tiba-tiba terdengar rintihan dari mulut mungil bocah laki-laki itu. Azka meringis menahan sakit sambil memegangi perutnya. Wajahnya tampak pucat dengan buliran keringat sebesar jagung.


"Astagfirullah, Azka! Kenapa kamu makan donat sebanyak ini?'' teriak Shaka karena terkejut mendapati sang anak yang meringkuk kesakitan.


Shaka langsung membopong anaknya menuju mobil hendak membawa Azka ke rumah sakit anak terdekat. Shaila yang baru saja turun dari kamar penasaran melihat wajah panik sang suami. Gadis itu pun berinisiatif mengejar suaminya itu.


Shaka mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi karena tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada anaknya. Hanya butuh waktu sepuluh menit mereka sampai di rumah sakit anak tak jauh dari tempat tinggal. Laki-laki itu langsung membopong anaknya menuju UGD.


Mereka sudah disambut oleh beberapa tenaga medis sebelum sampai UGD. Azka dibaringkan di atas brankar lalu didorong masuk ke UGD dan diikuti oleh Shaka DNA dan istrinya.

__ADS_1


Seorang dokter sudah menunggu di dalam UGD dan siap memeriksa Azka. Bocah kecil itu masih merintih merasakan sakit pada perutnya. Dokter itu menanyakan keluhan Azka.


"Apa yang dimakan anak Bapak tadi siang?"


Arshaka langsung menoleh pada Shaila seolah bertanya makanan apa yang dia berikan pada Azka, sehingga anak itu kesakitan.


"Tadi siang dia makan es krim dan kue donat, Dok," jawab Shaila.


"Seberapa banyak yang dikonsumsinya?"


"Seberapa banyak saya kurang tahu karena dia langsung menjauh begitu mendapat es krim dan kue donat. Saya tidak berada di sampingnya terus karena saya masih ada kegiatan lainnya. Saya pikir dia diam berarti keadaan aman," jelas Shaila merasa bersalah karena kurang perhatian pada anak itu.


Dokter itu mengangguk paham, dia mengira yang menjaga bocah itu belum berpengalaman sehingga wajar melakukan kesalahan.


"Anak Bapak harus menjalani rawat inap beberapa hari, nanti setelah keadaan membaik baru boleh pulang. Silakan urus administrasinya untuk ruang rawat yang dipilih," ujar dokter jaga itu sebelum meninggalkan mereka.


Arshaka bergegas mengurus administrasi agar anaknya segera dipindahkan ke ruang rawat. Lebih cepat masuk ke ruang rawat lebih nyaman dari pada harus di UGD, dimana pasien banyak yang baru datang.


"Lain kali perhatikan apa yang dia makan, walaupun dia bukan anakmu. Setidaknya ada rasa peduli pada orang lain, agar nantinya ada yang peduli dan menolong kamu atau anakmu kelak," ucap Shaka dingin.


Shaila terdiam, hatinya terasa ditusuk duri. Pedih. Bukan maksudnya untuk tidak peduli pada bocah itu. Dia tadi sedang sibuk mengemas barang-barangnya yang akan dibawa ke rumah sang suami.


"Kalau dia seperti ini, apa aku sanggup bertahan? Lebih baik barang-barang itu tetap di rumah daddy. Nanti kalau aku sudah bercerai dengan dosen Gagak ini, baru aku ambil."


__ADS_1


__ADS_2