Jerat Cinta Pak Dosen

Jerat Cinta Pak Dosen
Bab 25


__ADS_3

"Bukan! Bukan seperti itu maksud saya, Shaila," sahut Shaka cepat, sepertinya dia salah berbicara karena tiba-tiba istrinya langsung nyolot.


"Kalau bukan lalu apa, Pak? Bapak bebas janjian bertemu dengan wanita mana pun, saya chatting hanya sekedar bertanya kabar sudah dilarang. Helloooo apa kabar jika saya bertemu dengan laki-laki lain sambil berpegangan tangan dengan mesra, pakai acara nyelipin anak rambut ke belakang telinga," cerocos Shaila dengan tatapan nyalang.


Shaila meninggalkan suaminya begitu saja. Sebenarnya dia tidak ingin meributkan hal ini karena dengan begini sang suami mengira dirinya cemburu. Gadis itu hanya ingin keadilan untuknya, jika dia harus menjauhi laki-laki di luar sana, maka Arshaka pun juga harus menjauhi wanita lain.


Arshaka memilih duduk di tempat dari pada mengikuti istri kecilnya masuk ke kamar. Saat matanya memindai ruangan itu, pandangannya terkunci pada brownis di atas meja makan. Dia lalu mengambil pisau untuk memotong kue berbahan dasar ketan hitam itu.


Dosen muda itu membawa kue itu ke depan televisi, tak lupa secangkir kopi hitam panas. Sambil menonton televisi, ayah Azka itu menikmati sorenya dengan secangkir kopi dan kue buatan istri.


Shaila masih tidak mau berbicara dengan sang suami usai kejadian tadi sore. Makan malam pun hanya terdengar celotehan Azka yang ditimpali sesekali oleh orang tuanya. Saat tidur, gadis itu malah memilih kamar anak sambungnya dibanding dengan sang suami.


Sebelum subuh Shaila sudah bangun lalu pindah ke kamarnya bersama suami gagaknya. Dia bergegas mandi lalu berwudhu untuk menunaikan shalat subuh karena selesai mandi bertepatan dengan adzan subuh. Gadis itu membangunkan sang suami dengan meneteskan air sisa wudhu yang ada di tangannya.


"Bangun, Pak! Sudah adzan, nanti kesiangan," ucap gadis itu seraya mengibaskan tangannya, lalu memasang sajadah dan memakai mukenanya.


Tanpa menunggu sang suami, Shaila langsung menunaikan shalat subuh dan qobliyahnya. Sementara itu, Shaka langsung melesat ke kamar mandi begitu bangun. Laki-laki itu keluar dari kamar mandi saat istri kecilnya sedang berdo'a.


"Bubun, kita jadi pergi ke acara wisuda ayah?" tanya Azka pada sang ibu sambung.


Saat ini Shaila sedang menyiapkan sarapan simple untuk suami dan anak sambungnya, yaitu omlet dan mashed potato. Gadis itu meletakkan piring berisi omlet dan mashed potato di meja makan, lalu menatap sang anak untuk menjawab pertanyaannya.


"Jadi, Sayang. Sekarang kamu mandi sama Mbak Rina, ya. Pakai baju yang kemarin Bubun kasih lihat," jawab Shaila dengan suara lembut seorang ibu.

__ADS_1


"Siap, Bun!"


Bocah kecil itu langsung berlari mencari pengasuhnya yang sedang menyiapkan semua perlengkapan yang akan dibawa ke acara bersejarah nanti. Azka menurut saja apa yang dikatakan ibu sambungnya tadi.


Shaila sendiri memilih ke kamar untuk bertukar pakaian dan memoles wajahnya dengan make up tipis yang natural. Sebelum itu dia mencuci wajahnya agar terlihat segar baru mengaplikasikan make up. Gadis itu terlihat lebih dewasa dari umur yang sebenarnya.


"Sudah cantik! Ayo sarapan dulu, sudah ditunggu tuh sama Azka," ujar Shaka dari gawang pintu kamar.


Shaila hanya tersenyum tipis mendapat pujian dari sang suami. Dia tidak ingin besar kepala karena pujian sederhana itu. Gadis itu bergegas menyusul sang suami setelah mengambil tas tangan yang berisikan gawai, make up dan tisu.


Selesai sarapan mereka bertiga langsung berangkat ke kampus menggunakan mobil Arshaka. Orang tua dosen muda itu sudah berada dalam perjalanan menuju kampus sang anak. Mereka janjian bertemu di pintu masuk gedung pertemuan yang digunakan sebagai tempat wisuda.


Sesampainya di gedung itu, Arshaka memisahkan diri setelah menjelaskan apa saja yang harus keluarganya lakukan nanti saat acara dimulai. Arshaka sendiri harus melakukan presensi dan mencari barisan teman-temannya satu jurusan.


Acara berjalan lancar tanpa hambatan apapun. Ternyata Arshaka dinobatkan sebagai lulusan terbaik dengan nilai cumlaude. Dia pun dipersilakan untuk memberikan kata sambutan di atas mimbar.


Sementara itu, di atas sebuah taksi dalam perjalanan menuju kampus di mana Arshaka menempuh pendidikan magisternya selama ini. Wanita berwajah bule itu beberapa menit yang lalu baru saja mendarat di bandara Yogyakarta Internasional Airport. Dia datang dari jauh hanya untuk bertemu seseorang yang sampai saat ini masih bertahta di hatinya.


Wanita itu sengaja menuju ke kampus di mana Arshaka menempuh pendidikan. Dia mendengar kabar jika laki-laki yang ingin dilupakannya hari ini menjalani wisuda magister. Gadis itu sengaja datang hanya untuk mengucapkan selamat pada sang mantan.


Kembali ke kampus tempat acara wisuda dilaksanakan, tampak seorang wanita cantik turun dari mobil. Dia datang ke acara wisuda dengan sebagai kejutan. Terlalu sering mengganggu saat sang mantan memadu kasih dengan istrinya, dia merasa berhutang budi pada sang mantan.


"Ma, Shaila ke toilet sebentar ya," pamit Shaila pada sang mertua. Tak menunggu lama, Shaila langsung bergegas ke kamar mandi tanpa menoleh sedikit pun.

__ADS_1


"Iya, Sayang. Nanti langsung ke mobil saja kalau tidak bisa menemukan kami di sini," sahut Mama Nenti.


Arshaka akhirnya bisa keluar dari ruangan yang luas itu. Matanya menyapu setiap anak berpakaian sama dengan baju yang dipakai seraya menyerahkan topi.


"Hai, Ar! Happy graduation ya, semoga cepat dapat kerjaan dan semakin sukses di dunia," ujar seorang wanita yang masih berharap bisa berjodoh dengan Arshaka.


Wanita itu menyerahkan buket bunga dan buket jajanan pada Arshaka. Tanpa diduga, gadis itu mencuri ciuman pipi dari laki-laki muda itu. Suami Shaila itu terkejut karena tiba-tiba sang mantan bisa menciumnya.


Tak hanya sampai di situ, tiba-tiba datang wanita berparas bule menghampiri dua orang yang sudah tidak memiliki hubungan itu. Wanita itu langsung memeluk Arshaka begitu berada di depannya.


"Kaka, i miss you!" jerit wanita itu.


"Happy graduation, semoga ilmu yang didapat bisa bermanfaat untuk semua orang," ucap wanita sambil memeluk dan berakhir dengan cipika-cipiki.


Shaila melihat ada seseorang mendekati sang suami lalu mencium dan memeluknya. Dadanya sakit sekali melihat sang suami tidak menjaga batasannya, padahal baru kemarin mereka membahas itu.


Ingin melihat lebih jelas wajah para wanita yang mengejar sang suami, Shaila terpaksa berjalan dengan berjingkat agar tidak ada mengabari. Betapa terkejutnya dia melihat orang yang sangat dikenalnya itu tengah bergelayut manja di lengan Shaka.


Shaila pun meninggalkan gedung itu tanpa sepengetahuan suami dan mertuanya. Dia butuh waktu untuk memikirkan langkah apa yang akan diambil selanjutnya. Berpisah adalah jalan terbaik menurut Shaila.


*


*

__ADS_1


*



__ADS_2