
"Mama hanya mengeluarkan isi hati dan pikiran Mama saja. Memang tidak boleh?" sahut Mama Nenti yang tidak mau mendengar protes sang anak.
Arshaka memilih diam karena percuma juga melawan ibunya. Selalu saja ada cara sang ibu untuk membungkam mulut anak dan suaminya. Namun begitu, dia begitu menyayangi wanita yang telah melahirkannya itu.
Nathan membawa anak bungsunya pulang ke rumah. Dia harus tahu perasaan sang anak saat ini. Baginya tak masalah jika anak-anaknya menikah di usia muda dari pada berbuat dosa dan membuat malu keluarga.
"Loh, tumben belum weekend kamu sudah pulang?" tanya Dewi heran melihat si bungsu masuk ke dalam rumah.
"Pengen aja!" jawab Shaila ketus. Gadis itu memang kurang cocok dengan ibunya.
"Anak pulang bukan disambut dengan baik, malah diajak berantem," cetus Nathan seraya berjalan memasuki kamar.
Dewi hanya memutar bola matanya malas menghadapi suami dan anaknya yang tidak pernah sependapat dengan dia. Selalu saja alasan untuk berakhir dengan pertengkaran. Tidak pernah ada yang mau mengalah untuk meredam emosi, semua merasa benar.
Sementara itu di rumah Arshaka, Azka sedang mengamuk karena kehilangan bubunnya. Yang dimaksud bubun yaitu Shaila. Gadis itu pulang tanpa pamit pada anak dosennya sehingga bocah itu merasa kehilangan.
"Ayah, cepat cari bubun! Nanti bubun nggak balik ke sini lagi kalau kelamaan nemuin dia," rengek Azka pada sang ayah.
"Bubun itu apa Rin? Makanan atau mainan?" tanya Arshaka bingung dengan ucapan sang anak yang memintanya mencari bubun.
"Dasar kudet! Pak dosen nggak tahu bahasa anak gaul. Bubun itu bunda, Shaka!" sahut Mama Nenti menimpali.
"Astaghfirullah ... siapa yang dimaksud bubun? Apa dia ingin bertemu ibunya?"
Kepala Arshaka dipenuhi dengan berbagai pertanyaan juga prasangka.
Azka akhirnya menjelaskan apa itu bubun dan siapa yang dipanggil bubun. Bocah kecil itu dengan kesal menjelaskan pada sang ayah karena sejak tadi diajak ngomong tidak pernah nyambung.
__ADS_1
"Azka 'kan sudah punya mommy, kenapa masih cari bubun?" Arshaka harus bertanya alasan sang anak memanggil wanita yang baru dikenal dengan sebutan bunda, lebih tepatnya bubun.
"Karena yang ada di dekat Azka itu bubun bukan mommy," jawab bocah kecil itu sedikit terbata karena tidak tahu harus menjawab apa. Dadanya bergemuruh bak genderang perang.
Rina sang pengasuh dengan sukarela menjelaskan pada sang majikan. Sebenarnya dia sangat ingin mengatakan jika majikan kecil yang telah diasuhnya itu merindukan sosok seorang ibu, tetapi dia takut dikira lancang.
"Baru kali ini Den Azka begitu lengket dengan wanita yang baru dikenalnya. Selama ini dia selalu susah didekati oleh orang yang baru pertama bertemu. Di sekolah Den Azka juga tidak begitu banyak temannya, Nyonya." Rina menceritakan semua tentang majikan kecilnya.
Mama Nenti mengangguk dengan wajah datarnya, menutupi jika dalam otaknya saat ini sedang memikirkan cara menyatukan Shaila dengan Arshaka. Jika anaknya itu tidak mau berjuang, ibu dari Arshaka itu berjanji yang akan memperjuangkan kebahagiaan untuk sang anak.
Shaila berbeda jauh dengan ibu Azka, Graciela. Jika Shaila terlalu polos maka Gracie kebalikannya. Mantan istri Arshaka sudah begitu berpengalaman soal cinta dan pacaran.
Wajar saja jika Mama Nenti langsung jatuh cinta pada gadis remaja itu. Di jaman sekarang mencari gadis yang cantik luar dalam dan pintar memasak itu sangat sulit. Bagaikan mencari jarum dalam tumpukan jerami.
"Besok kita cari bubun di kampus tempat ayah mengajar, tapi sekarang kamu tidur dulu. Sudah malam," bujuk Shaka pada sang anak agar mau tidur.
Pagi hari, Azka terbangun di saat langit masih gelap. Bocah kecil itu sudah tidak sabar untuk bertemu bubunnya. Benar-benar tidak bisa jauh dari wanita yang dalam sehari bertemu dua kali.
Dengan terpaksa, Shaka membawa lagi anaknya ke kampus. Sebenarnya dia tidak ada jadwal kelas hari ini, ke kampus hanya untuk menyiapkan bahan yang akan dipakai untuk mengisi kelas di pertemuan yang akan datang. Selain itu dia juga akan mengkoreksi tugas yang telah dikumpulkan para anak didiknya.
Shaka membawa sang anak ke kantin setelah merengek minta diantar mencari Shaila. Berhubung laki-laki itu tidak tahu jadwal kuliahnya, dia membawa Azka ke kantin berharap bertemu di sana.
"Az, ayah ke toilet sebentar. Kamu di sini sama ... mm ... Rey bisa kamu jaga anakku sebentar? Saya akan ke toilet sebentar."
Shaka meminta bantuan salah satu mahasiswa untuk menjaga anaknya.
Shaka bergegas ke kamar mandi yang letaknya sekitar lima belas meter dari kantin. Pria itu tidak bisa meninggalkan anaknya terlalu lama. Pasti anak kecil itu akan membuat ulah.
__ADS_1
"Adoohhhh!"
Samar terdengar di telinga Shaka seseorang mengaduh dari bilik kamar mandi perempuan. Namun, setelah beberapa saat di keluar dari toilet tidak ada suara kaki melangkah atau suara orang. Kamar mandi itu benar-benar sepi.
Rasa penasaran yang menyelimuti membuat dosen muda itu nekat masuk ke kamar mandi perempuan yang ada di sebelah toilet pria. Dia berjalan dengan mengendap-endap karena takut ada seseorang yang sedang berganti pakaian atau sedang buang air.
Arshaka terkejut begitu melihat mahasiswa kesayangannya terduduk di lantai kamar mandi. Laki-laki itu mendekati hendak menolong. Baru saja tangannya terulur ke bawah tubuh sang mahasiswa, terdengar suara beberapa perempuan berjalan mendekat
"Hah! Kalian sedang apa?"
"Wah! Nggak beres ini, masak dosen berani merawani mahasiswanya di toilet," ucapan salah seorang mahasiswa laki-laki yang kebetulan lewat.
Semua mahasiswa yang melihat kejadian itu terus mendesak Shaka dan Shaila mengaku telah melakukan perbuatan tidak terpuji di dalam kamar mandi. Mereka hanya melihat sekilas, saat Shaka membantu Shaila berdiri yang jika dilihat dari jauh seperti orang berciuman. Oleh karena itu Shaka dan Shaila tidak mau mengakui karena mereka tidak melakukan hal yang dituduhkan para mahasiswa yang kebetulan datang.
Salah satu mahasiswa laki-laki memutuskan mengadukan hal ini pada rektor dari pada debat kusir tiada habisnya. Shaka sendiri memilih membopong Shaila karena kakinya terkilir saat terpeleset di depan kamar mandi. Selain kaki terkilir, bo**ngnya pun sakit beradu dengan keramik.
Shaka membawa Shaila ke ruang kesehatan agar cepat diberikan pertolongan pertama oleh dokter jaga. Kampus itu memiliki fasilitas ruang kesehatan dengan dokter jaga di jam kerja. Walaupun hanya dokter umum, setidaknya bisa memberikan pertolongan pertama sebelum sakit makin parah.
Rektor yang mendapat aduan seorang mahasiswa, langsung melakukan tindakan segera. Beliau memanggil Arshaka dan Shaila agar menghadap ke ruangannya saat ini juga. Tidak perduli apapun alasan dan keadaan mereka berdua.
"Bikin rusak nama baik kampus saja!"
*
*
*
__ADS_1