Jerat Cinta Pak Dosen

Jerat Cinta Pak Dosen
Bab 59


__ADS_3

Shania terkulai lemas tak berdaya setelah mendapat kunjungan dadakan dari sang suami. Rencana mau masak untuk makan malam bersama sang suami pun urung dilakukan. Istri Keenan itu sudah dapat dipastikan tidak sanggup lagi berdiri setelah melayani hidangan pembuka sang suami.


Keenan yang sudah lama menahan hasrat, akhirnya bisa menyalurkan pada ladang halalnya. Tidak cukup sekali mendaki nirwana, dokter muda yang masih memiliki stamina yang prima menggempur sang istri sampai terkapar tak berdaya. Untuk ke kamar mandi saja perempuan yang dua bulan lalu dinikahi oleh Keenan itu tak sanggup berdiri apalagi memasak.


Keenan turun ke dapur untuk melihat apakah ada yang dimakan atau tidak. Sejak masuk ke kamar baru ini dia keluar setelah tiga jam mengurung diri bersama istri. Lampu di dapur sudah temaram, sepertinya Mbok Iyem sang asisten sudah masuk ke kamarnya sehingga semua lampu di ruangan lantai bawah sudah mati, menyisakan lampu temaram.


Di meja makan masih ada makanan yang tertutup tudung saji. Makanan itu sudah mulai dingin. Suami Shania itu mulai memanaskan lauk sebentar untuk sekedar hangat saja.


Selesai menghangatkan lauk, laki-laki itu mengisi piring dengan nasi beserta lauk pauknya. Keenan membawa makanan dan minuman ke kamarnya menggunakan nampan agar mudah membawa. Begitu dia masuk, sang istri sudah selesai mandi dan duduk di depan meja rias sedang mengeringkan rambut.


"Sayang, ayok makan dulu. Kamu pasti sudah lapar karena lelah habis menyenangkan suami," ucap Keenan seraya meletakkan nampan yang dibawanya ke atas meja.


"Sebentar, rambutku belum kering," sahut Shania yang sedang mengarahkan hairdryer ke kepalanya.


Setelah menyimpan nampan berisi makan dan minum, dia bergegas membantu sang istri mengeringkan rambut dan mengikatnya setelah kering.


"Sudah cantik, yuk makan!" ucap Keenan sembari mengecup puncak kepala sang istri.


Mereka berjalan menuju sofa panjang yang tidak jauh dari ranjang. Keduanya lalu duduk berdekatan karena makan dari piring yang sama. Mereka saling menyuapi satu dengan yang lainnya, sehingga jika orang yang tidak tahu bagaimana rumah tangga mereka sebelumnya tidak akan percaya.

__ADS_1


Baru beberapa kali suap, tiba-tiba saja Shania menghentikan makannya karena merasa mual. Istri Keenan itu berlari ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya. Melihat sang istri yang tidak baik-baik saja, Keenan membuntuti sang istri.


Dokter muda itu memijit tengkuk Shania perlahan, lalu mengusap punggung sang istri untuk membantu meringankan sang istri. Setelah dirasa tidak ada lagi yang dimuntahkan, Keenan segera mengambil air putih hangat dan menyerahkan pada Shania.


"Minum dulu, biar tidak dehidrasi," ucap Keenan setelah Shania menerima gelas yang diulurkannya.


Setelah meminum sampai setengah gelas, Shania berdiri perlahan karena tubuhnya lemas. Keenan dengan sigap langsung membopong sang istri menuju ranjang. Suami Shania itu menarik selimut untuk menutupi tubuh sang istri hingga dada.


"Makan ya, sedikit saja. Aku suapi. Perut kamu kosong lagi itu," bujuk Keenan dengan suara lembut, tetapi hanya dijawab dengan gelengan kepala oleh sang istri.


"Maaf ya, gara-gara aku gak bisa nahan diri kamu jadi masuk angin karena telat makan," ucap Keenan sendu, merasa bersalah pada sang istri karena terlalu menuruti nabsunya.


"Aku tidak apa-apa. Jangan menyalahkan diri sendiri. Aku juga bersalah karena tidak bisa lagi menahan rindu pada suamiku yang pergi lama tanpa kabar," ujar Shania yang tidak sengaja menyindir sang suami.


Keenan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Laki-laki itu merasa bersalah karena tidak pernah menghubungi sang istri selama di negeri Jiran. Rasa bersalahnya semakin besar melihat sang istri, tetapi dia merasa senang karena kepergiannya telah mengembalikan wanita yang sangat dicintai itu.


"Maaf, aku benar-benar minta maaf. Kami satu tim berada di lokasi yang terpencil dan terisolasi sehingga sulit untuk berkomunikasi melalui udara. Maaf, Sayang. Aku janji akan mengganti waktu kebersamaan kita nanti." Keenan menatap sang istri sendu.


Mereka saling berpelukan untuk saling melepas rasa rindu juga rasa bersalah yang bersarang di hati. Beberapa menit kemudian keduanya tampak sudah tidur dengan tubuh saling berpelukan di bawah selimut yang sama.

__ADS_1


Jam empat dini hari, Shania terbangun karena perutnya terasa diaduk-aduk. Dia langsung berlari menuju kamar mandi untuk mengeluarkan isi perutnya lagi. Namun, tidak ada yang keluar sama sekali.


Hanya cairan kuning yang terasa asam dan pahit yang keluar, itu pun hanya sedikit. Badan wanita itu sampai lemas karena berusaha memuntahkan isi perutnya yang telah kosong. Shania hanya bisa bersandar di dinding kamar mandi karena kakinya sudah tidak tahan lagi menopang berat tubuhnya.


Keenan terbangun setelah tangannya meraba sisinya tidak ada sang istri. Laki-laki itu mencari keberadaan sang istri dan menemukannya di kamar mandi dengan posisi memprihatinkan. Tubuh bersandar di bathtub dengan wajah pucat pasi.


Dokter muda sekaligus dosen itu langsung mengangkat sang istri dan membawanya ke ranjang. Kemudian, mengambil peralatan medis untuk memeriksa sang istri. Setelah dipastikan sang istri baik-baik saja, barulah dia menuju kamar mandi untuk membersihkan diri karena adzan subuh sudah berkumandang saat dia memeriksa Shania.


Usia menunaikan kewajibannya sebagai umat muslim, Keenan meminta Mbok Iyem untuk membuat bubur dan sup untuk sang istri. Laki-laki itu sangat mengkhawatirkan keadaan sang istri yang tiba-tiba drop seperti ini. Saat memeriksa detak jantung Shania tadi, dia merasa lain.


Denyut nadinya sama seperti saat dia menolong adik iparnya satu bulan yang lalu. Sesuai dugaannya waktu itu, sang adik ipar tengah berbadan dua. Jadi, dia pun menarik kesimpulan jika sang istri pun demikian.


Keenan langsung menghubungi dokter kandungan wanita yang ada bekerja di rumah sakit miliknya. Dia meminta dokter yang berusia lebih dari setengah abad itu untuk datang ke rumah untuk memeriksa sang istri.


"Tolong ya, Dok. Usahakan secepatnya datang ke sini. Kasihan istriku sangat lemas sekali," pinta Keenan dengan suara memelas.


Sementara itu di Jogja, Arshaka sedang menemani sang istri keliling pasar tradisional hanya untuk mencari jajanan pasar yang diinginkannya. Dosen muda itu tampak risih melewati gang-gang sempit yang becek dan berbau. Laki-laki itu sampai menutup hidungnya berulang kali.


"Sayang, tempat ini jorok sekali. Apa tidak bisa kita cari jajanan kue di luar pasar saja? Aku takut kamu sakit perut setelah memakan jajanan itu," ucap Shaka ketika sang istri membeli kue yang tampak tidak menarik sama sekali, bahkan tempatnya terkesan kumuh.

__ADS_1


"Do'amu, Mas! Jelek sekali. Senang ya kalau aku sakit, hmm?" sahut Shaila dengan tatapan tajam.


__ADS_2