JODOHKU TUAN DUDA

JODOHKU TUAN DUDA
Masih Bersama


__ADS_3

"Makan diluar, yuk," ajak Dewa.


"Nggak capek keluar lagi? Baru juga pulang kerja."


"Nggak kok, biasa aja."


Kulihat jam yang menempel di dinding, pukul delapan belas tepat. "Sholat dulu Kak, takutnya ntar nggak keburu waktunya."


"Yup, mau mandi dulu."


Aku hanya terdiam, membuka kulkas, mengeluarkan wadah es krim berniat memakannya sambil menunggu lelaki itu selesai mandi.


Mendung, kala aku menuju balkon tempat favorit dari ruangan ini. Duduk bersandar sambil menikmati es krim vanilla dengan semilir angin yang sejuk. Kutarik napas dalam-dalam saat potongan adegan pelukan melintas dipikiran. Apakah kemarin itu nyata atau ....


"Mendung ya?" tanya Dewa yang sudah rapi dengan kaos berwarna putih tulang.


"Sudah sholat, Kak?"


"Belum nungguin Kamu, biar bisa menjadi imammu."


Lekas kuletakkan asal es krim di tangan. "Nggak nyangka mau diajakin jamaah, tunggu bentar Kak."


Dia hanya tersenyum dengan mata yang sedikit meredup.


Layaknya pasangan dalam sinetron, selesai shalat dia menyodorkan tangannya, yang kusambut dengan mencium taksim punggung tangan itu.


"Kak, hujannya semakin deras. Pesan online saja, aku yang traktir kok," kataku sambil mengedipkan mata, agar suasana mencair.


"Hahaha, nggak perlu traktir. Saldo ovoku masih banyak, bisa buat beli vila."


"Ish, sombong amat. Kalau begitu aku mau pesan sushi, nasi kebuli sama kepiting saus padang, saja."


Plok, lemparan bantal sofa mengenaiku.


"Yang benar saja, Jepang, timur tengah, Indonesia dalam sekali antar. Sehat, Dek?"


Aku menjulurkan lidah mengejek, "siapa suruh songong."

__ADS_1


"Apa yang songong kalau Istri sendiri belum bisa di miliki."


Deg!!


Istri?? Siapakah yang dia maksud? Aku? Jangan mimpi! Mungkin Wanda kekasih hatinya. "Makanya buruan dilamar pacarnya, Kak," kataku seraya melempar kembali bantal yang ada dalam tanganku.


Pukul 07.30 PM pesanan baru datang, mungkin terkendala hujan, hingga kurir agak lama datangnya. Sekotak pizza ukuran jumbo sudah tersaji depan meja televisi. Aku cemberut, kecewa, ahh bisa-bisa tengah malam lapar lagi.


"Sudah makan ini dulu, nasi kebulinya belum datang."


Aku terkesima mendengarnya berkata itu, kumiringkan kepala, menatapnya dengan seksama seraya tersenyum.


"Saya tahu, Nisa belum terbiasa makan roti-rotian. Mohon menunggu, Sayangku."


"Ishh, nggak ngaruh, pakai sayang segala."


Dia hanya terkekeh, kembali menyantap potongan pizza dalam hening. Tangannya sibuk memainkan ponsel.


"Done, coba rekeningnya di cek, Dek," pintanya.


"Coba dilihat dulu."


"Nggak daftar internet banking, Kak."


"Ya ampun Nisa, ini jaman apa, sih."


"Biarin."


"Ya sudah, coba cek Wa."


Aku yang masih kebingungan, melangkah juga mengambil ponsel yang ada di meja makan. Kemudian membuka Wa dari Dewa.


Ada gambar bukti transfer masuk ke dalam rekeningku, sebesar tujuh juta rupiah dengan keterangan uang belanja. Dia memang sudah lama mengetahui nomer rekeningku, saat masih kuliah lelaki itu sering kehabisan pulsa dan memintaku untuk membelikan. Biasanya Dewa membayar utang pulsa saat kiriman sudah ada, dan itu melalui transfer, karena kami berbeda kota saat masa kuliah.


"Ini maksudnya apa, Kak?"


"Sesuai yang tertera di situ, uang belanja. Sudah menikah harusnya dapat uang belanja dari suami, hal yang wajar."

__ADS_1


"Tapi, Kak ...."


TingTong, terdengar suara bel pintu. Dewa melekatkan jari telunjuk di mulutnya, "sudah, nggak usah protes istriku," katanya sambil mengerlingkan matanya.


Ternyata nasi kebuli yang kutunggu datang juga, mata berbinar karena perut sedari tadi sedikit bernyanyi. Entah karena lapar atau apa, fokusku tidak lagi soal transferan itu, melainkan makan ....


"Tidur saja Dek, saya mau menyelesaikan laporan dulu. Takut nggak keburu buat rapat besok."


Aku mengangguk, benar-benar seorang pekerja keras.


Pukul sepuluh aku sudah berbaring di atas spring bed. Mata mulai mengantung sementara Dewa masih sibuk di depan laptop.


Entah pukul berapa aku tersadar, saat sebuah kecupan mendarat manis di pipi. Kala membuka mata, wajah Dewa sudah sangat dekat di depanku. Kini mata elang itu menatap semakin tajam, ada hasrat ....


Jantung berpacu semakin cepat, seperti tersengat ribuan watt aliran listrik. Bibirnya mulai mencium setiap inchi wajah ini, sinar matanya semakin memikatku.


Apakah pernikahan ini harus berjalan senormal seperti sekarang?


"Dek, bisakah meminta hak saya sebagai seorang suami?"


Deru nafasnya memburu, sementara jantung ini terasa berhenti saat melihat wajahnya berada tepat di atasku ....


\=\=\=


Ehemm ... bagaimana kelanjutan kisah mereka?


So, jangan bosan menunggu episode selanjutnya yah 😁


Bersambung


🌷🌷🌷🌷🌷


Please tinggalin jejak like, komentar dan vote-nya Kakak 🙈😁🙏🙏🙏


Buat penyemangat Author.


Terima kasih

__ADS_1


__ADS_2