JODOHKU TUAN DUDA

JODOHKU TUAN DUDA
Bertemu Kembali


__ADS_3

Pov author


Kaki Nisa seakan bergetar, saat melihat tulisan yang tertera pada name tag di atas meja.


'Dewa Mahaprana / Surabaya'


Apakah dia orang yang sama? Atau hanya namanya saja yang sama?


Perempuan itu mundur selangkah demi selangkah, hingga menabrak sebuah meja yang membuatnya tersadar, bahwa dia tak boleh lemah.


Dengan langkah cepat, Nisa berlalu dari ruangan itu. Napasnya terengah saat berada di koridor menuju arah toilet. Sesaat bersandar pada dinding, untuk menormalkan gemuruh dalam hati.


Masuk ke dalam toilet, hanya berdiri menghadap cermin besar. [Bagaimana bisa, takdir bercanda pada saat aku telah move on,] bisiknya dalam hati.


Kembali dia menatap bayangan dirinya, dalam kaca besar itu. [Tidak aku harus kuat! Jadilah wanita tegar, semangat!!] pekik semangat dia gaungkan dalam dirinya.


"Baiklah, kita hadapi saja! Jangan menghindar!" katanya menyemangati diri sendiri, sebelum menjauh dari hadapan cermin itu.


.


.


Langkahnya melambat, kala pintu ruangan meeting sudah terlihat. Perlahan tapi pasti, Nisa masuk ke sana, masih sepi dan kursi lelaki itu masih kosong. Lega untuk sesaat.


Tak lama kemudian, manager marketing datang. Terlihat berbincang sebentar kemudian duduk bersebelahan dengan Nisa. Satu per satu peserta meeting mulai datang dan menempati kursi yang sudah tertera nama mereka.


\=\=\=


Pov Nisa


Hingga sosok yang ingin kuperjelas sejak tadi itu masuk. Tak banyak yang berubah. Caranya berjalan, senyumnya dan tatapan mata yang selalu membuatku terhanyut masih sama. Hanya badan tampak lebih berotot. Mungkin saja sekarang dia gemar berolah raga.


Kutundukkan kepala, menatap lembaran buku catatan yang masih kosong. Susah juga untuk menghindar, bila dia tepat di seberang mejaku.


Tanpa sadar mata kami saling bertatapan. Dia seperti tercengang sesaat kemudian tersenyum penuh arti. Aku hanya menganggukkan kepala, seraya mengulum senyum. Kualihkan pandangan darinya, hingga meeting telah selesai.

__ADS_1


Setelah mendengar instruksi lanjutan dari boss, aku pamit undur diri. Gegas meninggalkan ruangan dingin tapi terasa panas buatku. Sengaja aku tak menggunakan lift, berharap bisa menghindarinya.


Kaki melangkah menuruni anak tangga, satu per satu. Kubuat sesantai mungkin.


"Nisa!! Tunggu." Sebuah teriakan dari suara yang begitu familiar. Tanpa melihatnya, derap kaki ini kupercepat.


Namun, sebuah tarikan di tangan, membuatku berhenti.


"Kenapa menghindariku? See, saya Dewa," katanya sambil berdiri di depan, seolah menghalangiku untuk kabur.


"Iya Pak, maaf."


"Pak?? Hey, are you ok?" katanya mengejek.


Kutengadahkan wajah, menatapnya lekat.


"Maaf ini jam kantor. Dan aku masih terhitung karyawan baru di sini. Jadi tidak etis rasanya, jika memanggil anda dengan sebutan selain kata Pak."


Dia tampak gusar, satu tangannya mengusap muka dengan kasar.


"Kak! Jangan lakukan itu. Baik, lima menit! Bebas bicara apa saja. Setelah itu jangan ganggu lagi."


Dia menatapku, sepertinya tidak terima apa yang barusan kukatakan. Namun, tak ada protes darinya.


"Kenapa menghindariku?"


"Nggak apa-apa, hanya menjaga diri. Agar tidak ada gosip aneh."


"Saya mau minta maaf, atas semua yang pernah terjadi dulu."


"Sudah aku maafkan, sejak dulu pula."


"Bisa kita berteman lagi? Seperti biasanya?"


"Sepertinya susah, tapi aku tetap bersikap kooperatif, jika itu untuk urusan kantor." Kulirik jam yang melingkar di tangan.

__ADS_1


"Sudah lima menit, aku harus kembali bekerja, permisi." Dan diri ini pun melenggang aman tanpa gangguan lagi.


"Kita akan bertemu lagi!" katanya setengah berteriak. Tak peduli dan tak menengok ke belakang lagi.


Untung saja jalan tangga itu sepi dari karyawan, mereka lebih suka menggunakan lift. Hanya satu dua orang yang bersedia memakainya.


Aku melangkah ke ruangan kerja. Kuletakkan asal buku notulen di atas meja. Lantas duduk dengan kasar di kursi kerja.


Mona menatapku, menarik kursinya mendekatiku.


"Ada apa? Loe kena marah boss? Datang-datang seperti orang kesurupan?"


Kuangkat kedua alisku, memberikan senyum terpaksa buat Mona. Dia membuka buku notulen, memperhatikan sejenak.


"Tulisanmu bagus, artinya bukan karena meeting tadi. Ada apa sih?" cecarnya.


Untuk beberapa saat aku terdiam, dalam rasa kalut yang luar biasa. Hampir saja netra ini berair, andai telepon kantor tak berdering.


"Aku dipanggil boss, sorry yah. Sesi curhat ditangguhkan."


Kutinggalkan Mona, yang terkekeh mendengar perkataanku.


\=\=\=


Apa maksud perkataan Dewa, "kita akan bertemu lagi?"


Sanggupkah Nisa menghadapi Dewa, untuk kedua kalinya?


Yup ... jangan bosan menunggu kelanjutan episodenya yah 😍🌷🙏


Bersambung


🌷🌷🌷🌷🌷


Please tinggalkan jejak like, komentar atau apa saja. Demi menyemangati author 😁😙🙏🙏🙏

__ADS_1


Terima kasih


__ADS_2