JODOHKU TUAN DUDA

JODOHKU TUAN DUDA
Lamaran


__ADS_3

Dengan langkah sedikit berat, aku memasuki ruangan Dewa.


Tok! Tok!


"Pagi Pak." Kuulas senyum semanis mungkin di hadapannya.


"Eh, si Mantan. Masuk gih!"


Aku masuk, walaupun sedikit gugup.


"Perasaan saya nggak manggil deh, eh kamunya yang datang sendiri. Ada apa? Kangen ya?" Dia berkata sambil mengerlingkan matanya. Sok kepedean banget.


"Idih siapa juga yang kangen! Mau minta tanda tangannya, Pak. Untuk surat ijin saya."


"Ijin? Kapan?"


"Iya ijin, cuma satu hari. Hari Sabtu."


"Alasannya?"


"Urusan keluarga, Pak."


Dewa membaca selembar kertas yang kuberikan padanya.


"Urusan apa?"


"Ih, kepo. Namanya juga urusan keluarga, nggak baik untuk diumbar. Pamali," jawabku asal.


"Saya kan, ayahnya El. Jadi masih masuk list sebagai keluarga. Beritahu secara jelas, baru saya tandatangani. Kalau nggak mau, nggak apa-apa juga," lontarnya santai.


Aku mendengus kesal melihat sikapnya tersebut.


"Ada keluarga yang mau tunangan, Pak," terangku seraya menelan saliva. Takut dia tau kebohongan kecil ini.


Dewa memicingkan mata, "Siapa? Keluarga atau Kamu?" sindirnya tajam.


Aku menghembus napas lelah, bahuku pun ikut turun.


"Bapak mau nggak sih, tanda tangan? Kalau nggak mau ya sudah, besok saya bolos saja," sungutku. Berbalik dan gegas menjauh dari hadapannya, tanpa membawa surat ijin itu.


Kuhempas pinggul di kursi. Keterlaluan sekali lelaki itu. Minta ijin saja tidak dikasih. Itu artinya aku harus bersiap menerima surat teguran dari HRD, bila absen tanpa keterangan ... arrgght!


"Dasar mantan aneh, jelek, nyebelin!" geramku.


"Hati-hati, menghina atasan bukan lagi mendapat teguran. Tapi PEMECATAN."


Suara seseorang tiba-tiba saja terdengar begitu dekat telinga ini. Hampir saja aku terjerembab dari kursi, saat melihat Dewa sudah berdiri tepat di balakang.


Tangannya bersedekap di dada, alisnya terangkat sebelah. Menatap aneh padaku. Matilah aku!! sepertinya dia mendengar, apa yang baru saja terucap dari mulut ini.


Issh!! Kubekap mulut dengan kedua tangan sendiri, iyalah! Masa dengan tangan Dewa.


"Maaf, Pak," decitku sangat pelan. Berharap dia tak melakukan sesuatu, yang akan menambah rating pergosipan diri ini.


"Sudah bosan kerja di sini, ya?" tukasnya.


"Enggak Pak, maaf untuk yang barusan." Kulihat dengan ekor mata, sebagian karyawan yang berada dalam ruangan ini, sedang menonton aksi Dewa.


"Tapi yang Kamu lakukan, akan berakibat pemecatan tanpa pesangon, ngerti! Nih, surat ijinmu. Sudah saya tanda tangani. Masih mau mengutuk seperti tadi?" repetnya seraya mengulurkan selembar kertas.


Kuraih kertas tersebut dengan berpura-pura ketakutan. Padahal muka ini bersemu merah, menahan malu dan jengkel mendengar racauan Dewa.


"Thank's ... eh maaf, maksudku terima kasih dan yang tadi itu, cuma asal ngomong," kilahku. Dia hanya menggelengkan kepala, memutar badan hendak masuk ke ruangannya.


Tetapi, dia sempat mengatakan sesuatu dengan pelan, sebelum akhirnya menjauh.


"Tapi saya suka Kamu dipecat, biar bisa mengurus keluarga dan anak-anak kita kelak," celutuknya dengan mengulum senyum.


Aku menggigit bibir ini. Andai saja tak ingat ini kantor. Sudah kulempar dengan pulpen yang ada di tanganku. Awas saja, orang itu. Tunggu pembalasan mantanmu ini!!


\===


Dengan gerakan cepat, kubereskan peralatan tulis dan kertas di meja. Tak ingin bertemu Dewa saat pulang. Energi seperti terkuras hari ini, belum lagi harus melakukan perjalanan pulang ke kampung.


Aku menyusup diantara gerombolan karyawan, saat melihat Dewa sedang celingak-celinguk seperti mencari anak kucing. Sedikit gembira saat berhasil melewati pintu utama kantor ini.


Lekas memesan taksi online dengan tujuan terminal. Dan lagi-lagi mulus tanpa gangguan mahluk astral ... ehh Dewa.


Aklhirnya mobil yang aku tumpangi, perlahan-lahan mulai meninggalkan terminal, melaju menuju rumah mamah di kampung.


Saat di perjalanan, ada beberapa pesan masuk dari Dewa. Namun, aku abaikan saja. Tak lama kemudian, bergantian keluargaku menelepon. Pertama bang Naresh yang bertanya posisiku. Kedua mamah, yang ingin memastikan anaknya tak ingkar janji. Lalu, telepon dari papah, menyuruhku senantiasa waspada dalam perjalanan. Lengkaplah sudah penatku hari ini.


.

__ADS_1


.


Hari Sabtu pagi yang super sibuk. Semua keluarga berkumpul di rumah. Sebagian sibuk membantu di dapur bersama para tetangga dan tukang masak, sebagian lagi sibuk bercengkrama sambil mencicipi kue dan makanan yang terhidang di meja. Sebentar, mereka mencicipi atau makan besar? Mencicipi kok, pakai piring ceper! Dan itu, ada yang menyembunyikan kresek hitam di saku bajunya.


Aku menggeleng, melihat mereka dari ruang tengah ini. Kok, ruang tengah, bukan di dalam kamar? Pasti Kalian bertanya-tanya, Kan? Di kamar panas, meskipun ada dua kipas. Satu kipas nempel di plafon dan satu lagi, berdiri kokoh dan keras di lantai.


Mungkin bukan kamar atau udara yang panas, tapi sepertinya hati ini yang berdebar. Apalagi beberapa sepupu dan kerabat papah, silih berganti masuk ke bilik dan menggodaku.


"Nisa, ntar habis tunangan, makannya dibanyakin dikit ya," ujar tanteku yang berbadan subur.


"Waduh, kenapa Tant? Aku kurus banget, ya?" timpalku heran. Uci sepupuku, yang masih duduk di bangku SLTP juga menatapku bingung.


"Mbak Nisa nggak kurus banget, kok. Justru langsing, seperti istilah anak milenial, Body Goals," kata Uci membelaku.


"Issh ... apaan sih ini, bocah ingusan. Main nyamber saja. Yang ngomong kurus juga, siapa?" kilah si tante.


"Trus, tadi Tante, nyuruh aku makan banyak, buat apa?"


Dia menarik napas, berjalan mendekatiku yang tengah memakai make-up.


"Biar nggak rata saja sih," ucapnya santai seraya ngeluyur keluar kamar, meninggalkanku yang ternganga. Sedangkan Uci terbahak-bahak bahagia, melihat apa yang baru saja terjadi di depannya.


"Ci, cariin El dong. Dari pada nggak ada kerjaan," pintaku pada gadis itu, setelah ledekan tawanya mereda.


Sejak pagi aku sudah tak melihat El. Saat kutanya mamah, dia bilang sedang dibawa Nindi istri bang Naresh.


"Tuh, di teras. Lagi disuapin sama tantenya, mbak Nindi," ujarnya.


Akhirnya aku keluar dari kamar yang terasa panas itu. Kulihat dari ruang tengah ini, kakak iparku sangat telaten mengurus El. Biarkan saja, tak tega rasanya untuk mengambil El saat bersama mbak Nindi.


"Ci, bantuin dandan dong. Aku agak kesulitan kalau urusan dandan."


"Tapi, saya juga belum bisa sepenuhnya, Mbak," akunya ragu-ragu.


"Udah, nggak apa-apa. Nggak perlu menor-menor, aku juga nggak suka. Lagian ini cuma acara tunangan, bukan kawinan, kok. Buruan ah, ntar tamunya sudah datang."


"Ya sudah, kalau Mbak, percaya hayuk atuh," tukasnya. Kembali ke dalam kamar untuk bersiap-siap.


Hasil make-up Uci pada wajah ini, sungguh membuatku sedikit takjub. Flawless terkesan natural, make-up korea gadis itu menyebutnya.


Kupandangi diri sekali lagi depan cermin. Dress dengan akses ruffle dibadan dan kerutan di lengan. Model dress A line dengan bahan yang super lembut dan jatuh saat dipakai, selera mbak Nindi sudah tak diragukan lagi. Ya, baju yang aku kenakan ini, hadiah darinya.


Tak berselang lama, sosok kecil yang sedari tadi kucari muncul bersama kakak ipar. Dia sudah memakai batik, berwarna senada denganku. Membuat El semakin menggemaskan.


Segera memeluk erat lelaki kecilku. Mencium bertubi-tubi pipi tomatmya.


Aku tersenyum kecut, melonggarkan pelukan.


"Mbak, aku sedikit takut harus kembali berumah tangga." Kududukan pinggul dumi sampingnya.


Mbak Nindi menatapku sejenak. "Masih ragu-ragu?"


"Hu'um, dikit."


"Sekarang, saya tau mengapa Naresh, mamah dan papah, menelepon Nisa kemarin. Ternyata mereka takut Kamu berubah pikiran di tengah jalan. Tenang Nis, ini hanya pertunangan saja. Kalian masih punya waktu berpikir ulang, sebelum ijab kabul di gelar."


Lagi-lagi aku menganggukkan kepala.


"Mbak, terima kasih untuk baju ini dan El. Selera Mbak luar biasa," ucapku tulus padanya.


"Cuma hadiah kecil, Nis. Nggak perlu sungkan begitu," ucapnya.


Tiba-tiba mamah masuk dan langsung merepet.


"Ya ampun, Nisa! Kok, masih di kamar. Keluar gih, tamu-tamu sudah pada datang tuh." Tuh kan, tanpa jeda iklan pula.


Aku tak punya waktu berdebat lagi, harus bersiap sekarang juga. Sementara El, sudah dibawa oleh mamah.


\====


Suara sambutan dari pihak keluargaku terdengar jelas hingga di kamar ini. Menambah deyaran halus di dada. Saat sedang menanti mereka memanggil, tiba-tiba terdengar suara ponsel yang memekik.


Kutengok sebentar, sebelum menonaktifkannya. Jemariku berhenti, kala membaca nama Duda Mesum sedang memanggil. Entah ada hal apa, yang membuatnya meneleponku.


Dadaku serasa sesak, saat membayangkan reaksi Dewa kala mengetahui mantan istrinya ini akan segera bertunangan. Biarlah, selama dia tidak meminta bantuan dukun untuk mempersulit, pasti mas Angga yang akan menghadapi.


Etdah, kok Angga sih? Bukan aku sendiri? Pasti Kalian bertanya seperti itu, kan?


Apa? Tidak! Kalian tidak bertanya seperti itu? Baguslah, jadi nggak perlu repot-repot buat jelasin. Next. Baiklah tapi sebentar, kupilih mode silent untuk ponsel dan menyimpannya dalam laci.


Akhirnya namaku dipanggil, aku keluar bersama mbak Nindi dan Uci. Di ruang tamu yang tidak terlalu besar, sudah nampak penuh dengan tamu dan keluarga kedua belah pihak.


Meskipun gugup, aku berusaha tetap tenang. Apalagi saat menyadari diri ini menjadi pusat perhatian mereka. Kucoba mencari calon suamiku di masa depan.

__ADS_1


Mas Angga tengah duduk diapit oleh kedua orang tuanya. Mengenakan baju batik berwarna senada dengan pakaian yang kukenakan. Cakep dan beribawa, uh ... uh, jomblo mah keder.


Deg-degan, saat mas Angga menatapku sambil tersenyum. Ia tak berkedip sedikitpun. Seolah ingin membisikkan, "Kamu, cantik banget hari ini." Hihihi, kepedean banget!


Mamah memanggilku, duduk diantara kedua orang tua. Persis seperti keadaan mas Angga, yang berada tepat di depan kami.


Karena acara lamaran sudah dibuka dengan beberapa kata sambutan saat aku masih di kamar. Kini pemandu acara menyerahkan mic kepada papa mas Angga, untuk mengutarakan niat kedatangan mereka.


"Jadi, seperti yang telah Kita sepakati sebelumnya. Tujuan Kami datang ke sini, untuk meminta ananda Nisa, apakah bersedia menerima lamaran anak kami?" kata papah mas Angga.


Dan aku ...?


 


 


.


.


 


 


Bersambung


Please tinggalkan jejak review, star atau apa saja. Untuk menyemangati author labil ini


Terima Kasih


Catatan Kecil :


Terima kasih buat seluruh Reader's yang masih meluangkan waktunya tulisan ini. Mohon maaf sebesar-besarnya, karena hiatus dari NovelToon. Terlalu banyak kesibukan di dunia nyata, terlebih dengan adanya keluarga kami yang terpapar virus Corona (alhamdulillah semua sudah sehat)


Sekali lagi terima kasih yang sebesar-besarnya atas dukungan terhadap JTD. I Love You All.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2