JODOHKU TUAN DUDA

JODOHKU TUAN DUDA
Ulang Tahun El


__ADS_3

"Astagfirullah." Angga menepuk jidatnya dengan satu tangan. Mata tetap fokus di depan.


"Kenapa, Mas?" tanyaku heran.


"Lupa, ada kado yang sudah saya siapkan. Balik sebentar ke apartemen, bagaimana?"


"Iya, nggak apa-apa."


"Ok." Gegas lelaki itu memutar kemudi, berbalik arah.


"Seharusnya nggak perlu repot-repot juga, Mas. Kami cuma menggelar syukuran saja, paling nanti berbagi hantaran tumpeng mini ke tetangga."


"Ya, nggak apa-apa Nis. Biar El punya mainan baru dari calon papanya."


Deg! Tiba-tiba jantungku berdetak kencang. Cepat kualihkan wajah ke jendela, untuk menutupi rasaku.


"Kok, diam? Maaf kalau membuatmu kaget, tapi jujur niatku memang begitu."


Tertunduk, menarik napas dalam-dalam. Tangan terasa berkeringat.


"Belajar saling mengenal dulu, Mas."


"Hemm." Mobil memasuki area parkiran apartemen.


"Ayo, Nis, ikut. Parkiran sepi, takutnya ada yang macam-macam."


Aku melangkah turun dengan ragu, bukankah ini tempat Dewa juga?


"Tenang Nis, ada saya. Kita hadapi bersama bila dia mengusikmu," kata Angga. Sepertinya dia mengetahui kecemasanku. Aku mengulum senyum, seraya mengangguk.


Berjalan melewati lorong apartemen, hingga berada tepat di depan pintu nomer 173 milik Angga. Menekan pin untuk membuka pintu.


"Masuk Nis."


"Nggak usah, Mas. Aku nunggu di sini saja."


Angga menggangguk, paham dengan pilihanku.


\=\=\=


Pov Author


Saat membuka pintu, Dewa melihat Nisa dan Angga keluar dari dalam lift. Lekas dia bersembunyi, dibalik daun pintu yang tidak menutup rapat.


[Mau apa lelaki itu, mengajak Nisa?] gumamnya dalam hati.


Tak lepas mata elangnya mengawasi mereka berdua. Perasaannya sedikit lega, saat melihat Nisa hanya berdiri di depan pintu, sementara Angga masuk ke dalam.


[Sepertinya, mereka akan kesuatu tempat,] lekas dia menyambar jaket, kunci mobil. Secepat kilat menyelinap keluar, menuju parkiran, menunggu Nisa dan Angga. Insting yang cukup tajam.


Dan benar saja, tak lama kemudian. Terlihat Angga berjalan dengan menenteng cody bag, berisi bingkisan yang dibungkus kertas warna-warni. Nisa berjalan di belakangnya.

__ADS_1


Dewa mengernyitkan dahi, melihat kotak yang menyembul dari dalam cody bag.


Entah apa yang di katakan Angga, sehingga membuat perempuan yang sudah berjalan di sebelahnya tertawa.


[Bisa tertawa lepas dengannya? sedang saat bersamaku,] bibirnya mengatup rapat. Perih.


Perlahan mobil Dewa, mengikuti laju kendaraan milik Angga. Menjaga jarak agar tak ketahuan jika sedang membuntuti mantan istrinya.


\=\=\=


Tengah malam mereka sampai di desa. Berhenti di rumah bercat biru. Dari kejauhan Dewa bisa melihat pintu terbuka. Betapa terkejutnya dia, kala melihat Santika menyambut kedatangan keduanya.


Sepertinya dia mulai paham akan kegagalan mencari keberadaan Nisa selama ini.


Mata mulai mengantuk. Dewa tidak menyangka, perjalanan membuntuti Nisa dan Angga memakan waktu tempuh sekitar delapan jam. Mencari informasi tentang penginapan yang terdekat, melalui ponsel. Namun, sayang belum ada hotel. Hanya homestay yang dikelola penduduk lokal. Tak ada pilihan lain.


Sementara itu di rumah Santika.


"Kalau begitu saya permisi Bu, mau cari penginapan dulu," pamit Angga.


"Nginap di sini saja, sudah larut malam. Kebetulan ada satu kamar yang kosong," tawar Santika.


"Iya, Mas. Lagian juga pasti sudah lelah dari tadi nyetir sendiri," timpal Nisa. Santika melirik Nisa, tersenyum dalam hati saat mendengar putrinya memanggil Angga dengan sebutan 'Mas'


"Terima kasih Bu, sudah mengijinkan menginap di rumah ini," sahut Angga santun.


Santika kemudian mengantar lelaki dengan tinggi 170 cm itu, menuju ruangan yang dimaksud. Sementara Nisa lekas menemui El yang sudah tertidur. Tumben.


.


.


Sepasang sepatu dengan lampu led yang mengelilingi bagian bawahnya, menjadi kado untuk Ben Elard.


"Bilang apa, Sayang?"


"Maacih Mamaa," jawab El dengan seringai senyum di bibirnya.


Satu per satu, semua datang menghampiri El memeluk dan memberikan doa yang terbaik di hari kelahirannya.


Tak ketinggalan lelaki yang datang bersama Nisa, Angga.


Sebuah bingkisan besar sudah beralih ke tangan El. Wajah polosnya berseri-seri menerima kotak yang berisi mainan robot. Dia berlari kesana kemari.


"El, sini sayang. Kita potong tumpengnya dulu," kata Nisa, menuntun untuk memotong nasi berbentuk kerucut.


Potongan pertama diberikan kepada Santika, kemudian Cakrawangsa kakek El.


"Sekarang kasih ke Om, jangan lupa bilang terima kasih karena sudah diberi hadiah. Ayo sayang," pinta Nisa.


El berjalan pelan, ke arah Angga. Tangan mungilnya menyodorkan piring, berisi potongan nasi tumpeng. Lelaki itu menerima dengan tawa di bibirnya.

__ADS_1


"Maacih, Papaa," kata El polos.


Dueerrrr!!


Nisa menelan saliva, kedua orang tuanya serta merta menunjukkan wajah tercengang, mendengar sebutan papa untuk Angga. Sementara Angga hanya cengengesan saja. Atmosfir ruang tamu itu tiba-tiba berubah menjadi canggung.


"Nis, bantu mama di dapur. Siapin es buah," kata Santika memecah kekakuan.


"Iya, Ma." Masuk ke dapur menyiapkan gelas sebagai wadah es buah.


"Bagaimana hubunganmu dengan Angga, Nis," tanya Santika saat berdua di dapur.


"Biasa saja, Ma."


"Benar, biasa saja? Mama dengar kamu sudah panggil 'Mas' bukan 'Pak' lagi," kata Santika menatap Nisa.


Tangan perempuan itu berhenti menata gelas dan sendok. Namun, urung menjawab.


"Naresh sudah cerita perihal Angga. Mama bilang biar kamu yang putuskan saja. Kalau memang suka, ya ndak apa-apa. Mungkin sudah waktunya kamu berumah tangga lagi."


"Nisa belum siap, Bu. Masih mau ngumpulin duit buat sekolah El."


Santika menghela napasnya, "Apa Kamu trauma dengan pernikahan?"


"Enggak kok, Bu. Cuma memang belum di pikirkan saja."


"Ya sudah, pelan-pelan di pikir. Biar kami tenang, Kamu ada yang jaga meski jauh dari orang tua."


Nisa hanya mengulum seyumnya. Membawa keluar minuman segar itu.


.


.


El nampak berlarian di halaman rumah, membawa mainan robot di tangannya. Angga duduk di samping Nisa. Mereka menikmati es buah buatan Santika. Sesekali perempuan itu, menyuapkan kepada El.


Angga tak mau membuang kesempatan untuk dekat dengan anak kecil di depannya. Bergabung ikut bermain bersama. Entah siapa yang menarik siapa, keduanya cepat sekali akrab. El tak canggung untuk memeluk Angga, demikian pula sebaliknya. Nisa melihat semua itu dengan hati yang bahagia.


Sementara di seberang jalan, di bawah pohon akasia. Dewa mencengkram kuat setir mobil. Terdengar suara gigi yang berbunyi karena geram. [Dia anakku! Seharusnya El bermain denganku! Bukan dengan Angga] rutuknya dalam hati.


Lekas Dewa menyalakan mesin, ingin pergi dari tempat yang membuat mata dan hatinya memanas. Setidaknya dia sudah tahu, dimana Nisa dan El berada. Hanya tinggal menyusun rencana untuk merebut hati mereka kembali.


.


.


Bersambung


🌷🌷🌷🌷🌷


Please tinggalkan jejak like, komentar atau apa saja, untuk menyemangati author 😁😍🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2