JODOHKU TUAN DUDA

JODOHKU TUAN DUDA
Siapa Pradipta?


__ADS_3

"Sejak kapan?" gusar Nisa. Air matanya sudah kering, isaknya tanpa deraian air mata lagi.


"Sejak kamu mengandung Nina," jawab Angga terus menunduk.


Jawaban Angga bagai sebuah ledakan bom yang sangat keras di telinga Nisa. Itu berarti mereka berbuat nista selama hampir enam tahun! Luar biasa pria ini!


Pradipta dan Angga sudah saling mengenal sajak lama. Pradipta salah satu bawahan Angga. Usianya terpaut lima tahun dari Angga. Ia pria metroseksual, pernikahan hanya bertahan satu tahun, setelah itu tak pernah terdengar lagi memiliki hubungan serius dengan seorang wanita.


Kelihaiannya berbicara di depan public, membawanya dekat dengan CEO perusahaan tempatnya bernaung. Walaupun Pradipta tidak pernah kuliah di bidang ilmu komunikasi secara formal, tetapi wawasannya tak bisa dipandang sebelah mata.


Dan Angga tertarik dengan bakat salah satu karyawannya. Suatu hari ia ingin menguji Pradipta, diajaklah karyawan tersebut masuk ke dalam tim yang sudah ia bentuk. Saat meeting dengan developer yang nakal, Pradipta ditugaskan menjadi negosiator. Dan setelah diskusi yang cukup alot, akhirnya pihak developer bersedia mengganti rugi atas tidak sesuainya kualitas material yang mereka terapkan dalam pembangunan hotel milik Angga.


Atas prestasinya, Pradipta diberi posisi sebagai asisten manager marketing. Namun, Angga tetap mengikutsertakan nama Pradipta dalam tim eksekutor, jika terjadi masalah yang cukup pelik antara perusahaan dan pihak pengembang. Hubungan yang terjalin antara Angga dan Pradipta, hanya sebatas pekerjaan semata. Hubungan profesional antara atasan dan bawahan.


Namun, di lain pihak, Pradipta sangat mengagumi atasannya. Rasa hormatnya terhadap Angga, lambat laun berubah menjadi 'ketertarikan' di hati. Bagi Pradipta, suami Nisa adalah seorang malaikat. Atas campur tangan Angga lah, karirnya cepat meroket. Dari posisi resepsionis, melambung menjadi Asisten Manager marketing plus Negosiator di perusahaan itu. Padahal apa yang Angga lakukan hanya bentuk apresiasi terhadap karyawan yang memiliki prestasi cemerlang.


Dibalik karirnya yang terus menanjak, tak ada yang tahu bahwa Pradipta memiliki kelainan sex yang menakutkan. Perpisahannya dengan sang istri, salah satunya dipicu oleh masalah tersebut. Rekan sejawatnya tak ada yang menaruh curiga pada, pria itu dianggap normal. Toh, sudah dibuktikan dengan status duda-nya. Walaupun nyatanya pernikahan Pradipta dengan mantan istrinya terjadi, lantaran menutupi kedoknya sebagai pecinta sesama jenis.


Pradipta memang cukup lihai, menutupi kelainannya tersebut. Hingga hari terkutuk itu tiba ....


Seperti biasanya, ketika tim eksekutor berhasil menjalankan tugasnya, Angga akan membuat perayaan kecil-kecilan untuk seluruh anggota tim tersebut.


Restoran yang memiliki privat room menjadi incaran mereka. Selain eksklusif, makanan yang mewah, serta adanya fasilitas karaoke khusus, membuat mereka bisa bersantai sejenak.


Sebagai ketua tim, biasanya Angga hanya sekedar ikut makan bersama. Setelah itu ia pulang lebih awal. Buat apa berlama-lama dengan mereka, sedangkan di rumahnya sudah menunggu seorang istri yang membangkitkan gairahnya?


Namun, ketika Nisa hamil anak kedua, Angga tidak bisa leluasa menyalurkan gairah yang terus menggelora. Tetapi hal itu tak lantas membuatnya, melakukan hal bodoh yang dilarang agama. Hanya saja waktu pulangnya menjadi lebih lama dari biasanya. Terlebih ketika ada pesta kecil untuk tim tersebut. Mau bagaimana lagi, dari pada di rumah tak bisa melakukan apa-apa, lebih baik ia ikut bergabung dengan para karyawannya.


Pradipta yang sudah lama mengincar Angga, malam itu sudah mempersiapkan sesuatu. Diam-diam ia memasukkan obat tidur ke dalam minuman bersoda milik Angga.

__ADS_1


Dan hal haram serta menjijikkan itu pun terjadi di sebuah hotel. Ketika kesadaran Angga tidak sepenuhnya ada. Namun, Pradipta tentu saja sadar sesadarnya saat melakukan pelecehan terhadap Boss-nya.


Pradipta tak peduli, jika esok pagi saat Angga sadar dan tidak terima dengan perlakuannya, maka dirinya siap bila harus meninggalkan perusahaan. Pradipta tak masalah, selama ia bisa menyalurkan hasrat kekagumannya pada Angga.


Dan etika pagi tiba, saat Pradipta mengetuk pintu kamar ayah dua anak tersebut, pria itu serta merta berlutut mengakui kesalahan dan meminta maaf pada Angga.


Angga hanya menganggukkan kepala dan menyuruhnya keluar dari kamar.


Selanjutnya Pradipta masih bekerja seperti biasa, tentu saja dengan perasaan was-was. Sewaktu-waktu Angga bisa mengeluarkan surat pemecatannya.


Namun, yang terjadi sungguh di luar dugaan. Angga meminta Pradipta menemaninya keluar kota. Angga tak tahu, setan apa yang telah meracuni otaknya saat itu. Sensasi yang berbeda membuatnya penasaran, entah kemana larinya didikan orang tua. Tak lagi memikirkan dosa akibat jerat hasutan iblis.


Wajar saja Nisa tidak bisa mengendus dengan siapa Angga "bermain" di belakangnya. Tak pernah terpikirkan sedikit pun bahwa suaminya melakukan affair dengan seorang pria!


Baik Angga dan Pradipta tidak melakukan komunikasi melalui pesan atau telepon. Mereka memamfaatkan waktu saat keluar kota. Berkedok urusan pekerjaan untuk menutupi urusan syahwat yang durjana. Hal itu terjadi terus menerus tanpa pernah ada yang curiga.


Ah, manusia ... mereka lebih takut terhadap hukuman di dunia. Tidak tahukah mereka, hukuman di akhirat jauh lebih menyakitkan dari hukuman apapun di dunia?


Mulailah Angga mengurangi intensitas kebersamaannya dengan Pradipta. Hingga suatu hari, Angga mengatakan secara gamblang, bahwa ia ingin mengakhiri hubungan kotor ini selamanya. Angga tidak ingin mengintervensi bawahannya tersebut. Ia membebaskan Pradipta memilih jalan hidup dan karirnya.


"Kamu masih boleh bekerja di sini, saya tidak akan memintamu pergi. Tapi jika kamu ingin berkarir di tempat lain, saya juga tidak akan menahanmu," jelas Angga.


Namun, reaksi Pradipta membuat Angga tercengang. Duda itu menolak berpisah dari kekasih haramnya.


"Nggak, Mas, saya nggak mau memutuskan hubungan kita. Apa saya sudah berbuat salah pada Mas? Sehingga Mas tega meninggalkanku," rengek Pradipta.


"Bukan cuma kamu yang salah, kita berdua sudah berlumur dosa. Saya tidak bisa terus menerus membohongi keluarga saya."


"Tapi Mas, saya nggak akan menuntut apa-apa. Nggak masalah Mas ingin kembali dengan keluarga, tapi jangan campakkan saya begitu saja. Hubungan kita sudah berjalan hampir enam tahun, itu bukan waktu yang singkat. Saya sudah terlanjur nyaman dengan Mas."

__ADS_1


"Nggak bisa, Dip. Saya sudah nggak mau lagi membohongi Nisa dan anak-anak."


"Dan Mas tega membuang saya seperti sampah?"


"Kamu masih muda, masih bisa mendapat pasangan yang lain. Terserah kamu mau laki-lakk atau perempuan, itu hakmu. Cuma saya sekedar mengingatkan sesama teman, sebaiknya bangunlah sebuah keluarga yang normal. Saya yakin jika perempuan itu benar-benar mencintaimu, dia bisa menerima masa lalumu."


"Nggak usah ceramah di depanku, kita sama-sama nista! Pokoknya saya nggak mau kita putus!"


"Dipta! Kenapa kamu susah sekali diajak berubah?! Sekarang terserah apa mau! Yang jelas jangan pernah mengusik saya lagi!" hardik Angga jengah.


Ia merasa kewalahan menghadapi Pradipta yang menangis tak ingin putus.


"Termasuk mengatakan secara langsung pada Nyoya Angga?"


"Kamu! Jangan keterlaluan! Ingat dengan siapa kamu berbicara!"


"Terserah, Mas mau bilang apa. Oiya, saat ini juga, saya mengundurkan diri dari pekerjaan saya! Silahkan kirim uang pesangon saya lewat rekening, jika Mas masih berkenan," dengus Pradipta. Kemudian keluar dari ruangan kerja Angga dengan kemarahan yang tak terbendung.


Maka sejak itu, Pradipta menjadi momok yang menakutkan buat Angga. Dan hari ini ia sengaja membayar seorang wartawan untuk membongkar kelakuan Angga pada Nisa.


Dan usaha Pradipta tidak sia-sia, Nisa mengamuk dan mulai menjauh dari Angga.


Sejak kebohongan Angga terendus oleh istrinya, ia menyingkir ke kamar tamu untuk tidur, walaupun Nisa tak pernah menyuruhnya seperti itu.


Namun, Angga sadar diri, dari tatapan dan sikap Nisa, menunjukkan rasa jijik dan mual bila melihatnya.


Entah itu hanya perasaannya atau memang demikian sikap sang istri.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2