
Nisa duduk sendiri di sebuah kedai kopi sembari menikmati makan siang. Kali ini pilihannya jatuh pada Chicken parmigiana untuk makan siangnya. Olahan daging ayam yang dibalut tepung roti lalu disiram saus tomat dan diberi lelehan keju parmesan, cukup aman untuk lambungnya.
Walaupun Nisa tahu kalori yang terkandung di dalamnya cukup besar, tapi ia tak peduli. Barangkali dengan menikmati menu ini, moodnya akan kembali membaik. Wanita itu baru saja menelepon ke rumah, entah mengapa begitu rindu pada kedua anaknya.
Angga dan Nina masih mau menyambut teleponnya, tetapi El ... anak itu sama sekali tak ingin berbicara dengannya.
"Biar nanti saya yang bicara dengannya. Anak umur segitu tak bisa terlalu di paksa, pelan-pelan saja. Mungkin dia merasa kamu sudah tak memperhatikan dia lagi," cetus Angga tenang.
Nisa hanya bisa menghela napas, berharap Angga dapat memberikan pengertian terhadap El.
Seorang pelayan membawakan sebotol air mineral, walaupun Nisa sudah memesan kopi Vittoria sebelumnya. Segera diteguk air dalam kemasan tersebut, dadanya terasa plong, namun keresahannya tak mau juga hilang.
Masalahnya bukan hanya pada El, pria yang baru dikenalnya pun sudah membuatnya gelisah bahkan sejak semalam.
Nisa mengira perkenalannya di pantai dengan Axel, akan berakhir begitu saja. Namun, rupanya menolak tawaran sebangsa sendiri sangat sulit jika berada di negara orang.
"Sendirian?" tanya Axel masih di tepi pantai.
"Saat ini iya, karena aku ingin sendiri. Tapi kedatanganku ke sini bersama rombongan."
"Boleh saya temani?"
"Silahkan, asal anda menjamin, tidak ada perempuan yang akan menarik rambutku dari belakang."
Axel tertawa lebar. "Saya bisa menjamin hal itu. Kenapa bisa berpikir seperti itu?"
Nisa memutar badan, berjalan meninggalkan tepi pantai. Malam sudah mulai merayap.
"Wajar saja, pria seperti anda masih suka berpetualang. Apalagi di tempat yang jauh seperti ini."
"Sepertinya saya harus merubah penampilan. Entah melalui operasi plastik atau mengecat rambut menjadi putih dan memakai tongkat."
Nisa terkekeh mendengar lelucon Axel. Cukup ramah dan menarik, tapi ada sesuatu dalam dirinya yang membuat Nisa harus tetap waspada.
Mereka pun melanjutkan ngobrol seraya makan malam di pub hotel tempat Nisa menginap.
Awalnya Nisa cukup terkejut, manakala Axel mengetahui tempatnya menginap.
"Itu juga keahlianku yang lain," jawabnya sembari tersenyum penuh arti.
.
.
"Maaf aku harus kembali ke kamar," ucap Nisa sopan dan anggun.
__ADS_1
"Saya temani."
Nisa mengernyit, menghentikan langkah dan menoleh ke belakang.
"Nggak usah, aku masih ingat nomernya."
"Jangan salah paham, lihat para pria sepanjang arah pulang itu. Mereka takkan berhenti mengganggu sampai anda berhasil melewati pintu keluar." Tentu saja itu bohong, Axel hanya berusaha membuat Nisa mengabulkan permintaan.
"Apakah membohongi orang, ada dalam list keahlianmu?" balas Nisa seraya melanjutkan jalan.
Axel tersenyum sambil berkacak pingging, wanita yang menarik menurutnya. Ia pun segera mengejar Nisa. Sepanjang jalan tak henti-hentinya ia bercerita mengenai penduduk dan daerah yang mereka kunjungi. Nisa membiarkan saja, anggap saja keramahan antar warga Indonesia.
"Sudah sampai, terima kasih sudah mengantar."
"Bukan masalah untuk seorang teman."
"Jadi kita teman?"
"Kalau Anda mengijinkan."
"Nggak ada salahnya menambah daftar teman." Nisa menempelkan kartu cardlock untuk membuka pintu.
"Terima kasih. Akan lebih bermakna jika anda mengundang teman ini masuk."
Mata Nisa membeliak, lekas menarik kembali daun pintu yang telah terbuka. "Maaf adat timur masih aku pegang, walaupun sekarang di negeri orang."
Dan benar saja, saat Nisa akan menikmati breakfast bersama tim-nya, pria itu sudah duduk di salah satu meja. Menyambut Nisa dengan tatapan dan senyum penuh arti.
Membuat Nisa rikuh sendiri. Ia tak suka Axel bersikap seperti itu, apalagi ketika sedang bersama timnya. Sungguh sebuah awal hari yang tidak sehat.
Nisa meninggalkan kedai tersebut dalam keadaan gelisah. Kegelisahannya membuat Nisa sedikit lengah.
Ia sedang mengecek ponselnya, ketika seseorang mendorongnya dari belakang. Nisa terdorong ke depan, tas kecil yang di genggamanya terlepas begitu saja. Bersamaan dengan itu ponsel di tangannya ikut terampas.
Di antara kebingungannya menyelamatkan tas atau ponsel, Nisa memilih menyelamatkan tasnya dari tangan pengacau itu. Di sana terdapat paspor dan dompet kecil yang menyimpan ktp serta beberapa ATM. Sungguh merepotkan jika semua itu lenyap.
Tetapi Nisa terlambat menyadari, pengacau itu tidak lah sendirian. Ketika baru saja berpaling, hendak berteriak meminta tolong, seseorang kembali mendorongnya. Hampir saja Nisa terlontar ke tengah jalan, jika seorang pria tidak segera menangkapnya dan lekas menariknya ke pinggir jalan.
Dengan gerakan cepat pria penolong tersebut melayangkan tendangan ke arah si pengacau. Kakinya yang panjang tepat mengenai perut si pengacau. Membuat perut lawannya mengejang kesakitan, lalu tersungkur. Melihat temannya dengan mudah dilumpuhkan pria penolong itu, membuat pengacau yang lain lari tunggang langgang.
"Biarkan saja! Tak perlu dikejar!" cegah Nisa saat melihat pria penolongnya ingin mengejarnya.
"Sorry, terpaksa anda harus merelakan sebuah ponsel untuk pencuri tadi" kata pria itu seraya menyodorkan tas milik Nisa. Sementara salah satu kakinya masih berpijak di badan pengacau naas yang tak sempat melarikan diri.
"Axel!" pekik Nisa tanpa sadar. Tak menyangka orang yang merusak mood-nya hari ini, justru orang itulah yang menyelamatkannya dari tragedi ini.
__ADS_1
"Ketemu lagi. Well mau di-apakan 'tikus' satu ini?" Axel menarik kasar kerah baju pengacau itu. Hingga membuat berdiri di hadapan Nisa.
Awalnya Nisa sudah tak ingin mempermasalahkan kejadian itu. Toh, tasnya sudah kembali. Namun, semuanya berubah saat ia mengenal siapa pengacau, pencuri atau apapun namanya!
***
"Mas harus ke sini, hari ini juga! Aku menemukannya Mas."
"Yang benar, Dek? Nggak salah orang?"
"Nggak mungkin Mas. Nanti aku kirimkan fotonya."
"Kamu kirim sekarang. Kalau memang benar dia Pradipta, saya cari penerbangan hari ini juga."
"Ok, Mas," sahut Nisa menutup telepon. Tak menunggu lama, foto wajah pencuri itu sudah sampai di ponsel Angga.
Angga pun segera memesan tiket hari itu juga saat melihat foto yang dikirim oleh istrinya.
Sementara itu Pradipta mereka tahan di kamar Axel. Rupanya Axel menginap di hotel yang sama dengan Nisa. Wanita itu nyaris tertawa saat mengetahui hal tersebut, ternyata Axel bisa tahu mengenai asalnya karena pria itu pernah bertemu Nisa di lobi.
"Ternyata mata dan telingamu sudah terbiasa mengintai orang lain juga."
"Hanya untuk wanita, tapi kebiasaanku ini berguna juga pada akhirnya."
Nisa berdecak, pura-pura acuh. Padahal ia harus menahan senyum gelinya. Entah mengapa bersama Axel, ia bisa bebas berekspresi tanpa perlu menjaga wibawa.
***
Kejadian yang dialami Nisa siang itu, sudah menyebar ke semua anggota tim-nya. Mereka tahu karena tak bisa menghubungi nomer Nisa saat sedang mencarinya. Bagaimana bisa tersambung, chip nomer ponselnya mungkin sudah dibuang oleh pencuri tersebut.
"Sudah nggak pa pa, anggap saja lagi sial. Ok, kita lanjut lagi," ujar Nisa. Saat itu karyawannya sangat mencemaskan keadaannya.
Nisa segera membeli ponsel baru untuk membuktikan pada karyawannya, bahwa semua baik-baik saja.
***
"Ada apa, Xel?" tanya Nisa heran. Axel sepertinya sengaja menunggunya di lobi hotel petang itu.
"Sebaiknya kamu lihat sendiri," jawab Axel penuh tanda tanya.
"Lihat siapa? Pradipta?"
"Hu'um, sampai saya nggak tahan ada di kamar itu. Saya sudah memesan kamar yang lain."
"Maaf merepotkanmu. Nanti aku ganti biayanya, sekarang kita ke sana dulu." Nisa berjalan dua kali lebih cepat. Penasaran mengapa Axel bersikap dan berkata seperti itu.
__ADS_1
Bersambung