
"Cerai?" tanya Nisa terkejut, "kenapa harus membicarakan hal ini saat kita masih di rumah sakit?"
"Nggak pa pa, karena kita nggak akan menemukan waktu yang benar-benar tepat untuk membicarakan masalah ini."
"Tapi, Mas, aku benar-benar nggak ada niat untuk memikirkan perceraian."
"Kenapa? Apa karena anak-anak lagi?"
"Benar, Mas. Bagiku mereka adalah tujuan utamaku. Mengapa ngotot berpisah, jika masih bisa dipertahankan?"
Angga menarik napas dalam-dalam, kemudian menghembuskan pelan-pelan. "Dek, saya paham maksudmu, tapi saya sudah mengambil keputusan. Walaupun tahu ini sudah terlambat, saya benar-benar menyesal membiarkan masalah ini berlarut-larut. Lihatlah kepura-puraan kita menjadi keluarga yang utuh, malah menghancurkan anak-anak."
"Tidak ada kata terlambat mas, kita sama-sama bersalah."
"Tapi kamu sudah berniat berubah, dengan menyediakan waktu untuk liburan keluarga, di tengah kesibukanmu yang sangat padat. Kenapa saya tidak bisa mengerti? Padahal saya pernah berada di posisimu."
Nisa menarik punggungnya pada sandaran kursi, pandangannya tertunduk menatap ubin putih yang diinjak. "Aku tidak memiliki pendapat apa-apa lagi mas," ujarnya pasrah.
"Kalau kamu tak keberatan, saya ingin membagi dua saham perusahaan. Juga rumah yang kita tempati, saya akan menjualnya. Semua kita bagi dua. Tapi kalau kamu keberatan, biarlah rumah itu kalian tempati bersama. Saya akan mencari rumah yang lebih kecil."
"Kenapa jadi begini, sih, Mas?" sahut Nisa seraya menutup kedua wajahnya. Tak bisa lagi ia membendung air mata yang sedari tadi ingin lolos.
Melihat sang istri menangis, hati Angga benar-benar teriris. Begitu besar luka yang ia torehkan pada sang istri. Kalau boleh mengutuk diri sendiri, sudah dari dulu ia menyumpahi dirinya yang kotor dan nista itu. Diraihnya pundak Nisa dengan perlahan, membawanya masuk ke dalam dekapannya. Angga merasa lega karena Nisa tak menolak. Setelah sekian lama, sejak peristiwa menjijik itu terungkap, ini pertama kalinya ia memeluk Nisa, memberikan sedikit kehangatannya untuk perempuan yang telah menemaninya selama beberapa tahun belakangan ini.
Ada yang berdesir di hatinya, tapi Angga tak tahu, apa itu cinta atau sekedar rasa bersalah.
__ADS_1
Sementara Nisa semakin terisak dan tenggelam dalam dada Angga. Betapa nyamannya ia berada dalam rengkuhan sang suami.
"Tega kamu mas! Kenapa memperlakukanku seperti ini." ucap Nisa sambil memukul-mukul dada bidang pria itu. Dulu ... sampai kapanpun Nisa tak pernah rela menyerahkan tempat ini pada siapapun, Angga pria yang penuh kasih sayang, perhatian, melimpahi Nisa dengan harta dan kasih sayang. Hingga ia bisa menghapus nama Dewa dalam hatinya. Tetapi kenyataan tak seindah harapan, justru Angga sendirilah yang menggantikan Nisa dengan Pradipta. Duh, Gusti ... kesakitan apa lagi yang lebih kejam dari ini.
"Maaf, maaf ...." Hanya itu yang Angga ucapkan berulang kali dari bibirnya. Ia membiarkan Nisa yang masih terus memukulinya, hingga tangan sang istri melemah dengan sendirinya dan tak ada lagi hentakan di dadanya.
Nisa segera menarik diri, ketika ia sudah bisa menenangkan perasaannya. Mujur lorong rumah sakit masih lengang pagi ini, hingga ia bisa leluasa menumpahkan air matanya.
"Jangan bicarakan perceraian sebelum Nina keluar dari rumah sakit," pinta Nisa.
"Baiklah, Dek. Saya akan menunggu Nina sehat kembali," jawab Angga, meluncur begitu saja dari mulutnya. Ingin rasanya ia menggigit lidahnya hingga putus setelah mengucapkan hal tersebut.
Nisa lantas beringsut dari kursi panjang tempatnya duduk dengan Angga. Masuk menemani Nina kembali, meninggalkan Angga tanpa berkata lagi. Mendengar jawaban Angga barusan, membuatnya sadar, bahwa pria itu memang bertekad untuk berpisah.
***
"El ... bukain dong, Sayang. Mama sudah capek dan lapar banget. Tadi di rumah sakit mama be__"
"Apaan sih, Ma. Kalau mau makan, tuh, di meja makan, bukan teriak di depan pintu." El membuka pintu dengan jengah, membuat Nisa kaget sepersekian detik.
Namun, tak urung El segera menuju ruang makan dengan cepat. Sebenarnya perut itu juga mulai meronta minta diisi, tetapi ia malas ketika melihat mama sedang menyiapkan makanan sewaktu pulang sekolah.
Pantas saja hari ini hanya supir yang menjemputnya di sekolah, bukan papa lagi. El mengira Angga mulai mengendorkan pengawasan terhadapnya, tetapi dugaannya salah besar, ternyata karena ada Nisa yang sudah menungguinya pulang. Bicara mengenai pulang, sejak kapan mama pulang ke rumah? Bukankah pagi tadi ia belum menemukan mama di rumah?
"Bagaimana pelajaranmu hari ini, El?" tanya Nisa sambil meletakkan nasi di atas piring putranya, "mau rendang atau ayam bakar?" tawar Nisa lagi. Ia mencoba bersikap sewajar mungkin di hadapan sang putra. Tak menunjukkan emosi berlebihan.
__ADS_1
"Biar El ambil sendiri," ujarnya, meraih piring dari tangan Nisa. Kemudian mengambil beberapa potong rendang untuk mengisi piringnya.
Kali ini Nisa tak dapat menyembunyikan keterkejutannya atas sikap penolakan El terhadapnya. Perempuan itu terduduk dalam keadaan masygul. Mengapa El membencinya? Marah kah anak itu karena kepergiannya kemarin? Ah, El ... andai saja kamu tahu maksud mama melakukan itu?
El sempat melirik sekilas wajah Nisa, melihat perubahan wajah mama, hatinya sedikit gembira. Bukankah ia ingin mama merasakan sakit hatinya?
"Enak, nggak, rendangnya?"
"Bik Nah memang pintar masak, kok, sejak dulu. Kita semua sudah tahu. Masa mesti tanya lagi. Ups! Sorry, El lupa kalau mama sudah jarang di makan di rumah," sindir El. Ia menyeringai sinis saat mengatakannya.
Bukan jawaban El yang membuat Nisa sedih, tapi tatapan dan senyuman El lah yang mencabik hatinya. Tatapan kebencian melihat dirinya, serta seringai dingin sang anak melihat kesedihannya. Oh, El mengapa kamu begitu berubah, Nak? Tak tahukah dirimu, mama pulang karena merindukan anak-anak mama? Jika bukan karena kalian, mungkin mama sudah tak ada di sini?
"El sudah kenyang. Maaf nggak bisa menemani mama makan. Masih banyak tugas yang harus saya kerjakan. Selamat makan, Ma," kata El, menarik keluar kursi dengan badannya. Lalu berjalan cepat menuju kamar.
Nisa meletakkan sendok di atas piring. Nafsu makannya mendadak hilang. Jangankan menghabiskan nasi tersebut, menelan ludah sendiri saja terasa begitu berat. Ya Tuhan, mengapa cobaan tak ada habisnya menimpa keluarga ini?
Belum hilang rasa tercengangnya melihat sikap El meninggalkan meja makan, beberapa menit kemudian terdengar dentuman suara musik yang sangat keras dari kamar El. Karena letak kamar itu tak jauh dari meja makan, suaranya memekakkan gendang telinga Nisa. Bahkan jantungnya ikut bertalu keras karena suara musik itu.
"Keterlaluan!"
Nisa meninggalkan meja makan dengan gusar. Ia segera menuju kamar pribadinya, mengambil kunci dan tas miliknya! Ia tak tahan lagi berada di rumah ini lebih lama, Nisa harus segera meninggalkan tempat ini menuju rumah sakit. Nisa khawatir bila terlalu lama di rumah, emosinya jadi tak terkendali dan memercikkan masalah baru dengan El.
Lebih baik Nisa menjaga Nina, setidaknya gadis kecil itu akan tersenyum menyambut kedatangannya. Biarkan mas Angga yang menangani El terlebih dahulu, bukankah El lebih mendengar perkataan Angga di banding dirinya?
Nisa terus melajukan mobilnya dengan perasaan bercampur aduk. Marah, sedih dan senang semua menjadi satu.
__ADS_1
Bersambung