JODOHKU TUAN DUDA

JODOHKU TUAN DUDA
Segudang Kesibukan Angga


__ADS_3

Sudah seminggu Nisa tak kunjung pulang. Mengenai urusan kantor ia sudah menugaskan beberapa staf untuk menggantikannya selama ia tak di tempat. Sehingga masih bisa diatasi.


Sementara itu keadaan rumah tanpa kehadirannya sungguh terasa suram. Padahal Nisa sudah sering meninggalkan mereka untuk urusan pekerjaan. Namun, tetap saja berbeda dengan menghilangnya kali ini


"Ya jelas bedalah, Pa. Kalau pergi karena urusan pekerjaan, Nisa sudah minta ijin, tahu ada dimana dan kapan dia pulang. Lha, ini? Semuanya gelap!" lontar Santika dengan muram. Segurat raut wajah lelah dan sedih tergambar jelas di paras tuanya.


Walaupun Angga sudah mencegahnya, Santika tetap nekat mengurus El dan Nina saat jam pulang sekolah tiba. Ia selalu menemani mereka hingga pukul dua puluh malam, setelah itu Cakra akan membawanya pulang untuk beristirahat.


Sebagai oma dari El dan Nina, hati Santika masygul saat melihat Nina menjerit menanyakan kepergian ibunya di hari pertama Nisa menghilang. Walaupun kini sudah tidak menangis lagi, tetapi kecerian Nina seperti sudah menghilang. Tak ada lagi tawa dan celotehan manja yang keluar dari bibir mungilnya. Gadis kecil itu menjadi lebih pemurung.


Tak kurang Santika dan Angga melakukan berbagai cara untuk merebut hatinya, baik melalui makanan dan mainan, tetapi senyum itu terlalu mahal untuk ditebus oleh sebuah benda mati. Nina membutuhkan kehadiran Nisa, bukan oma dan seabrek mainan mahal.


Tak jauh berbeda dengan Nina, El pun semakin jarang berbicara, terutama terhadap orang tua Nisa. Jika masih bisa menjauh, ia akan menjauhinya, tetapi bila tak bisa menghindari oma-nya lagi El akan melakukan gerakan tutup mulut. Begitu pula dengan apa yang Santika suguhkan buat mereka, sebisa mungkin El akan menepisnya.


"Kakak, kok, nggak mau makan soto madura Oma? Padahal enak banget," kata Nina sembari mengacungkan jempol.


Tadi siang El hanya menyantap mie instant dan telur.


"Biarin, saya lebih suka makan mie," ketus El tanpa mengalihkan pandangan dari layar monitor. Entah sibuk mengerjakan tugas sekolah atau yang lain.


"Bohong, biasanya Kakak doyan soto. Apa karena Oma yang masak ya?"


"Bawel!"


"Ih, Kakak kok gitu, kenapa sih, nggak suka sama Oma? Dia kan baik, suka masakin kita, nemenin Nina tidur siang. Pokoknya Oma lebih baik dari pada Kakak."

__ADS_1


"Dasar anak bayi, tidur saja masih dikelonin. Tahu nggak, kenapa saya nggak mau dekat Oma?" Sengaja El menjeda pertanyaannya, ia ingin melihat reaksi Nina. Dan Nina menggelengkan kepalanya.


"Karena dia orang tua mama."


***


Menghilangnya Nisa membuat perasaan El semakin jauh darinya. Ia mengganggap kesedihan Angga dan Nina murni kesalahan sang mama.


Andai saja mama tidak perlu kerja, tidak perlu ke luar negeri, lebih banyak menemani Nina dan papa semua ini tidak akan terjadi.


Kenapa hanya keluarganya yang berantakan seperti ini? Sedangkan keluarga Hengki tetap harmonis walaupun ibunya juga bekerja. Hengki teman sekelas El masih sering dijemput oleh ibunya. Setiap ada pementasan klub drama sekolah, ibu dan ayah Hengki selalu hadir berdua memberikan dukungan pada sang anak yang kebagian peran dalam pementasan tersebut.


Kenapa keluarga mereka bisa, sedangkan keluarga ini tidak? Dimana letak kesalahannya? Jika melihat papa yang selalu saja sabar setiap menghadapi persoalan, rasanya bukan itu penyebabnya. Namun tidak dengan mama. Mama selalu saja tergesa-gesa menanggapi sesuatu dan suka marah bila ada yang tak sesuai keinginannya. Jika sudah seperti ini, papalah yang akan maju membela kami, jika pemicu marah mama adalah anak-anaknya. Tapi bukannya suasana menjadi tenang, papa dan mama malah adu mulut. Membuat suasana semakin panas saja.


Sementara Angga mulai merasakan kewalahan mengurus keluarga sendiri. Pikirannya bercabang, tak bisa fokus terhadap satu hal. Apalagi akhir-akhir ini, mertuanya sudah mulai jarang berkunjung. Sebenarnya Angga sangat terbantu dengan kehadiran Santika, setidaknya sang mertua bisa menemani Nina ngobrol dan menjaga asupan gizi gadis itu. Namun, karena usianya sudah tidak muda lagi, Angga merasa kasihan bila tubuhnya kelelahan ditambah sikap El yang kurang bersahabat dengan Santika.


"Bukan melarang, Pa. Hanya saya kasian lihat mama, takutnya dia jatuh sakit karena kelelahan. Apa yang harus saya katakan pada Nisa, jika mama sakit karena mengurus anak kami. Datanglah jika memang mama mau datang, entah karena rindu atau baru ada waktu. Jangan datang karena merasa wajib, harus menjaga Nina dan El," ujar Angga lembut penuh kehati-hatian pada Cakra.


Untungnya bapak mertua memahami maksud baik menantunya. Karena itu kunjungan Santika mulai berkurang, hanya sesekali datang menjenguk kedua cucunya.


Bagaimanapun Angga mendampingi kedua anaknya, tetapi menghilangnya Nisa dari mereka tetap menorehkan luka batin pada El dan Nina. Terlebih buat Nina, setiap hari ia sering menanyakan mama, hingga sering terbawa dalam mimpi. Hingga di hari kelima belas mama menghilang, Nina jatuh sakit. Demamnya tinggi dan harus mendapat perawatan di rumah sakit.


Ketika hasil laboratorium keluar, Dokter mengatakan Nina menderita sakit typus. Betapa terpukulnya Angga melihat kondisi Nina, tak jarang air matanya menitik kala sedang menunggui Nina seorang diri. Namun, semua itu tetap ditelannya sendiri, kepada siapa lagi ia harus berbagi?


Di saat seperti ini Angga mulai menyadari akan pentingnya kehadiran Nisa. Andai saja Nisa ada, mungkin ia tidak akan sesibuk ini. Pagi hari terpaksa Angga harus meninggalkan Nina, menitipkannya pada perawat rumah sakit karena harus bergegas mengantar El ke sekolah. Baik Nina dan El sepertinya melakukan pemberontakan diam-diam jika bukan Angga yang turun langsung mengurus mereka. Ada-ada saja ulah keduanya.

__ADS_1


Setelah melihat El memasuki gerbang sekolah, barulah Angga ke rumah lagi untuk mandi dan berganti pakaian, lantas kembali ke rumah sakit untuk menemani Nina.


Semua itu harus dikerjakan sendiri, jika tak ingin mendapat surat panggilan dari sekolah El. Pihak sekolah baru-baru ini melayangkan surat tersebut pada Angga, apalagi masalahnya jika bukan karena El bolos tak masuk sekolah selama tiga hari berturut-turut tanpa pembaritahuan. Padahal setiap pagi anak itu senantiasa berangkat sekolah dengan supir, tetapi tak ada yang tahu jika El tak pernah melintasi pagar sekolahnya. Begitu turun dari mobil dan supir meninggalkan tempat itu, El lantas berbelok menuju arah lain.


"Kamu kemana selama tidak sekolah, hha?!" tanya Angga gusar. Baru kali ini ia menunjukkan emosinya di depan El, membuat anak itu terkejut.


"Ke Warnet, Pa." Suara El mencicit karena ketakutan.


"Apa Warnet? Kurang puas seharian online di rumah sampai harus mengorbankan waktu sekolah!"


"El bosan sekolah, Pa."


"Bosan katamu? Lantas kamu mau apa kalau tidak sekolah?"


Tidak ada! Pokoknya sekolah itu membosankan. Beda dengan main game dan chatting dengan teman dari dunia maya, semua mengasyikkan. Tak ada yang kepo urusan orang lain, kecuali kalau mau Curhat. Tak ada aturan harus begini, harus begitu. Suka-suka, jika tak terima dengan ketikan jempolnya, silahkan blokir! Tak ada yang melarang, apalagi marah.


Ingin rasanya El mengatakan itu, namun nyalinya menciut. Jangankan melafazkan semua itu, mengangkat wajahnya saja, terasa begitu berat.


"Baik, kalau kamu tidak mau menjawab. Mulai besok papa yang akan mengantar dan menjemputmu sekolah, seperti dulu lagi. Jika kamu tidak mau berubah, jangan salahkan papa jika mencabut layanan internet di rumah ini!"


"Tapi, Pa, itu__"


"Tak ada tapi-tapian! Jika nilaimu hancur, komputer di kamar juga akan papa sita!"


El mengepalkan tangan kuat-kuat, ingin protes tapi tak berani. Wajah papa sudah berganti warna berkali-kali, menandakan emosinya sudah sampai di ubun-ubun. Untuk itu El segera menghentak badan dan berbalik, tergesa-gesa meninggalkan ruang tamu.

__ADS_1


Angga tak peduli, anak itu memang pantas di hukum. Namun setelah itu, ia terduduk lemas di sofa, ada rasa menyesal setelah memarahinya. Bukankah anak itu sangat menyayanginya?


Bersambung


__ADS_2