
"Ehmm, kalau ditambahin ngurus acara pernikahan nikah kita, apa Mas, masih sanggup?"
"Maunya\, sih\, bulan ini. Tapi sepertinya ___"
Angga tersedak, mendengarkan Nisa mengucap seperti itu. Tangannya menyambar gelas yang berisi air putih, menyesapnya separuh.
"Dek, jangan bercanda, dong." Dia menatap lekat di mata sang tunangan. Mencoba mencari kejujuran dalam netra bulat itu.
"Nggak Mas. Kita nikah bulan ini, ya?"
Angga menelan ludah, gugup sepertinya.
"Perasaan, Kita ke sini baik-baik saja. Nggak nabrak apapun, tapi kenapa sekarang oleng?" Angga masih menatap Nisa tak percaya. Tangannya memegang kening sang tunangan, Normal.
"Issh, Mas, kenapa? Nggak percaya sama saya?" protes Nisa.
"Hehehe, iya, tapi cuma dikit," sahut Angga cengengesan.
"Ok, sekarang, Kita serius. Coba ulangi sekali lagi, apa yang tadi, Adek, katakan," titah Angga serius.
Terlihat Nisa menarik napas, sebelum berkata, "Masss, bagaimana kalau nikahnya dipercepat? Bulan depan, gitu."
"Dek, kamu jual, saya ngutang! Baik, saya jawab sekarang. Tapi, setelah itu, nggak ada kesempatan untuk revisi atau berubah kembali. Bagaimana? Sanggup?" Angga mengultimatum Nisa. Baginya, pernikahan bukanlah sesuatu yang bisa dibuat permainan.
Dia tak ingin, janji yang akan diucapkan serta diminta pertanggung jawaban di hadapan Tuhan, menguap bagai pepesan kosong. Baginya jatuh cinta hanya sekali. Menikah juga hanya sekali.
Dia ingin, pasangan hidupnya kelak, bisa bersama-bersama menjalankan ibadah terlama dan terpanjang ini. Sebuah keluarga sakinah, mawaddah, warohmah menjadi tujuan dan impiannya selama ini.
Sementara Nisa, nampak gentar saat ditanya seperti itu. Jujur saja, keinginannya mempercepat hari pernikahan, bukanlah tanpa sebab. Dewa, dialah sosok di balik semua permintaan dadakan tersebut.
Rupanya sang mantan, tak pernah bisa benar-benar hilang dari hati itu. Meskipun sudah berusaha semaksimal mungkin, hingga menggunakan produk pemutih terwahid. Namun, bayang-bayang sahabat sekaligus mantan suami, selalu mengikuti setiap langkahnya.
Terjepit di antara masa lalu dan masa depan, membuatnya bagai buah simalakama. Serba salah. Mau ke kiri salah, ke kanan juga salah. Melihat Dewa yang terus berjuang untuk kembali bersama, membuat bara cinta yang belum benar-benar padam, kembali berkobar. Meskipun sampai detik ini, Nisa tak pernah mengiyakan pengakuan Dewa. Bahkan cenderung menampiknya.
Namun, dia sadar bahwa hati terbentuk dari segumpal darah. Lunak karena tidak bertulang. Membuatnya mudah untuk berpaling pada sesuatu. Demikian pula yang dirasakan Nisa dan itu menjadikan hari yang dilaluinya berselimutkan kabut. Tak bisa melihat dengan jelas apa yang sebenarnya diinginkan oleh jiwa itu.
Hingga Nisa hanya bisa memilih logika dan kenyataan di depan mata saja. Tanggung jawab sebagai seorang tunangan Angga dan menjaga nama kedua keluarga, menjadi pilihannya. Diabaikan perasaan cinta pada Dewa yang telah menyakiti dan meninggalkan jejak dihidupnya. Demi sebuah uluran tangan yang kokoh dan cinta yang ditawarkan oleh Angga.
"Dek! Dek! Are you okay?" Angga mengatakan itu seraya menggerak-gerakkan telapak tangan di wajah tunangannya. Nisa tersentak, rupanya dia terlarut dalam pikiran sendiri.
"Hehehe, maaf Mas, tadi bingung mau jawab apa. Soalnya, Mas, bilang mau ngutang. Lha, trus, kalau begitu apa saya mesti tanda tangan surat utang juga, agar dananya cair? Aduh, Mass, maaf ya. Cicilan saya juga masih banyak," gurau Nisa agar suasana mencair.
"Lagian saya juga nggak jualan apa-apa," timpal Nisa lagi.
Angga mengangkat kedua alisnya sejenak, kemudian terkekeh sambil menatap lekat perempuan di sampingnya.
"Jadi, bagaimana jawabanmu?"
__ADS_1
"Bismillah, kita nikah bulan depan." Nisa berkata dengan datar, tapi tegas. Matanya memandang ke arah pintu masuk restoran itu. Seolah di sana ada sebuah pintu keluar untuk semua gundah di hatinya.
Angga mengulum senyum bahagia, mendengar apa yang baru saja Nisa ucapkan. Diraihnya tangan perempuan yang telah menaklukkan hatinya.
"Terima kasih, Dek, atas kesungguhan hatimu, memilih hidup denganku. Insya Allah, dalam keluarga kita nanti, air matamu hanya akan mengalir karena bahagia. Bukan karena kesedihan," janji Angga tulus.
Hati Nisa bagai di awang-awang. [Seperti inikah rasanya dicintai seseorang dengan tulus?] bisiknya dalam hati.
"Saya nggak minta Mas, harus melakukan segala hal untukku. Cukup beri tempat untuk saya dan El di hati Mas. Ada saya dan El, di jiwa Mas. Sudah cukup membuat bahagia," balas Nisa.
\===
Pov Nisa
Berita mengenai dipercepatnya pernikahanku dengan mas Angga, sampai di telinga bang Naresh. Padahal sengaja belum memberitahu kepada siapa pun, termasuk keluarga inti. Nanti saja, saat jadwal pulang di hari Sabtu. Hal ini bukanlah sesuatu yang bisa dibicarakan secara gamblang melalui sambungan telepon.
Namun, sekali lagi ini membuktikan, manusia hanya bisa berencana, Tuhan-lah Sang pembuat keputusan. Sepertinya mas Angga sudah membicarakan hal ini kepada abangku seorang.
"Jadi benar, apa yang Angga katakan? Bulan depan pesta pernikahan Kalian?"
"Iya, Bang. Saya yang minta di percepat saja."
"Kenapa? Apa karena Dewa?"
Aku menghela napas perlahan, bang Naresh menebak tepat alasanku. Macam peramal saja.
"Hu'um. Kok, Abang tau?"
"Astagfirullah, Abang, ihh, tega banget. Ngatain adik sendiri ampas makanan! Jahat banget!" Aku merepet, jengkel. Walaupun janda, nggak ada, tuh, yang pernah ngatain aku 'Ampas'.
Namun, bukannya meminta maaf, terdengar gelak tawa di ujung telepon yang membuatku semakin marah.
"Memang, Kamu tau artinya?"
"Nggak! Emang, apaan?" sergahku.
"AMPAS MAKANAN (Aku Mencoba Pasrah Melupakan Kenangan) tapi ternyata nggak bisa, Coy. Barisan gagal move on, hahaha."
"Senang banget lihat orang susah. Awas ya, saya lapor sama __"
"Angga atau Dewa?"
"Abanggggggg!!!!"
Klik. Kutekan tombol merah untuk memutus sambungan telepon nggak ada akhlak tersebut. Merusak mood di pagi hari nan cerah ini.
\===
Sesampai di kantor, aku langsung menuju ruangan HRD untuk membicarakan sesuatu.
__ADS_1
Resign! Ya, aku berencana berhenti bekerja, sesuai dengan keinginan mas Angga. Sebenarnya, sih, nggak ada masalah bila harus berhenti berkarir. Hanya saja, aku ingin mereka menutup rapat atau merahasiakan hal ini, sampai disaat tanggal pernikahanku digelar.
Bukannya ingin terlihat eksklusif, hanya saja untuk menghindari gangguan dari seseorang. Siapa lagi kalau bukan Dewa. Untungnya pihak HRD mau bekerja sama. Aku pun bisa bernapas lega. Lihatlah, usahaku untuk melupakan dan menutup celah buat dirimu. Jadi, kumohon jalanilah hidupmu dengan baik, tanpa perlu memintaku putar arah kembali.
\===
"Mas, ijinkan saya tetap bekerja, hingga H-2. Bagaimana?" pintaku pada mas Angga saat dia menjemputku sore itu.
"Adek, masih sayang kalau harus berhenti?" Dia bertanya bali, sebelum menjawab pertanyaanku.
"Maaf, Mas, saya masih berusaha mengikhlaskan. Bagaimana pun perusahaan itu sudah membantuku untuk kembali tegar dan memupuk percaya diri sedikit demi sedikit. Namun, bukan karena hal itu, saya minta ijin," paparku jujur. Agar dia tak salah paham dan mau mengerti akan situasiku yang terjepit, diantara dia dan Dewa.
Angga tersenyum bijak, lalu berkata, "nggak masalah, Dek. Silahkan saja, asalkan keluarga tidak mempermasalahkan."
"Terima kasih, Mas, atas pengertingannya. Insya Allah, saya akan membicarakan ini besok pada mamah dan papah," ucapku bahagia mendapat lampu hijau darinya.
\===
Tak ada yang nampak berubah, suasana rumah masih seperti dulu. Mamah hanya menyingkirkan beberapa peralatan yang sudah tak terpakai. Semalam belum sempat berbicara apapun kepada kedua orang tua, saat tiba di rumah. Badan terasa capek dan sedikit lemas, sehingga langsung memilih tidur di sebelah El.
Pagi ini rencananya akan memberitahu pada keluarga mengenai beberapa perubahan yang telah di sepakati dengan mas Angga.
Papah sengaja tidak ke kebun sesuai permintaanku semalam. Setelah memandikan El, kubawa kesayanganku menuju ruang tamu untuk menyuapi sekaligus berbicara pada orang tua.
Kuceritakan semua yang terjadi belakangan ini, tentu minus perasaanku yang kembali berkecamuk lantaran seorang Dewa. Alhamdulillah, semua tak ada yang keberatan. Bahkan mamah terlihat sangat antusias mendengarnya.
Namun, ada satu hal yang membuatku cukup terkejut. Mamah dan papah berencana untuk kembali ke ibu kota, setelah urusan pernikahanku kelar.
Mamah sudah terlanjur sayang dan tak bisa jauh dari cucunya El. Papah berpikir, daripada nanti mamah sakit karena merindukan sang cucu, sekalian saja pindah kembali ke kota. Toh, agar kami anak-anaknya dapat dengan mudah untuk bertemu mereka jika memerlukan dan membutuhkan mereka.
Aku tanpa sadar memeluk mamah, karena terlalu gembira mendengar rencana mereka. Kutawarkan untuk tinggal bersama denganku dan mas Angga, tapi mereka menolak. Papah berkata, ia tak ingin membuatku manja karena keberadaan orang tua di rumah. Bisa saja jika suatu saat aku berselisih dengan mas Angga, serta merta langsung mengadu kepada mamah atau papah, agar membelaku. Itu tidak sehat.
Dan fitrah orang tua, pasti akan membela darah dagingnya sendiri. Papah tidak ingin mamah atau dirinya menjadi mertua yang dzolim untuk mas Angga.
"Kamu, datang saja ke rumah kami, bila ingin meminta pendapat. Tak baik bila sudah menikah masih bergantung pada orang tua. Belajarlah untuk mandiri, karena kelak Kamu juga akan menjadi benteng terakhir bagi anak-anakmu," ucap papah tegas.
Aku hanya bisa mengangguklan kepala, mendengar nasehatnya.
Karena sudah tak ada lagi kendala mengenai restu kedua orang tua, akhirnya harus kembali ke kota, untuk mempersiapkan segala keperluan pernikahan. Meskipun sebagian besar telah di handle oleh salah satu WO, tetap saja ada hal yang perlu kami urus sendiri.
Memanfaatkan jam istirahat kantor, bila ada keperluan yang mendesak. Cukup untuk mengaburkan rencana kami terhadap rekan kerja yang lain. Namun, itu tidak berlaku untuk Dewa.
Rupanya, diam-diam dia mengikutiku. Saat dengan mas Angga ke butik untuk fitting gaun pengantin. Hal ini membuatnya nekat menemui kedua orang tuaku.
"Nis, Dewa ada di rumah," kata mamah di telepon dan itu sukses membuatku cenat-cenut.
.
.
Bersambung
Please tinggalkan jejak review, star atau apa saja, untuk menyemangati author labil ini.
__ADS_1