
Walaupun Nisa dongkol karena Dewa ikut campur mengenai pertemanannya dengan Axel, namun tak urung ia mulai memikirkan siapa sesungguhnya pria yang ia temui di Australia itu. Iseng-iseng Nisa mengetikkan nama Axel Valen Winata pada mesin pencarian Google, siapa tahu bisa mendapatkan informasi. Barangkali saja pria itu cukup familiar di negeri ini, tak ada salahnya.
Dan benar saja, Axel Valen Winata memang mempunyai track record buruk yang tersimpan rapi di jagad dunia maya. Seorang anak Bankir ternama yang gemar mengarung malam bersama wanita-wanita cantik dan berkelas.
Nisa tersenyum pahit membaca beberapa berita di portal online.
"Dia hanya memperingatkan, mungkin dia tahu sesuatu. Nggak ada salahnya mendengarkan pendapat orang lain." Kembali kata-kata Angga terdengar di kupingnya. Nisa mendesah pelan, meletakkan kembali ponsel di sampingnya.
Mengapa ia harus begitu peduli? Bukankah di antara mereka memang tak ada apa-apa.
***
Nisa belum lama duduk di ruangannya, ketika sekretarisnya masuk membawa sebuket bunga mawar merah di tangan. Andaikan Dewa belum menampakkan diri di hadapannya, tentu ia akan menerima bunga itu dengan wajah berseri-seri. Tetapi kehadiran pria itu kemarin, membuatnya tak berselera lagi melihat mawar-mawar itu.
"Dari siapa?" tanya Nisa datar tanpa mengalihkan pandangannya pada layar komputer jinjing di depannya.
"Dari Dewa. Ini bu, ada kartu ucapannya," sahut sang sekretaris seraya memberikan amplop berwarna pink.
Nisa mendongak, mengambil amplop tersebut kemudian kembali menatap layar persegi di depannya. "Terima kasih. Bunganya kamu ambil saja." Bukan hanya datar tapi suara Nisa terdengar sedikit tegas.
Membuat sang sekretaris menatapnya bingung. Sedang marahkah Boss-nya pagi ini? Kenapa? Apa karena Nisa terlambat hari ini?
Nisa menyadari mungkin nada bicaranya terlalu lantang, ia pun mendesah pelan. "Kalau kamu tak suka, buang saja. Ruangan ini terlalu sesak, jika bunga itu kamu simpan di sini." Kali ini suaranya lebih melunak.
"Baik, Bu." Sekretaris itu memutar badan dan berjalan menjauhi meja direktur.
Nisa hanya memperhatikannya dari ujung mata.
Setelah sekretaris itu pergi, Nisa segera mengambil amplop pink dan membukanya.
"Masih suka mawar merah? Ini saya bawakan, walaupun jumlahnya tak mencapai seribu batang. Oiya, Saya ingin bertemu denganmu, tolong jangan menghindar seperti kemarin. Dewa."
Nisa mendengkus kesal, meremas kartu tersebut dan membuangnya di tong sampah dekat kakinya. Lantas dengan cepat meraih gagang pesawat telepon.
"Halo Rin, besok-besok jangan terima bunga untukku lagi. Kecuali dari keluargaku saja," katanya geram sembari menutup telepon.
__ADS_1
Dihempaskan punggung ke balakang, benar-benar merusak mood perempuan itu di pagi hari.
Dewa masih saja gigih, tak gampang menyerah. Namun, Nisa bertekad takkan tertipu lagi dengan semua perkataan manisnya, walaupun ia sadar sulit mengenyahkan pria yang masih penuh daya tarik tersebut. Usia Dewa memang bertambah, namun masih tetap menarik, masih tetap pandai bergaul dan tentunya masih tetap menduda.
"Tidak. Aku takkan membiarkan kehadirannya menambah kacau semua keadaan," tekad Nisa dalam hati. Ia menimbang-nimbang beberapa rencana untuk menghindari pria itu.
"Tapi dia bukan pria yang sekali ditolak akan menyerah." Sebuah suara entah darimana kembali mengingatkan Nisa akan siapa Dewa itu. Membuat perempuan itu benar-benar harus mengendalikan emosinya.
Dan dugaannya tak salah, ketika waktu istirahat mulai menyongsong, sekretaris itu kembali masuk ke dalam ruangannya.
"Bu, ada yang ingin bertemu. Namanya pak Dewa."
Nisa menelan ludahnya. "Lho, ini kan jam istirahat. Kamu nggak lupa kan?" tanyanya dingin.
"Maaf, Bu, saya sudah menjelaskan padanya. Namun, dia tetap ngotot ingin bertemu. Katanya teman lama ibu," jelasnya agak ketakutan. Belum pernah ia melihat Boss-nya berwajah dingin sedingin es kutup utara.
Nisa menatap sejenak sekretarisnya, kasian menempatkan gadis ini dalam permasalahan pribadinya, tidak profesional!
"Baiklah suruh dia masuk," katanya menurunkan tempo bicaranya.
***
"Apa yang dia katakan?" tanya Axel sabar. Menyesap kopi espreso kesukaannya. Sementara Nisa mencomot biskuit kecil teman kopi pahit itu.
"Katanya dia masih menyimpan rasa untukku."
Axel terbahak cukup keras, membuat pengunjung cafe sore itu mengalihkan pandangan sejenak terhadapnya.
"Dia hanya mau mengajakmu melihat tempat tidurnya," ujarnya santai.
"Xel, pelankan suaramu. Kamu bisa membuat orang salah paham padaku karena perkataanmu," gerutu Nisa.
Kembali Axel terkekeh, tetapi tak sekeras tadi. Ia memang seperti itu. Tak pernah pusing menjaga imagenya.
"Dewa bilang padamu mengenal saya dengan baik. Ok, sekarang dengarkan ini baik-baik, saya jauh lebih tahu sepak terjang laki-laki itu."
__ADS_1
"Ah, Kalian laki-laki sama saja hanya mencari kompensasi dari tindakan masing-masing. Apa kamu nggak takut diburu wartawan gara-gara minum kopi sore ini denganku?"
"Rupanya kamu sudah menyelidiki saya."
"Bukan menyelidiki, hanya ingin tahu sampai dimana sepak terjangmu, supaya aku tak ikut terseret gosip denganmu."
"Gosip?"
"Ya, di Google__"
"Kamu mencariku di Google?" Matanya berkilat tak percaya, "Kamu buang-buang waktu, Nis. Kenapa tak tanya langsung dengan saya. Jawabanku lebih akurat dibanding mesin itu."
"Aku lebih percaya Google dibanding kamu."
Axel terkekeh, memandang Nisa dengan tatapan menggoda. "Tak salah rasanya Dewa masih menyimpan rasa denganmu, Nis. Bahkan setelah bertahun-tahun."
Entah mengapa Nisa merasa panas, wajahnya menjadi merah. "Kenapa?" tanyanya menutupi perasaannya.
"Karna kamu berbeda. Entahlah ... ada sesuatu dalam dirimu yang membuatmu lain dari wanita kebanyakkan."
Kali ini giliran Nisa tertawa. "Bedanya aku sudah memiliki dua anak, sedangkan para model yang kamu kejar belum memiliki anak," ucap Nisa santai. Dasar pria, terlalu pandai melihat situasi. Mujur ia sudah mencari tahu siapa Axel Valen Winata.
***
"Benar, Pa. El nggak mungkin bohong," sergah El kesal.
"Barangkali kamu salah lihat, Nak," tampik Angga sabar. Walaupun ia sendiri kaget dengan berita yang disampaikan El, tetapi ia pura-pura biasa saja. Agar tak menambah kemarahan sang anak.
Tanpa sengaja, El melihat Nisa ada di cafe yang sama dengan tempat ia dan teman-temannya janji bertemu sore itu. Untung saja El tak jadi masuk, karena curiga melihat mobil sang mama ada tempat parkiran dan benar saja, ada mama di sana. Tapi siapa pria yang bersamanya?
Dari tempat yang cukup terlindungi akhirnya El mengawasi Nisa. Melihat gerak-gerak sang mama dan pria itu, membuat hatinya panas. Buru-buru El mengeluarkan ponsel dan berniat untuk mengambil gambar mereka. Namun sayang, ternyata ponselnya mati karena lowbatt. Hampir saja El membanting benda itu lantaran tak bisa digunakan di saat yang penting.
Cukup lama El mengintai Nisa dan Axel. Namun, pada akhirnya ia kabur dari tempat itu, ketika melihat Axel meraih tangan Nisa dan menggenggamnya walau hanya beberapa menit. Ia harus segera pulang dan melaporkannya pada sang papa. Persetan dengan janji temu temannya. Masalah yang ini jauh lebih penting dari janji itu.
Namun sayang, reaksi Angga sungguh di luar dugaan Nisa. Papanya terlalu santai menanggapinya. Atau mungkin papa memang tak percaya mama seperti itu? "Papa terlalu menyayangi mama," pikir El kesal. Apalagi ia tak memiliki bukti karena ponselnya tiba-tiba lowbatt.
__ADS_1
Bersambung