
Hujan yang tak kunjung berhenti sejak semalam, membuat Mona ngebet minta jemputan Dwi. Nisa sudah menawarkan berangkat bersama Angga, tapi ditolak.
"Nggak enak ganggu orang pacaran," kilahnya sambil mengulum senyum.
Nisa hanya menggeleng, malas meladeni candaan sahabatnya.
Sementara itu, dalam sebuah apartemen. Dewa nampak bersemangat sekali. Sangat bertolak belakang dengan cuaca di luar yang gelap dan hujan.
Rupanya pesan tengah malam yang dikirim sang mantan, membuat hati gembira. Terbayang sebuah lukisan keluarga sakinah yang dilakoni bersama Nisa dan El.
Diraihnya jam tangan sporty nan klasik, Tag Heuer, yang tergelak di atas meja lampu tidur. Ponsel masuk dalam saku baju, lalu keluar dari room miliknya.
Pintu lift terbuka, gegas melaju menuju parkiran dan mengemudikan mobil hitamnya, membelah jalanan yang basah oleh curah hujan.
Dewa langsung bertolak menuju kost Nisa. Bermaksud ingin memberi tumpangan karena hujan lebat ini. Lelaki itu menunggu dalam mobil, sementara netra tak lepas mengawasi pintu pagar.
Sengaja tak memberitahu Nisa, karena takut akan ditolak. Dia setia menunggu hingga seorang perempuan keluar dengan menggunakan payung berwarna kuning. Tak salah lagi itu calon kekasih halalnya.
Lekas menyalakan mesin, bersiap memotong jalan. Namun, di saat bersamaan mobil milik Angga berhenti tepat depan perempuan itu. Ambyar sudah rencana pagi ini. Tak ada pilihan lain selain berbelok mencari lintasan yang berbeda. Pergi dengan segunung rasa kecewa.
"Yess!" pekik Dewa dalam mobil. Rupanya setelah melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan, ada selisih waktu sepuluh menit lebih cepat dibanding jalan yang biasa dilalui Angga dan Nisa. Artinya masih bisa mencegat perempuan itu, saat di tangga nanti.
Gegas lelaki itu mengambil tempat untuk mengawasi gerak sang mantan. Tak berselang lama, nampak Nisa tengah berjalan masuk dari gerbang utama kantor ini. Dan yup, Dewa sudah siap untuk menyambutnya.
"Pagi Mantanku," sapa Dewa dari belakang Nisa.
"Astagfirullah," sergah Nisa terkejut. "Perasaan nie orang, ngekor terus deh."
"Ya ampun ini Perempuan, bener banget," timpal Dewa selow.
"Ishh! Masih pagi Pak, tolong jangan ganggu dulu napa! Buat badmood aja!" ketusnya.
"Siapa juga yang mau ganggu. Saya cuma mau melangkah bersama Kamu saja."
Nisa menghentikan langkahnya menapaki anak tangga, melebarkan mata menatap Dewa.
"Ayo," kata lelaki itu. Kemudian meraih jemari sang mantan. Lalu berbisik, "melangkah menuju pelaminan."
"Pak." Nisa berusaha melepaskan tangannya. Namun, Dewa menggenggam semakin erat.
"Kenapa?" tanyanya sambil tersenyum menatap Nisa. Perempuan itu semakin kesal.
"Pak!" Ketusnya.
"Nisa," jawabnya.
"Pak!"
"Nisa!"
Entah ada apa dengan kedua orang itu.
"Pak Dewa, Nisa?" Mona sudah berdiri di belakang mereka.
"Mona!" sahut Nisa terkejut. Dewa telah melepas tangannya.
"Saya duluan. Ingat laporannya, Nis." Dewa melenggang, membiarkan Nisa mengatasi tanda tanya Mona.
[Awas kau, Dewaaaa,] geramnya dalam hati.
"Ayo Mon, absen dulu."
"Hemm," desah Mona seraya memicingkan matanya.
"Iya, iya aku janji jelasin semuanya nanti."
"Betul?"
__ADS_1
"Iya, yuk ah," ajak Nisa terburu-buru. Takut terlambat saat absen kedatangan.
.
.
Pov Nisa
"Apa?!" pekik Mona. Beberapa orang yang sedang makan siang di kantin, spontan berbalik menatap kami.
Aku pura-pura menyesap jus orange di depanku. Setelah kondisi normal, kembali melanjutkan obrolan dengan Mona.
"Ayo lanjutin lagi, Nis," pinta Mona.
"Pakai teriak lagi nggak?" selidikku.
"Hehehe, diusahakan tidak ya, Say." Mata Mona berkedip menggoda.
Aku pun menjelaskan kembali, tentang hubunganku dengan Dewa yang juga ayah dari El.
Mona yang biasanya suka bercanda, kini sendu. Mungkin ikut merasakan segala gundahku. Kamipun melanjutkan makan tanpa banyak bicara lagi.
.
.
"Nis, di panggil pak boss," ujar Mona.
"Ya," jawabku lesuh.
"Semangat dong, nggak mungkin dia macam-macam saat jam kantor," bisiknya.
Aku hanya tersenyum. Mona belum tahu saja boss-nya itu seperti apa. Dengan langkah gontai, menuju ke ruangan Dewa.
"Nanti sepulang kerja, tolong jangan pulang dulu. Kita ada undangan dari pihak showroom kemarin."
"Bukannya ada mbak ...."
"Nggak ada bantahan? Ya sudah, kembali ke tempat."
"Iya, Pak." Aku berbalik, menjauh dari lelaki itu.
"Ingat, habis jam kantor jangan pulang!" katanya sebelum pintu berhasil kubuka.
"Iyaa," jawabku tanpa menoleh.
.
.
Ini perasaanku saja atau memang arah mobil tidak sedang menuju ke showroom.
"Kita kemana, Pak? Bukannya mau ke tempat yang kemarin?"
"Masih ada waktu. Tolong bantu saya memilih barang buat El."
Pundakku yang semula tegang, kini mengendur.
"Katanya sabtu besok, saya bisa nitip sesuatu buat El. Berhubung belum ada ijin dari PUSAT untuk bisa bertemu, makanya saya masih belum tahu apa kesukaannya." Dia memberi tekanan pada kata pusat.
"Hemm."
"Kamu memang banyak berubah Nis, tidak sama seperti dulu," katanya menoleh sekilas.
"Kan, sudah dewasa Pak."
Dia kembali serius memperhatikan kendaraan di depan.
__ADS_1
"Kamu serius sama Angga?" tanyanya tanpa menoleh.
"Nggak tahu."
"Benar nggak tahu atau nggak mau beritahu saya?"
"Apaan sih?" ketusku.
Dia kemudian menghentikan mobil di tepi jalan, kebiasaan!
"Itu penting. Andai kamu memang serius dengan dia, saya akan mundur."
Deg!
Mendadak ada rasa bersalah di hatiku.
"Aku dan Angga belum ada komitmen apapun. Selama dia baik dan menghargai saya sebagai perempuan, nggak masalah buatku."
Dewa meletakkan dagunya di kemudi. Tak ada kata pun yang dia ucapkan.
"Sekarang aku tanya? Apa Bapak serius ingin bertanggung jawab pada El?"
Dia menoleh, kemudian menarik badan bersandar.
"Tentunya."
"Kalau begitu, Bapak berikan sendiri bingkisannya. Nanti aku hubungi mama, beritahu kalau Bapak mau berkunjung ke sana. Bagaimana?"
"Kamu, nggak jadi pulang?"
Aku menggeleng, "Biarkan mama dan papa, berbicara bebas dengan Bapak. Takutnya mereka sungkan, mengatakan sesuatu kalau aku di sana."
"Kamu serius kan? Nggak berubah lagi?" tanyanya. Sorot mata elang itu menghujam tepat di netra ini.
Berdegub lagi. Semoga tidak jantungan!!
"I-iya," jawabku terbata. Lekas kubuang muka ke samping agar tak semakin gugup.
"Nis," lirihnya.
"Ehm," sahutku. Reflex kembali menatapnya. Ya ampun, jantung ini!
"Kriukk, kriukk!" Bunyi perutku.
"Lapar?"
"Nggak," jawabku tersipuh.
Betul-betul deh, ini organ tubuhku. Tadi jantung sekarang lambung. Isshh!!!
"Lha, tadi itu?"
"Lagi sakit, butuh obat," kilahku.
"Obat apa?"
"Bakso."
Dewa terkekeh, kemudian kembali menjalankan mobilnya.
.
.
Bersambung
🌷🌷🌷🌷🌷
__ADS_1
Please tinggalkan jejak like, komentar atau apa saja. Untuk menyemangati author 😁😍🙏
Terima Kasih