JODOHKU TUAN DUDA

JODOHKU TUAN DUDA
Menikah


__ADS_3

Pov Author


 


Didalam ruang kerja, Dewa menimbang-nimbang undangan yang baru saja Mona berikan padanya. Tertulis nama Nisa dan Angga di sana. Pikirannya kalut dan bingung. Beragam pertanyaan muncul di benaknya. Apakah dirinya harus datang sebagai tamu undangan? Mengapa bukan namanya yang tertulis dalam undangan?


 


Dilemparnya undangan mewah berwarna gold di atas meja kerjanya. Kemudian menghempas punggung dengan kasar, pada sandaran kursi yang lihai berputar 360 derajat.


 


Netranya menerawang pada langit-langit ruangan itu. Emosi masih membingkai manis, di raut wajah nan menawan itu.


 


Seketika matanya membelalak, melihat punggung Nisa yang mulai berjalan menjauhinya. Langkahnya tegas, setegas hati perempuan itu, yang enggan untuk menoleh sedetik pun pada Dewa.


 


"Aku pergi," ucap Nisa tanpa menoleh.


 


Dewa yang semula percaya bahwa Nisa takkan pernah pergi, kini tersedak oleh napasnya sendiri. Melihat secara langsung, tubuh semampai itu semakin menjauh.


 


[Lihatlah aku sekali saja, Nis! Aku akan berlutut di hadapanmu, bila itu bisa membuatmu berhenti,] lirih Dewa dalam hati.


 


Namun, tidak! Selangkah lagi perempuan itu, akan menjejakkan kaki keluar dari ruangan ini.


 


"Aku akan menunggumu!" pekik Dewa agar Nisa mendengarnya.


 


Berhenti! Kaki jenjang itu terpasung di ambang pintu kaca. Lalu Nisa terbahak, membungkus rapi rasa yang berkecamuk di hatinya.


 


"Tak perlu. Sepertinya takdir enggan menyatukan Kita kembali, sia-sia," tegas Nisa. Tangannya memegang daun pintu.


 


"Tak mungkin! Aku akan menulis takdirku sendiri. Aku akan mengukir kisah Kita, hingga abadi," sergah Dewa dengan penuh percaya diri.


 


"Cukup! Kau pikir, rasaku terhadapmu hanya main-main? Hingga dengan mudahnya, kau campakkan hanya karena permintaan seorang Wanda!" sentak Nisa.


 


"Berhenti di situ, jangan karena rasa cintamu membuatku berat melangkah. Aku ingin bahagia dan Kamu pun harus bahagia. Meskipun itu artinya Kita tidak bersama. Egoislah, untuk bahagiamu," tambah perempuan itu. Tangannya mengepal menjadi satu, menahan sakit di dada saat mengatakannya.


 


Jemari lentiknya menarik tuas pintu, terbuka. Dengan sekali tarikan napas yang panjang, tubuh rampingnya menghilang di balik dinding.

__ADS_1


 


Dewa terkejut, tak mendapati sosok yang terlambat dicintainya. Lekas hendak berlari mencari Nisa. Namun, suara pekikan ponsel yang meraung-raung, membuat dirinya tersadar. Matanya sedikit silau, oleh pendar lampu Led yang terpancar di atas ruangannya.


 


Dia mengerjapkan mata, melihat sekeliling. Mencari ponsel yang sudah berhenti berdering. Ah, akhirnya dia sadar, apa yang baru saja dialami, mimpi. Mimpi yang sama seperti keadaannya saat ini.


 


[Dalam mimpi itu, Nisa pergi. Apakah __,] gumamnya dalam hati. Lekas bangkit dari duduknya, kemudian keluar ruangan, berjalan ke area kerja bawahannya.


 


Gegas menyeret kakinya menuju bilik Nisa. Dalam bilik, terlihat Nisa dengan tekun mengajarkan Mona, yang akan menggantikan posisi Nisa kelak. Dewa mengusap kasar mukanya [sepayah inikah rasanya patah hati?] Dia membatin. Sungguh melelahkan.


.


.


 


Seminggu kemudian.


Akhirnya hari yang dinanti oleh Erlangga Wicaksono tiba juga. Pengusaha muda yang bergerak dibidang perhotelan, nampak gagah dalam balutan jas berbahan woll, berwarna cream. Tampan, dinamis dan modis, tiga kata untuk menggambarkan calon suami Nisa tersebut.


 


"Saya terima nikahnya Nisa adena binti Cakrawangsa, dengan mas kawin tersebut. Tunai!" Lancar dan tegas, Angga mengucapkan ijab kabul. Sekali tanpa pengulangan.


 


"Bagaimana saudara-saudara? Sah?" Ujar pak penghulu, mengedarkan pandangannya ke seluruh tamu undangan yang hadir di sana.


 


 


"Alhamdulillah." Lagi-lagi ucapan syukur menyeruak dalam masjid di desa tempat tinggal, Orang tua Nisa.


 


Semua yang menyaksikan prosesi sakral itu mengucap rasa syukur. Santika dan Cakrawangsa merasa lega luar bisa. Akhirnya sang putri memiliki sandaran dalam hidupnya. Bagi Santika Angga merupakan orang yang tepat untuk mendampingi Nisa. Wanita paruh baya itu berharap, anaknya bisa memiliki keluarga sakinah, mawaddah dan warohma.


 


Hal yang sama dirasakan oleh kedua orang tua Angga. Mereka bersyukur putranya menemukan belahan jiwa yang selama ini dia cari. Meskipun status Nisa sebagai single parent, tak membuat mereka memandang sebelah mata. Justru mereka kagum terhadap sosok istri Angga itu. Wanita tangguh dan pantang menyerah, sangat ideal berpasangan dengan anak mereka yang merupakan seorang pebisnis. Dimana kelak, dukungan seorang istri akan sangat berarti bagi Angga dalam mengembangkan bisnisnya.


 


Namun, berbeda dengan Nisa. Perasaan hampa itu masih bergelayut di hati. Bahkan saat dia duduk di pelaminan bersama Angga. Dia merasa seperti seorang badut, yang dituntut untuk selalu tersenyum, agar suasana pesta pernikahan memancarkan aura kebahagian.


 


Nisa semakin kalut, kala tak melihat sosok mantan suaminya. Dia pikir, Dewa bercanda saat mengatakan tidak akan hadir, sehingga diacuhkan saja perkataan itu. Namun, kini terbukti, Dewa benar-benar tak ingin menyaksikan hari besarnya. Nisa tahu, itu merupakan cara Dewa untuk mengurangi rasa sakit di hatinya. Pernikahannya dengan Angga, menggoreskan luka tak hanya untuknya, tapi juga untuk Dewa.


 


Dan kala netranya melihat El tengah bersama kakak iparnya Nindi, dia pun mulai menyadari ada sebongkah hati suci yang mungkin akan terluka, melihat kedua orang tuanya tak bisa bersama lagi. Nisa mengulas senyum pada El, saat anak itu menunjuknya. Senyum yang membalut sebuah luka.


\===

__ADS_1


Malam hari, seharusnya menjadi malam penuh romansa bagi pasangan pengantin baru, yang hendak melaksanakan malam pertama. Namun tidak bagi Nisa dan Angga. Semua terasa asing dan aneh. Terlebih buat Nisa, pada dasarnya dia belum siap untuk menyandang status sebagai seorang istri.


 


Sebagai hadiah atas pernikahan anaknya, Wicaksono komisaris utama bisnis yang dijalankan Angga, telah menyediakan Kamar Presidential Suite buat mereka. Kamar mewah yang terdiri dari dua ruang tidur yang dilengkapi gudang anggur pribadi, fasilitas dapur, ruang makan, taman, hingga pelayan pribadi.


 


"Selamat menikmati fasilitas mewah di hotel sendiri," goda Wicaksono seraya tersenyum tipis.


 


"Mewah dan ekonomis, tepatnya," sahut Angga.


 


Wicaksono terkekeh, "ini saja dulu, nanti Kalian atur sendiri, mau bulan madu dimana."


 


"Siap, Boss. Asal waktu cutinya ditambahin." Angga mencoba meminta kelonggaran.


 


"Beres, itu gampang diatur. Asal ada jaminan, Kalian pulangnya bertiga, bukan berdua lagi."


 


Angga mendelik, wajahnya seketika kaku. Dia sangat tak nyaman, membicarakan hal-hal demikian dengan orang tuanya sendiri. Segera dia berlalu, meninggalkan Wicaksono yang tengah tertawa mengejek.


 


Karena perjalanan yang memakan waktu sekitar empat jam dari Lebak, Banten menuju ibu kota Jakarta, membuat Nisa kelelahan. Angga langsung memboyong Nisa ke Jakarta saat pesta selesai. Guna memaksimalkan hadiah dan waktu cuti yang Wicaksono berikan. Rencananya Nisa akan kembali lagi ke desa, setelah menghabiskan waktu liburan, untuk menjemput El. Sedangkan orang tuanya akan pindah dalam waktu satu bulan ke depan. Cakrawangsa masih harus membereskan sedikit masalah mengenai jual beli kebun miliknya.


 


Perempuan itu membersihkan badan yang terasa lengket dengan air yang mengalir dari shower. Kegelisahannya tak jua hilang, meskipun waktu sudah berganti malam.


 


Angga baru saja masuk, setelah digoda oleh ayahnya. Diletakkan tas kecil miliknya di atas meja, lalu berjalan menuju kamar mandi.


 


Dia terperangah saat mendapati istrinya di dalam, tengah berada di bawah kucuran air hangat, yang mengalir dari shower. Nisa spontan memekik tak kalah sadar, ada orang lain dalam ruangan yang privat itu.


 


Buru-buru Angga keluar sambil menutup pintu. Jantungnya berdegup tak beraturan, wajahnya serasa panas. Ini pertama kalinya, dia melihat utuh bentuk seorang wanita. Ada hasrat yang bergejolak sebagai lelaki normal, tapi dia tak ingin gegabah, menyentuh sesuatu yang telah halal untuknya. Dia tau bahwa Nisa, belum mencintainya secara utuh. Dan nalurinya bisa merasakan hal itu.


.


.


Bersambung


Please tinggalkan jejak review, star atau apa saja, untuk menyemangati author labil ini.


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2