JODOHKU TUAN DUDA

JODOHKU TUAN DUDA
Tak Lagi Sama Seperti Dahulu


__ADS_3

Pov Nisa


Dua minggu setelah meeting review.


"Bagaimana Nis, cakepkan?" tanya Mona dengan senyum genit.


"Siapa?"


"Manager baru kita, gantinya pak Yotan," jawabnya dengan mata yang masih berbinar.


Aku hanya menyunggingkan senyum dan menggeleng pelan melihat tingkahnya.


"Jangan lupakan mas Dwi, Mon."


Mulutnya langsung mengerucut, melongos kembali ke meja di sampingku. Aku mulai sibuk membuka berkas yang menumpuk di depanku. Mencoba menetralkan hati sebisaku. Kulirik Mona, masih senyum-senyum sendiri. Andai saja dia tahu, siapa sebenarnya manager baru itu ....


Bibirku tiba-tiba merapat, saat staf HRD mengenalkan Dewa Mahaprana sebagai pengganti pak Yotan. Sementara yang lain, nampak tersenyum dengan netra yang berkilau, saat mendengar arahan sekilas dari Dewa. Sungguh membuatku gerah.


Dengan postur yang tinggi, bahu lebar yang kokoh, akan sangat mudah menarik perhatian karyawati bagian marketing. Sudah sejak dulu, dia memiliki kharisma sebagai don juan. Aku pun saat itu sama seperti mereka, tapi bedanya rasa itu tersimpan rapi.


"Nis, dipanggil bos baru," kata Reina. Sekretaris itu sudah berdiri di dekatku.


Aku menautkan alis, heran. "Kok Mbak, yang ke sini? Biasanya juga lewat telepon."


"Bos baru belum hapal nomer line-nya, buruan gih," jawabnya seraya melenggang pergi.


Kuhembuskan napas, sedikit geram.


[Mau apa lagi dia? Salah, jika menganggap aku Nisa yang dulu!]


Aku berdiri hendak beranjak, tapi Mona menarik lenganku. Dengan sigap tangannya menyapukan bedak ke wajah.


"Kenapa sih, Mon?" kataku sedikit risih, diperlakukan seperti itu.


"Udeh, siapa tau bos itu naksir Kamu, biar nggak jomblo lagi."


"Issh, nggak lucu," kataku pura-pura cemberut.


Kutepis tangan itu dan meninggalkannya.


Tok, tok! Suara ketukan pintu.


"Masuk!"


Dengan hati berdebar, kutarik handle pintu, berjalan masuk ke ruangannya. Hembusan udara dingin dari Ac, menyambutku.

__ADS_1


Dia duduk di pinggiran meja, matanya menatap tak berkedip.


"Tolong pintunya ditutup!"


Tanganku kembali menutup pintu, sesuai perintahnya. "Kalau perlu, sekalian di kunci."


Kutarik napas dalam-dalam, mencoba tidak terpancing oleh sikapnya.


"Bagaimana? Saya membuktikan perkataanku tempo hari, bukan? Kita akan bertemu," tegasnya.


"Iya, Pak." Netraku menatap dinding ruangan di belakangnya.


"Duduk, Nis."


Aku terseyum sambil menggeleng, "Bapak, perlu apa?" tanyaku sopan.


Dia tersenyum sinis, menengadahkan kepalanya ke atas. Kemudian kembali menatapku dengan mata elangnya.


"Nggak capek, bersikap kaku begitu? Seolah-olah kita tidak saling mengenal?" Dia berjalan menghampiriku. Hanya berjarak selangkah di depanku.


"Kemana perginya Nisa yang dulu? Yang selalu ada, saat dibutuhkan?"


"Setelah itu dibuang, begitu saja!" timpalku cepat. Ada rasa nyeri saat mengatakan itu.


Kini giliran dia yang menarik napas, entah apa yang dipikirannya.


"Semua sudah berlalu, Pak. Nggak penting lagi untuk dibahas."


Dia diam tak bersuara, hening.


"Kayaknya belum ada pekerjaan baru. Permisi, Pak."


Aku berbalik dan melangkah, tapi serta merta di menarik lenganku.


"Kamu berbohong! Katamu masih bisa berteman lagi, mana buktinya?"


"Yang aku katakan saat itu MUNGKIN SAJA. Sudah ya Pak, pekerjaanku masih banyak. Lain kali saja, kita bahas" pintaku dengan sedikit memelas. Namun, dia bergeming, menatapku lekat. Kuberanikan diri menatapnya, sekilas mata kami bertemu.


"Permisi!" Aku keluar ruangan, kembali ke tempat. Untuk sesaat aku terdiam dalam kekalutan. [Tidak, jangan membuka kembali pintu yang sudah terkunci rapat!]


.


.


"Hai, anak mama! Ganteng amat! Sudah makan?"

__ADS_1


"Mama, mama, ummahh." Dengan gerakan yang menggemaskan, El melakukan gerakan kiss bye.


"Lho, belum udahan juga, sudah salam perpisahan saja," sungut Mona. Dia terkekeh melihat tingkah El.


"El, tante Mona disapa dong Sayang. Ayo ngomong, halo Tante centilku."


"Issh, kebiasaan deh. Mama El, kok bawel yah." Dia tertawa mengejek.


Namun, El sepertinya sudah mulai bosan. Dia berlari menjauh dari layar ponsel mama.


"Kamu pulang sabtu nanti, Nduk?"


"Insya Allah, Ma. Ada yang mau dititip?"


"Nggak ada, Kamu hati-hati saja di sana. Jaga diri baik-baik."


"Iya Ma, sudah dulu yah. Sudah mau masuk, mau sholat dulu. Assalamu alaikum."


"Waalaikum salam," kata mama di akhir video call.


Selalu saja ada sesak menghinggapi, setiap akhir menghubungi mereka.


Mona mengelus punggungku, "sudah, sholat dulu yuk," ajaknya.


Aku mengiyakan dan berjalan bersama menuju mushola kantor.


\=\=\=


Pov author


Tanpa Nisa dan Mona sadari, sedari tadi, ada seseorang di balik dinding samping. Mendengar dan mengamati dengan seksama apa yang baru saja terjadi.


Kedua tangannya mengusap kasar, raut wajah yang tampak kebingungan. Berbalik arah, menunggu Nisa dan Mona keluar dari mushola. Lalu kembali keluar menuju tempat yang sama, mushola kantor.


\=\=\=


Bagaimana kisah mereka selanjutnya? Episode 18 akan muncul tokoh baru. Siapa dia?


Yuk, sama-sama menunggu episode selanjutnya 😍🙏


Bersambung


🌷🌷🌷🌷🌷


Please tinggalkan jejak, like, komentar atau apa saja, untuk menyemangati author 🙈😁😙🙏

__ADS_1


Terima kasih


__ADS_2