
Pupil mata Nisa melebar, telapak tangannya berkeringat. Kata-kata Dokter yang memeriksa Pradipta masih bergema di telinganya.
"Dia terkena herpes, gonore, sifilis dan Aids. Saya tidak mengijinkan pasien keluar dari rumah sakit. Dia harus masuk ruang observasi."
"Ya Tuhan, apa yang baru saja aku alami?" bisiknya dalam hati.
Hampir saja Nisa dan Axel terkena masalah di negeri orang, jika tak segera melarikan Pradipta ke rumah sakit. Saat melihatnya di kamar itu, Pradipta sedang demam, batuk, dan sesak napas. Keringat dingin tak berhenti berkucuran di sekujur badannya.
"Naas betul 'tawanan' ini," gerutu Nisa dalam hati.
Tanpa pikir panjang lagi, Nisa segera menelepon pihak hotel serta memanggil ambulans. Dan di sinilah mereka berada, di salah satu rumah sakit yang terdekat dari hotel, sedangkan Angga kemungkinan besok pukul sepuluh pagi baru tiba di Australia.
Menurut Dokter tadi, pasien sudah tahu akan penyakit yang ia derita. Namun, tak kunjung memeriksakan diri karena keterbatasan dana serta tidak memiliki jaminan kesehatan. Apa seorang imigran gelap bisa memiliki jaminan seperti itu? Tidak ditangkap Polisi saja, sudah sangat beruntung.
Mujur Dokter itu tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh Pradipta sebelum tiba di RS. Jika Dokter itu tahu, tak butuh waktu yang lama Polisi akan segera meringkusnya. Namun, dari "bank penyakit" yang diderita Pradipta, tim medis sudah bisa menebak pekerjaan dan gaya hidup pasien.
***
"Maafkan saya, Mas. Waktu saya sudah tak banyak lagi. Tolong maafkan saya," ratap Pradipta di depan Angga.
"Jangan panggil saya seperti itu lagi! Kita sudah tak punya hubungan yang menjijikkan itu," gusar Angga. Sengaja ia langsung menemui Pradipta di rumah sakit, begitu kakinya menjejak di bandara.
"Tapi Mas ... maksud saya, Pak. Pak Angga mau memaafkan saya, kan?"
"Untuk memaafkan, saya sudah maafkan. Walaupun sebenarnya saya ingin menghajarmu habis-habisan, tapi setelah melihatmu seperti ini ... tak ada lagi yang mesti saya tuntut darimu. Biarlah keadilan Tuhan yang bekerja."
Pradipta menangis pilu. Entah ia menyesali perbuatannya atau ketakutan mendengar ucapan Angga.
"Sudahlah simpan tangismu itu. Kamu sendiri yang memilih jalan ini, nah, nikmatilah hasilnya," jengah Angga mendengar tangisan manusia tersebut. Dendamnya akan kepergian kedua orang tuanya masih menggema di dada.
Angga lantas beringsut dari kursi samping brankar, kemudian melangkah menuju pintu. Rahangnya masih terlihat mengejang. Kondisi Pradipta yang mengenaskan tak lantas membuat hatinya melunak terhadap pria itu. Tangannya masih gatal ingin melayangkan bogem mentah di wajah Pradipta.
"Kamu tenanglah berobat di sini, saya akan menanggung semua biayanya. Hanya sampai di situ bentuk pertanggung jawabanku, selebihnya kamu negosiasikan sendiri dengan malaikat maut. Selamat siang." Angga segera berlalu dari ruangan itu tanpa pernah menoleh dan bertemu kembali dengan Pradipta.
__ADS_1
Sementara di luar Nisa sudah menunggu di kursi panjang. Angga segera menghampirinya, ia terduduk lemas di samping Nisa. Berkali-kali pria itu menghela napas, melonggarkan saluran napas yang sedari tadi terasa sesak saat bertemu Pradipta.
Nisa mengelus pelan lengan suaminya. Saat tangannya menyentuh lengan itu, ada yang bergetar halus di dada Nisa. Betapa dulu lengan itu mampu menenangkannya kala hati resah, tempat ternyaman yang selalu ia rindukan.
Namun semua itu kini telah berubah, betapa pun Nisa sangat merindukannya pelukan Angga sudah tak nyaman lagi, jurang itu terlalu lebar dan dalam untuk dilalui.
"Lebih baik saya pulang hari ini juga, Dek. Tak ada lagi yang bisa saya kerjakan di sini."
"Lho, cepat sekali? Mas, nggak ingin melihat progres pembangunan resort kita?"
"Nggak usah, saya percaya padamu."
"Mas, tinggallah sehari atau dua hari. Nikmati suasana di sini, siapa tahu bisa membantu memperbaiki suasana hati."
"Percuma, Dek. Selama Pradipta masih ada di negara ini, saya tidak bisa tenang."
"Kalau begitu, pergilah senangkan hati Mas. Kunjungi negara mana saja yang ingin Mas tengok."
"Dengan meninggalkan anak-anak di rumah? Sekarang bukan waktu yang tepat."
"Saya pulang sekarang. Tak perlu kamu mengurusi pria itu lagi. Saya tidak ingin mereka menyudutkanmu kembali. Besok atau lusa akan ada pengacara yang datang mengurus semuanya, bahkan ketika Pradipta harus mengalah pada penyakitnya, semua akan diselesaikan oleh pengacara."
Nisa hanya menganggukkan kepala untuk membuat Angga tenang. Tak lama kemudian mereka pun meninggalkan rumah sakit itu.
Angga sudah berkeras hati, ia meminta istrinya untuk mengantar ke bandara saat itu juga.
"Makan dulu lah, Mas, sebelum pulang," tawar Nisa. Tak tega rasanya membiarkan Angga pulang secepat itu.
"Nggak usah, Dek. Kalau soal lapar restoran di bandara juga banyak," tampiknya.
"Nggak pengen beli oleh-oleh buat anak-anak dulu?" Nisa masih berusaha membujuknya.
"Kamu saja yang belikan, saya sudah pengen cepat-cepat pergi dari sini. Semakin lama di sini, masa lalu yang saya ingin lupakan kembali muncul. Membuat saya membenci diri sendiri."
__ADS_1
"Bersyukurlah, Mas masih bisa kembali ke jalan yang benar. Coba lihat Pradipta, jika saja tidak kami bekuk, mungkin dia masih terlena di dunianya yang hitam."
Angga terdiam, mengalihkan pandangan keluar jendela.
"Aku juga heran melihat Pradipta, sudah sakit begitu masih nggak tobat juga. Malah beralih profesi menjadi bandit jalanan."
"Justru karena dia sakit, dunia malam sudah menolak kehadirannya. Jalan satu-satunya beralih ke jalanan, semata-mata untuk mengisi perut, sebelum ajalnya tiba."
Nisa sempat bergidik membayangkan jalan hidup Pradipta selama di negari orang. Pantas saja ia mudah dikalahkan Axel saat hendak merampas tasnya, ternyata orang itu sedang sakit. Hanya dengan sekali tendangan di perut, Pradipta sudah bisa dilumpuhkan.
"Oiya, Dek, katamu tadi 'kami bekuk.' Kami itu siapa? Anak-anak yang ikut kamu ke sini?" tanya Angga penasaraan.
Karena Angga terburu-buru ingin pulang, ia belum sempat bertemu dengan Axel.
Nisa pun sepertinya lupa membahas pria itu.
"Oh, itu, teman yang baru aku kenal di sini. Namanya Axel, kebetulan kami menginap di hotel yang sama," jelas Nisa begitu saja. Namun, setelah itu ia menyesali apa telah diucapkannya.
"Bule?"
"Bukan, dia orang Indonesia juga."
"Oh." Hanya itu tanggapan Angga.
Diam-diam ia memperhatikan Nisa lewat bayangan yang terpantul dari kaca jendela mobil.
Entah bagaimana Nisa merawat dirinya, walaupun usianya hampir memasuki kepala empat, postur tubuhnya tidak membengkak bahkan terlihat sedikit lebih kurus belakangan ini. Mungkin karena mobilitas yang tinggi, membuat ia aktif bergerak dan secara tak langsung ikut membakar lemak-lemak di badannya.
Penampilannya semakin modis, menyesuaikan dengan jabatannya sebagai direktur perusahaan.
Angga menelan ludah, seperti ada sesuatu yang sesak datang menghampirinya. Membuat udara dalam taksi online itu terasa panas. Walaupun pendingin udara tak pernah berhenti bekerja.
Sepertinya Angga harus mulai mempersiapkan hati yang lapang untuk sesuatu yang akan ia hadapi di masa mendatang.
__ADS_1
Ah, hati ... bagaimanapun engkau telah dipersiapkan, jika 'sesuatu' itu terjadi, mau tak mau engkau akan tetap merasakan kesakitan juga.
Bersambung