
Pov author
Potongan-potongan kenangan, saat kisahnya dengan Dewa harus berakhir sepihak, kembali membuat Nisa tergugu dalam buaian selimut.
Meskipun dirinya sudah berlatih untuk menghadapi ini, tapi tetap saja menorehkan luka yang cukup dalam.
Terlebih saat melihat benda panjang, yang baru dibeli di apotik, memperlihatkan dua garis berwarna merah. Hilanglah sudah asa untuk terus bekerja di kota metropolitan dan tinggal serumah kembali dengan orang tuanya.
Otaknya buntu, mencari cara agar keluarganya mengetahui keadaan yang sebenarnya. Nisa takut jika emosi menguasai mereka terlebih dahulu, sebelum mendengar penjelasannya. Bisa jadi badan babak belur tapi masalah tidak bersolusi.
Disibak selimut tebal itu, bangkit dan berjalan menuju meja dengan sedikit tumpukan buku.
Menulis, hal terbaik yang bisa dilakukan. [Biarlah secarik kertas ini, yang akan menjelaskan semua kepada mama, papa dan bang Naresh,] harapnya dalam hati.
Tak henti air mata menganak sungai di kedua netranya mengalir, kala dia mulai menceritakan segala hal yang selama ini ditutupi. Pedih, tetapi ada kelegaan saat telah usai mengukir kembali kisahnya pada selembar kertas itu.
Perempuan berhidung bangir itu, mengambil beberapa lembar pakaian yang akan dia bawa. Juga beberapa berkas yang sekiranya akan Nisa butuhkan. Setelah semua rapi, lekas membersihkan diri dan menunaikan shalat hajat.
Memohonkan segala asa yang tak bisa selesai, tanpa pertolongan-Nya.
Pelan dia membuka pintu kamar, melihat kondisi siang itu, sepi. Dengan berjingkat dia menuruni anak tangga dan berjalan pelan ke depan pintu kamar Santika, mamanya.
Diletakkan tas jinjing merah kecil di lantai, meraba daun pintu yang seolah itu adalah Santika.
"Ma, maafkan Nisa. Nisa berbuat begini karena tak ingin melukai hati kalian semua. Biarlah aku menanggung apa yang telah aku perbuat," katanya lirih.
__ADS_1
"Sekali lagi, maafkan anakmu ini. Aku harus pergi. Jaga kesehatan, Ma." Dengan langkah gontai dia berlalu dari depan kamar Santika. Menghidupkan mesin motor matic dan melaju membelah jalan.
Bandung, kota kembang yang akan ditujunya. Dengan kemampuan bahasa inggrisnya, Nisa ingin mencoba peruntungan sebagai tourist guide, banting setir. Perempuan yang lulus dalam bidang manajemen bisnis itu sadar, tidak ada perusahaan yang mau menerima karyawan yang tengah berbadan dua.
Maka dari itu, dia sudah memikirkan untuk bekerja secara freelance sebagai guide. Namun, yang pertama harus dia pikirkan adalah tempat tinggal. Berbekal uang yang Dewa berikan selama mereka bersama dan tabungan yang dimiliki saat masih bekerja, Nisa mencari kost khusus untuk putri. Biar lebih aman saja.
Dengan jarak sekitar seratus enam puluh tiga kilometer, perempuan bermata belok itu menghabiskan waktu sekitar lima jam dalam perjalanannya. Lelah pastinya, tapi dia harus kuat. Tak boleh ada air mata yang tumpah lagi.
Kota yang terkenal dengan julukan paris van java, sebenarnya bukanlah hal yang baru untuknya. Dulu Nisa pernah gathering bersama teman sejawatnya di kota ini, selama tiga hari. Dan itu sudah cukup membuatnya untuk jatuh cinta pada tempat ini.
\=\=\=
Satu per satu Nisa mulai mencoba menata kembali hidupnya. Mempelajari hal baru, mengenai destinasi wisata yang menjadi tempat tujuan serta membuka relasi dengan berbagai biro perjalanan. Menjadi salah satu kesibukannya belakangan ini, di tengah kehamilan yang kian membesar.
Namun, perempuan itu lebih memilih menutup telinganya. Percuma juga menjelaskan pada orang-orang yang tidak mengetahui kisah hidupnya.
Dan mengenai Dewa, dia tidak ingin mencari tahu bagaimana kabarnya saat ini. Nisa telah memblokir akun Sosmed dan nomer ponselnya. Baginya saat ini hanya perlu menatap ke depan, tak perlu melihat ke belakang lagi.
\=\=\=
Sementara itu, kesehatan Santika mulai terganggu. Sejak membaca surat yang di tinggalkan Nisa siang itu. Naresh tak bisa menahan emosi, saat mendengar apa yang telah terjadi pada adik semata wayangnya.
Dia berniat mencari Dewa, namun Santika menahan. Sesuai pesan anak perempuannya, bahwa dia tidak ingin kehamilannya diketahui oleh keluarga Dewa. Sepertinya Nisa ingin menghapus jejak lelaki itu dari hidupnya.
Berkali-kali wanita paruh baya itu mencoba menghubungi Nisa, tapi tak pernah berhasil. Menangis tiap malam menjadi rutinitas yang tidak bisa dia hindarkan saat mengadu kepada Rabb-nya. Pikirannya masih tertuju pada anak itu, bagaimana sedihnya hati seorang ibu, kala mengetahui anak kesayangannya tengah berjuang hidup sendiri dalam kondisi hamil besar.
__ADS_1
Melihat mamanya yang sering sakit-sakitan, Naresh yang tengah sibuk mempersiapkan pernikahannya, menyempatkan diri melacak keberadaan Nisa. Mulai dari sinyal ponsel maupun dari laporan penarikan uang, melalui ATM yang dilakukan adiknya.
Naresh sudah tahu, bahwa Nisa berada di kota Bandung. Namun, titik pastinya harus menunggu informasi rekan yang bertugas di kepolisian.
"Ma, Pa, jika kita bisa mengetahui keberadaan Nisa. Apa yang sebaiknya kita lakukan?" tanya Naresh saat mereka sedang menonton acara televisi.
"Bawa pulang, Nak. Dia adikmu dan ada cucu mama dalam dirinya. Bagaimanapun dia, Nisa tidak berbuat sesuatu yang dilarang agama. Setidaknya pernikahan mereka sah, meskipun hanya di bawah tangan," jawab Santika tegas.
Naresh melihat papanya, "benar apa yang dikatakan mamamu. Lakukan saja, apa yang dia mau."
Beberapa hari kemudian, informasi yang ditunggu Naresh akhirnya sampai juga. Setelah mereka bertiga berdiskusi, Santika diijinkan ikut untuk menjemput Nisa. Awalnya wanita itu tidak diperbolehkan untuk ke lokasi. Namun, kekhawatiran Santika akan emosi Naresh yang berlebihan, membuat dua orang lelaki itu menurutinya kemauannya. Dan bergeraklah mereka menuju kediaman Nisa di Bandung.
\=\=\=
Apakah Nisa bersedia ikut pulang? Bagaimana pula reaksi keluarga?
Yuk, tungguin episode selanjutnya 😁😙🙏🙏🙏
Bersambung
🌷🌷🌷🌷🌷
Please tinggalkan jejak Like, Komentar atau apa saja 😁 demi menyemangati author 🌷🌷🙏🙏🙏
Terima kasih
__ADS_1