JODOHKU TUAN DUDA

JODOHKU TUAN DUDA
Australia


__ADS_3

"Mama mau pergi lagi?" tanya El dengan wajah datar.


"Iya, nggak lama kok, cuma seminggu," jawab Nisa setenang mungkin. Ia sudah merasa ada sesuatu dari pertanyaan putra sulungnya.


"Nina ikut ya, Ma?" Suara polos serta menggemaskan tiba-tiba menyeruak dari belakang.


Nisa berbalik, tangan mungilnya sudah menarik-narik baju piyama Nisa. Melihat bola mata yang jernih dan wajah bulatnya membuat segala kegelisan Nisa menguap.


"Lho, Nina, kan, harus sekolah. Masa sih, harus bolos seminggu. Nanti bu guru kasih hukuman, bagaimana?"


"Nggak mungkin, ah, kata bu guru 'kita tidak boleh menghukum orang lain sembarangan, apalagi kalau tidak salah.' Nina kan, nggak salah, Ma. Masa ikut mama sendiri nggak boleh," protesnya.


"Nggak boleh! Ngapain kamu mau ikut mama segala? Kamu, kan, harus sekolah. Bilang saja kamu malas sekolah karena PR-nya banyak," tandas El. Bocah ini selalu mengganggu waktunya berbicara dengan Nisa. Membuat ia lupa atau bahkan tak jadi mengutarakan unek-unek di hatinya.


Akhir-akhir ini El agak sedikit berubah, emosinya lebih cepat tersulut.


Nisa menghentikan aktivitasnya mengepak baju yang akan dibawa besok ke negeri Kanguru. Rencananya ia akan membangun resort di kawasan Pantai Airlie, Queensland.


Kota itu memiliki suasana tropis yang tenang dan santai, tempat ideal untuk aklimatisasi sebelum petualangan ke Kepulauan Whitsunday.


Hutan hujan hijau subur di Pantai Airlie memang menenangkan suasana hati para pelancong. Mereka bisa bertandang ke butik-butik kuno, kafe-kafe, dan toko-toko. Sembari menunggu saat yang tepat untuk berlayar.


Jadi tak salah rasanya membangun sebuah resort di sana.


"El, jangan gitu dong, sama adiknya." Nisa melihat sejenak ke arah El, sebelum duduk di pinggir ranjang. Ia lantas meraih putri bungsunya, membantu Nina duduk di sampingnya.


"Yang dikatakan kakak El itu benar, Sayang. Nina, kan, masih murid SD tugasnya belajar. Sedangkan mama sebagai orang tua El dan Nina, tugasnya bekerja, cari uang buat keluarga. Biar kita bisa makan, beli baju, dan mainan Nina."


"Kok, sekarang Mama yang kerja? Padahal dulu Papa yang sibuk kerja, sampai pulang larut malam," bantah El.


"Papamu masih sedih di tinggal kakek dan nenek. Jadi mama yang harus menggantikan Papa untuk sementara. Ibaratnya mama dan Papa lagi bertukar tempat. Tugas Papa sekarang mengawasi kalian di rumah, sedangkan mama harus mengawasi karyawan di kantor."


"Sampai kapan?"

__ADS_1


"Sampai kesedihan Papamu hilang, El."


"Tapi dulu Papa nggak pernah pergi lama-lama, bawa baju banyak seperti Mama," celetuk Nina masih dengan gaya menggemaskan.


"Dulu kerjaan Papa masih sedikit, tidak banyak seperti sekarang."


"Pokoknya El nggak suka Mama terlalu sibuk," keluh El. Ia lantas berlalu dari kamar itu, meninggalkan Nisa dan Nina yang terkesiap melihat kekesalan siswa SMP itu.


Mau bagaimana lagi? Angga sudah tak ingin sama sekali bertemu dengan karyawannya. Para wartawan pun masih suka mencarinya untuk mengulik cerita mengenai kebenaran penyimpangan sex yang menimpa Angga. Berita sudah menyebar dimana-mana. Jangankan bertemu dengan karyawan sendiri, melihat rekan bisnisnya pun ia sudah tak berselera lagi.


Jika sudah begini, Nisa lah yang akan berdiri menggantikan posisi dan tanggung jawab Angga. Meskipun wanita itu pernah berkecimpung di dunia perkantoran, tetapi menjadi seorang executive yang membawahi ribuan karyawan yang tersebar di beberapa wilayah, sempat membuatnya rikuh. Ia harus meng-update pengetahuannya mengenai manajemen dunia usaha.


Tak bosan-bosannya ia menjejali otaknya agar bisa menjalankan perusahaan itu. Usahanya tak sia-sia, kini namanya tak lagi di pandang sebelah mata. Jika dulu Nisa dianggap sebagai anak bawang, wanita yang patut dikasihani karena bersuamikan seorang gay. Sekarang nama Nisa tertulis sebagai salah satu kandidat pengusaha wanita yang akan menerima penghargaan Entrepreneurs Organization Womenpreneur Award (EOWA).


Namun demikian, ibarat dua sisi mata uang, keberhasilannya dalam karir, membuat Nisa terasa jauh dari keluarga. Jiwa ibu rumah tangga telah berganti dengan jiwa wanita yang haus akan kesuksesan. Masalah demi masalah yang menghampiri perusahaan, ia jadikan tantangan untuk dirinya.


Sementara Angga, tentu saja ia merasa bangga akan kesuksesan Nisa. Ia bisa tenang di masa pensiun dininya. Sehari-hari Angga mengambil alih tugas Nisa, ia akan menemani dan mengurus kedua anak mereka. Baik sebelum dan sepulang sekolah. Ia mencurahkan segala kasih sayang dan perhatiannya untuk El dan Nina. Sikap Angga yang sabar dan jarang marah, membuat anak-anak menjadi dekat.


Meskipun penasaran, Nisa tak pernah bertanya pada sang suami. Yang ia lakukan, Nisa hanya menunggu, sampai Angga lah sendiri yang akan menjelaskannya.


***


"Keluar negeri lagi?" tanya mama Nisa. Wajahnya berkerut menatap putrinya.


"Iya, Ma, kali ini ke negeri Kanguru, cuma seminggu. Aku ingin bantuan mama, kalau ada waktu tolong awasi anak-anak dari jauh saja," pinta Nisa.


Walaupun ada Angga yang menjaga keluarganya saat ia bepergian, Nisa lebih tenang bila sang mama ikut dilibatkan dalam mengawasi cucunya.


"Mengawasi bagaimana? Saya sudah lihat sendiri bagaimana suamimu menjaga keduanya. Dia lelaki yang baik dan sabar. Sia-sia saya mengawasi mereka."


Nisa tersenyum getir, mendengar ulasan mama mengenai Angga. Nisa tahu sang mama tak pernah ambil pusing mendengar gosip mengenai menantunya. Bagi mama, Angga tetaplah menantu yang baik. Ia terjerumus lantaran situasi yang mendukung saat itu, tetapi sekarang setidaknya Angga sudah menunjukkan itikad untuk berubah.


Wanita paruh baya itu menyerahkan sepenuhnya keputusan rumah tangga mereka pada sang anak, apapun keputusannya, ia akan selalu berada di pihak Nisa.

__ADS_1


***


Saat dii Australia Nisa dan tim-nya segera bekerja ketika mereka tiba. Setelah memimpin rapat terbatas, ia meninggalkan tim-nya dengan pihak developer. Sudah ada orang yang lebih ahli mengenai bidang tersebut.


Nisa sendiri sedang melakukan survey kecil-kecilan, memperhatikan dan mencatat apa yang sebaiknya mereka tambahkan pada resort untuk menarik para pelancong.


Setelah seharian berjalan kesana-kemari, mengamati bagaimana para penduduk dan turis bisa hidup berdampingan, saling memberi keuntungan, mutualisme simbiosis.


Ketika hari itu pekerjaan selesai, seluruh tim dan kru telah kembali ke hotel, Nisa menyempatkan diri keluar menikmati pemandangan laut yang menampilkan matahari terbenam di Airlie beach. Tampak pancaran sandikala yang menakjubkan. Campuran warna merah, kuning dan jingga yang terlihat saat matahari terbenam seolah mengatakan Sang Pencipta menyukai keindahan.


"Cakrawala merupakan tempat jalur yang sangat panjang dan atmosfer menghalangi semua warna lain, sehingga warna merah dan orange yang selalu kita lihat. Padahal masih ada warna lain seperti violet, biru, dan ungu."


Nisa menengok ke samping, suara yang datang tiba-tiba cukup membuatnya terusik. Siapa yang menegurnya menggunakan bahasa Indonesia pula? Bukankah sedari tadi ia hanya berdiri sendiri dan tidak membawa bendera merah putih?


"Halo, saudari setanah air."


Suara itu kembali menyapanya, tatkala Nisa menengok ke samping. Lelaki pemilik suara itu tinggi, tampan, dan sedang tersenyum padanya. Senyum kebocahan dengan tatapan mata tajam nan menenangkan.


"Kaget, Bu?" tanyanya kembali.


"Heem, pastinya," sahut Nisa rikuh, "tahu dari mana, aku berasal dari Indonesia."


"Kenalkan Axel Valen Winata, panggil saja Axel," ujarnya kembali, tanpa menjawab pertanyaan Nisa.


"Gea Nisa Sastiara, gampangnya Nisa," sambut Nisa sembari berjabat tangan.


"Terima kasih, oiya sebelum lupa pertanyaan anda yang terakhir__"


"Tahu dari mana aku orang Indonesia?" potong Nisa cepat.


Axel tertawa renyah. "Itu keahlian saya."


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2