
"Nisa?" Suara bariton yang khas menyapa di telinga Nisa.
Saat Nisa berbalik, wajah Dewa seketika bersinar. Sorot matanya mengambarkan antara percaya dan tidak dengan apa yang tampak di hadapannya.
Sementara Nisa tak bisa menutupi keterkejutannya, pupil matanya membesar tiba-tiba. Benarkah itu Dewa, yang sengaja menghilang selama lebih dari sepuluh tahun?
"Dewa?" Hanya itu yang sanggup terucap dari bibirnya.
"Halo, Sayang," ucapnya santai. Matanya menelisik Nisa dari ujung kaki hingga ujung rambut, entah apa yang dicarinya. Ia laksana predator yang ingin menelan mangsanya bulat-bulat.
Ditatap seperti itu, membuat Nisa risih dan salah tingkah. Beberapa kali ia merapikan rambut yang tidak kusut apalagi berantakan.
"Kamu banyak berubah, Nis. Makin cantik," goda Dewa.
Dan Nisa malas mengakui, lelaki di depannya tak banyak berubah. Pesonanya masih kuat seperti dulu. Hanya di bagian perut yang bertambah beberapa senti, tapi itu membuat dirinya semakin berkarakter dan matang.
"Kamu juga sama, masih suka gombal," ujar Nisa berusaha sesantai mungkin. Diam-diam ia mencubit tangan sendiri, agar kesadaran tak pergi.
Bertemu Dewa tiba-tiba membuat sebagian syaraf di tubuhnya bekerja lebih cepat dari biasanya.
Dan Nisa mengerti, tak seharusnya ia bersikap seperti itu, bukankah sudah ada Angga di sisinya. Tapi reaksi di tubuhnya tentu bukan dalam kendalinya.
Dewa tertawa renyah, suara yang membuat Nisa merinding hangat.
"Gombal bagaimana?"
"Mana ada perempuan berumur hampir empat tahun masih sama seperti dulu? Kalau itu bukan gombal, ya, pastinya lagi ngelawak," sungut Nisa pura-pura kesal.
Dewa menyeringai penuh arti. Menyugar rambut ke belakang seperti dulu, iya ... dulu sewaktu namanya masih bertahta di hati wanita di hadapannya.
Nisa segera berpaling ke arah lain, jangan sampai Dewa menangkap sesuatu di sorot matanya. Bukankah ada pepatah yang mengatakan "mulut bisa bohong, tapi mata tak bisa berbohong."
"Mau check in, Nis?"
"Tadinya, sih, begitu, tapi sepertinya harus dipikir lagi." Nisa berjalan menuju sofa yang terletak tak jauh dari tempat mereka berdiri.
"Mau kemana? Nggak jadi pesan kamar?" Dewa berusaha mensejajarkan langkahnya dengan Nisa.
"Nanti saja pesannya. Sekarang aku tanya, kamu ngapain di sini?" cecar Nisa sebelum duduk di sofa.
"Saya? Saya kerja sebagai jongos di sini."
Nisa mendelikkan mata ke arah Dewa. Tak di pedulikan beberapa pegawai hotel yang melihat perlakuannya pada Dewa.
__ADS_1
Dewa terkekeh melihat perubahan wajah Nisa. "Ok," katanya seraya mengangkat satu telapak tangannya, "tapi saya nggak bohong. Saya memang bekerja di sini, Sayang."
"Jangan panggil seperti itu. Orang-orang bisa bergosip di belakangmu."
"Apa salahnya? Saya suka dengan gosip, apalagi bila menyangkut kita."
"Please, Wa, kita bukan remaja lagi. Kita sudah dewasa, berlakulah selayaknya orang dewasa. Ingat umur."
"Kamu dari dulu, kalau marah semakin manis saja. Tapi baiklah, sekarang saya serius, jawab yang jujur. Ada perlu apa di sini? Mau pesan kamar?"
Nisa menatap Dewa, sorot matanya menajam. Nisa tahu jika Dewa sudah seperti itu, berarti ia sedang serius. Diam-diam Nisa menyesali keadaannya saat ini. Mengapa ia harus memilih hotel ini, di antara banyak hotel di pulau Dewata?
Tapi Nisa tak sepenuhnya salah, bukankah hotel ini memiliki kenangan tersendiri untuknya?
Disinilah madu-madu pengantin baru ia teguk bersama suaminya, Angga.
"Iya, mau check in." Akhirnya Nisa berkata jujur. Mau bagaimana lagi, tidak mungkin mengatakan ingin berkebun dalam hotel.
"Berdua atau sendiri?"
"Berdua."
"Heem, jangan-jangan__"
"Nggak usah ngeledek lagi. Iya, aku dan mas Angga mau liburan, bulan madu, terserah apapun itu namanya." Nisa sudah tak tahan mengatakannya. Untuk apa menutupi rencananya dari Dewa? Toh, lelaki itu bukan siapa-siapa lagi.
"Kalau begitu, ayo saya antar," tandas Dewa. Cepat ia menyambar tangan Nisa dan membawanya ke meja resepsionis.
***
"Ma, aku titip Nina, ya. Mau ke Bali nemenin mas Angga," ijin Nisa pada mamanya.
"Trus, pengasuhnya bagaimana?"
"Satu paket, biar mama nggak capek."
"Kenapa bukan mama yang kesana? Lebih praktis."
Nisa menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Memang benar yang dikatakan mamanya, dengan catatan dalam kondisi normal.
Namun, situasi saat ini berbeda. Angga tak tahu jika Nisa berencana ke Bali tanpanya. Rencananya Nisa akan meninggalkan pesan untuk Angga, meminta suaminya menyusul ke pulau Dewata.
Di Bali Nisa akan menyiapkan kejutan untuk Angga, mengenang kembali betapa bergairahnya cinta mereka dulu. Wanita itu berharap, rencananya bisa membuat rumah tangganya kembali menghangat.
__ADS_1
Dan Nisa tidak ingin mama tahu akan rencana ini. Mamanya pasti bisa menebak, ada yang tak beres dengan rumah tangga sang anak. Kenapa harus seperti itu? Kenapa tidak ngomong langsung sama Angga?
"El mau ngajak temannya nginap di rumah. Tahu sendiri, bagaimana ributnya kalau anak laki-laki berkumpul. Takutnya mama pusing dengar suara musik yang keras. Biar bik Narti dan pak Karta yang mengawasi," jelas Nisa. Untuk yang ini ia tidak berdusta, El sendiri yang mengatakan hal tersebut padanya.
***
Suara ketukan pintu barusan, membuat
Nisa melompat dari ranjang. Dengan hati berdebar ia mendekati pintu, merapikan sejenak rambutnya. Sudah sejak petang tadi ia menantikan pintu kamar itu berbunyi. Namun, tengah malam begini benda itu baru berbunyi.
Demi Angga, Nisa sudah mandi dua kali, ia betul-betul ingin menarik perhatian suaminya.
Bahkan bukan hanya dirinya, ruangan ini pun telah berhias menanti kedatangan sang pujaan hati. Lilin-lilin aromaterapi berjejer rapi di lantai. Kelopak-kelopak mawar membentuk gambar hati, siap untuk diacak-acak.
Nisa melirik jam yang tertera di ponsel. Tak salah lagi, jika perhitungannya tepat, jadwal kedatangan pesawat ditambah waktu untuk mencapai hotel ini ... sudah pasti Angga lah yang berdiri di balik pintu kamarnya.
Diraihnya handle tersebut dan menariknya perlahan.
"Halo, Sayang, suamimu nggak datang, kan?" sapa Dewa seraya mencuri pandang ke dalam kamar.
Nisa mendelik, wajah putihnya sudah berubah merah. Untuk apa Dewa mengetuk pintu kamarnya, saat tengah malam? Berani sekali orang ini! Bagaimana jika suaminya ada di dalam dan mereka sedang asyik memadu kasih, lantas tiba-tiba Dewa mengetuk pintunya?
Bagaimana reaksi Angga terhadapnya? Tak cemburukah Angga?
Brengsek! Lelaki ini sudah terlalu jauh ikut campur urusannya!
"Bukan urusanmu!" hardik Nisa kesal.
"Jangan gitu, dong, saya kan, cuma mau tahu. Apa salahnya bertanya, siapa tahu saya bisa menghibur."
"Sekali lagi aku katakan, bukan urusanmu. Sebaiknya kamu angkat kaki sekarang! Sebelum aku panggil security atau polisi." Nisa membentak sambil menunjukkan ponsel di tangannya.
Rasa jengkel karena Angga belum muncul, padahal saat ini sudah lewat dari jadwal kedatangan pesawat yang terakhir, tapi mau apa lagi? Angga memang tak berniat datang.
Dan kejengkelannya Nisa belum surut, ketika melihat Dewa berdiri di depan kamarnya. Ia seperti sedang menertawakan kemalangan Nisa malam itu.
"Ok, ok, tenanglah. Jangan teriak lagi," kata Dewa. Memperhatikan sejenak keadaan di sekitar. Sepertinya ia khawatir suara Nisa mengganggu tamu yang lain.
"Pergi! Jangan ganggu aku lagi!" pekik Nisa sambil menghempas pintu dengan keras.
Wanita itu bersandar pada daun pintu, air matanya mengalir dengan deras. Bukan menangisi Dewa yang baru saja ia halau. Tapi Angga! Mengapa Angga tak menyusulnya? Apa ia sudah tak memiliki pesona di hadapan suaminya?
Nisa menarik kasar seprei putih di dekatnya. Kelopak-kelopak mawar berterbangan di udara. Ia mengobrak-abrik lilin yang berjejeran di lantai, dengan tas pemberian Angga.
__ADS_1
Persetan dengan harga yang mencapai ratusan juta! Asal Nisa bisa melampiaskan kekesalannya malam itu, buat apa memikirkan harga?
Bersambung