
Pov Author
Tiga bulan sudah Nisa menjalani kehidupan sebagai istri Dewa seutuhnya. Namun, tidak serta merta rasa canggung itu menghilang saat mereka tengah memadu kasih.
Terkadang perempuan itu harus menelan saliva, saat secara tak sengaja melihat ke dalam mata lelaki itu. Seakan matanya bertanya, sesakit ini kah, rasanya dipaksa mencintai sahabat sendiri?
Harus terbelenggu dalam sebuah pernikahan, yang tak pernah terlintas di pikiran Dewa sama sekali.
Dari semua hal yang membuat Nisa berada dalam zona abu-abu, ada hal yang bisa sedikit merekahkan senyum di wajah ovalnya.
Kehangatan yang diberikan Adiratna, ibu mertua.
Wanita paruh baya itu sangat terbuka pada menantunya. Tak jarang Nisa menemaninya berbelanja, memasak atau sekedar ngobrol, disela-sela Adiratna memangkas ranting-ranting pohon di kebun bunga mini, halaman belakang. Mereka kompak dan sehati.
\=\=\=
Pov Dewa
"Bagaimana kalau Nisa hamil?" tanya ibu malam itu. Aku meremas rambut dengan kedua tanganku, menatap nanar dinding kamarnya.
Malam itu dengan sangat hati-hati, kuutarakan niat untuk berpisah dari Nisa dengan alasan tidak ada kecocokan lagi.
Sangsi, jelas ibu menyangsikan alasanku. Dia tak pernah melihat kami bertengkar atau bahkan saling tak tegur sapa. Wajahnya bersahabat dan juga istriku itu, selalu nampak tersenyum.
Baginya Nisa adalah menantu idealnya.
Arrrgghh!!! Aku juga bingung, sikap Nisa berubah akhir-akhir ini. Dia menjadi lebih penurut, melakukan semua yang kupinta. Bahkan, saat meminta raganya untuk menuntaskan hasrat kelakian ini. Tak ada sinar mata keterpaksaan atau apalah ... hanya keikhlasan dipendar netranya. Saat bersama perempuan itu, sungguh sesuatu yang menenangkan.
Dan hamil ... itu sama sekali tak pernah terlintas di pikiran ini.
Payah, sungguh benar-benar payah diri ini.
Namun, Wanda, tak bisa aku abaikan begitu saja. Sudah cukup dia menahan sakit akibat pernikahan siri ini. Sangat tak tega kala melihat mata indahnya berurai air mata. Ahh, diriku tak bisa berbohong kalau aku mencintainya.
"Segera berpisah darinya. Jika tidak, aku yang akan pergi darimu," katanya dengan air mata yang berurai.
Kurengkuh tubuh semampai di sampingku, "saya janji akan segera menceraikannya," kataku seraya mengecup keningnya.
__ADS_1
"Kapan?" tanyanya. Dia meletakkan sendok di atas piring. Mungkin tak berselera lagi menghabiskan bistik daging restoran ini.
"Secepatnya, Sayang."
"Aku mau kalian berpisah minggu ini."
Kutarik napas dalam-dalam, "saya usahakan, ya."
Kembali maniknya berderai air mata, "baiklah dalam minggu ini, saya akan menalaknya."
Bibir seksinya seketika melengkungkan garis senyum. Ingin rasanya aku ******* habis.
\=\=\=
Aku tau Nisa pasti mengerti keputusan ini, bukankah dia yang sedari dulu mengingatkan agar kembali bersama Wanda.
"Apa yang Nisa lakukan, bila kita berpisah?" tanyaku sesaat sebelum kami terlelap.
"Kembali ke rumah mama dan bekerja seperti dulu."
Dia menggeleng lemah. Matanya selalu berubah sayu, saat membahas tentang orang tuanya, seperti saat itu.
Aku menariknya dalam pelukan. Namun, hanya sesaat, dia melepaskan diri dari pelukan.
"Kapan aku harus pergi?"
Kali ini dia sukses membuat hati seperti dicabik-cabik sembilu.
"Wanda inginnya minggu ini."
Kudengar tarikan napasnya. "Nisa nggak mau ketemu Wanda dulu?"
"Untuk apa? Meminta perpanjangan waktu?"
Ingin rasanya menampol mulut yang telah menanyakan hal bodoh itu.
"Sudahlah, aku sudah mempersiapkan untuk hal ini. Kakak cuma harus mencari cara, untuk berbicara pada ibu," katanya sambil menarik selimut, bersiap untuk tidur.
__ADS_1
\=\=\=
"Maaf Bu, saya harus berpisah dengan Nisa. Keputusan Dewa sudah bulat."
Aku melangkah gontai keluar dari kamar ibu dan dia sedang menangisi keputusanku.
.
.
"Kita mau kemana, Kak?" tanyanya sore itu, saat aku mengajaknya keluar.
"Kita jalan-jalan saja, anggaplah sebagai kenangan terakhir kita," jawabku.
Perempuan itu mengalihkan pandangannya ke sisi jendela, entah apa yang dipikirkan.
Kutepikan kendaraan, berhenti di area parkir, wisata berlatar belakang pantai.
Kugenggam tangannya sepanjang jalan, ada rasa tak rela melepaskan. Namun, bayangan Wanda tak henti menghias cakrawala senja yang temaram.
Membeli dua jus orange, berusaha menikmati pemandangan sunset yang merona. Berdiri di tepi bibir pantai, melihat perahu nelayan mendekati dermaga.
"Nisa, maafkan saya. Detik ini saya menalakmu."
.
.
Bersambung
\=\=\=
Bagaimana kisah selanjutnya? Jangan bosan menunggu ya?
Please Like, komen atau apa saja untuk menyemangati author 😍😁❤🙏🙏🙏
Terima Kasih
__ADS_1