JODOHKU TUAN DUDA

JODOHKU TUAN DUDA
Berdebat Dengan Angga


__ADS_3

"Pradipta Vegetarian?!" Entah Axel bertanya atau terkejut, setelah mendengar cerita Nisa.


Sebenarnya Nisa tak bermaksud menceritakan penyimpangan s*x Pradipta. Namun, karena Axel merasa heran dengan kepulangan Angga yang tergesa-gesa, mau bagaimana lagi, Axel berhak mendapatkan penjelasan darinya. Apalagi pria inilah yang membantunya meringkus Pradipta.


"Untung saja saya nurutin feeling sendiri. Saya merasa tak nyaman semenjak dia sekamar dengan saya."


"Kenapa? Dia mengedipkan matanya berulang kali atau merayumu dengan suara yang mendesah?"


"Ah, kalau begitu itu, sih, sudah saya rontokkan giginya saat itu juga. Saya seperti diawasi kalau melakukan sesuatu, baru kali ini saya merasa aneh dengan 'tawanan' sendiri," keluh Axel, wajah seperti takut, kesal dan jijik menjadi satu.


Nisa terkekeh melihat perubahan raut muka lawan bicaranya, tapi tak urung ia merasa sedikit bersalah tak menjelaskan sejak awal siapa Pradipta sesungguhnya.


"Dan suamimu bertahan dengan dia hampir enam tahun?!"


"Yup, begitulah adanya."


Axel menelisik Nisa lebih teliti, heran tak ada mimik sedih dari ucapannya. Apakah perempuan ini sudah tak peduli atau hanya pura-pura tak peduli?


"Setia pada yang salah. Saya nggak nyangka, ada orang yang nggak bosan dengan menu yang sama selama bertahun-tahun. Enam tahun makan ikan asin terus, luar biasa si Pradipta itu," gerutu Axel. Lebih tepatnya mengomel seperti omelan ibu-ibu yang lagi pusing mikirin uang belanja yang sudah menipis.


"Jangan salah, pelaku hubungan upnormal seperti itu terkenal sangat posesif terhadap pasangannya. Makanya Pradipta habis-habisan menghancurkan Angga saat mereka putus. Untung aku nggak kena tonjoknya atau diikuti diam-diam oleh dia, kan, ngeri."


"Manusia aneh, mereka belum tahu di dunia ini ada banyak makanan yang lezat. Sepertinya mereka harus diajari resep yang lain, biar dunia mereka jauh lebih berwarna."


"Nah, kamu ajar saja itu Pradipta. Mumpung dia nggak bisa kemana-mana."


Bola mata Axel berputar menatap Nisa dan perempuan itu hanya tergelak memamerkan barisan gigi putihnya. Sulit berbicara serius mengenai masalah Pradipta dengan Nisa, sepertinya perempuan itu sudah bisa berdamai dengan kesakitannya.


"Berikan alamatmu di Jakarta," kata Axel tiba-tiba, membuat Nisa terdiam untuk sesaat.


"Buat apa?"


"Lho, kita teman, kan? Apa salahnya teman saling mengunjungi, hal yang wajar."

__ADS_1


"Menjadi tidak wajar, jika itu aku yang ingin kamu kunjungi."


"Oh, ya ... why?"


Nisa lantas mengacungkan jari manisnya di hadapan Axel. Tampak sebuah cincin putih bertahta berlian imut di sana. "Because this's. I'm still married," ujar Nisa datar. Namun, ia merasa lega setelah mengatakannya.


Kembali ia mencoba menikmati lagu Don't you remember dari penyanyi wanita yang tengah beraksi dengan ciamik di cafe tempat mereka ngobrol sembari makan malam.


Axel terdiam, ia sungguh heran melihat perempuan di depannya. Bukan hanya unik, tetapi ada sesuatu yang membuat Nisa berbeda.


Kalau soal fisik, perempuan itu tentu tak bisa dibandingkan dengan model wanita yang selalu Axel kencani. Namun, jangan menganggap Nisa biasa-biasa saja. Nisa masih layak menjadi sampul tabloid Nova, tentunya jika tabloid itu masih terbit. Nisa perempuan yang berkarakter dan berkharisma, sesuatu yang sangat jarang dimiliki perempuan yang selama ini Axel ganggu.


Dan yang membuat Axel semakin penasaran yaitu, sikapnya menghadapi suami yang telah mengkhianatinya. Bukannya bercerai seperti beberapa kasus yang pernah Axel baca di portal online, tetapi Nisa justru masih mempertahankan pernikahan itu. Bahkan menurut cerita Nisa, ia masih seatap dengan suaminya. Luar biasa!


"Nggak ada yang luar biasa, semua demi anak-anak. Aku rasa setiap ibu yang berada di posisiku, akan melakukan hal yang sama seperti ini," jelas Nisa.


"Belum tentu juga. Saya sudah melihat beberapa kasus seperti ini, malah berakhir di pengadilan."


"Mungkin mereka terburu-buru. Entah, Xel ... aku tak berhak menilai mereka. Aku hanya bisa doakan semoga semuanya, baik mantan istri atau suami, serta anak-anak mereka tetap menemukan kebahagiaannya walau tak serumah lagi."


"Apa lagi yang kucari? Ada dua anak yang sehat, keluarga, dan suami yang selalu memberi dukungan semua pekerjaanku. Hidupku sudah sempurna, Xel," kilah Nisa.


"Sempurna tapi tidak bahagia, tepatnya."


Nisa tersenyum getir. Memang benar apa kata Axel. Nisa tidak tercipta sebagai robot, ia tercipta sebagai manusia. Bisa bernapas, bisa menangis jikalau bersedih, dan bisa tertawa bilamana ia bahagia. Semua itu normal dan manusiawi adanya. Bahkan ketika rumah tangganya dihantam badai yang keras, ketika sang suami menusuk dari belakang dan membuat rasa cinta serta gairahnya sebagai istri lenyap seketika, itupun masih Normal.


Namun, jangan lupa ... Tuhan menitipkan sebongkah hati yang lembut di dalam tubuh Nisa, hati seorang ibu. Nisa tahu ada sebagian jiwanya yang kering, layu, dan gersang. Menginginkan sentuhan dari lawan jenis yang sah. Namun, akalnya masih berfungsi dengan baik. Ia akan menolak dengan tegas, jika jalan kebahagiannya harus mengorbankan keceriaan dan kebutuhan anak-anaknya. Maka dari itu, sampai sejauh ini Nisa tak pernah berpikir untuk bercerai.


Dan Axel harus tahu akan hal itu.


Namun, Axel pria keras kepala. Ia tak gampang menyerah, walau sudah di tolak berkali-kali. Ia akan tetap berjuang sampai batas kemampuannya.


"Kamu berbeda dengan wanita yang selama ini saya kencani. Jadi biarkan saya mencoba membuka hatimu kembali."

__ADS_1


"Walaupun pada akhirnya aku tetap akan mengusirmu?"


"Jangan terlalu optimis. Hati manusia terbuat dari segumpal darah, bukan terbuat dari baja. Ikuti saja alurnya, biarkan takdir yang akan berbicara. Apa kamu akan terus membiarkan saya berjalan di belakangmu atau kita akan bergandengan, beriringan sampai hari tua? Kita lihat saja nanti."


Nisa hanya bisa menelan ludahnya, untuk pertama kalinya ia merasa menyesal terlambat bertemu dengan pria itu.


***


Rupanya Axel tak main-main dengan ucapannya sewaktu di Ausie. Meskipun Nisa tak memberi alamat padanya, pria itu dapat dengan mudah bertemu Nisa di kantor.


Nisa bersyukur Axel menemuinya di kantor, tidak di rumah. Bagaimana ia harus menjelaskan pada pria itu, jika melihat kondisi keluarganya setelah pulang dari negara kanguru.


Anak-anaknya mulai menjauhinya! Bahkan Nina putri kecilnya, tak mau lagi berlama-lama berada di dekatnya.


Angga juga tak mengerti mengapa Nina bersikap demikian.


"Nggak mungkinlah, Dek, saya menghasut anak-anak. Apa untungnya bagi saya?"


"Untungnya? Mas bisa menguasai mereka semua," sergah Nisa kesal. Mereka saat itu sedang berdebat di kamar Angga. Nisa menuduh sang suami melakukan manuver di belakangnya.


"Untuk apa saya berbuat seperti itu?"


"Mas yang harus menjawab, bukan aku," tampik Nisa seraya berlalu meninggalkan kamar itu.


Nisa tidak tahu, bahwa Nina terbawa arus dengan sikap El yang menolak bila didekati mamanya . Ah, anak kecil memang peniru yang handal.


"Jangan terlalu keras terhadap suamimu, Nis. Mbok ya, ditelaah dulu, kenapa Nina bisa bersikap seperti. Belum tentu Angga melakukan apa yang kamu sangka." Nasehat mama pada Nisa.


Selama ini setelah Dewa tak pernah lagi menunjukkan batang hidungnya, mama lah tempat berbagi.


"Tapi yang dekat dengan anak-anak akhir-akhir ini, kan, dia ... Ma."


"Dekat belum tentu menghasut, Nis," ujar mama sabar.

__ADS_1


"Lalu aku harus bagaimana, Ma,untuk merebut hati anak-anak lagi?" tanya Nisa pelan. Netranya menerawang jauh ke arah jalan.


Bersambung


__ADS_2