
Dewa melangkah tenang, tangannya menggenggam jemariku. Sementara perasaan ini tak tenang. Melangkah dengan sedikit terseok.
"Tenang. Biar saya yang hadapi," lirih Dewa, menenangkan.
Naresh menatap lurus ke arah kami. Tak ada ekspresi di wajahnya. Datar.
"Assalamu alaikum, Bang," sapa Dewa. Tegas nan santun. Tangannya terulur ke depan. Aku menelan saliva, menunggu reaksi Naresh .
"Waalaikum salam," jawab Naresh. Berdiri dan menyambut tangan Dewa.
"Ayo duduk," timpalnya lagi.
Mengernyitkan dahi, heran dengan sikap abangku ini.
"Kamu nggak pengen duduk, Nis?" tanya Naresh padaku.
Tanpa menjawab, kutarik kursi di samping. Duduk dengan tangan bersedekap.
"Abang, sudah janji sebelumnya?" selidikku.
"Hu'um, napa? Nggak boleh ganggu orang pacaran?"
"Idiih, siapa juga yang pacaran. Orang tadi mau ke showroom," cibirku.
"Tuh, lihat sendiri kelakuannya. Memang nggak ada perempuan lain, selain dia?" tanya Naresh pada Dewa sambil melirikku.
"Banyak sih Bang, tapi cuma dia yang peletnya kuat," jawab Dewa santai.
Aku mendelik, menatap satu per satu lelaki di depan. "Apaan sih! Buruan gih, kalo mau ngomong."
"Iya," seru Naresh, mimik berubah menjadi serius.
"Sebenarnya beberapa hari belakangan ini, saya sempat bertemu dengan bang Naresh, Nis. Untuk meminta maaf atas semua yang terjadi dulu," jelas Dewa.
Kemudian dia bercerita ketika mengikutiku bersama Angga. Tentang keinginannya saat itu, ingin bertemu dengan mama dan papa. Namun, diurungkan kerena takut merusak suasana syukuran El.
__ADS_1
Dewa juga menceritakan niatnya kepada Naresh, agar bisa rujuk kembali.
Sebagai kakak Naresh memberi pandangan. Bahwa tidaklah mudah bagi orang tua kami, untuk melupakan semua yang telah terjadi. Apalagi mengenai kesedihan dan kesakitan yang mama rasakan.
Aku hanya menjadi pendengar saat mereka berbicara. Tidak berniat untuk memberi sanggahan sama sekali. Dan akhirnya, Naresh berpesan kepada Dewa. Jika memang tekadnya bulat, jangan menyerah. Rebutlah hati orang tua terlebih. Jangan patah semangat, jika mereka bersikap dingin. Terlebih saat ini, mama sangat berharap Angga bisa menikahi Nisa.
Dewa mengiyakan semua saran dan pendapat yang Naresh berikan. Akhirnya kami pun berpamitan. Mengingat hari yang semakin siang.
"Nggak takut waktu pertama kali bertatap muka dengan bang Naresh?"
"Nggaklah, sama-sama manusia juga."
"Kalau dia menyerang?"
"Ya, cukup terima saja. Hitung-hitung mengurangi kesalahan. Paling banter masuk rumah sakit. Namanya juga berjuang," jawabnya penuh percaya diri.
Rupanya sikap Naresh tadi seperti angin segar bagi Dewa. Padahal bisa dikatakan, itu hal biasa yang dilakukan antara sesama pria dewasa.
"Apa yang Bapak, ingin perjuangkan?"
Sekelebat bayangan masa lalu datang mengusik. Bagaimana kerasnya diri ini untuk ikut dalam permainan gila itu. Hanya dengan satu harapan, dia bisa melihatku sebagai perempuan yang layak untuk mendapat cintanya.
Meskipun semua pada akhirnya kandas, dengan menyisahkan bekas dirinya di setiap inci tubuh ini. Bahkan sebuah benih telah bersemanyam di rahimku.
"Kamu tahu, saya mencarimu selama ini, tapi tak pernah berhasil."
Aku tak menjawab. Menoleh ke arah jendela di samping. Biarkan dia meracau sesuka hati. Tak perlu dipedulikan.
"Saya ingin kita rujuk lagi, memperbaiki semua dari awal. Tolong pertimbangkan lagi." Dia mendesah resah.
"Demi apa? Kalau hanya demi anak, dengarkan aku Pak. Mulai saat ini Bapak bebas kapanpun untuk menemui El, dengan satu syarat." Menjeda sejenak, untuk menetralkan gemuruh di dada.
"Lanjutkan, Nis." Dia memandangku sekilas, kemudian kembali fokus manatap ke depan.
"Syaratnya cukup mendapat ijin dari mama dan papa. Karena mereka bagai orang tua kedua bagi El."
__ADS_1
Dewa kembali menatapku. Matanya terlihat berkaca.
"Lalu setelah itu?" tanya lelaki itu.
"Ada lagi? Bukan kah hanya itu yang Bapak inginkan?"
Untuk kedua kalinya, dia menepikan mobil dan berhenti.
"Kita menikah lagi."
"Apa Bapak sudah menyerah, berjuang untuk Wanda? Lupakan kami, kembalilah rebut hati ibu Bapak, agar kalian bisa menikah dan punya anak."
Dia menarik napas dalam-dalam.
"Keras kepala juga Jandaku ini."
Serta merta aku menatapnya, berani sekali dia menyebutku dengan ucapan seperti itu. Arrghtt ... ingin rasanya mencabik-cabik dirinya.
"Kenapa? Marah? Hati-hati, ntar kepalanya mengeluarkan asap."
"Memang aku peduli?"
"Ya harus peduli dong, namanya juga calon imammu ... meskipun sudah duda. Tapi cocoklah. Janda ketemu duda."
"Diammm! Bapak mau jalan atau tidak? Kalau tidak, turunkan di sini!"
Dewa terkekeh, kemudian kembali melajukan mobilnya.
.
.
Bersambung
🌷🌷🌷🌷🌷
__ADS_1
Please tinggalkan jejak like, komentar atau apa saja, untuk menyemangati author 😁😍🙏🙏