JODOHKU TUAN DUDA

JODOHKU TUAN DUDA
Pulang


__ADS_3

Dari seberang jalan Nisa menatap gerbang rumahnya, tak ada kesibukan yang tertangkap dari gerbang yang tertutup rapat. Nisa melirik jam di pergelangan tangan, sebentar lagi El dan Nina akan keluar dari balik pagar, ditemani Angga berangkat sekolah. Tak apalah walaupun hanya melihat dari jauh saja, asal rindunya bisa terobati. Ia akan sabar menunggu sampai mobil Angga keluar membawa kedua anak-anaknya.


Namun, yang terjadi bukanlah seperti dalam pikirannya. Ini sungguh membuat kening Nisa berkerut. Mobil Angga memang tampak di pelupuk matanya, tetapi bukan keluar dari dalam rumah! Gerbang itu justru membuka karena mengenali sensor mobil Angga yang hendak masuk.


"Apa-apaan ini! Angga tidak tidur di rumah?!" geram Nisa sembari memukul kemudi.


Bagaimana dengan anak-anak? Apa Angga sudah tak pernah memperhatikan mereka lagi? Gegas Nisa memutar kunci kendaraan roda empatnya, darahnya menggelegak melihat mobil Angga pulang pagi hari. Namun sesaat kemudian, diurungkan kembali niat itu. Ia tak ingin mencari keributan pagi-pagi, apalagi di depan anak-anak.


Sambil mengetuk-ngetuk jemari di kemudi, Nisa mencoba menenangkan diri, menunggu dengan sabar anak-anak berangkat sekolah. Meskipun tak tahu dengan siapa mereka menuju ke tempat itu.


Setelah menunggu beberapa menit, tak lama kemudian pintu besi itu kembali terbuka, kendaraan Angga terlihat bergerak meninggalkan rumah besar itu dan menuju ke arah jalan sekolah El. Ada sedikit kelegaan di hati Nisa, ternyata Angga masih mau mengantar anak-anak walaupun pria itu baru saja pulang pagi ini.


Lekas Nisa memutar arah mendekati rumah besar itu. Ia ingin memastikan sendiri mengapa Angga tidak tidur di rumah mereka lagi?


***


Security, supir dan para ART terperangah melihat kehadiran Nisa pagi itu. Tergopoh-gopoh mereka membuka pintu mobil dan melayani ibu dua anak tersebut.


"Kenapa kalian ini? Kaget?" Salam pembuka yang cukup santai.


Para pekerja itu hanya menganggukkan kepala, tak tahu harus menjawab apa.


"Sudah ah, kagetnya. Aku mau tanya pada kalian semua," sambung Nisa kembali. Sengaja ia berhenti sejenak untuk melihat respon pekerjanya.


"Maaf, Bu, kalau bisa ibu jangan berlama-lama di sini," saran bik Nah cepat.


Agak terkejut Nisa mendengar penuturan bik Nah, kedua alisnya terangkat bersamaan. Namun, sesaat kemudian sebuah senyum mengembang dari bibirnya. "Ada yang mau bibik ceritakan padaku?"


"Sudah saya duga, Ibu belum tahu kalau Nina lagi dirawat di rumah sakit. Nina sakit typus, Bu," terang bik Nah.

__ADS_1


"A-apa yang bibik katakan? Ni-Nina di rumah sakit?" Susah panyah Nisa bertanya dengan suara terbata-bata.


Bik Nah lantas mendekati majikannya, kemudian dengan hati-hati menceritakan dengan singkat keadaan Nina selama ditinggal sang mama.


Walaupun hati Nisa menyesali keadaan yang menimpa sang putri, tetapi langkahnya tetap gesit menuju mobil, menyalakan dan segera melesat menuju rumah sakit sesuai informasi bik Nah.


***


"Mama!" pekik Nina ketika melihat sang mama berdiri di ambang pintu.


Nisa lantas menghambur memeluk sang anak. Tak dipedulikan tatapan penuh selidik dari pasien di samping Nina.


"Mama, kok, lama banget jenguk Nina?" tanya Nina polos. Wajahnya masih tampak pucat dan lesu. Selang infus masih menempel di tangannya.


Nisa lantas menciumi wajah putri kecilnya berkali-kali, bukan hanya untuk rasa rindu, tetapi rasa bersalah dan menyesal lah yang lebih mendominasi saat melihat keadaan Nina.


"Maafkan mama, Sayang. Mama janji nggak akan ninggalin Nina lagi, ya." Sekuat tenaga ia menahan lelehan air mata yang akan tumpah. Jangan sampai Nina melihatnya menangis. Namun, tak urung membuat suara perempuan itu sedikit serak.


"Jadi semoga saja dengan kehadiran ibu disini, bisa mempercepat kesembuhan anak ibu," harap perawat itu.


Masih menurut perawat tadi, Angga sengaja memilih kamar kelas dua karena pria itu tak tega meninggalkan Nina jika harus mengantar El sekolah. Walaupun Angga sudah menitipkan pada perawat yang berjaga pagi itu. Namun, sebagai orang tua masih was-was jika Nina ditinggal sendirian. Untuk itulah Angga memilih kamar ini, agar Nina tak merasa sendiri jika sang papa harus keluar demi mengantar dan menjemput El. Ada pasien anak yang lain di balik tirai putih itu, umurnya pun sama dengan Nina.


Nisa menggebah dadanya pelan, mengusir sesak yang tiba-tiba menyerang. Tak bisa ia bayangkan, bagaimana repotnya Angga selama mengurus Nina yang sedang sakit.


Akhirnya Nisa mengurus pemindahan kamar sang anak ke kamar yang lebih privat, setelah berkonsultasi dengan dokter yang menangani Nina secara langsung.


Saat melihat Nina didorong menggunakan kursi roda, sejak itu pula ia berjanji tidak akan meninggalkan anak-anaknya lagi dalam keadaan emosi tak stabil. Nisa bertekad, apa pun masalahnya dengan Angga, sedapat mungkin menghindari melibatkan anak-anak. Karena mereka masih polos, tak pantas menanggung dampak perselisihan kedua orang tuanya.


***

__ADS_1


"Saya minta maaf, Dek," ujar Angga dengan napas terengah-engah.


Ia baru saja berlarian mencari Nina saat tak mendapati sang anak di kamarnya. Pikirannya sudah terlanjur negatif kala itu, beruntung ibu pasien di sebelahnya segera memberikan penjelasan Angga.


"Nina sudah di pindahkan ke kamar yang lain oleh mamanya pagi tadi. Bapak tanyakan saja sama perawat, dimana kamarnya sekarang."


Buru-buru Angga mencari kamar baru Nina dan ketika menemukan ruangan tersebut, bukan hanya ada sang anak di dalam ruang itu, Nisa juga ada di sana. Ia sedang menyuapi Nina dengan sabar.


Saat melihat wajah Nina sudah tak pucat lagi dan makan dengan lahapnya, ada sesuatu yang menyentil hatinya. Betapa dirinya salah selama ini. Salah telah berlindung di balik anak-anak.


Seharusnya Angga ikut membantu Nisa memberikan pengertian kepada anak-anak mereka, bahwa mama menggantikan dirinya mencari nafkah, bukan malah mencemburui dan menuntut waktu yamg lebih untuk mereka. Sesuatu yang sulit untuk terealisasi selama ini. Andaikan Nisa belum bisa mewujudnya, harusnya dirinya berpikir bagaimana bisa mewujudkan keinginan itu, tanpa perlu mengadu domba Nisa dengan anak-anak.


Bukankah rumah tangga ini milik bersama? Bukan hanya milik Nisa? Namun, mengapa hanya Nisa yang selama ini dirongrongnya? Lihat lah, perempuan itu semakin kurus saja.


"Untuk apa mas minta maaf? Aku juga bersalah, jika ini berhubungan dengan Nina," balas Nisa. Ia kembali menengok ke dalam kamar, memastikan Nina masih terlelap.


"Saya mengerti mengapa kamu menghilang tiba-tiba. Karena kamu ingin memberi kesempatan buat saya untuk memiliki anak-anak secara utuh. Kamu ingin menguji kebersamaan kami bertiga dan akan melihat perkembangannya. Jika itu baik, kamu sudah siap dengan rencanamu."


"Teruskan, aku mendengarnya."


"Namun, kamu bisa lihat sendiri, Dek. Aku gagal merawat mereka seorang diri," urai Angga dengan suara parau. Rupanya ia menangis. Setelah bertahun-tahun mereka resmi menikah, ini kali ketiga Nisa melihat Angga menangis.


Dua tangisan ketika ayah dan ibu Angga meninggal berturut-turut dan ini kali ketiga, saat ia berbicara dengan Nisa mengenai anak-anak.


Ah, akhirnya Nisa melihat sendiri, betapa Angga sangat mencintai anak-anak. Bagi Angga, El dan Nina dua belahan jiwanya.


"Untuk itu saya sudah mengambil keputusan yang terbaik."


"Keputusan?"

__ADS_1


"Iya, saya ingin kita bercerai!" kata Angga serius.


Bersambung


__ADS_2