JODOHKU TUAN DUDA

JODOHKU TUAN DUDA
Bingung


__ADS_3

Pov Nisa


"Kalau saya sih, lebih condong ke Angga. Track record-nya bagus, nggak macam-macam," kata bang Naresh.


Aku yang sementara sedang menyuapi El, hanya terdiam mendengar mereka berdiskusi mengenai, siapa yang terbaik di antara Dewa dan Angga.


"Iya Nis, ibu kok lebih sreg sama Angga ya. Selain baik, dia juga sholeh, cakep, tajir ...."


"Ehm, ehm, ehhmm." Papa berdehem menghentikan mama yang sedang bicara. Mengangkat salah satu sudut mulutnya.


Mama menelan ludah, menyadari teguran halus itu. Aku cekikikan melihat keduanya.


Mama juga sih, muji-muji brondong depan suami, auto kesel dong si papap.


"Jadi menurut Kalian, Dewa buruk ya?" tanya Papap eh papa.


"Bukan begitu Pa, cuma kita belum kenal Dewa lebih jauh. Datang juga baru sekali. Jadi kita mau menilai dia bagaimana?" Jawab mama.


"Tul, saya sependapat dengan mama sekarang," timpal bang Naresh.


Papa hanya manggut-manggut saja. Kemudian dia berkata, "semua tergantung Nisa, yang mau jalani kan dia. Kita hanya sebatas memberi saran saja."


"Iya, Nis. Sudah sepatutnya Kamu menikah lagi. Dengan statusmu seperti sekarang, terlalu gampang menjadi patonah eh maksudku fitnah," kata bang Naresh sok bijak.


Aku yang sedari tadi diam dan merasa seperti Ken Dedes yang diperebutkan para pesohor, mendadak seperti tertampar mendengar ocehan abang satu-satunya.


Plakk!!


Memang ada Ken Dedes versi janda? Aiihh, akhirnya aku kembali pada realita sebenarnya. Seorang janda yang dipaksa menikah!! Coba kemalangan apa lagi, yang lebih berat dari ini?


"Iyaa," jawabku malas.


"Tuh kan, Pa. Nisa malas-malasan gitu. Tolong dinasehatin dikit. Sudah masuk episode tiga puluh dua, belum kewong lagi. Pembaca kabur, kontrak novel nggak jelas! Kan kasian authornya!" kesal bang Naresh.


"Baiklah kalau Nisa masih bimbang, kita voting saja, milih Dewa atau Angga," putus papa.


"Kok, pakai voting, Pa? Emang mau milih ketua RT?" protesku.


"Bukan ketua RT, tapi ketua dalam rumah tanggamu kelak."


"Eaaa," pekik mama dan bang Naresh bersamaan.

__ADS_1


Mendadak otakku nge-blank, nggak punya semangat, melihat kemauan mereka bertiga. Aku yang pada dasarnya benci akan keterpaksaan, tapi kali ini, HARUS menerima keputusan sidang istimewa hari minggu kemarin.


Kepala rasanya pening, mengingat wajah papa, mama dan bang Naresh yang memohon agar aku mempertimbangkan Angga sebagai pendamping kelak.


Aku tahu mereka mengkhawatirkanku, tapi untuk langsung menuju pelaminan dengan tiba-tiba, sangat membuatku tertekan.


"Baiklah jika memang itu yang Kalian harapkan. Aku menerima Angga, tapi beri waktu dulu agar bisa mengenal lebih baik lagi. Tidak ada pesta pernikahan untuk saat ini, tapi cukup adakan syukuran pertunangan saja."


Mama menutup mulut dengan kedua tangannya. Kemudian memukul lengan papa beberapa kali. Aku nggak nyangka Gaes, hanya mengatakan mau bertunangan dengan Angga, bisa mengubah perilaku mama seperti ABG!!


Dan kini, apakah aku menyesal telah menyetujui semuanya? Entahlah, yang jelas kinerjaku jadi menurun. Layar komputer di depan, hanya kupandangi saja. Dua minggu lagi acara pertunangan akan dilangsungkan.


"Hai Nis, kok bengong? Pasti laparnya sudah kebangetan, sampai-sampai layar cuma diliatin saja. Makan gih!" tegur Mona.


"Sudah jam istirahat, ya?"


"Hu'um."


"Malas Mon, duluan saja. Aku mau lanjutin pekerjaan dulu, biar nggak lembur lagi."


Tap, tap, tap!! Suara derap sepatu.


"Permisi, maaf mau tanya, ibu Nisa mantan terindah ada dimana?" Seorang abang ojek online tiba-tiba menghampiri kami.


Abang Ojol itu kemudian melihat ponselnya.


"Nama paketnya untuk Ibu Nisa mantan terindah."


"Busyet dah! Nih Bang, orangnya!" sahut Mona seraya menunjukku.


"Oh ini toh, ini Mbak nasi rendangnya." Dia mengulurkan kotak nasi kepadaku.


"Makasih ya Bang. Kalau boleh tahu, yang order ini nama akunnya siapa?" tanyaku geregetan.


"Namanya Seseorang yang selalu di hatimu."


"Uhuk, uhuk, ya udah Bang. Terima kasih ya," jawabku sudah tak tahan lagi mendengar semua keabsrudtan ini.


"Kenapa, Mon?" tanyaku heran melihat kebisuannya.


"Nggak kenapa-napa. Cuma tolong jawab saya, kita masih ada di bumi kan? Nggak pindah ke planet lain?"

__ADS_1


Aku tergelak mendengar kepolosannya. "Sudah ah, makan gih. Kebetulan ada dua nih." Kuberikan satu kotak nasi rendang kepadanya.


"Kamu nggak pengen tahu, siapa yang ngirim makanan ini?"


"Aku sudah tahu, kok."


"Siapa?"


"Boss kita."


"Pak Dewa?"


"Hu'um, karena cuma dia, yang memanggilku dengan sebutan itu."


"Gokil dah! Yang satu romantis, yang satu selengean." Dia menggeleng kepala, lalu mulai menyantap nasi tersebut.


.


.


Ajakan Angga untuk dinner kutolak. Malam ini ingin sendiri dalam kamar kost. Kupandangi foto-foto El dalam ponsel. Selama ini Angga selalu menunjukkan sikap yang bersahabat saat bersamanya. Dan bisa kurasakan bahwa itu tulus dari dalam lubuk hatinya.


Sekilas muncul wajahnya, terbayang jelas di pelupuk mata. Kuhela napas, memejamkan mata.


Gegas aku bangkit. Menyebalkan!! Mengapa wajah Dewa yang muncul, saat kututup mata. Pasti ada yang salah!


Derrt, derrt, ponsel bergetar.


Satu pesan WA masuk.


[Assalamu alaikum, apa kau sedang memikirkanku? Wahai Calon kekasih halalku, Mantan istriku, Ibu dari anak-anakku,]


Arrgghttt!! Dia lagi, dia lagi!


.


.


Bersambung


🌷🌷🌷🌷🌷

__ADS_1


Please tinggalkan jejak like, komentar atau apa saja. Untuk menyemangati author 😁😍🙏


Terima Kasih


__ADS_2