JODOHKU TUAN DUDA

JODOHKU TUAN DUDA
Hamil


__ADS_3

Sejak pengunduran diri Dewa sehari setelah pernikahan Nisa dan Angga, sejak itu pula ia menghilang bak ditelan bumi. Tak ada yang tahu dimana keberadaannya. Bulan-bulan pertama kepergiannya, baik Nisa maupun Angga mencoba mencari dan menghubungi Dewa lewat semua jalur dan fasilitas yang ada.


Nomer ponselnya sudah tak aktif lagi, akun media sosialnya pun demikian. Email yang dikirim padanya juga tak berbalas. Dewa seakan sengaja menyingkir dari orang-orang yang pernah mengenalnya.


"Sudahlah lupakan saja. Mungkin dia ingin menyendiri, nanti juga muncul sendiri, kalau dia sudah lelah bertapa," hibur Angga sebelum berangkat kerja.


"Aku nggak masalah, Mas, cuma kasihan dengan El. Baru juga kenal dengan papanya, sudah harus berpisah lagi," kilah Nisa.


"Untungnya El masih kecil, masih bisa mengenal papa Angga yang senantiasa tampan sepanjang hari," gurau Angga. Membuat Nisa terkekeh mendengarnya. Angga memang lelaki yang humanis.


Dan benar saja, Dewa tak pernah muncul lagi untuk waktu yang lama. Beruntung Angga sosok suami yang hangat bagi Nisa dan sosok ayah yang bijaksana di mata El. Ia tak mengeluhkan apapun menyangkut El, termasuk soal biaya hidup untuk anak itu. Lagian buat penguasaha sekelas Angga, menanggung kebutuhan hidup anak seumur El, tidak berarti apapun. Penghasilannya tak berkurang hanya karena menghidupi anak tirinya.


Kasih sayang Angga terhadap El, memang tak diragukan lagi. Ia menyayangi anak itu seperti anak kandung sendiri. Tiap malam sebelum tidur, ia sempatkan membaca sebuah dongeng untuknya. Menemaninya bermain saat akhir pekan.


Membuat hati Nisa terharu dan bahagia. Demikian pula El, pelan-pelan anak itu mulai melupakan Dewa. Bagi El, Angga adalah satu-satunya lelaki yang harus ia panggil dengan sebutan 'papa.'


"Mas, kok, perhatian banget sama El? Aku malah jadi khawatir sendiri jadinya," tutur Nisa sembari mengelus dada bidang Angga yang terbuka.


"Siapa yang bisa menolak tingkah El yang menggemaskan? Apa yang membuatmu cemas?" Angga mengecup kening sang istri.


"Aku takut Mas, pilih kasih jika nantinya punya anak sendiri."


"Ngomong apa sih, kamu. Bagaimana mungkin seorang ayah melupakan anaknya sendiri. Kalau Kamu khawatir, ya, nggak usah punya anak lagi. Biar El jadi anak kita satu-satunya."


"Ih, nggak sampai segitunya juga kali, Mas. Mana tega aku membunuh anak kita sendiri," sungut Nisa. Mengelus pelan perutnya yang masih rata.


Angga terkesiap, ia melepas rangkulan tangannya dari bahu Nisa. Kemudian meraih tubuh sang istri dengan kedua tangannya. "Apa maksud Adek, ngomong seperti itu?" tanya Angga penuh selidik.


Nisa tersenyum melihat ekspresi kebingungan dari wajah suaminya. Baru kali ini ia menikmati kebahagian seperti ini. Sangat berbeda ketika ia mengandung El. Semua harus disembunyikan rapat-rapat karena ia harus tersisih dari kehidupan Dewa.

__ADS_1


"Kita akan punya anak, Mas," bisik Nisa lembut di telinga Angga. Sebuah amplop putih berisikan hasil pemeriksaan dokter kandungan, ia berikan pada sang suami.


Angga tak dapat mengucapkan sepatah katapun. Ia membuang selimut yang menutupi tubuh mereka berdua. Hampir saja ia memekik sekeras-kerasnya, jika saja Nisa tak segera menutup mulut Angga dengan telapak tangannya.


"Jangan berisik, sudah malam Mas. Nanti mbah Narti tetangga sebelah harus UGD karena jantungan."


Angga memutar bola matanya, bukan karena marah, tapi gemas melihat Nisa. "Terima kasih, Sayang, kamu benar-benar membuat saya bahagia malam ini. Sebentar lagi saya menjadi seorang ayah," ucap Angga penuh haru. Ingin rasanya mengabarkan pada seluruh dunia, tentang kehamilan Nisa.


Lelaki itu kemudian membopong Nisa. Ia menatap sang istri lebih dalam, lebih tajam dan lebih bergairah. Dikecupnya setiap inci wajah sang istri, membuat Nisa memekik geli. Perlahan-lahan diletakkan tubuh wanita itu di atas ranjang.


"Saya ingin menjenguk anak kita," desisnya di telinga Nisa.


"Tadi, kan, sudah. Besok lagi, ya?"


"Nggak mau, tadi belum kenalan. Dia harus tahu, papanya memang tangguh dan perkasa."


"Boleh minta time out?" pintanya sekali lagi.


Nisa tersenyum geli mendengarnya, dipeluknya lelaki itu dengan erat dan penuh kehangatan ....


***


Nisa mengandung anak Angga, ketika usia pernikahan mereka menginjak angka lima tahun. Selama menunggu kehadiran adik El, tak kurang ia dirundung kecemasan. Orang tua Angga bahkan berkali-kali sering menanyakan jadwal haidnya. Membuat Nisa dirundung stres bila tamu bulanannya tetap saja nongol tiap bulan.


Dan Nisa semakin terenyuh ketika melihat wajah suaminya. Walaupun Angga tak pernah mengatakan secara langsung keinginan memiliki anak dari darah dagingnya sendiri, tapi Nisa sangat paham akan impian terbesar di hati Angga. Besarnya perhatian dan kasih sayang Angga terhadap El, berbanding lurus dengan keinginannya memiliki anak kandung sendiri.


"Ibu harus berhati-hati saat 'main' dengan suami. Kandungan ibu lemah, rentan keguguran," jelas dokter Efi.


Siang itu Nisa bergegas menemui dokter Efi saat mendapati bercak darah pada pakaian dalamnya. Ia khawatir sesuatu terjadi pada janinnya. Dan kecemasannya terbukti benar, kandungannya lemah dan rentan keguguran.

__ADS_1


"Jangan ambil anak ini dari rahimku, ya Tuhan," lirihnya dalam hati.


Tapi bagaimana caranya memberitahu Angga? Apakah ia tega meredam hasrat suaminya yang menggila, sejak mengetahui dirinya hamil?


Namun, Nisa juga tak ingin kehilangan bayi itu? Bukan karena penantian yang cukup lama terhadap bayi mereka. Bukan pula karena takut mengecewakan mertua. Bukan, bukan itu alasannya.


Nisa sudah jatuh hati sejak pertama kali melihat janinnya di USG. Apakah ini naluri keibuannya yang berbicara? Entahlah, yang jelas ia tak ingin kehilangan anak itu.


Alhasil, Nisa sering menolak keinginan Angga untuk menggaulinya. Seribu satu alasan ia siapkan untuk menghadang libido Angga yang tengah memuncak.


"Aku capek, Mas."


"Kepalaku pusing."


"Aku mau tidur, ngantuk banget."


"Mas aku mau menjenguk ibu, aku kangen sama ibu."


Nisa tak pernah melihat wajah Angga saat mengatakan semua itu. Ia tak sampai hati melihat wajah suaminya lesu saat mengatakan hal tersebut. Namun, harus bagaimana lagi, ia mesti mengeraskan hati, mengambil sikap tega mengatakan semua itu.


"Maafkan aku, Mas. Ini juga demi anak kita," bisiknya dalam hati.


Berminggu-minggu Nisa menahan kesedihannya, saat melihat wajah Angga yang kusam. Ia tak sanggup melayani suami sendiri secara utuh. Tahankah seorang laki-laki bercinta seminggu sekali? Sementara sebelumnya Angga senantiasa meminta haknya dua hari sekali.


Namun, suatu hari kemurungan di wajah Angga tiba-tiba lenyap saat usia kehamilan Nisa berumur lima bulan. Angga kembali seperti dahulu, penuh perhatian dan kasih sayang terhadap keluarganya.


Hati Nisa lega, tapi curiga. Di satu sisi ia merasa mendapatkan kembali suaminya yang hilang, membuat rumah tangganya kembali harmonis. Di sisi lain ia gelisah, melihat perubahan Angga yang tiba-tiba.


Untuk menghapus keraguan di benaknya, diam-diam Nisa mengecek ponsel Angga saat tertidur. Tak ada yang aneh, semuanya normal. Ia pun beralih memeriksa laptop sang suami yang selalu dibawa saat ke kantor. Dan akhirnya Nisa bisa bernapas lega ketika tak menemukan apapun untuk dicurigai.

__ADS_1


Namun, bagaimana Nisa bisa tahu jika takdir seseorang menjadi rahasia Sang Pencipta? Nisa tak sadar perubahan sikap Angga menjadi gerbang masalah yang jauh lebih kejam. Masalah yang pelik, seperti bom waktu yang siap meledak kapan saja.


Bersambung


__ADS_2