JODOHKU TUAN DUDA

JODOHKU TUAN DUDA
Erlangga Wira Kencana


__ADS_3

Pov Nisa


Sabtu sore, setelah jam kantor usai. Seperti biasa aku bersiap untuk pulang mengunjungi orang tua dan El di kabupaten Lebak, Banten. Jaraknya sekitar 230 kilometer sebelah barat ibu kota jakarta.


Melihat suasana desa yang berada di pinggiran hutan perhutani serta dikelilingi oleh lautan samudra Hindia. Membuat suasana desa masih terasa, alami, sejuk dan jauh dari kebisingan kota Jakarta. Sungguh bisa mengeluarkan aura positif dalam diri, seperti yang terjadi padaku ini.


Sekantor dengan orang yang ingin aku hindari, sedikit banyak membuat tekanan batin semakin terasa. Berkali-kali dia berusaha mendekati dengan berbagai alasan. Namun, beruntung masih bisa aku hindari.


Meskipun desiran itu masih terasa di hati, tapi tetap harus rileks untuk bisa menghadapinya.


:


Mama dan El menyambut dengan senyuman. Anak itu tidak bisa tertidur, kala mengetahui mamanya ini akan datang. Meskipun kedatanganku antara jam sebelas hingga dua belas malam.


Delapan jam perjalanan yang kutempuh untuk sampai di desa Sawarna dengan lelah yang mendera, akan sirna saat melihat senyuman manis mereka.


"Sudah makan, Nis?"


"Sudah, Ma, tadi di perjalanan."


El yang ada dalam gendonganku, meletakkan kepala dengan posisi miring di pundak ini.


"Sudah, istirahat saja. Lihat anakmu juga sudah mulai mengantuk."


Aku mengiyakan dan berjalan menuju kamar, tidur seraya memeluk tubuh mungil El, adalah hal yang selalu membuat hati rindu.


.


:


"Buruan mandinya, Nis. Sebentar lagi abangmu datang," kata Mama.


"Biar El mandi dulu, Ma."


"Sudah kamu buruan mandi, nanti El sama saya." Mama mengambilnya dari gendonganku.


Heran, tak biasanya mama bersikap buru-buru seperti itu.


:


"Nis, kenalin ini teman abang. Namanya Erlangga," kata bang Naresh saat aku menyuguhkan teh dan penganan kecil di hadapan mereka.


"Erlangga, panggil saja Angga," katanya. Mengulurkan tangan kanannya. Kusambut dengan senyum, "Nisa."


Kedatangan bang Naresh kali ini, rupanya untuk mengantar Erlangga Wira Kencana meninjau lokasi desa ini. Lelaki muda itu, berniat membangun beberapa resort di daerah wisata yang belum banyak dibangun penginapan. Desa ini menjadi salah satu pilihan dari beberapa lokasi yang ada dalam list perusahaannya.


Mama menyuruhku untuk menemani mereka berdua, berhubung papa harus menemui beberapa tengkulak yang akan membeli hasil kebunnya.


Selama beberapa jam bersama mereka, aku mengenal Angga. Dia sosok yang dewasa nan humble. Hidungnya yang mancung dan ada lesung pipi saat dia tersenyum. Caranya berjalan penuh ketenangan, membuat orang di sekelilingnya nyaman.


Kulirik jam di pergelangan tangan, sudah hampir tengah hari. Sayup-sayup terdengar suara adzan dhuhur dari kejauhan.


"Bang, Pak, Nisa mau pulang dulu. Sudah dhuhur, sekalian siap-siap mau balik ke Jakarta," pamitku kepada mereka.


"Lho, sudah mau balik ke Jakarta? Cepat amat?" tanya Angga heran.


"Iya Pak, biasanya juga jam segitu. Biar sampai di sana nggak terlalu malam," jawabku.


"Resh, mesjidnya ada di mana?" tanya Angga.


"Mau ke mesjid ya, sama Nisa saja, Bang. Searah kok. Saya mau lihat bapak dulu, sebentar lagi nyusul."


Angga menoleh padaku, seperti meminta persetujuanku dahulu.


"Nggak apa-apa, Pak. Mari ...," kataku sopan.


Sepanjang perjalanan kami banyak diam dan saling menjaga jarak. Maklumlah sekarang kami di desa, tak elok rasanya menunjukkan keakraban beda jenis di masyarakat yang masih menjunjung tinggi nilai etika dan kesopanan dalam bergaul.


Setelah menunjukkan letak mesjid, lekas diri ini berjalan menuju rumah. Ingin menyuapi El sebelum kembali ke Jakarta. Kepulanganku kali ini, hanya menyisahkan sedikit waktu untuk menemani buah hatiku. Biarlah, lain waktu aku akan menebusnya.


Tak lama kemudian, papa, Angga dan bang Naresh datang bersamaan. Kebetulan mama telah selesai menata makanan di meja makan. Sebenarnya aku heran, sepertinya mama sudah mempersiapkan semua ini dengan matang.


Terbukti beberapa menu telah dia masak, dibantu oleh dua orang tetangga. Setelah acara makan siang usai, dan menidurkan El, gegas aku berkemas untuk berangkat.


Rupanya Angga, akan kembali ke ibu kota juga. Dia menawarkan tumpangan. Aku melirik ibu yang tersenyum saat pria itu meminta ijin untuk mengantarku.


"Bagaimana, Pa?" tanyaku kepada papa.


"Iya, ndak apa-apa. Asal langsung di antar ke kontrakan," tegasnya.


"Tentu, Pak. Saya akan menjalankan sesuai amanat, Bapak," jawab Angga dengan taksim.

__ADS_1


"Tenang, Pa, Ma. Kalau macam-macam saya tahu harus mencari kemana pria ini," canda Bang Naresh.


"Abang, nggak ikut pulang?" tanyaku.


"Nggak, besok rencana mau balik. Masih ada urusan sama papa."


"Ya sudah, buruan berangkatnya. Biar nggak kemalaman sampainya," titah papa.


Angga berpamitan pada keluargaku, sedang aku masuk ke kamar sejenak, mencium anak lelakiku yang sedang bermimpi indah.


Kupeluk papa dan mama.


"Titip El, Ma," kataku.


"Heem," kata mama mengelus punggungku.


"Assalamu alaikum," pamitku.


\=\=\=


"Anaknya lucu, Nis," kata Angga.


"Alhamdulillah, Pak. Maklum umurnya baru sebelas bulan lebih, masih lucu-lucunya."


"Berarti sebentar lagi ulang tahun, dong."


Aku hanya mengangguk sambil tersenyum.


"Mau dirayakan dimana?"


"Belum tahu, Pak."


"Jangan panggil 'Pak' dong, kesannya terlalu ketuaan. Padahal umur kita cuma beda empat tahun."


Aku menautkan alis, heran. "Darimana, Bapak tahu umurku."


Dia hanya mengulum senyum penuh arti, "kok, masih panggil itu?"


"Jadi harus bagaimana?"


"Biasanya sih, teman-teman panggil 'abang' tapi nanti sama seperti Naresh. Panggil 'mas' saja. Kebetulan saya orang Jawa. Bagaimana?"


"Ok, nggak masalah, tapi sebelum aku panggil dengan sebutan itu, tolong jawab pertanyaan yang tadi."


"Mengenai umur? Itu butuh waktu yang pas buat menjelaskan, tidak dalam kondisi mengemudi begini."


"Kenapa?"


"Karena biasanya reaksi perempuan aneh-aneh, Nis."


Bibirku mengerucut mendengar penjelasan, yang membuatku semakin bingung.


Dia terkekeh melihat reaksiku. "Kalau begitu, mirip banget dengan El mulutnya."


Aku membulatkan mata, pura-pura marah.


"Ya sudah, saya berutang penjelasan sama Nisa. Nanti saya hubungi, kapan waktu yang tepat."


Aku tak menjawabnya dan mobil terus melaju menerobos malam. Setelah memasuki kota Jakarta sekitar pukul delapan malam, Angga menepikan kendaraannya.


"Mau kemana, Mas?"


"Kita makan dulu, wajahmu pucat begitu. Ayo turun," katanya.


Aku menuruti saja perkataannya, toh badan memang lemas mungkin kelelahan.


Sebuah restoran seafood menjadi pilihannya. Dengan langkah yang sedikit gontai aku memasuki area itu.


"Masih oleng, Nis?" tanyanya saat sup seafood di mangkokku sudah ludes.


"Sudah mendingan, Mas. Maaf membuat repot."


"Yang penting, Nisa sehat dan baik-baik saja."


Aku mengganggukan kepala seraya tersenyum.


"Mau langsung pulang atau mau keliling dulu?" tawarnya.


"Langsung pulang saja, Mas. Mau istirahat, capek banget soalnya."


"Siap, Boss."

__ADS_1


:


Sesampainya di depan pintu pagar kontrakan, Angga membukakan pintu mobil, mengambil tas jinjing kecil di bagasi.


"Sudah, Mas, sampai sini saja. Nggak enak sama tetangga yang lain."


Dia tersenyum, lalu menyerahkan tas itu kepadaku.


"Kalau masih sakit, hubungi saya. Ini kartu namaku."


"Iya, Mas."


"Ingat saya masih punya hutang sama, Nisa. Sudah, masuk duluan saja. Saya pergi setelah, Nisa masuk."


"Baik, Mas. Assalamu alaikum."


"Waalaikum salam."


Dan benar saja, terdengar suara mesin mobil yang meraung, setelah menutup pintu kamar.


\=\=\=


"Ke kantin yuk, Nis," ajak Mona.


"Nggak, Mon. Aku bawa bekal."


"Ok, saya tinggal yah. Hati-hati nanti boss ganteng, godain Kamu. Tuh lihat, dia masih sibuk di depan laptop." Dia pun melenggang setelah mencubit pipiku. Ishh ... dasar gadis reseh.


Segera kukeluarkan bekal yang ada dalam paper bag, sudah terbiasa membawa bekal sendiri dari kontrakan, untuk menghemat pengeluaran.


Menikmati nasi goreng dengan telur dadar, sesendok demi sesendok. Hingga ponsel di sampingku berdering, rupanya Angga.


"Assalamu alaikum, Mas."


....


"Sudah sehat, Mas. Ini lagi di kantor."


....


"Ehm, nanti aku kabari kalau bisa."


....


"Waalaikum salam," kataku menutup teleponnya.


"Dari siapa, Nis?"


Tiba-tiba Dewa sudah berdiri di belakangku.


"Sejak kapan, Bapak ada di situ?"


"Sejak ponselmu berdering."


Aku terkejut.


"Siapa Angga?"


"Bukan urusan, Bapak."


Dia menatapku lama tanpa berkedip, hatiku berdesir.


"Foto siapa di ponselmu?"


Bagai di sambar petir, pertanyaannya membuatku terbungkam seribu bahasa. Secepat itu dia bisa melihat foto El di gawaiku.


\=\=\=


Apa jawaban yang akan Nisa katakan, atas pertanyaan Dewa?


Bagaimana kisah mereka selanjutnya?


Yuk, jangan bosan menunggu episode selanjutnya yah 😙


Bersambung


🌷🌷🌷🌷🌷


Please tinggalkan jejak, like, komentar atau apa saja, untuk menyemangati author 🙈😁😙🙏


Terima kasih

__ADS_1


__ADS_2