JODOHKU TUAN DUDA

JODOHKU TUAN DUDA
Setitik Harapan


__ADS_3

Dewa membaca pesan dari Nisa berulang-ulang. Senyum lebar menghiasi wajahnya. Seperti sebuah keajaiban perempuan itu mau membalas pesannya. Apakah ini pertanda bahwa Nisa mulai melembutkan hati?


Lelaki itu kembali mengetik pesan balasan dengan euforia yang sulit untuk diceritakan.


[Sholat pakai apa?] Dengan sigap menekan tombol kirim.


Tak perlu menunggu waktu yang lama, bunyi notifikasi terdengar.


[Ya pakai mukenah dan sajadah, memang mau pakai lagi? ckck]


Dewa terkejut membaca pesan balasan itu, dahinya berkerut. Dia membaca ulang pesan-pesan yang baru saja mereka lakukkan.


"Shitt!" keluhnya seraya memukul jidat sendiri. Rupanya dia salah ketik. Maksud hati ingin menulis 'makan pakai apa?' Yang terkirim justru 'sholat pakai apa?'


Ah ... entah siapa yang salah, dirinya yang terlalu gembira atau tombol Swype Key yang terlalu aktif.


Buru-buru dia menulis pesan ralat untuk Nisa. Tak ingin kredibitasnya sebagai boss dan duda keren, amblas di depan mantan terindah.


[Maksud saya, makan pakai apa? Maaf salah ketik, Calon kekasih halalku,] kirim.


Hening. Tak ada balasan lagi. Menggaruk kepala, gerah dengan sikap keras kepala perempuan itu. Ingin menelepon, tapi urung dilakukan. Percuma saja, pasti sia-sia juga akhirnya.


Dewa mendesah, semangatnya kembali kendor. Ingin sekali melepas gundah di hati. Bila saja lelaki itu masih bersama Wanda, mungkin kini kaki mereka akan bergoyang mengikuti irama musik yang diramu oleh seorang DJ. Tak lupa sebotol minuman beralkohol akan tergenggam di tangan.


Dewa mengusap kasar wajahnya. Sungguh masa-masa suram seperti itu pernah dia lalui. Beruntung dirinya masih diberi kesempatan untuk berubah, meskipun belum sepenuhnya.


Pendar lampu notifikasi di ponsel, membuatnya meraih benda pipih itu. Berharap salah satu pesan yang masuk dari Nisa. Lagi-lagi tak ada, hanya beberapa info dari grub WA.


Jarinya beralih pada status WA, scrool hingga mentok ke bawah. [Paling dia nggak nge-status lagi,]


Namun, dirinya tertegun. Kala mendapati nama sang mantan tertera di sana.


[Kepercayaan diperoleh bukan dengan banyaknya perkataan, melainkan kesusaian antara perkataan dan perbuatan,] bunyi status Nisa.

__ADS_1


Tiba-tiba hati Dewa berdesir membaca kalimat yang di tulis calon kekasih halalnya. [Apakah dia bermaksud menyindirku?] Segera ditepisnya praduga-praduga liar itu. Seharusnya lelaki itu berpikir, bahwa status Nisa ditujukan kepada semua yang terdapat dalam kontak perempuan keras kepala itu.


Namun, hatinya tak tenang bila tak menanyakan sesuatu yang mengganjal.


Lekas dia mengetik sesuatu untuk Nisa. 'Masa bodoh bila menertawakanku' lirihnya.


[Kamu nyindir saya, ya?] kirim.


Satu menit, dua menit, tiga menit berlalu dengan sepi. Lunglai sudah lelaki jangkung itu. Bangkit dari sofa, berjalan dengan malas. Tiba-tiba ponsel tersebut berbunyi, bukan main senangnya Dewa. Meskipun dia tak tahu siapa orang yang membuat ponsel itu bersuara.


Nun jauh di suatu tempat, Nisa nampak sedang mengetik balasan untuk Dewa.


[Nggak, aku nggak menyindir siapa-siapa. Tadi nemu qoutes yang menurutku bagus, makanya aku tulis. Kalau Bapak tersinggung, ya bagus. Artinya memang seperti itu,]


Duerrrr ....


Maksud hati ingin mencari muka di hadapan Nisa, malah menjadi bumerang bagi Dewa. Senjata makan tuan. Dia yakin perempuan itu, masih sulit mamaafkannya. Seakan dirinya terperosok semakin jauh dalam jurang penyesalan.


Dia sangsi, akankah strategi untuk mendekati sang mantan berhasil?


Tak lama kemudian, Nisa mengirim balasan.


[Kalau memang niat untuk berubah, ada atau tidak sebuah dukungan, pasti akan tetap maju. Niatkan karena Allah semata, bukan karena seseorang,]


Dewa tertegun membacanya, kembali mengirim balasan.


[Insya Allah, saya tetap maju meskipun tak ada dukungan,]


Hening.


Kembali tak ada balasan, gegas lelaki itu bergerak ke kamar. Kemudian dengan lincah, kembali mengetik pesan untuk Nisa.


[Ijinkan saya kembali dalam hidupmu. Beri kesempatan sekali lagi. Saya, kamu dan El akan menjadi keluarga bahagia,]

__ADS_1


[Saya tahu kamu masih marah, belum bisa melupakan masa lalu. Saya paham. Lelaki brengsek seperti saya memang pantas kamu jauhi. Tapi saya sedang berusaha untuk berubah, agar kamu bisa melihatku seperti dulu lagi. Hanya satu pintaku, beri kesempatan sekali lagi. Saya janji tidak akan melakukan kesalahan dan kebodohan seperti dulu lagi,]


Tetap tak ada balasan dari Nisa. Namun, hatinya lega. Tak peduli lagi akan adanya jawaban dari pesan-pesannya.


Tanpa Dewa tahu, di atas pembaringan malam itu, Nisa berusaha menahan air mata yang ingin tumpah karena membaca pesan-pesan dari lelaki itu. Gamang. Namun, tanpa sadar bibirnya mengucap lirih kalimat 'I love you.'


.


.


Pukul tiga dini hari, Nisa terbangun. Segera melangkah mengambil air wudhu untuk menunaikan sholat malam dua rakaat. Pada-Nya dia tumpahkan segala yang menghimpit di dada.


Mengadu dan berdoa sesuatu yang tak pernah bisa dipisahkan, kala hamparan sajadah mulai terbentang. Baru kali ini dia merasakan tangisnya begitu lepas, saat bermunajat kepada Rabb-nya. Kemudian mengambil kitab suci, membacanya walau hanya selembar atau dua lembar.


Entah apa yang mendorong Nisa meraih ponsel di atas kasur. Saat selesai membaca qalam Ilahi. Membuka aplikasi berlogo ponsel warna hijau. Mencari nama 'Duda Mesum.


[Hari Sabtu aku mau pulang. Mau titip sesuatu buat El?] kirim.


Kemudian, diletakkan kembali ponsel tersebut. Membaringkan diri sambil menanti kumandang azan subuh.


\=\=\=


Dewa terhenyak, membaca pesan dari Nisa. Andai saja tak ingat usia dan berat badannya, mungkin dia akan melompat-lompat di atas springbed itu. Sungguh sebuah kabar yang menggembirakan.


.


.


Bersambung


🌷🌷🌷🌷🌷


Please tinggalkan jejak like, komentar atau apa saja. Untuk mhenyemangati author 😁😍🙏

__ADS_1


Terima Kasih


__ADS_2