JODOHKU TUAN DUDA

JODOHKU TUAN DUDA
Datang Tiba-Tiba


__ADS_3

Angga dan Nisa bergiliran menemani El di rumah sakit. Aktivitas kantor mulai dilakoni kembali Nisa. Walaupun tak sesibuk dulu karena perempuan itu membatasi waktunya hanya empat jam untuk mengurus perusahaan.


Meskipun hanya empat jam, tetapi tetap saja mendapat apresiasi dari para bawahannya.


Mereka seakan mendapat suntikan semangat bekerja lagi, setelah dasas-desus yang beredar Nisa akan hengkang dari perusahaan. Dan perusahaan akan diambil alih oleh pihak asing.


Gaya kepemimpinan Nisa yang santai, jauh dari kesan otoriter membuatnya dielukan oleh bawahannya. Namun jangan salah, meskipun terlihat santai tetapi ia sangat jeli jika menghadapi suatu kasus. Apa karena Nisa menggunakan instingnya sebagai wanita, entahlah ... biarkan itu menjadi rahasianya.


Nisa juga terlihat lihai dalam menjaga El. Nisa tahu El masih belum bisa menerima bila dirinya berkarir di luar, untuk itu sebisa mungkin ia tidak menggunakan pakaian kerja saat bergantian jaga dengan Angga. Jika waktu masih memungkinkannya pulang untuk membersihkan diri dan berganti pakaian, ia akan menggunakan sebaik-baiknya waktu itu. Namun, jika tidak sempat lagi, maka ia terpaksa menggunakan toilet rumah sakit atau kabin mobil untuk menukar blouse kerjanya. Hingga El tak pernah mengetahui dirinya sudah kembali beraktivitas.


Kamu lihat El, meskipun mama bekerja di luar, perhatian terhadapmu tak pernah berubah.


Dan Nisa patut bersyukur semuanya berjalan baik, sebaik kesehatan El yang mulai pulih. Dokter Aliya juga sudah memberi informasi mengenai keadaan umum sang anak.


"Besok pasien sudah boleh pulang, Bu," ujar Dokter Aliya tersenyum manis.


"Alhamdulillah, terima kasih, Dok," sahut Nisa berseri-seri.


Ia segera mengabarkan pada Angga dan Nina mengenai kepulangan El. Juga dengan bersemangat Nisa mengintruksikan bik Nah dan pekerja lainnya untuk membuat persiapan menyambut kedatangan putra sulungnya.


Bik Nah ditugaskan memasak makanan kesukaan El, sementara pekerja yang lain merapikan kamar El, tentu dalam pengawasan Angga. Karena Nisa yang akan membawa El pulang ke rumah.


"Mas di rumah saja. Biar aku yang membawa El pulang. Kali ini aku tak mau gagal lagi, mengantar anakku keluar dari tempat ini," katanya pada Angga.


Angga tak bisa menolak, ia mengerti bagaimana perasaan istrinya. Namanya juga ibu-ibu.


Sementara El yang melihat kebahagian sang mama tak kurang membuat hatinya gembira. Namun, ia pura-pura bersikap biasa saja, tak ingin menunjukkan perasaannya pada Nisa.


"Nggak usah seperti itu, Ma. Terlalu berlebihan," protes El ketika Nisa berniat mengundang teman sekelas putranya besok.


"Mama ingin buat acara syukuran kecil-kecilan, El," tampik Nisa.


"Nggak mau ah, seperti anak kecil yang lagi ngerayain ulang tahun. Kalau mau syukuran, di panti asuhan saja. Nggak perlu sampai mengundang teman-teman sekelas El. Bisa-bisa kalau masuk sekolah bukannya dipuji, malah kena bully. Dikatain anak mama."


Nisa tersenyum masam mendengar protes sang putra. Namun, akhirnya ia menuruti juga permintaan El. Lagian usul yang dicetuskan remaja itu, sangat bagus. Mengalihkan acara syukuran menjadi santunan ke panti asuhan anak-anak, you are great, Son!


Diam-diam Nisa merasa bahagia dan bangga pada El.


***

__ADS_1


Namun, kebahagian itu hanya sekejap menemani Nisa. Andaikan ada orang yang tidak ingin dijumpainya saat ini, tentu saja orang itu adalah Dewa.


Rumah tampak lengang saat ia dan El masuk. Nisa mencoba mengusir perasaan aneh itu. Ia tetap berjalan santai di samping El. Namun, langkahnya mendadak terhenti, manakala melihat Dewa sedang berbincang bersama Angga di ruang tamu.


"Kenapa, Ma?" tanya El heran, "Mama kenal dengan tamu itu?"


Untuk sesaat Nisa tertegun, ini bukan waktu yang tepat untuk mengatakan siapa Dewa bagi El.


Memori El tentang Dewa ketika berumur dua tahun, sepertinya sudah hilang tak berbekas. Dan Nisa tak pernah menceritakan kembali mengenai Dewa pada El. Bukankah pria itu juga sudah menghilang saat Angga menikahinya. Jadi buat apa lagi? Sementara Angga sudah berhasil menjadi papa yang dibutuhkan El saat itu.


"Iya, papamu juga tahu siapa dia. Kamu masuk dulu, nanti mama menyusul. Mama harus menyapa tamu terlebih dahulu," sahut Nisa gugup.


El hanya menggangguk. Kemudian berjalan menuju kamarnya.


"Halo, Nis," sambut Dewa dengan tersenyum.


"Hai, Wa, sudah lama di sini?" balasnya.


Nisa mengambil tempat dekat dengan Angga. Hanya berdiri, tubuhnya serasa kaku untuk duduk di sebelah sang suami.


"Belum lama, Dek," timpal Angga.


Beruntung Angga paham akan isyarat Nisa dan mempersilahkannya masuk ke dalam.


Sementara Dewa tak bisa berbuat banyak. Ini rumah mereka, ia hanya tamu di sini. Tak berhak mencegah Nisa meninggalkan ruang tamu itu, ada Angga suaminya yang berkuasa di sana. Mau tak mau Dewa hanya bisa melirik punggung perempuan itu, menjauh dari tempat mereka ngobrol.


***


"Ada urusan apa dia datang kemari, Mas?" tanya Nisa. Ia harus menahan diri untuk bertanya sampai anak-anak masuk ke kamar masing-masing.


"Dia memberitahu mengenai teman yang kamu temui di Ausie. Saya lupa siapa namanya?"


"Axel."


"Ya, itu dia. Axel. Kamu jangan tersinggung karena maksudnya baik. Hanya memperingatkan saja."


Nisa masih terdiam, menunggu kelanjutan kalimat Angga sambil menata bunga artificial di atas meja.


"Dia mengenal Axel dengan baik. Dia juga tahu kalian sudah saling mengenal. Dewa mafhum seperti apa pria itu. Katanya, Axel tak cocok untukmu."

__ADS_1


"Apa hak dia mencampuri urusanku? Dia bukan siapa-siapa lagi dalam hidupku," geram Nisa nyalang.


"Dia hanya memperingatkan, mungkin dia tahu sesuatu. Nggak ada salahnya mendengarkan pendapat orang lain."


"Mas nggak tanya sekalian, apa motif dia berbicara seperti itu. Heran, aku kira dia kemari mau bertanya mengenai kondisi anaknya, nyatanya dia nggak peduli sama sekali dengan El. Orang seperti itu yang mesti aku dengar pendapatnya?" ketus Nisa geram.


"Tolong pelankan suaramu, Dek. Jangan sampai anak-anak dengar, apalagi El." Angga menghela napas. Ada kecemasan tersirat di matanya.


"Maaf, aku lagi kesal."


"Sabar, Dek. Ini sebagai pandangan kalau kita pisah nanti, agar tidak salah pilih."


"Bah, aku bukan anak remaja yang mesti diperingati. Mengapa dia tahu kita akan pisah?"


"Saya yang memberitahunya."


Pandangan Nisa melesat tajam ke arah Angga, ia tak menyangka suaminya menceritakan hal yang demikian pribadi pada Dewa.


"Kenapa Mas? Kenapa mesti menceritakan masalah keluarga dengannya?"


"Untuk apa mesti ditutupi lagi? Axel sudah menceritakan kedekatan kalian pada Dewa. Apa saya bisa menyangkalnya? Mengatakan kalau dia yang berusaha mendekati istri saya?"


"Jangan berkata seperti itu, Mas! Seolah-olah aku memiliki hubungan khusus dengan dengan Axel. Antara aku dan dia tidak ada apa-apa, semua serba kebetulan. Kebetulan kami dari negara yang sama dan kebetulan pula kami satu hotel. Hanya itu!"


"Sudahlah, Dek, tak perlu sampai sebegitu emosinya, seakan-akan kamu tak ingin berpisah?"


"Dan Mas ingin bercerai?"


Angga tercekat. Melihat api yang berkobar di mata Nisa. Siap untuk menerjang dan menghanguskannya saat itu juga. Membuat perbendaharaan kata-katanya, lenyap seketika.


"Sampai saat ini saya hanya memikirkan perkembangan anak-anak, hanya itu."


"Ya sudah kalau begitu, tak usah membicarakan masalah itu dulu. Apalagi pada orang yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan keluarga ini," sergah Nisa panas. Segera berdiri dan berlalu meninggalkan Angga yang terlongok-longok karena reaksi keras Nisa.


Sementara itu Nisa benar-benar dibuat murka dengan kehadiran Dewa. Apalagi yang ia inginkan? Pria itu, pria yang menyebalkan! Hanya peduli pada dirinya, hanya peduli pada keinginannya. Tak pernah sedikit pun mengerti perasaannya, jika tak bisa mendapatkan apa yang ia inginkan, Dewa langsung pergi begitu saja, tanpa kabar. Seperti mahluk halus saja, datang tak diundang, pergi tak diantar ... puah!! Dekat dengannya harus menyiapkan jantung cadangan, jika tidak ingin terkena serangan jantung mendadak.


Namun, Nisa juga sadar bahwa menyingkirkan Dewa bukan perkara mudah. Dia tipe pejuang yang mudah baper!


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2