JODOHKU TUAN DUDA

JODOHKU TUAN DUDA
Dari Hati Ke Hati


__ADS_3

"Kalau saya membatalkan niat untuk berpisah, maukah kamu memberi kesempatan untuk bersama lagi?" cetus Angga.


Serta merta Nisa menoleh ke samping, tepat saat Angga masih menelisiknya dengan lekat. Buru-buru Nisa mengalihkan pandangan ke depan lagi.


"Mas," ucap Nisa pelan dan hati-hati, "andaikan dulu mas mengatakan ini mungkin aku akan menyambut baik kabar bahagia ini, tapi sekarang ... rasanya terlalu naif jika menerima ajakan itu."


"Saya janji akan berubah, Dek."


Nisa tertegun tak percaya dengan apa yang ada di depannya. Bukan karena apa yang Angga ucapkan baru saja, melainkan cara pria itu mengatakannya. Sorot mata Angga yang penuh tekad.


"Mas yakin jika kita bersama akan bahagia lagi? Sementara aku masih ingin bekerja?"


"Kita akan coba, Dek. Tolong pikirkan anak-anak."


"Sejak kapan aku mengenyahkan anak-anak dari pikiranku? Aku tahu mas sangat menyayangi mereka, tapi apa ini alasannya? Tanpa melibatkan perasaan kita berdua. Masih inginkah mas melanjutkan hubungan seatap tapi tak sekamar?" Nisa menghela napas sebentar, udara di paru-parunya seakan habis tak bersisa.


"Maaf mas, aku tak melihat hubungan ini akan berhasil," lanjut Nisa kemudian.


"Jadi pernikahan kita benar-benar hancur?" tanya Angga kecewa.


"Pondasi utama kita yang telah hancur, Mas. Aku tak nyakin bahtera kita akan tetap utuh sampai di tujuan. Tak ada lagi rasa cinta dan kepercayaan di antara kita. Kalau pun ada, semua itu ibarat benang yang sangat tipis, sekali hentak akan terputus begitu saja."


Wajah Angga mengisyaratkan kepedihan, kelopak matanya layu menahan nyeri. Sia-sia rasanya meminta Nisa merubah keputusannya. Pria itu tak dapat lagi berpikir banyak, semangatnya telah kandas.


"Kita tunda masalah ini mas," sahut Nisa kemudian, "biarkan takdir yang mulai bekerja. Seandainya jodoh kita masih panjang, aku pasti takkan bisa menolak. Namun, jika jodoh kita putus sampai di sini, kuharap kita juga sama-sama berbesar hati menerima," lanjutnya. Pahit, getir tapi tegas.


***


Meskipun baru berumur tiga belas tahun, tetapi El mengerti apa yang terjadi pada kedua orang tuanya. Mama dan papa yang tidur terpisah, kesibukan Nisa yang tiada habisnya, serta tak ada lagi canda dan tawa antara mereka. Membuat El berpikir, sesuatu yang menyedihkan telah terjadi dalam keluarganya.


Membuat mama yang dulu penuh kasih sayang berubah menjadi mama yang mudah marah dan acuh terhadap keluarga. Seringkali bertengkar dengan papa. Padahal papa salah apa? Justru papa lah yang selama ini menemani mereka, selama mama tak di rumah.


El pikir, setelah ia berbicara dari hati ke hati dengan papa dan merubah sikapnya terhadap mama akan membawa perubahan bagi keluarganya. Setidaknya wajah papa tak murung lagi. El ingin sekali melihat papa tersenyum penuh cinta terhadap mama, seperti dulu lagi. Namun, apa ... senyum papa hanya bertahan sehari saja. Jadi buat apa ia bersikap manis terhadap mama? Mama egois! Pasti semua ini kerena mama! Mama yang merenggut senyum di wajah papa!


El masih saja asyik memainkan ponselnya, saat Nisa masuk. Ia berlaku seolah-olah tak ada orang lain, padahal El tahu Nisa datang dengan membawa berbagai macam barang yang memenuhi tangan sang mama. Namun, ia tak peduli, sungguh tak peduli.

__ADS_1


Nisa membiarkan putra bersikap seperti itu, memberinya waktu sembari ia menata cemilan kesukaan El di meja dan di lemari pendingin.


Beberapa action figure ia jejer rapi di samping El, agar suasana hati sang anak kembali baik.


Namun, jangankan menoleh, melirik pun El seperti enggan. Lama-lama habis juga kesabaran Nisa. Ia mengambil paksa ponsel dari tangan El.


"Kamu kenapa El?" dumal Nisa kesal, "mendiamkan mama sejak tadi? Nggak suka mama ada di sini?"


El bergeming, mulutnya masih menutup rapat.


"Katakan pada mama, kalau kamu benci mama ada di kamar ini, mama akan keluar sekarang juga."


Karena tak mendapat jawaban dari sang anak, Nisa merenggut tas di atas nakas. Bersiap keluar dari kamar itu.


"Baiklah mama akan pergi!"


"Mama memang mau pergi! Jangan jadikan El sebagai alasan mama untuk menghilang!" Sedikit berteriak El mengatakan itu. Kemudian ia mengubah posisi menyamping, membelakangi Nisa.


Nisa yang sejak awal hanya menggertak, sekonyong-konyongnya terdiam memaku mendengar jerit kekesalan El. Kemudian berbalik.


"Kamu masih suka menyalahkan mama? Sebenarnya mama salah padamu? Siapa yang membuatmu terbaring di sini? Apa mama?"


"Papa berbeda dengan mama! Papa peduli terhadap El, sedang mama hanya sibuk pada Nina dan diri sendiri."


"Setiap orang berbeda cara menyampaikan perasaannya, El. Mama menyayangi kalian berdua tanpa pernah membedakan-bedakan kalian. Sebenarnya kamu tahu kalau mama menyayangimu, tapi kamu terlalu angkuh untuk mengakuinya. Hatimu tertutup karena marah terhadap mama." Kali ini suara Nisa sudah mulai melunak.


"El nggak suka melihat mama dan papa sering bertengkar! Setelah itu mama langsung pergi, setiap kali selesai bertengkar dan pulang larut malam!"


"Astagfirullah, kamu pikir mama kemana? Mama kerja El, menggantikan papamu di kantor. Di perusahaan milik papa sendiri. Dan papa tahu itu."


"Bohong! Kalau papa tahu, kenapa masih saja bertengkar?"


"Karena kami sudah tidak cocok. Banyak hal yang terjadi belakangan ini. Tapi mama tetap harus minta maaf padamu dan Nina, karena sering melihat kami bertengkar. Mama janji tidak akan seperti itu lagi."


El mendengkus mendengar permintaan maaf sang mama. Sepertinya masih sulit membuka pintu hatinya.

__ADS_1


"El tidak percaya, andaikan saja mama mau berubah, mengapa papa masih bersedih? Hanya satu hari El melihat papa tersenyum, tapi setelah berbicara dengan mama, wajah papa kembali murung. Apa yang mama katakan?" El bertanya dengan tatapan mata tajam, penuh kejengkelan dan sakit hati.


Sesaat Nisa tertegun, haruskah mengatakan semuanya pada El?


"Baiklah, El. Sepertinya kamu harus tahu apa yang sebenarnya terjadi pada kami. Mama anggap kamu sudah cukup dewasa memahami permasalahan ini. Semoga ini tidak membuat kemarahanmu bertambah." Nisa berhenti sejenak, mengamati wajah putranya. Setelah ia merasa El menunggu penjelasannya, Nisa berkata, "Mama dan papa berniat berpisah. Hidup sendiri-sendiri sebagai dua orang bebas."


Bagai petir di siang bolong, suara kerasnya memekakkan gendang telinga El. Membuat seluruh urat syaraf anak itu menegang. Ini benar-benar berita buruk untuknya. Sesuatu yang selalu melintas di benaknya, tetapi berkali-kali pula ia menepisnya. Namun kini, mama sendirilah yang mengatakannya.


"Kenapa harus berpisah?" tanyanya masih dalam keadaan shock.


"Seperti yang mama katakan tadi, sudah tidak cocok. Dan kami terpaksa melakukan itu demi kebaikan semua."


"Kebaikan siapa?" cecar El tak puas.


"Semuanya. Mama, papa, kamu, dan Nina."


"Apa yang baik dari sebuah perpisahan? Kami harus memilih siapa?"


"Untuk menghindari pertikaian yang lebih besar. Terserah padamu, El. Mama tidak akan memaksa untuk tinggal bersama mama. Kamu sudah dewasa untuk menentukan pilihan."


"Tidak!! El nggak suka hidup seperti ini! El mau hidup bersama mama dan papa!" teriak El. Untung saja ini kamar VVIP jika tidak, jangan salahkan petugas medis jika membawanya ke ruang isolasi.


"El! Kendalikan dirimu! Kamu harus berjiwa besar menerima keputusan ini. Apa kamu ingin melihat kami terus-terusan bertengkar?"


"Tak masalah! Itu lebih baik dari pada berpisah!"


"El ...," ujar Nisa seraya ingin meraih pundak anaknya. Namun, dengan cepat El menepis tangan itu.


"Tinggalkan El sendiri, Ma," pinta El dengan tatapan mata kosong.


Terenyuh hati Nisa melihat bola mata itu, terlebih melihat rahang El ikut mengejang.


"El__"


"Ma, kumohon. El ingin sendiri."

__ADS_1


Dengan perasaan berat dan langkah pelan, Nisa berlalu dari hadapan putranya.


Bersambung


__ADS_2