JODOHKU TUAN DUDA

JODOHKU TUAN DUDA
Berkelahi


__ADS_3

Karena tak mendapat tanggapan dari Angga, El merasa kesal. Diam-diam remaja tanggung itu menyelinap keluar rumah, menemui teman-teman satu gank-nya. El terlalu pandai jika harus tertangkap. Hanya pernah dua kali ia kepergok mang Adul supir. Namun, pria paruh baya itu menutup mulutnya rapat-rapat setelah El memasukkan selembar uang merah di saku bajunya.


"Jangan pulang larut malam, El. Kalau bisa saat makan malam kamu muncul sebentar. Biar Tuan dan Nyonya nggak ribut nyariin kamu," pinta mang Adult.


"Beres. Nggak usah khawatir," jawab El acuh. Kemudian berlari cepat keluar, masuk ke dalam mobil temannya yang sudah menunggu di luar pagar.


Mang Adul hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan El serta dandanan teman anak majikannya. Namun, apa urusannya dengan dirinya? Yang penting pulang nanti, ia bisa beli beras lima kilo juga minyak goreng untuk keluarganya. Terserah El mau melakukan apa, toh ia juga bukan baby sister. Hanya sebagai supir di keluarga itu.


***


"Bertemu dengan El?" tanya Nisa heran bercampur gugup. Ada hal apa Dewa mengajukan permintaan itu? Apakah karena ia mengacuhkannya sehingga nekat meminta ini?


"Ya, nggak masalah, dia kan anak saya?" tampik Dewa tersenyum penuh arti.


"Kenapa tiba-tiba? Ini bukan masalah sepele. Memberitahu El bahwa Angga bukanlah papanya, tak bisa selesai dalam satu hari."


"Saya bisa mendekati anak sendiri, asal tidak kamu halangi."


Nisa memandang kesal ke arah Dewa. "Jangan mengada-ngada, sejak kapan aku menghalangimu bertemu dengannya, bukankah kamu menghilang sendiri? Baiklah jika itu maumu, mulai sekarang pintu rumahku terbuka lebar untukmu. Kamu bisa masuk kapan saja, asal mas Angga mengijinkannya. Nanti aku beritahu mas Angga, aku sudah memberi ijin. Bagaimana?"


Dewa tersenyum sinis. "Segitunya ingin mengusir saya dari hadapanmu. Apa Axel sudah bertahta di hatimu?"


"Dia tak ada hubungannya dengan masalah ini! Dengar ya, Wa, apa yang kamu harapkan dengan mendekatiku lagi? Semuanya sudah berakhir saat aku menikah dengan Angga dan kamu menghilang bertahun-tahun."


"Saya hanya memberi kesempatan pada kalian, tapi nyatanya ... sekarang kalian ingin bercerai. Nah, sudah waktunya saya mengambil milikku kembali," kilahnya sembari meraih tangan Nisa pelan.


Dengan cepat Nisa menarik tangannya dari meja kerjanya. "Jangan macam-macam, ini kantorku bukan hotelmu!"

__ADS_1


Dewa hanya terkekeh. "Jangan sok suci, kamu kira saya tak tahu apa yang dilakukan Axel padamu?"


Nisa memutar bola matanya. "Kamu membuntutiku? Baik, sekarang katakan dengan jelas apa sudah aku lakukan dengannya? Aku masih punya harga diri untuk tidak melakukan perbuatan memalukan!" belalak Nisa. Ingin rasanya ia menelan hidup-hidup pria di hadapannya.


"Membuntutimu? Hehehe, saya bukan pengangguran punya waktu luang melakukan hal tersebut. Axel sendirlah yang menceritakan hubungan kalian."


Mendadak Nisa tertegun, apalagi yang pria itu rencanakan?


"Sudahlah, aku hanya ingin kamu tahu, bahwa tak mungkin untuk menjalin lagi hubungan antara kita. Aku masih belum bercerai dari mas Angga."


"Tapi akan segera berpisah."


"Dengar ya, Wa. Apapun yang terjadi antara aku dan Angga, bukan uruaanmu. Yang ingin kamu perlihatkan padaku itu bukan cinta, hanya kepingan masa lalu. Jangan terjebak di masa lalumu. Carilah orang yang benar-benar kamu cintai, karena aku bukan orang itu," ujar Nisa sedatar mungkin.


Membuat Dewa membisu sesaat. Ia mencoba menelisik di kedua netra Nisa, mencari sebongkah dusta saat perempuan itu mengatakan hal tersebut. Namun, mata itu jernih, tak menyembunyikan dusta secuilpun. Adat Nisa benar-benar telah berubah beberapa tahun ini.


***


"Berkelahi?" Tak sadar Nisa memandang ke arah Dewa dan pria itu sadar bahwa ini sesuatu yang berhubungan dengan dirinya. Maka dari itu Dewa masuk kembali ke ruangan Nisa. Tak dipedulikannya tatapan aneh sekretaris Nisa saat akan menutup pintu ruang tersebut.


"Ada apa?" tanya Dewa begitu Nisa menutup telepon.


"El berkelahi di sekolah," kata Nisa. Cemas dan gusar setelah mendapat telepon dari guru El.


"Sabar, anak laki-laki kodratnya memang berkelahi. Ayo kita kesana sekarang. Saya ingin lihat sampai dimana kerusakan yang dia perbuat."


Nisa mendelik kesal ke arah Dewa, sementara pria itu tak menggubrisnya. Dewa hanya meraih tas dan kunci mobil Nisa, menyematkan sling bag tersebut di pundak perempuan yang masih menatapnya dengan jengah. Kemudian menarik tangan Nisa untuk segera berlalu dari tempatnya berdiri.

__ADS_1


Namun, Nisa lagi-lagi menepis tangan Dewa dan berjalan cepat mendahului pria itu. Ingin rasanya terbang ke sekolah El.


***


Sesampai di sekolah El, ternyata Angga sudah datang terlebih dahulu. Mata pria itu menyipit manakala melihat Dewa berjalan beriringan dengan sang istri.


Nisa yang melihat perubahan wajah suaminya, tahu jika Angga tak suka melihatnya berjalan dengan ayah biologis El. Ingin menjelaskan mengapa ia bisa bersama Dewa, namun ini bukan waktu yang tepat. Maka diabaikan saja tatapan Angga tersebut. Ia lantas berdiri di samping suaminya, menghadap ke arah guru BP.


Tak lama kemudian El masuk bersama beberapa siswa lain yang ikut berkelahi. Menurut sang guru mereka terlibat tawuran dengan sekolah yang berada di ujung jalan. Memang bukan perkara baru siswa mereka terlibat tawuran, tetapi kali ini terbilang cukup fatal. Beberapa mobil milik masyarakat sekitar yang kebetulan berada di lokasi kejadian, ikut menjadi sasaran para siswa tersebut. Mengakibatkan pemiliknya tak terima dan melaporkan pada pihak kepolisian.


"Sementara ini kasusnya masih diselidiki pihak berwajib. Adapun nantinya jika pemilik mobil tersebut tidak terima dan menuntut ganti rugi pada kedua sekolah, kami mohon kesedian orang tua siswa yang terlibat tawuran mau ikut berpartisipasi."


"Lho, kok, begitu? Inikan terjadi sewaktu masih di jam pelajaran. Kejadiannya pun juga di sekolah, seharusnya ini menjadi tanggung jawab sekolah, bukan tanggung jawab kami," sergah salah seorang orang tua murid.


"Tapi pak, kami berlakukan demikian sebagai bentuk hukuman bagi anak-anak ini. Agar mereka tahu perbuatan mereka tidak hanya merugikan diri sendiri, tetapi juga mencoreng nama sekolah dan menambah beban pengeluaran orang tua mereka. Jadi di kemudian hari mereka akan berpikir sepuluh kali, jika ingin tawuran lagi," jelas guru BP tersebut yang didampingi kepala sekolah.


Nisa tak peduli dengan perdebatan itu, sedari tadi ia hanya memperhatikan El. Terus-terusan menatap dengan tajam ke arah El. Anak itu penampilannya luar biasa sekali. Rambut kusut masai, tampak lebam di beberapa bagian wajahnya. Belum lagi pakaiannya yang berantakan! Baju yang El kenakan bukan hanya kotor, dua kancing bajunya hilang entah kemana, lengan seragamnya pun bahkan robek lebar. Mujur hanya lengan bajunya, bagaimana pula jika celana sekolahnya yang robek seperti itu.


"Sabarlah, Nis. Sekarang saya benar-benar yakin, jika dia memang anak saya," bisik Dewa di telinga Nisa.


Andai saja ini bukan sekolah, sudah melayang tangan Nisa ke arah Dewa. Bisa-bisanya pria itu masih bercanda di saat seperti ini!


El yang melihat tatapan tidak suka Nisa terhadap Dewa, diam-diam tersenyum dalam hati. "Ada mainan baru, nih, buat mama."


Sepertinya El sudah memikirkan sesuatu untuk membuat mamanya marah lagi.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2