JODOHKU TUAN DUDA

JODOHKU TUAN DUDA
Cemburu


__ADS_3

Aku tak kuasa menahan sinar mata teduh dan penuh hasrat. Apakah ini sisi romantis seorang Dewa.


Sementara diri ini masih terdiam, terpaku saat satu kecupan hangat mendarat di bibir.


Walaupun pada akhirnya mimpi ciuman pertama dengan lelaki itu, terwujud. Namun, tetap saja nervous. Aku tak tahu tentang rasa yang berkecamuk di diri. Apakah bersedia, takut atau entah ....


Satu kecupan lembut kembali dia layangkan, kembali debaran halus itu menguasaiku. Aku menggigit bibir ini, apakah aku salah?


Dewa rebah kembali di sampingku, "maaf untuk semua ini," katanya.


"Nggak apa-apa, Kak."


Dia menoleh ke arahku, kualihkan pandangan ke langit-langit kamar. Dia kembali meraihku dalam dekapan. Menghirup aroma tubuhnya dan mendengar kembali suara degup jantung yang bertalu lebih cepat serta hembusan nafasnya terasa hangat di atas kepalaku.


Semua terjadi begitu cepat dan pantas, entah mantra apa yang dia gunakan. Dewa menjadi lembut dan romantis. Membawaku dalam perjalanan pertama sebagai seorang istri seutuhnya.


\=\=\=


Pukul tujuh pagi, kami sudah berhadapan di meja makan dengan roti bakar di atas piring. Aku diam menikmatinya. Canggung, dari sahabat menjadi cinta kemudian menikah ... ish.


"Hai Sayang." Tiba-tiba suara seorang wanita muncul dari arah pintu.


Wajahnya seperti tak asing bagiku, Wanda! Ya, dialah orang yang ada dalam foto di ruas buku Dewa.


Cantik, identik dengan wanita metropolitan.


Wanita itu mendekati Dewa dan mengecup pipi lelaki yang baru semalam memadu kasih bersamaku.


Merasa risih dan sedikit cemburu melihat mereka, tapi apa bisaku? Mereka saling mencintai dan memiliki, seperti halnya pin pintu apartemen.


"Maaf permisi dulu, mau keluar sebentar." Aku pun undur diri keluar dari ruangan yang terasa panas meskipun AC selalu on.


Berjalan menelusuri koridor menuju lift. Pikiran aneh terus bergelayut di otak mengenai sikap Dewa yang berubah dingin. Sejak terbangun hingga saat Wanda mengecup pipinya di depanku, dia tak menunjukkan reaksi sungkan saat melihatku.


Fatal, apakah semalam melayani hasrat suami adalah sebuah kesalahan? Dimana salahku? Hanya sebuah ucapan terima kasih dan maaf yang dilontarkan, kala melihat sprei putihnya telah ternoda.


Geram, gelisah dan cemburu semua berkecamuk di dada ini. Hingga tak sadar aku menambrak seseorang saat baru saja keluar dari lift.


"Maaf Mbak." Terdengar suara baritonnya sambil mengulurkan tangan, hendak menolong diri ini yang terjatuh. Sebenarnya siapa yang menabrak siapa?

__ADS_1


"Nggak apa-apa, Bang," kataku seraya melihatnya sekilas.


"Maaf, permisi," timpalku lagi. Berlalu dari hadapan pria itu.


Kuhirup napas dalam-dalam, hendak kemana aku sebenarnya? Sementara dompet tertinggal di dalam sana.


Ting!! Sebuah notifikasi pesan WA, dari Dewa.


[Jangan kelamaan dan kejauhan. Dompetnya ketinggalan. Pergi dulu ya Sayang πŸ˜‰dan ini nomer pin pintu 23*** ]


Hanya kubaca tanpa niat untuk membalasnya. Sayang?? Ingin sekali aku menghipnotis lelaki itu, lalu mengorek semua isi di hatinya. Seperti tayangan di televisi.


\=\=\=


Seperti biasa aku menghabiskan waktu di balkon, kali ini ditemani sebuah novel dan secangkir teh aroma melati. Sungguh, membaca novel saat ini belum bisa mengusir pertanyaan aneh sedari pagi tadi.


Melihat Wanda saat sarapan, membuatku tersadar kembali siapa diri ini. Setelah dibuat terbang melayang oleh lelaki yang sama-sama kami cintai.


Terdengar suara derap kaki, khas Dewa. Buru-buru kubuka lembaran novel yang sedari tadi kuacuhkan. Pura-pura serius, hanyut membaca buku tebal itu.


"Nis, terima kasih sudah bantu membereskan ruangan ini."


"Iya Kak," kataku tanpa menoleh ke arahnya.


Aku menggangguk tanpa mengalihkan pandangan dari buku di tangan.


"Saya mandi dulu, kita sholat magrib bersama."


Kemudian dia berlalu dari pintu balkon, menuju kamar mandi. Kubereskan gelas dan buku dari atas meja.


\=\=


Kami tiba di apartemen pukul sembilan malam, betah dalam diam. Dalam kamar ini dia sibuk memainkan ponselnya, mengacuhkanku yang ingin sekali bergelayut manja dalam pelukan suami. Ingin merasakan jantung itu kembali berdetak kencang, ups.


Malam ini dia begitu keren, dengan kaos putih yang sedikit ketat. Menambah nilai dirinya yang manly.


Mengambil posisi miring kembali, bermaksud hendak tidur.


"Barusan ibu bertanya, kapan kembali?" katanya memecah kesunyian.

__ADS_1


"Lalu, jawab apa?"


"Dalam satu atau dua hari ke depan."


"Besok saja, Kak. Kasian ibu mungkin kesepian."


"Mungkin saja, tapi ...." Dia meletakkan ponsel di meja lampu tidur, meluruskan badannya.


"Tapi apa?"


"Sepertinya masih betah di sini bersama Nisa." Mencondongkan badan dan ....


\=\=\=


Ibu menyambut kami dengan tersenyum malam itu, "makan dulu kalian, bibik sudah memasak makanan kesukaan kalian," katanya.


Aku mengiyakan perintah ibu. Setelah meletakkan tas kecil dalam kamar, melangkah menuju meja makan. Di sana sudah ada ibu dengan wajah sumringah meskipun sendirian.


Pandanganku beredar mencari Dewa. Namun, tak jua kutemukan dirinya.


"Dewa masih di luar, menelepon. Mungkin masalah pekerjaan."


Aku tersenyum kecut, melihat ibu mesem.


"Bagaimana bulan madunya? Berjalan lancar? Atau Dewa masih gila akan pekerjaan?"


"Baik Bu, semuanya berjalan normal," kataku sambil tertunduk malu.


Tak lama lelaki itu datang dengan wajah datar. "Kenapa wajahmu kusut begitu?"


"Ehm, nggak kenapa-napa Bu."


"Dulu sebelum kalian menikah, waktu masih bujang. Kamu sering menunjukkan wajah itu, besoknya ibu tahu kalau kamu baru saja bertengkar dengan teman wanita. Apa dia Nisa, waktu itu?"


Uhuk, uhuk Dewa tersedak mendengar pertanyaan ibu. Sedangkan aku, panas. Hati ini kembali memanas, mungkinkah yang barusan menelpon, Wanda?


Bersambung


\=\=\=

__ADS_1


Yupp ... sampai di sini dulu Readers.


Please tinggalkan jejak like, komen dan apa saja, untuk menyemangati author πŸ˜πŸŒ·πŸ˜πŸ™πŸ™πŸ™


__ADS_2