
Kini, kamar Dewa telah berubah. Dekorasi tirai panjang menjuntai menghiasi tempat tidur dengan taburan kelopak mawar berbentuk hati di atas springbed bersprei putih.
Lampu temaram berwarna merah menambah suasana romantis kamar itu, hilang sudah suasana dan aroma maskulin khas lelaki itu.
Sendiri, ya saat ini aku masih sendiri dalam kamar ini, lelaki itu entah kemana. Jika saja ibu tidak mendorong untuk masuk, mungkin aku tidak pernah memasuki kamar yang sudah berhias. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam, namun bayangnya pun belum terlihat.
Mungkinkah dia tengah bersama Wanda, mencurahkan kegelisahan seperti apa yang kurasakan kini. Baguslah jika malam ini terlewati tanpa hadirnya. Biarkan saja dia menikmati apa yang dia inginkan, dengan begitu aku bisa leluasa menggunakan kamar ini tanpa ada rasa was-was.
"Biarkan saja ibu melakukan apa yang diinginkan, jangan menambah kesedihannya lagi."
Itu yang dia katakan saat mendesaknya untuk mencegah ibu melakukan hal konyol menurutku.
Dan perkataan itu, sukses membuatku terdiam, kali ini dia benar.
"Kamu cukup mencemaskan apa yang hendak dikatakan pada orang tuamu. Mungkin, mulai besok Nisa akan tinggal di sini, beberapa bulan ke depan?" timpalnya lagi.
"Beberapa bulan? Kak, bukankah waktu itu pembicaraannya bukan seperti ini?" cecarku.
"Katanya kita akan berpisah setelah ayah pergi, bukankah Wanda juga sangat menantikanmu kembali ke sisinya?" Kucoba memberi argumen kepada Dewa.
"Belum saatnya Nis, apa hak saya menambah kesedihan ibu dengan perpisahan kita?"
"Tapi Kak, tolong pertimbangkan perasaan kekasih dan hati Kakak sendiri."
"Kami masih bisa menunggu, saya akan bicara dengannya."
__ADS_1
Deg!!
Sebegitu besarnyakah cinta yang dia rasakan untuk Wanda. Aku seperti melihat diriku dalam Dewa. Ya, kami sama-sama sedang memperjuangkan cinta untuk orang teristimewah di hati.
Aku tak dapat berkata-kata lagi, toh percuma saja menasehati orang yang sedang jatuh cinta.
Kutinggalkan rumah itu, mama aku datang menemuimu. Maafkan kesalahan terbesarku atas permainan gila yang menyenangkan.
Kepada mama dan papa aku katakan bahwa perusahaan distributor itu menerimaku sebagai karyawannya tapi harus mengikuti training selama tiga bulan di kota Surabaya.
Hari itu juga aku berpamitan kepada mereka dengan membawa satu travel bag besar. Sepanjang perjalanan dengan taksi online, tak henti air mata ini mengalir. Menangisi kebodohan mendustai orang tua, namun tak kuasa menolak pernikahan setingan ini.
Kutarik napas dalam-dalam, mengingat kejadian yang baru saja terjadi.
Jarum jam menunjuk tepat pada angka dua belas, fix dia tak datang. Meskipun hati bersorak lepas karena tak ada malam pengantin seperti yang ibu mertua harap, tapi sudut hati merintih saat memikirkan Dewa tengah bersama Wanda.
Gawai ... benda pipih pelipur lara malam ini, melihat obrolan di grub WA, membuat hati sedikit terhibur membacanya.
Ceklek, suara anak kunci yang berusaha membuka pintu kamar, siapa? Bukankah hanya ada dua kunci kamar ini, satu tergantung di gagang pintu dan lainnya ada pada lelaki pemilik kamar ini.
Shitt, terlambat! Pintu sudah terbuka sedikit, kala ingin berganti pakaian. Gegas meletakkan gawai di bawah bantal, agar Dewa menyangka aku sudah terlelap.
Lelaki dengan tinggi seratus tujuh puluh senti itu, melihatku. Tak menyalakan lampu kamar, mungkin takut mengganggu. Hanya menyalakan lampu kamar mandi agar ada penerangan sedikit.
Dia membuka kemeja biru yang dikenakan, jantung berdegup kencang melihatnya shirtless dalam keremangan. Dia berjalan menuju kamar mandi, terdengar bunyi air dari shower. Aku menarik napas lega, dasar otak kotor, sudah mikir enggak-enggak saja.
__ADS_1
Kini dia sudah menyelesaikan aktivitas mandi tengah malam, "Nis, kamu ngomong apa sama mamamu?" katanya tiba-tiba.
Mata membuka, meski badan masih menyamping.
"Ayolah Nis, saya tau Kamu belum tidur."
Aku lantas menoleh dan berbalik ke posisi semula.
"Sudah malam Kak, besok saja aku ceritakan semuanya."
"Apa mereka marah, seperti abangmu waktu itu?"
Menghela napas pelan-pelan, sia-sia saja berbicara pada orang seperti dia. Kutarik selimut hingga menutupi pundak, duduk di sampingnya yang sedang bersandar.
Pandangannya lurus ke depan, saat mendengar cerita di rumah mama.
"Tidurlah, kita begini saja sementara agar kau tidak dirugikan saat ingin pergi dari sini."
Ingin pergi? Aku? Aku melengkungkan senyum, sungguh naif sekali dirinya.
Bersambung
🌷🌷🌷🌷🌷
Bagaimana kelanjutan kisah Nisa dan Dewa?
__ADS_1
Jangan bosan menunggu dan memberi dukungannya, Readers sayang ....