
"Aku sudah mempertimbangkannya mas. Aku menerima keputusanmu untuk bercerai," kata Nisa pelan tapi tegas.
Angga terhenyak, ponsel yang sedari tadi ia mainkan, jatuh terkulai bersama jemari-jemarinya. Mengapa ada rasa tertusuk di hatinya? Bukankah ini yang ia inginkan sejak lama? Harusnya tak ada kesakitan seperti ini, tapi mengapa ia harus merasakan sakit?
"Apa yang merubah pendirianmu? Maaf jika saya bertanya, apa sudah ada pria yang akan menggantikan posisi saya? Jangan jawab, kalau kamu tak ingin menjawab."
"Kenyataan. Kenyataan yang selama beberapa hari ini aku temui dengan anak-anak. Mas benar, aku kurang memperhatikan anak-anak. Terlalu sibuk mengejar laba perusahaan."
"Tapi kamu sudah berniat berubah, Dek."
"Berubah bukan berarti melepaskan semua karirku. Aku baru sadar, jika aku tak mengalihkan emosiku pada pekerjaan, mungkin bukan anak-anak saja yang akan menjadi korban. RSJ juga harus bersiap menyisakan satu kamar untukku."
"Jangan terlalu pesimis seperti itu."
"Bukan pesimis, Mas. Hanya berpikir lebih dalam lagi."
"Jadi maumu bagaimana? Tetap bekerja dari pagi sampai malam! Membiarkan anak-anak dalam pengawasan saya atau pengasuhnya!"
"Aku akan mengurangi kegiatanku, tapi untuk menghilangkan sama sekali, aku tidak bisa berjanji. Aku tak ingin hanya duduk, menunggu seharian anak-anak pulang sekolah tanpa melakukan kegiatan apapun. Aku juga manusia mas, butuh eksistensi diri. Bukan hanya sebagai penjaga rumah."
"Jadi kamu ingin korbankan anak-anak untuk ambisimu?"
"Tidak seperti itu, ibu mana yang tidak ingin berkorban untuk anak-anaknya! Mas pernah lihat kegiatan seorang relawan? Sebagian besar para relawan itu sudah berkeluarga, memiliki anak sama seperti kita. Namun, jika ada bencana, merekalah yang tercepat ada di lokasi. Meninggalkan keluarga tanpa tahu kapan mereka kembali," jelas Nisa. Ia kemudian berdiri mendekati jendela kamar perawatan.
"Menolakkah anak-anak mereka? Adakah larangan dari pasangan-pasangan mereka? Nggak ada mas, walaupun hati mereka cemas, takut yang pergi akan menjadi korban. Namun, mereka tetap ikhlas merelakan para relawan itu pergi. Mengapa keluarga mereka bisa demikian tabah? Karena mereka sadar, para relawan itu bukan hanya terlahir sebagai ayah, ibu, atau anak mereka. Relawan itu bagian dari masyarakat, yang mempunyai jiwa kemanusian menolong sesamanya. Aku ingin 'keluargaku' memiliki pengertian seperti itu. Percuma hidup bersama jika minim toleransi, sampai kapan pun tak ada ketenangan dalam keluarga ini."
"Bagaimana dengan anak-anak jika belum memiliki pemahaman itu?"
"Aku serahkan pada mereka, jika ingin tinggal dengan mas, juga nggak masalah. Tapi jika ingin bersamaku, aku akan berusaha memberi mereka pengertian. Mas boleh kapan saja bertemu dengan mereka, tak ada aturan apapun yang aku berikan. Karena sebelum mereka menikah, mereka masih menjadi tanggung jawab kita bersama."
Angga menarik napas dalam-dalam. Tak ada lagi kerutan di dahinya. Mencoba mencerna semua yang dikatakan Nisa. Tak dapat ia bayangkan bagaimana jika sang istri terjun sebagai relawan. Betapa seringnya ia dan anak-anak merasa cemas setiap kepergian Nisa ke daerah bencana. Bukankah sekarang keadaan jauh lebih baik, istrinya hanya pergi ke kantor? Masih satu kota dengan dirinya. Hanya terpisah beberapa kilometer saja. Namun, mengapa ia tak pernah bisa melihat keberuntungan itu?
"Mungkin kamu benar, Dek. Sulit rasanya hidup seatap jika saya dan anak-anak menuntutmu seharian bersama kami. Mungkin kamu akan mengalah, namun ada sisi lain dalam dirimu yang ingin memberontak. Mau tidak mau, akan ada lagi korban karena kita memaksakan untuk bersama."
__ADS_1
Nisa masih terdiam, memberikan kesempatan buat Angga meneruskan argumennya.
"Kamu masih berpotensi untuk maju, Dek. Saya rela menyerahkan kursi CEO padamu. Akan saya hubungi Pengacara secepatnya."
"Aku tidak mengincar jabatan, Mas. Lagi pula jika mas memberiku kursi CEO, aku akan tetap menunjuk beberapa staf untuk menghandle sebagian tugas."
"Terserah kamu saja, Dek. Jika mama dan papa masih ada, mereka juga takkan rela jika perusahaan jatuh ke tangan orang lain."
"Oiya, bagaimana dengan pertanyaanku yang tadi. Apa kamu sudah mendapat penggantiku?" tanya Angga lagi.
Kali ini Nisa lah yang menarik napas perlahan. Pertanyaan yang ingin ia hindari sejak tadi, tapi sampai kapan dapat menghindar. Angga berhak mendapatkan jawaban.
"Belum ada. Tapi jika Tuhan masih memberi aku jodoh, aku akan lebih selektif lagi. Semoga tak ada lagi kegagalan."
"Carilah yang memiliki rasa pengertian yang besar dan kesetian pada ikatan pernikahan. Semua itu sudah tak ada lagi pada saya," kata Angga sembari menunduk.
Nisa hanya terdiam, tak menanggapi perkataan Angga. Hening.
"Selama ini kamu tinggal dimana, Dek?" tanya Angga memecah keheningan.
Angga hanya menggelengkan kepala mendengar jawaban sang istri.
***
Kabar yang diberikan Dokter tentang kondisi Nina, membuat Nisa dan Angga bahagia. Menurut Dokter, anak mereka sudah diperbolehkan pulang besok pagi. Tak ada lagi yang menggembirakan hati orang tua, selain melihat sang anak tumbuh dengan sehat.
"Pulanglah lebih cepat, Mas. Biar aku yang menunggu di sini," tawar Nisa.
"Kamu nggak mau pulang, bukankah sudah tiga hari kamu bermalam di sini."
Bukan tak mau pulang, hanya saja untuk sementara Nisa tak ingin menambah riak masalah lagi dengan El, sementara Nina masih membutuhkan perhatian ekstra. Biarlah El menikmati perpanjangan waktu selama Nina belum pulih, setelah itu ia akan menghadapi putra sulungnya tersebut. Dan akhirnya Angga lah yang pulang menemani El.
***
__ADS_1
Keesokan harinya. Dengan wajah sumringah Nisa mengemasi barang-barang di kamar Nina, sebentar lagi supir akan datang menjemput mereka. Sebenarnya bisa saja ia meluncur sendiri, tetapi Angga melarang, mengingat banyaknya barang yang harus diangkut.
"Ma, kok, lama sih. Nina sudah bosan di sini terus," rajuk Nina manja.
"Sabar sayang, mungkin jalanan lagi macet. Kalau pagi, kan, orang pada sibuk semua. Ada yang ke sekolah, kantor, dan pasar. Pokoknya semua serba sibuk dan macet," sahut Nisa sembari mencium kening Nina.
Tak lama kemudian terdengar ketukan dari luar pintu kamar.
"Nah, supirnya sudah datang. Yuk, siap-siap kita pulang ke rumah," ajak Nisa dengan gembira. Menurunkan Nina dari pangkuannya.
"Mama buka pintu dulu." Gegas Nisa membuka pintu, benar saja mang Adul sedang berdiri di depan pintu.
"Ini, Mang, barangnya. Tolong diangkut ke mobil. Biar Nina aku gendong."
"Maaf, Bu, saya hanya mau ambil barang-barang ini saja. Ibu diminta tunggu Tuan sebentar."
"Kenapa mesti nunggu Tuan? Barang-barang ini nggak sampai satu mobil, kok, Nina sudah pengen banget pulang."
"Maaf bu, saya hanya menjalankan perintah Tuan."
"Memangnya ada apa sih, Mang? Tuan sampai berpesan seperti itu?"
"Anu, Bu. Kakak Nina ...."
"Kakak Nina? El?"
"Iya, Bu. Duh, kok, jadi belepotan gini ngomongnya? Eh, maaf bu, barusan Tuan mengantar El ke UGD."
"Astagfirullah, UGD? Mang Adul nggak bercanda, kan?"
"Nggak, Bu, nggak berani saya. Mari saya antar ketemu Tuan."
"Nggak usah, Mang. Bawa pulang saja barang-barangnya. Biar aku dan Nina yang nyari Tuan."
__ADS_1
"Baik, Bu," jawab mang Adul singkat.
Bersambung