JODOHKU TUAN DUDA

JODOHKU TUAN DUDA
Pengakuan Angga


__ADS_3

"Kita akan kembali lagi di tempat ini," bisik Dewa di telinganya. Tangan Dewa di bahu Nisa seperti menjelaskan perasaan pria itu.


Dewa menatap mantan istrinya dari samping, sementara Nisa masih melihat ke arah depan. Entah apa yang menarik perhatiannya. Padahal pementasan tari Kecak sudah selesai, bahkan sebagian penonton sudah meninggalkan tempat duduk dan memilih bergabung dengan rombongan tour mereka.


Dewa sedikit heran melihat mantan istrinya. Jika saja Nisa sedang menikmati matahari yang hampir tergelincir di peraduannya, mengapa tak ada ekspresi apapun di mata itu? Tak berkedip dan raut wajahnya datar.


Nisa melepaskan pengangan tangan Dewa di bahunya. Bukannya menghambur dalam dada pria itu, seperti harapan Dewa. Ia berdiri dan menjauh dari tempat mereka duduk.


Gerakan Nisa sempat memancing emosi Dewa. Namun, kesadaran pria itu kembali di otaknya, manakala Nisa berucap, "aku harus pulang, Wa, hari ini juga."


Wajah Nisa masih sedatar tadi, tapi ucapannya tegas, serius, dan penuh penekanan.


Membuat Dewa terhipnotis tiba-tiba dan tanpa banyak bicara, segera membawa ibu dari anaknya kembali ke hotel tempatnya menginap.


***


Setelah menjemput Nina di rumah oma-nya, Nisa segera merapikan pakaian yang ia bawa ke Bali. Walaupun jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam, tapi gerakan tangannya tak menunjukkan tanda-tanda ngantuk ataupun lelah.


Berbeda dengan gadis kecilnya yang sudah terlelap bersama pengasuhnya. Sementara El, masih sibuk di depan komputernya. Menurut pak Karta, El tidak jadi mengundang temannya menginap di rumah. Rencananya gagal karena Angga tidak bergerak menyusul Nisa di Bali.


Sebuah kotak perhiasan mencuat, ketika Nisa membuka laci meja rias. Diraihnya kotak berwarna merah tersebut, kemudian membuka perlahan-lahan. Liontin cantik bertahtakan berlian tersemat indah di sana.


Jika saja keharmonisan masih ada dalam ikatan pernikahannya dengan Angga, mungkin Nisa akan menangis bahagia mendapat hadiah semewah itu. Namun kini, benda itu tak lagi menggugah hati Nisa sedikit pun.


Kalung itu bisa setiap saat ia dapatkan di toko perhiasan, tapi kemana Nisa harus mencari cinta dan gairah Angga? Tak ada satu toko pun yang menjual keduanya.


Kembali Nisa menutup kotak perhiasan tersebut. Wanita itu menaruh kembali kotak tersebut ke dalam laci, lalu mengunci seperti tadi.


Entah sudah berapa lama Nisa terlelap, saat ia bangun Angga belum juga pulang atau sudah pulang, tapi tidak ingin tidur di kamar yang sama. Untuk itu Nisa melangkah keluar mencari suaminya.


Tak biasanya Angga pulang selarut ini dan jika ia tak pulang, Angga pasti akan mengabarinya terlebih dahulu.


Nisa menghela napas pelan saat mengetahui suaminya terlelap di atas meja kerja dengan laptop yang masih menyala. Pelan ia mendekati Angga. Sengaja berjinjit karena tak ingin membangunkan suaminya. Melihat wajah Angga yang tertidur, membuat hati Nisa tersentuh.


Paras yang polos dan tampak kelelahan. Lelah karena harus bekerja keras menghidupi keluarga ini


Tanpa sadar tangan Nisa mengelus wajah suaminya dengan lembut. Ah ... cinta untuk Angga masih bersemayam di jiwanya, meskipun pria itu sudah mengecewakannya berkali-kali. Apalah arti kekecewaan Nisa, bila dibandingkan dengan lelah Angga yang bertahun-tahun menghidupinya.


Tiba-tiba Nisa tersentak, tubuhnya terdorong ke belakang dengan keras. Hampir saja terjatuh, jika tangannya tak gesit menahan tubuhnya di dinding.


Ia menatap nanar Angga, ada apa? Ia cuma hanya ingin memberikan kecupan di kening Angga sebagai ungkapan rasa terima kasihnya.


"Astagfirullah, maaf, maaf, Dek!" Tergopoh-gopoh Angga mendekati Nisa. Ingin membantu istrinya.

__ADS_1


"Mas, kenapa, sih? Apa aku sebegitu menakutkannya, sampai Mas harus mendorongku?"


"Ya Tuhan, nggak gitu, kok, Dek. Tadi saya mimpi dikejar-kejar orang," jelas Angga merasa tak enak.


Melihat paras Angga yang salah tingkah membuat Nisa merasa iba. Entah kemana perginya kemarahan tadi.


"Istirahat di kamar saja, Mas. Biar aku yang beresin di sini," tawar Nisa.


"Nggak usah, Dek," ujar Angga, buru-buru menutup layar laptop.


"Masih ada yang harus saya selesaikan. Kamu masuk dulu."


Nisa hanya bisa menghela napas, sebelum berlalu meninggalkan Angga yang bersikap aneh.


***


"Bu, di luar ada wartawan, nyariin Ibu," kata bik Narti pada Nisa.


Nisa mengernyitkan keningnya. "Wartawan? cari Tuan barangkali, Bik."


"Nggak, Bu, dia cari Ibu."


"Aku? Berapa orang?"


"Iya, Bu. Cuma satu orang, kok, Bu."


"Baik, Bu," sahut bik Narti. Gegas kaki tuanya berjalan ke arah depan.


Sementara itu, Nisa segera menghubungi Angga.


"Apa?! Wartawan? Mau ngapain?!"


"Nggak, tahu Mas. Tuh, bik Narti lagi nyuruh masuk."


"Masuk?! Kamu ini gimana, sih, Dek. Gampang banget nyuruh orang asing masuk! Bagaimana kalau dia wartawan gadungan? Usir cepat!"


"Lho, kok, nyolot begitu, sih, Mas? Mas, tenang saja insya Allah semua aman. Biar aku yang tanggung jawab jika terjadi sesuatu. Assalamu alaikum," tampik Nisa. Menutup telepon.


"Bu, wartawannya sudah menunggu di ruang tamu." Bik Narti berdiri di ambang pintu memberitahu Nisa.


"Ok, sebentar lagi aku turun," ujar Nisa seraya memperbaiki riasannya. Ia semakin bersemangat menemui wartawan tersebut. Ingin tahu apa yang membuat Angga begitu gusar mendengar kediamannya kedatangan wartawan.


Andaikan waktu bisa diputar kembali, Nisa lebih menuruti perkataan suaminya.

__ADS_1


***


Sementara itu, di ruangan kerja yang dingin dan sejuk, kening Angga tampak basah oleh peluh . Tanpa membuang banyak waktu, pria itu menyambar kunci mobil dan ponsel dengan cepat.


Konsentrasinya hilang, barang-barang di atas mejanya berjatuhan.


"Kurang ajar kamu, Pradipta!" pekik Angga penuh kemarahan.


Gegas ia keluar, emosinya sudah sampai di ubun-ubun.


Ini harus dihentikan! Jangan sampai wartawan itu berkata sembarangan!


***


"Jangan sentuh aku!" hardik Nisa pada Angga. Wajahnya tidak hanya memucat, tapi berubah aneh.


"Dek, dengar dulu__"


"Siapa perempuan itu, Mas? Katakan siapa dia!" rengek Nisa. Wartawan itu mencecarnya dengan pertanyaan-pertanyaan aneh.


"Dengar-dengar pak Angga, punya Affair. Bagaimana tanggapan Ibu sebagai istrinya?"


Bak petir di siang hari, pertanyaan itu sukses membuat Nisa menegang. Ia sempat mengelak, bahkan masih berusaha menyelamatkan nama baik Angga. Namun, ketika wartawan itu memperlihatkan foto suaminya sedang memasuki sebuah hotel, Nisa masih terdiam. Wajar seorang pebisnis masuk ke tempat seperti itu, bisa saja Angga memenuhi undangan meeting dari perusahaan lain.


"Bahkan saat istri dan sekretarisnya sendiri tak tahu akan jadwal meeting itu. Pak Angga bahkan tidak mengabari apapun, padahal ibu sedang di Bali?"


Kepala Nisa benar-benar pusing, sebenarnya tamu itu wartawan atau Polisi? Ia seperti diintrogasi. Andai saja ini bukan menyangkut Angga, sudah ia usir wartawan tersebut.


Dan akhirnya Nisa benar-benar bungkam, ketika sebuah foto yang diambil dari rekaman CCTV memperlihatkan seseorang sedang bergelayut mesra di pundak suaminya. Saat keluar dari hotel tengah malam.


Ia tak dapat mengenali siapa orang itu, hanya terlihat posturnya yang tinggi semampai, mengenakan jaket, topi dan kacamata hitam yang lebar.


Angga menunduk lesuh, lehernya seperti patah, hingga tak sanggup melihat wajah Nisa yang tersakiti.


"Bukan, seperti itu, Dek. Saya memang berselingkuh ...." Angga tak sanggup meneruskan kalimatnya.


"Siapa gadis itu?" cecar Nisa jengkel. Angga belum memberinya jawaban yang memuaskan.


Dan kemudian, Angga hanya menggelengkan kepala menjawab pertanyaan istrinya.


"Jadi Mas berselingkuh dengan janda?" Nisa kembali bertanya. Jika Angga tidak berselingkuh dengan gadis, sudah pasti dengan janda!


Tapi jawaban Angga benar-benar di luar nalar Nisa dan Angga seperti sedang melemparnya ke planet terjauh dari tata surya.

__ADS_1


"Pradipta bukan janda, dia duda!" jawab Angga sembari menjatuhkan punggungnya di dinding.


Bersambung


__ADS_2