JODOHKU TUAN DUDA

JODOHKU TUAN DUDA
Bekerja


__ADS_3

"Sebenarnya berat memberi ijin, tapi melihat El yang harus mendapatkan pendidikan dan kehidupan yang baik, papa merestuimu. Lagian kamu masih muda, masih bisa berumah tangga lagi," kata papa malam itu.


Aku mengutarakan keinginan untuk mengadu nasib, bekerja kembali di Jakarta. Menggunakan ijasah yang aku peroleh selama empat tahun mengenyam pendidikan di bangku perkuliahan. Mengapa kembali ke Jakarta, kota yang menorehkan banyak kenangan pahit? Tenang, Dewa pasti sudah tidak di kota itu. Sesuai rencana yang dulu dia katakan, Surabaya akan menjadi kota tujuannya.


"Cuma satu pesan mama, Nduk. Jika nanti El dapat ayah tiri, pilihlah yang baik agamanya. Insya Allah, jika dia sholeh maka dia akan bertanggung jawab sepenuhnya kepada kalian."


"Nisa belum berpikir ke situ, Ma. Masih fokus mencari pekerjaan dan mengamati tumbuh kembang, El."


"Oiya Ma, Nisa sudah minta tolong mbak Yah, tetangga belakang rumah. Siapa tahu ada orang yang mau membantu buat jaga El."


"Lho, El kamu bawa?" tanya mama terkejut.


"Nggak kok, kalau mama masih sudi menemaninya di sini. Cuma mau cari orang buat bantu mama, agar tidak terlalu capek."


"Ngomong apa sih, Kamu ini! Mama hanya tinggal berdua saja. Kami akan cepat kesepian, kalau nggak ada El. Apanya yang repot, kalau tinggal di kampung. Sudah, nggak usah aneh-aneh. Kamu fokus saja bekerja, kalau pun nanti mama kerepotan, masih ada abang dan uwakmu, kok."


"Tapi, Ma. Nanti ...."


"Sudah, nggak ada tapi-tapian," katanya seraya bangkit. Meletakkan El di kamar, karena dia tertidur saat di pangkuan mama.


Aku hanya bisa menghela nafas bahagia, karena El bagai sebuah permata yang mereka jaga dengan hati-hati.


.


.


Dan di sinilah aku sekarang. Dalam ruangan yang berukuran empat × lima. Kembali menjalani kehidupan sebagai anak kost, seperti saat menjadi guide.


Sebenarnya bang Naresh dan istrinya, teh Nindi aku memanggilnya. Sudah beberapa kali menawarkan, tinggal bersama di rumah mereka. Namun, kutolak dengan halus, dengan alasan takut merepotkan.


Dan dari beberapa surat lamaran yang kukirim, perusahaan Distribusi hasil olahan minyak inilah yang melayangkan undangan test seleksi penerimaan karyawan baru dan kalau lulus, lanjut ke proses wawancara. Setelah melalui serangkain proses seleksi yang ketat, akhirnya perusahaan itu bersedia menerimaku menjadi salah satu karyawannya.


\=\=\=


Sudah lima bulan, aku bekerja di kota metropolitan ini demi seorang El. Gaji yang aku peroleh, kubagi menjadi tiga bagian. Mengirim ke kampung untuk kebutuhan El. Meskipun mama seringkali menolaknya, tapi tetap saja rutin kuberikan.


Menabung untuk masa depan anakku dan sisanya untuk biaya hidup di Jakarta.


Sebagai seorang ibu, selalu saja merasa rindu pada El. Meskipun aku berusaha kuat untuk menepisnya. Makanya, tiap akhir pekan kusempatkan untuk pulang, kadang seminggu sekali atau dua minggu sekali. Tergantung kondisi kesehatan dompet.


El tumbuh menjadi anak yang menggemaskan dan wajahnya ... mungkin inilah cara Tuhan untuk memberitahu siapa orang tuanya. Hampir sembilan puluh persen mirip dengan Dewa. Hanya warna kulitnya saja yang mengikutiku.


"El, nggak boleh nakal ya. Kasian eyang lari-lari mengejar El, kalau makan," kataku saat video call dengannya.


"Mama, mama," sahutnya seraya jari mungil itu menunjuk ke layar. Sebelas bulan sudah bisa berjalan. Namun, untuk bicara baru bisa mengucap kata mama dan eyang.


"Mama nggak apa-apa, Nduk, sekalian olah raga kalau ngejar El," timpal mama.

__ADS_1


"Ma, mama jujur ya, kalau kerepotan. Nanti Nisa carikan orang buat jaga El."


"Sudahlah, Nduk. Nggak usah cemas. Banyak tantemu yang bantuin mama. Sudah dulu yah, mau lanjut nyuapin El."


"Iya Ma, jaga kesehatan ya. Assalamu alaikum," kataku menutup telepon.


Kuseka setitik kristal bening di sudut mata.


"Habis nelpon El ya, Nis," tanya Mona rekan kerja yang menjadi sahabatku. Padanya aku ceritakan semua kisah hidupku.


"Iya."


"Sabar ya, dua hari lagi sudah bisa peluk dia sepuasnya."


"Hu'um, kayaknya nggak bisa deh, Mon, tanggal tua."


"Oiya, benar juga."


"Kalau begitu kita nonton saja, mau nggak?"


"Sama mas Dwi? Ogah, ntar malah jadi obat nyamuk."


Dia terkekeh, "jadi mau ngapain?"


"Mau bikin kue pie saja, sudah dapat resepnya."


"Tergantung, kalau pulangnya kemalaman ya pasti ludes."


"Ishh," katanya sambil mencubit pinggangku. Kami pun tergelak bersama.


.


.


"Nis, sudah baca memo dari HRD?" tanya Mona.


"Sudah, tentang meeting review yang di gelar minggu depan."


"Iya, kayaknya yang di hotel di-cancel. Dialihkan di ruang meeting lantai tiga. Pesertanya cuma manager cabang yang di pulau Jawa saja."


"Hu'um, mungkin permasalahan area pulau Jawa lebih kompleks, jadi dipecah menjadi review per pulau," kataku.


"Iya kali, nah nanti manager devisi kita, pemasaran ini. Kudu ikut juga, entah siapa yang akan ikut mendampinginya."


"Bukannya ada Reina, sekretarisnya?" tanyaku.


"No, honey. Kebiasaan boss kita nggak gitu. Mungkin karena kita bekerja dengan target, jadi dia ingin saat meeting nanti Reina bisa menghandle tugasnya yang belum selesai. Makanya dia jarang mengajak Reina, pasti salah satu dari devisi marketing."

__ADS_1


"Ohh." Aku hanya menganggukkan kepala saja.


Kringg!! Telepon kantor depan Nisa berbunyi.


"Iya, Pak."


....


"Baik, Pak."


"Siapa Nis?"


"Boss, aku diminta ikut meeting minggu depan, huft."


"Sudah, nggak apa-apa. Biasanya hanya nyatat, apa-apa yang di meetingkan saja, kok."


"Heem ...," kataku sambil melanjutkan pekerjaan.


\=\=\=


Hari Senin


"Mon, aku ke atas dulu. Mau lihat ruangan meeting, boss bilang biar bisa menguasai keadaan," kataku sambil menaikkan kedua alis.


"Ok."


Aku pun menuju ruangan yang terletak dilantai tiga. Ruangan yang berdinding kaca tebal, berwarna hitam sudah mulai berbenah.


Nampak proyektor besar sudah terpasang. Botol-botol minuman air mineral sudah tersedia, di atas setiap meja. Lengkap dengan pemanis, bunga plastik dalam pot-pot kecil.


Kucari kursi yang nantinya akan menjadi tempatku mendampingi boss. Kubaca satu per satu name tag, yang sudah tersusun di setiap meja.


Dan apa itu? Sebuah nama yang sangat berjasa, mengukir kisah kelam dihidupku? Betulkah ini?


\=\=\=


Sebenarnya nama siapa yang tertera di sana? Apa langkah yang Nisa tempuh?


Jangan bosan menunggu, episode selanjutnya yah ... 😁🌷🙏


Bersambung


🌷🌷🌷🌷🌷


Jangan lupa tinggalkan like, komentar atau apa saja, yang bisa menyemangati author 😍🙏🙏


Terima kasih

__ADS_1


__ADS_2