JODOHKU TUAN DUDA

JODOHKU TUAN DUDA
Rahasia Pernikahan


__ADS_3

Terdengar suara azan subuh dari kejauhan, aku membuka mata. Bagaimana bisa aku berada dalam dekapannya. Pandanganku terbatas pada dada bidang milik sang kekasih hati. Ada deyar-deyar halus saat sadar lengannya memeluk tubuh ini.


Entah kemana kesadaran diri, kepala merapat ke dadanya, mendengar suara detak jantungnya yang memacu dengan teratur. Sangat berbeda dengan jantung ini yang berdegup kencang.


Andaikan saja waktu masih malam, mungkin betah dalam posisi seperti ini. Kutarik napas dalam-dalam, berharap pikiran aneh segera lenyap.


Aku mencoba menarik diri dari dekapannya, perlahan agar sedikit saja gangguan yang dia terima. Namun, sia-sia lengan itu menahanku.


"Sudah subuh, Kak."


Dia melonggarkan tangannya, aku segera beranjak dari tempat itu, menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu.


\=\=\=


"Bu, hari ini aku ke Surabaya. Mau lihat kantor baru sekalian cari rumah kontrakan," kata Dewa saat kami sedang sarapan.


"Sendirian?"


"Iya." Tangan kanannya memegang garpu dengan potongan roti di ujungnya, sedang tangan kirinya sibuk memainkan ponsel yang beberapa kali berbunyi.


"Nisa nggak diajak? Jangan terlalu sibuk dengan pekerjaan, sampai lupa kalau istrimu juga butuh perhatian. Apalagi kalian baru menikah."


Aku hanya menyunggingkan senyum tipis, mencoba serius menikmati sarapan pagi ini. Padahal sudah hilang selera untuk makan.


"Nanti kalau sudah pulang, luangkan waktu sejenak untuk bulan madu berdua. Ibu sudah pengen momong cucu," kata ibu sambil melirikku.


Sendok bubur di tangan, hampir saja terlepas. Apakah ibu tidak tau niat awal Dewa menikahiku? Mungkinkah pernikahanku kemarin, terlihat nyata di hadapannya? Hingga wanita ramah di depanku ini, menganggap kami adalah sepasang suami istri yang sah secara agama.


"Iya Bu, nanti saya atur waktu. Kasian Nisa kalau ikut sekarang, soalnya mencari rumah bukanlah perkara mudah. Takutnya dia tidak bisa menikmati perjalanan ini," jelas Dewa.


Ibu hanya menganggukkan kepala, meneruskan aktivitas hingga piring kosong.


Kumasukkan beberapa helai baju dan celana, tak ketinggalan botol parfum beraroma maskulin ke dalam tas jinjing kecil berwarna coklat.

__ADS_1


"Titip ibu ya Nis," katanya saat aku menarik resleting tas itu dan membawa di hadapannya.


"Insya Allah, Kak. Tenang saja selama di sana, nggak usah mikir macam-macam. Ibu sangat mudah berinteraksi sama orang lain, terlebih pada menantu jadi-jadian ini. Dia sangat baik," jawabku.


"Kamu salah, Sayang."


Deg!!! Sayang? Mengapa aku seperti terbang di awang-awang mendengar kata itu. Padahal dulu Dewa sudah sering berkata seperti itu, aduh ngarepnya jangan berlebihan Nisa.


"Apanya yang salah?"


"Hemm, nanti juga kamu akan tau sendiri, bahwa sebenarnya ibu sudah menganggap kamu layaknya menantu pada umumnya."


Aku menautkan alis, bingung mendengar penjelasannya. Namun, waktu terus bergulir, Dewa segera berpamitan dengan ibu dan melajukan mobil Land rover devender hitam bersamanya menemani menelusuri sepanjang jalan.


\=\=\=


Dua hari kepergian Dewa, aku dan ibu semakin akrab. Beliau mengajari cara memasak makanan kesukaan anak lelakinya. Sikapnya yang humble membuatku merasakan kehadiran mama di rumah ini.


"Katanya sih begitu, Bu. Semoga nggak ada pekerjaan tambahan katanya."


Kuberikan loyang yang sudah diolesi minyak kelapa kepadanya.


"Iya, semoga nggak molor ya."


Aku menarik garis senyum di bibir. Sementara perhatianku fokus akan cara ibu membuat Pizza kali ini. Hingga tak sadar, sebuah tangan sudah melingkar di pinggang.


Aku membulatkan netra terkejut, orang yang sedang kami bahas, berada tepat di sampingku. Tanganku berusaha melepaskan pelukannya di pinggang ini, risih dilihat ibu.


Sementara wanita setengah baya itu, hanya terkekeh melihatku yang tersipu oleh perlakuan anaknya.


"Baru juga dua hari nggak ketemu," goda ibu. Mukaku memerah mendengar canda ibu dan lelaki itu semakin menjahiliku dengan menorehkan tepung di pipi ini.


\=\=\=

__ADS_1


"Kak, aku pulang saja," kataku saat lift apartement belum terbuka. Dia bergeming, matanya lurus memperhatikan angka di atas pintu.


"Kakkk, kita tidak boleh seperti ini. Maaf aku takut," timpalku lagi seraya hendak pergi dari tempat itu. Apartemen milik Dewa, katanya sebagai salah satu bentuk investasi jangka panjang.


Dia menarik tangan ini dan membawaku masuk ke dalam lift yang sudah terbuka. "Kita keatas dulu, saya akan memberitahu sesuatu."


Hanya bisa menurutinya saja saat ini, andaikan bukan atas desakan ibu yang meminta kami untuk bulan madu, mungkin semua ini tidak akan terjadi. Awalnya beliau menawarkan tiket dan akomodasi perjalanan ke Bali, tapi kutolak dengan sedikit mengancam Dewa. Akhirnya pilihan jatuh di tempat ini.


Sebuah ruangan yang rapi meskipun tak banyak perabot. Terdiri dari tiga kamar, ruang tengah, ruang tamu dan kamar tidur. Ada sebuah dapur di bagian belakang.


Aku menyalakan televisi untuk mengurangi suasana canggung, Dewa datang dengan dua kaleng minuman bersoda yang belum terbuka. Kubuka tas belanja di samping dan mengeluarkan beberapa macam cemilan yang tadi kami beli.


"Kalau aku pulang ke rumah orang tuaku, bisa Kak?"


Diam tak ada jawaban.


"Nanti tinggal hubungi saja, kalau sudah mau balik ke tempat ibu."


Dia menarik napas dalam-dalam, "sebenarnya pernikahan yang kita lakukan kemarin, bukanlah sebuah setingan. Itu sah secara agama jika itu yang kau risaukan," katanya membuka suara.


"Apa!!" kataku terkejut. Andaikan saja ini sebuah film atau drama India, pasti terdengar suara petir bersahutan dan sorot lampu gelap-terang.


Namun, sayang ini bukan drama ... ini hidupku.


\=\=\=


Apa alasan Dewa menutupi kebenaran ini dari Nisa?


Yuk sama-sama menunggu episode berikunya yah ....


Bersambung


Please like, coment dan votenya, Kakak 😙❤❤🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2