JODOHKU TUAN DUDA

JODOHKU TUAN DUDA
Perasaan Dewa


__ADS_3

Dewa pun sepertinya tersentak. Entah karena tepisanku atau karena pekikanku.


 


"Maaf, Pak. Saya nggak bisa, mengkhianati mas Angga. Saya dan dia __"


 


"Kenapa, Nis? Ada apa antara Kalian berdua?" desaknya gusar.


 


"Ini!" ujarku sambil mengangkat jari yang berhias cincin tunangan.


 


"Aku dan mas Angga, sudah bertunangan. Maaf," ucapku seraya membuka pintu mobil, keluar dan berjalan ke trotoar untuk menyetop taksi. Tak lama kemudian, berhasil naik ke dalam sebuah taksi, meninggalkan Dewa sendiri.


 


Tak kupedulikan lagi supir taksi yang sesekali melirik dari kaca depan, diri yang tengah sesegukan. Aku juga tak tau, apa perlunya menangisi semua ini? Bukankah seharusnya aku marah?


 


Iya, marah. Pengeluaranku bertambah dengan naik taksi ini. Andai saja dia tidak datang menawarkan jemputan, naik ojek pangkalan berangkat kerja, no problem!


 


Segera kuusap air mata yang sedari tadi mengalir. Takutnya aku hanya menangisi masalah taksi dan ojek saja, bukan masalah hati ... ehh, plak!! Ambyar tenan.


.


.


Pov Dewa


Nisa berlari keluar menuju tepi jalan, masuk ke dalam sebuah taksi dan berlalu pergi. Tanpa pernah menengok ke belakang lagi.


 


Kupandangi mobil biru yang membawanya pergi, hingga tak terlihat lagi. Dan aku masih belum bergerak. Pengakuannya bagai sebuah bongkahan batu di dada. Sesak. Kutekan kedua sudut netra agar tak menitikkan air mata.


 


"Ibu bisa maklum, bila Nisa enggan menerimamu kembali. Cobalah buka mata dan hati. Mungkin saja Kau akan menemukan penggantinya," kata ibu saat kuceritakan tentang Nisa yang terus saja menghindar.


 


"Yang lain? Wanda __"


 


"Tidak dengan dia," potong ibu cepat. Kemudian ibu berdiri dari sofa ruang tamu, menghampiriku dan memegang pundak ini.


 


"Ibu berkeras menolaknya, bukan karena masalah bibit, bebet dan bobot. Itu hanya sebagai pelengkap. Ibu pernah melihat Wanda, bergelayut mesra dengan seseorang di sebuah Mall." Dia terdiam lalu duduk di sampingku.


 


"Ibu tidak tau dengan siapa dia saat itu. Tetapi ibu tau, orang itu bukan keluarga dekat Wanda. Sebenarnya saat itu, ingin sekali memberitahumu atau langsung menegurnya, tapi urung ibu lakukan. Ibu hanya berdoa, agar Kamu, bisa melihat sendiri sisi lain perempuan itu," timpal ibu seraya berdiri dan berjalan masuk ke dalam kamar.


 


Aku membisu mendengar penjelasan ibu. Ternyata ini alasan, mengapa dia bersikeras tak merestui hubunganku dengan Wanda.


 


Kala kutanyakan, mengapa baru mengatakannya sekarang? Ibu hanya berkata, "karena inilah waktu yang tepat, saat perasaanmu sudah terkikis. Apa jadinya, bila saat itu juga, ibu langsung memberitahumu? Sedangkan perasaanmu masih menggebu-gebu? Pikirkanlah sendiri."


 


Kutarik napas dalam-dalam. Hati ini sudah B aja saat mengetahui perbuatan Wanda. Hanya yang tersisa kecewa, harga diri sebagai laki-laki tercoreng karena kebohongannya. Dan lagi, saat ini dirinya telah tergantikan oleh Nisa.


 


Nisa yang telah diam-diam bertunangan dengan Angga. Pantas saja jari manisnya telah tersemat sebuah cincin berlian di sana.


 


Aku menghembuskan napas panjang, lalu memutar kunci mobil, kemudian segera beranjak mengarah ke kantor.


 


Saat berjalan menuju ruangan, kulihat sekilas bilik Nisa. Dia nampak beraktifitas seperti biasanya. Ingin rasa menghimpiri, tapi ini bukan waktu yang tepat. Sementara sejumlah pekerjaan juga tengah menungguku.


 


Saat sedang sibuk mengerjakan beberapa file laporan, tiba-tiba Mona masuk membawa sebuah map yang berisi pengajuan DO beberapa showroom. Aku mengernyitkan dahi, biasanya ini menjadi tugas Nisa.


 


"Maaf Pak, saya hanya minta tanda tangan. Semua ini sudah Nisa kerjakan, dia cuma minta tolong saja," jelas Mona sebelum aku sempat bertanya.


 


"Hemm," balasku seraya membubuhkan tanda tangan. Setelah itu Mona keluar kembali ke tempatnya.


 


Saat jam istirahat tiba, tanpa sengaja aku berpapasan dengan Nisa dan Mona. Tak ada sapaan dan senyuman untukku kali ini. Bahkan anggukan kepala sebagai tanda hormat, yang biasa dilakukan saat banyak orang kini tak ada, dia hanya diam.


 

__ADS_1


Kuurungkan niat ke kantin. Memutar langkah menuju musholla. Suasana hati sedang tak sinkron, lebih baik order makanan lewat aplikasi. Tunaikan shalat Dhuhur sambil menunggu kurir mengantar pesanan.


 


Selesai shalat, kuedarkan pandangan setiap sudut musholla. Tak ada orang, masih sepi. Mungkin masih sibuk menyantap makan siang mereka. Kurebahkan badan sejenak. Teringat kembali kejadian tadi pagi.


 


Mengapa Nisa menyembunyikan pertunangannya dengan Angga? Dan mengapa hati ini sangat sakit? Kuusap kasar wajah ini. Jangan-jangan sampai ... sial, dadaku masih bergemuruh. Aku belum siap kehilangan dirinya untuk kedua kali.


 


Cukup dengan satu kata talak dari diriku kala itu, membuatku kehilangan dua sosok sekaligus dari Nisa. Seorang sahabat dan seorang pendamping hidup. Dan kini sanggupkah kembali kehilangannya?


 


Derrt!! Derrt!! Derrt!!


Suara dan getaran ponsel membuatku tersadar. Rupanya kurir mengabarkan kedatangannya. Segera menghampiri dan mengambil pesanan. Kemudian bergegas kembali ke ruangan. Nampak beberapa karyawan sudah mulai berdatangan, ingin melaksanakan kewajiban terhadap-Nya.


 


Sesampai di ruangan, lekas membuka bungkusan makan siang. Meskipun galau urusan lambung jangan sampai terabaikan. Biar tetap strong hadapi kenyataan hidup.


 


Kenyataan? Tenang Bro, mungkin saja Nisa berdusta, karena tak ingin kudekati. Iya, kenapa tidak bertanya ke bang Naresh saja?


 


Kucari nama kakak Nisa dalam ponsel, kemudian menekan tombol hijau. Berdering.


 


"Halo, Bang."


 


"Halo, Wa. Ada apa?"


 


"Bagaimana kabarnya?"


 


"Alhamdulillah, baik. Kamu sendiri bagaimana? Masih tetap makan nasi, kan. Walaupun Nisa sudah tunangan?" Terdengar suara tawa di ujung sana. Dia sedang bercanda, Pemirsah!


 


Bisa-bisa dia tertawa, apa tidak tau di sini dunia seakan berputar mendengar berita yang dia sampaikan.


 


 


"Eh iya Bang, masih. Ngomong-ngomong kok, nggak ngundang-ngundang acara kemarin. Kan, lumayan Bang, sekalian jenguk El."


 


Kembali bang Naresh terkekeh.


 


"Satu sama! Dulu Kamu, juga nggak ngabarin kalau mau nikah sama adik saya. Kita taunya dia kerja di surabaya. Eh ternyata, sudah jadi istrimu."


 


Duerr!


 


Nyelekit banget! Bercanda tapi sarat sindiran! Juara nih, bang Naresh. Aku menelan ludah, tenggorokanku terasa kemarau, Pemirsah.


 


"Maaf, Bang."


 


"Hu'um, bukannya nggak mau mengundang. Tapi, sepertinya kurang etis ngundang mantan ke acara lamaran, ntar viral lagi. Bagaimana?"


 


"Iya, Bang. Saya nggak berpikir sampai ke sana."


 


"Lagian mereka baru tunangan, nanti saja kalau resepsi. Pasti dapat undangan."


 


"Iya, Bang. Memang resepsinya kapan?"


 


"Kemarin, belum ada kesepakatan. Soalnya Nisa masih minta waktu untuk lebih mengenal Angga. Sedangkan pihak laki, maunya di percepat. Makanya belum ada kesepakatan bulan berapa. Tapi insya Allah dalam tahun ini."


 


Gila tuh Angga! Ngebet banget pengen nikahin Nisa. Enggak akan kubiarkan!! Langkahin dulu mayatku.


 

__ADS_1


"Oo githu ya Bang, makasih atas informasinya. Silahkan dilanjut aktivitasnya. Assalamu alaikum."


 


"Hu'um, waalaikum salam."


 


Aku terus mencoba menenangkan hati. Entah mengapa firasat mengatakan, aku akan kehilangan Nisa, lagi!


 


Rasa kehilangan ini mulai terasa, walau Nisa masih nampak berkeliaran di kantor ini. Di sini aku sadar kalau, sudah tak ada nama lain di hati ini, selain namanya.


 


Relakah aku melepasnya untuk kedua kalinya?


\===


Lima belas menit lagi, jam kantor usai. Aku sudah bersiap-siap dari sepuluh menit yang lalu. Kubuka lebar pintu ruangan, agar saat Nisa lewat, bisa terlihat.


 


Aku harus bicara dengannya dari hati ke hati. Jika memang benar dia tak mencintaiku, mengapa menunda resepsi pernikahannya? Bukankah lebih baik segera menikah, seperti keinginan Angga?


 


Samar terdengar suara bising para karyawan. Kutengok jam yang menempel di dinding, rupanya sudah masuk jam pulang. Lekas berjalan ke sisi meja depanku. Duduk di tepinya seraya melipat tangan di atas dada, mengamati mereka yang lalu-lalang.


 


Belum terlihat sosok yang kutunggu. Namun, tiba-tiba terdengar suara seperti miliknya. Gegas kusambar tas dan berdiri di ambang pintu.


 


Benar saja, Nisa yang selalu sepaket dengan Mona, terlihat sedang berjalan sambil bercanda. Kutengok sekeliling ternyata mereka kloter terakhir yang keluar ruangan. Sementara karyawan yang lain sudah tak terlihat.


 


Mereka berjalan semakin dekat, Mona yang melihatku melempar sebuah senyum dengan hormat. Tapi berbeda dengan Nisa.


 


Aku harus terpaku di tempat, saat dia melewatiku tanpa menoleh ataupun menegur. Mulutku menganga tak percaya apa yang terjadi. Aku masih membeku saat Nisa melanjutkan cerita tanpa rasa bersalah. Padahal Mona sudah menunjukkan wajah tak enaknya, melihat sikap mantanku tersebut.


 


Kini yang kurasa tak lain adalah sakit. Saat tak keberadaan diri ini tak dianggap oleh orang yang kita cintai. Dan aku ... belum siap dengan ini.


.


.


Bersambung


Please tinggalkan jejak review, star atau apa saja. Untuk menyemangati author labil ini.


Terima Kasih


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2