JODOHKU TUAN DUDA

JODOHKU TUAN DUDA
Curiga


__ADS_3

Kehadiran Gianina bukan hanya membuat kelegaan di hati Nisa, tetapi juga memuaskan hasrat orang tua Angga. Meskipun cucu mereka perempuan, tak membuat kebahagian mereka berkurang.


"Ah, nggak pa pa. Nisa belum empat puluh tahun, masih bisa nambah momongan lagi. Siapa tahu adik Nina nantinya laki-laki," ujar mama Angga bersemangat.


"Betul, Jeng, mumpung masih sehat dan kuat, terus digenjot. Pasti hasilnya produk berkualitas dan bermutu tinggi," seloroh tante Anggi. Teman arisan mama Angga saat acara hakikah Nina.


Nisa hanya bisa tersenyum kecut mendengarnya. Mereka tidak tahu, apa yang sudah ia korbankan pada masa kehamilan Gianina. Suaminya berubah. Ada berbeda dengan Angga. Ia bukan lagi Angga yang dulu ia kenal.


Walaupun Angga masih perhatian terhadap Nisa dan anak-anaknya, tapi insting seorang istri tidak bisa diabaikan begitu saja.


.


.


"Mas, kita liburan, yuk?" rengek Nisa malam itu.


"Mau kemana?" tanya Angga datar. Pandangannya tak teralihkan dari layar komputer jinjing yang masih menyala.


"Tempat kita bulan madu," lirih Nisa manja.


"Kemana?"


Sesaat Nisa tercengang, sikapnya yang manja mendadak menjadi kaku. Kemana? Apa telinganya tak salah dengar? Seorang Erlangga Wira Kencana menanyakan hal itu kepadanya? Lelaki yang telah hidup bersamanya hampir sepuluh tahun. Bagaimana bisa Angga melupakan moment termanis bagi pasangan pengantin baru? Walaupun Nisa dan Angga baru bisa honeymoon setelah sebulan mereka menikah. Namun, tetap saja manis, tetap saja indah dan tetap saja menggiurkan.


Di pulau Dewata, Angga benar-benar bisa membuat Nisa melupakan Dewa dan segala kisah suram masa lalunya. Angga yang dewasa, Angga yang romantis, Angga yang hangat dan Angga yang menguasai di atas peraduan.


Dalam dekapan lelaki itu, Nisa merasa aman, damai dan terlindungi. Tak ada tempat ternyaman dan terindah selain dalam pelukan dada bidang suaminya.


Demikian pula bagi lelaki berahang tegas tersebut, tak ada tempat yang menaruh minatnya selain kamar hotel yang berukuran delapan puluh meter persegi.


"Kamu pikir saya akan membuang-buang waktu melihat pantai, sawah dan gunung? Kamu tahu, sejak awal melihatmu saya sudah akrab dengan kata 'menunggu,' bahkan saat kita sudah resmi menikah, saya harus menunggu sebulan untuk bisa berduaan denganmu," ujar Angga mengeratkan pelukannya. Dan Nisa sangat menyukai perlakuan Angga seperti itu.


Sungguh masa-masa termanis dalam perjalanan pernikahan mereka. Bahkan terkadang Nisa tersenyum penuh kerinduan ketika membayangkan masa-masa bulan madu mereka. Walaupun belakangan ini ia sibuk mengurus Nina dan sempat mengabaikan hal tersebut.

__ADS_1


Tetapi sekarang gadis kecilnya sudah berumur lima tahun. Sudah tak serepot dulu lagi, Nina sudah bisa dititip ke oma-nya. Sudah waktunya merajut kembali masa-masa adiwarna mereka.


Namun, jawaban Angga membuat Nisa bagai wanita naif yang mengharap rengkuhan seorang pangeran berkuda putih.


"Lho, kok, diam?" Angga berpaling ke arah Nisa, saat mendengar wanita itu menghempas tubuhnya di atas kasur.


"Ah, malas jadinya," ketus Nisa.


"Kok, bisa?" Lelaki itu kembali fokus pada layar persegi di depannya, tanpa merasa bersalah sedikitpun.


"Mas, beneran lupa tempat kita bulan madu?" tanya Nisa kesal. Memilin ujung selimut di sampingnya.


"Bulan madu?" Angga menjeda sejenak, "Bali, kan? Mau ke sana?"


Wajah Nisa berubah sumringah, matanya kembali bersinar. "Mau banget. Kita ke sana, yuk."


Angga menghentikan gerakan jemarinya di atas keyboard, menghela napas sesaat dan berbalik menatap Nisa. "Anak-anak bagaimana? Mau ditinggal? Kasian Nina masih kecil, dia bisa menelepon setiap menit bertanya, 'mama dimana? Papa ngapain?' Bagaimana kita bisa menikmati waktu berdua? Sekarang bukan waktu yang tepat untuk berlibur. Sabarlah, mungkin sebentar lagi kita bisa liburan berdua."


Tiket ke Paris yang diberikan mama Angga, terpaksa dialihkan pada Naresh, kakak Nisa.


"Maaf, Dek, saya tidak bisa meninggalkan pekerjaan sekarang ini. Kamu tahu kan, pembangunan hotel kita bermasalah. Tanahnya digugat?" jelas Angga serius.


Karena tak tega, Nisa akhirnya merelakan Angga bergelut dengan pekerjaan, daripada bergelut dengannya di kota Paris yang romantis.


Baiklah, jika Angga menolak mengunjungi menara Eifel karena pekerjaan yang tak bisa ia tinggalkan. Mungkin saja jarak yang cukup jauh membuatnya kesulitan mengontrol bisnisnya. Lantas bagaimana dengan undangan reuni teman masa SLTA Angga?


Bukankah lokasinya terbilang cukup dekat? Di salah satu hotel yang berada di puncak.


Suasana romantis masih bisa mereka dapatkan, walaupun diselingi padatnya acara dari panitia reuni. Tak mengapa, Nisa bisa menerima hal tersebut. Apalagi dalam undangan itu, peserta diperbolehkan membawa pasangan masing-masing.


Namun, dimana letak kesalahan acara tersebut, hingga Angga menolak dengan tegas untuk menghadiri reuni itu?


"Buat apa? Ketawa-ketiwi seperti anak ABG saja. Nggak malu dengan anak mereka yang sudah dewasa?" sinis Angga seraya meletakkan asal undangan tersebut di atas meja makan.

__ADS_1


Dan lagi-lagi Nisa hanya bisa mengelus dada. Sedemikian beratkah tekanan seorang pengusaha? Sehingga tak bisa menyisihkan waktu untuk keluarga? Nisa tak minta seluruh waktu Angga hanya untuknya, ia hanya ingin menghadiri acara tersebut yang berlangsung selama dua hari. Hanya dua hari, ia ingin merasakan keintiman bersama Angga.


Tapi itupun tak bisa dikabulkan oleh suaminya.


Nisa melangkah keluar dengan perasaan hancur dan Angga hanya menatap punggung sang istri sekilas. Kemanakah perginya nalurimu wahai lelaki?


Nisa melangkah ke tempat anak-anak. Ia membuka pelan pintu kamar El. Anak itu sudah terlelap, perlahan mendekati putra sulungnya. Nisa mematikan komputer yang masih menyala dan memperbaiki buku-buku yang berantakan di meja tersebut.


Kemudian ia duduk di tepi tempat tidur, sambil memperbaiki letak selimut El.


Dipandanginya wajah sang anak. Kini El sudah duduk di kelas satu SLTP, ia mewarisi postur tubuh ayahnya, Dewa. Ia tumbuh tinggi dan berisi. Namun, El memilki sifat kepedulian yang tinggi, membuatnya berbeda dengan ayah biologisnya.


El sangat peduli terhadap ibu dan adiknya. Ia dengan senang hati meladeni keceriwisan Nina, yang kadang membuat Nisa bingung menjawab setiap pertanyaan yang terlontar dari bibir mungil putrinya.


Dan seiring perkembangan fisik serta umurnya, kini El menolak untuk dipeluk apalagi dicium, baik oleh Nisa maupun Angga. Sehingga mau tak mau Nina lah yang menjadi pusat kegemasan Angga dan Nisa.


Perlahan-lahan Nisa beringsut dari duduknya dan segera berlalu dari kamar El. Lantas ia berjalan menuju kamar Nina, putrinya juga sudah terlelap bersama pengasuhnya.


Nina yang masih berusia lima tahun memiliki tingkah yang menggemaskan. Dengan kelakuan manjanya, Nina bisa membuat orang yang baru bertemu dengannya langsung jatuh hati. Duh, siapa juga yang bisa menolak tatapan mata bulat yang selalu bercahaya? Membuat kejengkelan dan kemarahan Nisa lenyap seketika, ketika mendengar celotehannya. Bagi Angga dan Nisa, kehadiran Nina bagai sebuah mainan baru dalam rumah mereka.


Namun, itu dulu. Nisa tak tahu kapan tepatnya, ketika kepolosan Nina tak bisa lagi menghalau keseriusan Angga menjalankan perusahaan. Kepulangannya di rumah saat malam hari, hanyalah sebuah rutinitas yang harus ia selesaikan. Andaikan saja Angga boleh memilih, mungkin ia tak ingin kembali ke rumah itu.


Ada apa? Nisa pun tak tahu pasti. Namun, bagian diri Nisa yang hitam terkadang membisikkan hal yang aneh.


"Ada perempuan lain di hati Angga."


Tapi siapa? Bukankah ia sudah mengecek seluruh akun email, Sosmed dan ponsel milik Angga? Dan semuanya bersih! Ataukah Angga memiliki ponsel yang lain? Dan disembunyikan di suatu tempat yang tak diketahui Nisa?


Ah, seluruh pertanyaan itu membuat kepalanya mau pecah.


"Tidak! Aku harus berbuat sesuatu, sebelum bahtera kami hancur. Aku harus segera menambal lubang-lubangnya, agar biduk kami kembali berlayar." Tekad Nisa, dalam hati, meskipun ia tak tahu sedang berperang melawan siapa.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2