
Terbongkarnya affair Angga dan bawahannya, berhasil memporak-porandakan hubungan Nisa dan Angga. Hubungan mereka yang renggang kini semakin menipis. Tak ada lagi hubungan suami istri, hanya demi kepentingan anak-anak mereka harus bertahan.
"Kamu boleh meminta cerai, Dek. Saya tidak akan menyulitkanmu," kata Angga malam itu. Ia sengaja mendatangi istrinya saat anak-anak dan seluruh penghuni rumah sudah terlelap.
Angga tahu, akhir-akhir Nisa tak bisa tidur lebih awal. Terkadang ia masih mendapati lampu kamar wanita itu masih menyala, saat ia ke dapur mengambil air minum tengah malam.
Entah apa yang dilakukan Nisa hingga pukul dua dini hari belum juga terlelap, tapi ketika mereka sedang duduk bersama menikmati sarapan, kedua netra istrinya tampak sembab dan sedikit bengkak.
Aduhai Angga, begitu besarnya kau menorehkan luka pada wanita yang telah menerima cintamu? Dengan apa kau akan menutup lubang di hatinya?
"Aku belum memikirkannya," jawab Nisa. Ia mendekap guling dengan erat.
"Pikirkanlah, carilah laki-laki yang memiliki tanggung jawab besar terhadap keluarganya."
"Andai belum ada anak-anak di antara kita."
"Jangan khawatir, saya akan membiayai mereka."
"Bagaimana dengan Nina, Mas? Dia masih terlalu kecil untuk bisa mengerti, kenapa kita hidup terpisah, tidak serumah lagi."
Angga mengusap wajahnya dengan kasar, perkataan Nisa begitu menohoknya. "Tapi saya sudah nggak pantas menjadi ayahnya." Sakit sekali mengatakan kalimat itu.
Nisa menghirup napas dalam-dalam, kepalanya menengadah ke atas, sejenak menatap langit-langit di kamarnya. "Mas akan tetap menjadi ayah Nina selamanya. Aku tak berhak merampas itu darinya, jadi tolonglah bersikap sewajarnya, seperti dulu."
"Tapi, Dek__"
"Jangan sakiti jiwanya yang masih polos. Mas seorang ayah yang baik bagi anak-anak."
"Bagaimana jika nantinya masalah ini__"
"Kita pikirkan nanti saja. Maaf Mas, aku sudah ngantuk."
Angga memijat kepalanya, ingin rasanya ia memeluk wanita itu seperti dulu, sewaktu cinta mereka masih membara. Namun, akankah Nisa menginginkan pelukan pria seperti dirinya?
***
Sudah lama Nisa tak memikirkan Dewa lagi, semenjak pria itu menghilang tanpa kabar. Untuk apa memikirkan Dewa, bahkan atas nama El sekali pun.
__ADS_1
Nisa sudah memiliki Angga, suami yang baik untuknya dan ayah yang penuh kasih sayang buat El dan Nina. Apalagi yang ia inginkan? Hidupnya cukup bahagia saat itu.
Untuk wanita yang akan memasuki usia kepala empat, cinta dan gejolak masa muda bukan lah prioritas utama lagi. Bagi Nisa, cinta dan kasih untuk anak, suami, dan keluargalah yang menjadi tujuannya. Bagaimana membesarkan kedua buah hatinya, agar tumbuh menjadi manusia yang berguna bagi bangsa dan negaranya.
Namun, ketika sandaran jiwanya menikam dari belakang, menghancurkan kepercayaannya terhadap cinta lawan jenis, semua itu tak lagi sama. Memang kesalahan itu bukan sepenuhnya di pihak Angga, Nisa pun turut andil menciptakan prahara tersebut. Tetapi bijakkah memporak-porandakan sebuah ikatan suci dengan sebuah perselingkuhan yang menjijikkan?
Duh, harga diri Nisa sebagai seorang wanita terkoyak sudah. Membuatnya terombang-ambing di antara menjaga psikologis anak-anaknya dan menekan rasa marah serta jijik terhadap suaminya. Dan di saat seperti itu, Dewa hadir memberi dukungan padanya.
Ia masih Dewa yang dulu, paras dan fisiknya tak berubah banyak. Demikian juga tentang perasaannya pada Nisa, masih sama. Dan Nisa tak bisa serta merta menolak kehadiran sang mantan, ada El putra mereka yang menjadi tali penyambung antara Nisa dan Dewa.
Celah itulah yang dimanfaatkan Dewa. Dengan alasan ingin mengetahui perkembangan dan kegiatan El, pria itu sering mengajak Nisa bertemu. Seakan mendapat uluran tangan saat ia terjatuh, Nisa pun tak menolak ajakan sang mantan.
Bagi Nisa Dewa orang yang tepat untuk saling berbagi cerita hidup mereka. Dewa tak seperti teman arisan yang setiap saat bisa membongkar aib teman sendiri.
Jarak pun bukan penghalang bagi pria bebas seperti Dewa. Bali-Jakarta hanya memerlukan waktu tempuh dua jam dengan menggunakan pesawat. Weekend menjadi hari yang paling dinantikan Dewa, untuk bisa bersua dengan mantan istrinya.
Walaupun Nisa dan Dewa menjadi dekat dan sering bertemu, tak lantas membuat Ibu dua anak tersebut bebas. Ia masih menjaga marwah sebagai istri sah Erlangga Wira Kencana.
Boleh saja Dewa mengajak Nisa makan, belanja atau menemaninya nonton pertunjukan Magic show, tetapi tidak lebih dari itu.
Nisa tak ingin lagi terjebak kisah cinta yang pelik. Baginya Dewa hanya sekedar tempat pelarian semata. Duh ... agak sedikit kejam, namun harus bagaimana lagi? Toh, Nisa juga tak pernah memberi harapan pria itu.
"Santai saja, Wa, masih ada hari lain, kalau kamu belum bosan bepergian Jakarta-Bali," sahut Nisa asal. Ia lebih suka menikmati perpaduan daging dan seafood di depannya dari pada menanggapi ucapan Dewa.
"Gantian kamu yang ke Bali."
Hampir saja Nisa tersedak mendengar usulan gila kakak kelasnya tersebut.
"Ngaco! Ya, nggak mungkinlah."
"Kenapa tidak? Kamu, kan, sudah pernah traveling sendirian."
Nisa menghentikan gerakan tangannya yang menari di atas bulatan-bulatan daging berkalori tinggi. "Ya, beda dong, Wa. Itu kan ...." Nisa tak bisa melanjutkan kalimatnya, Dewa mengingatkan dirinya akan malam yang menyedihkan itu.
Nisa mendorong mangkuk bakso dari hadapannya, tak lagi berselera untuk melahapnya.
"Ah, kamu terlalu banyak berpikir, sedangkan si Angga belum tentu memikirkanmu," tukas Dewa dongkol.
__ADS_1
Nisa menatap tajam pria di hadapannya, ia tak suka membicarakan masalah keluarga di tempat umum dan ramai seperti sekarang. Meskipun tak ada orang yang mengenalnya di tempat itu.
"Terserah apa katamu, aku tak ingin menambah masalah."
"Walaupun Angga berselingkuh," ucap Dewa lantang dan keras.
Begitu kerasnya hingga membuat sepasang pengunjung di sebelah mereka serentak melihat ke arah Dewa.
Bukannya malu, Dewa justru menatap balik, hingga membuat pasangan itu canggung sendiri.
Nisa menggeleng kepala ke arah Dewa. Pria itu masih tetap berlaku semaunya, walaupun usianya sudah matang.
"Maaf, Wa, aku nggak bisa."
"Nggak, Kamu harus datang."
"Nggak bisa."
"Harus! Atau El ikut denganku."
Netra wanita itu membelalak seketika, ia menelisik Dewa lebih dalam. Paras Dewa begitu serius, kedua bola matanya menatap tajam, laksana burung Elang yang mengintai mangsanya.
Nisa meleguh pelan, ia sadar jika Dewa sudah bersikap seperti itu, berarti pria itu sangat serius dengan ucapannya.
Ingatan Nisa terlempar, saat Dewa memintanya untuk menikah siri dengannya. Sangat memaksa dan tak ingin mendengar kata tidak.
Dan kini ia mengancam akan merebut El, ya Tuhan, masalah demi masalah seakan tak ada habisnya menyapa Nisa.
***
Angga tidak melarang, tetapi tidak juga mengiyakan, ketika Nisa memberitahunya ingin berlibur ke Bali sendirian.
Jujur Angga tak ingin istrinya pergi, perasaannya tak enak ketika mendengar rencana itu dari Nisa.
Angga ingin mencegahnya, tetapi seketika itu juga ia teringat akan kebersamaannya dengan Padipta. Tak kurang dulu Nisa sering mencemaskannya ketika ia pulang tengah malam, tapi dirinya mengabaikan semua itu.
Lantas masih berhargakah larangannya, terlebih Nisa hanya sekedar memberitahunya bukan meminta ijinnya. Jadi, dibiarkan saja Nisa berangkat ke Bali sendiri dengan berat hati.
__ADS_1
Bersambung