
Sebenarnya hari ini cuaca sangat cerah, bahkan jika boleh dikatakan sang surya bersinar secara berlebihan. Hingga membuat sebagian penduduk kota metropolitan itu tampak kegerahan karena sinarnya. Demikian pula yang terjadi dengan diri Nisa. Namun, bukan raga yang kegerahan karena AC di ruang kerja masih berfungsi dengan baik, melainkan jiwanya lah yang sedang kepanasan.
Masalah demi masalah yang terus menghampiri diri dan keluarganya akhir-akhir ini, membuat penampilannya berubah seratus delapan derajat. Tak ada lagi senyum yang mengembang di bibir, membuatnya terlihat lebih tua dari usia sebenarnya. Apalagi peristiwa semalam, membuat kening itu selalu berkerut.
Untuk pertama kalinya, sejak El mengetahui siapa ayah kandungnya, Nisa dan Angga berbicara empat mata secara serius, dari hati ke hati berdua di kamar utama. Tentu saja Angga lah yang mengajak Nisa masuk ke dalam kamar mereka terlebih dahulu dengan hati-hati.
"Maafkan aku, Dek, keluarga kita jadi seperti ini karena ulahku," kata Angga dengan penuh penyesalan.
Nisa hanya menghembuskan napas panjang, tak bersuara, tapi masih mendengarkan penjelasan sang suami.
"Apa yang harus aku lakukan, Dek?" desah Angga kemudian, "katakan, Dek, apa yang harus aku lakukan untuk menyilih dosa-dosaku."
Pikiran Nisa masih menerawang, mungkin ia harus mendengarkan hatinya sekali lagi. Mungkin benar kata Santika mamanya, perbuatan Angga hanya satu kehilafan. Dan semua itu sudah berakhir dengan kepergian Pradipta. Tak bisakah ia membuka hatinya sedikit, berkorban sedikit mengabaikan luka yang masih berdarah demi keluarga kecilnya? Walaupun Angga telah mencoreng harga dirinya sebagai wanita, namun jangan lupa ia juga seorang ibu. Bukankah seorang ibu mampu mengorbankan apa saja demi anak-anaknya? Bahkan bila perlu nyawa pun menjadi taruhannya.
Melihat Nisa yang masih bergeming, Angga mencoba mendekatinya. Perlahan tangan kokohnya ingin meraih jemari Nisa yang duduk di tepi ranjang. Namun, entah terkejut atau hanya gerakan refleks wanita itu menarik tangannya, seolah enggan disentuh oleh sang suami.
Angga menelan ludah kekecewaannya. Nisa tertegun, sesaat ia menyesali perbuatannya ketika melihat rona kecewa pria itu.
"Maaf, beri aku waktu untuk berpikir, Pah," ucap Nisa pelan, "otakku sudah penuh dengan masalah. Bukan hanya karena hubungan kita, anak-anak dan pekerjaan juga terus mengejarku," lanjutnya.
"Anak-anak masih membutuhkanmu, Dek."
Nisa mengernyit bingung. "Maksudnya?"
"Bolehkah aku menarik keinginanku untuk bercerai? Bukan hanya anak-anak yang butuh dirimu, aku dan keluarga ini masih memerlukanmu. Kembalilah, Dek, kembali menjadi istri dan ibu anak-anak kita."
"Aku memang tak mungkin meninggalkan anak-anak, Pah," lirih Nisa.
"Jadi kembalilah, aku janji akan membereskan semua kekacauan ini." Tegas layaknya seorang pria sejati.
"Tapi ...."
"Kenapa? Apa sudah ada yang menggantikanku?" Rasanya tak patut mencemburui istrinya, mengingat apa yang telah ia lakukan.
Tapi bagaimana pun Angga berusaha menepis perasaan itu, ia tetap saja resah, tetap cemburu.
Sementara itu bayangan Axel tiba-tiba muncul di benak Nisa. Memang hubungan mereka masih sebatas teman dekat, masih abu-abu. Namun, bersama Axel semua terasa berbeda.
Tatapan mata dan perhatian pria muda itu, melenyapkan perasaan rendah diri dan hina Nisa akibat perbuatan Angga. Andaikan masih bisa berkata untung, Nisa merasa beruntung bisa mengenal Axel.
"Kalau maksud Papa, Axel. Kami hanya sebatas teman," jawab Nisa ragu. Ia tak ingin menyakiti hati suaminya.
Mendengar jawaban ragu Nisa, Angga kecewa. Ia tahu arti keraguan itu. Namun, ia tak ingin memperlihatkan perasaannya. "Syukurnya," jawabnya seraya tersenyum getir, "kita bina kembali keluarga ini dari awal ya, Dek." Angga kembali mengulurkan tangan meraih jemari Nisa.
Kali ini Nisa tak menolak. Membiarkan tangan Angga meremasnya dengan hangat. "Aku sudah rindu, Dek. Ingin semua kembali seperti dulu."
'Tak ada yang seperti dulu lagi! Semua sudah berubah. Aku dan anak-anak juga sudah berubah!' Keluh Nisa dalam hati.
Ketika melihat istrinya diam saja, entah sedang memikirkan apa. Angga sadar ia harus mulai menunggu. Dia harus sabar sampai Nisa memaafkan dan melupakan semua luka-luka yang telah ditorehnya.
"Maaf Bu, ada yang datang mencari Ibu," kata Sekretaris yang entah kapan sudah berdiri di depan mejanya.
"Eh, Kamu ... siapa yang mencariku," ucap Nisa gelagapan. Sepertinya ia sedikit terkejut akan kehadiran Sekretaris itu.
"Maaf Bu, saya sudah ketuk pintu dari tadi, tapi sepertinya Ibu terlalu sibuk, jadi tidak mendengarnya. Karena itu saya langsung masuk," jelas Sekretaris itu.
"No problem."
"Makasih Bu, oiya yang mencari ibu namanya pak Axel. Belum buat janji, tapi dia ngotot mau bertemu, katanya teman Ibu."
"Axel? Suruh dia masuk."
__ADS_1
Tak lama kemudian, Axel sudah berdiri seraya tersenyum di hadapan Nisa. "Masih sibuk? Padahal aku ingin mengajakmu makan siang." Wajahnya berubah pura-pura kecewa.
Nisa melongo, kemudian melirik jam yang tertera di sudut layar laptop di depannya. Benar saja, ia terlalu lama merenung hingga tak sadar waktu sudah menunjukkan jam istirahat. "Well, mau makan dimana?" sahutnya sembari menutup layar persegi di atas meja.
"Ikut saja, temanku sudah merekomendasikan satu nama restoran sebelum aku kemari."
***
"Ikutlah denganku, Nis. Kita bangun mahligai baru di Aussie."
"Aku belum bercerai." Nisa tak terlalu kaget dengan apa yang didengarnya. Ia sudah bisa menebak dan merasakan perasaan Axel dari sikapnya selama ini. Namun, perempuan itu tak tahu apa yang membuat Axel tertarik terhadapnya dan ia tak berminat untuk menanyakannya.
"Sudah saatnya kamu ajukan."
Nisa menggeleng. 'Jadi kembalilah, aku janji akan membereskan semua kekacauan ini.' Kata-kata Angga kembali bergema di telinga.
"Tidak semudah itu, Xel. Anak-anakku masih membutuhkanku."
"Menikah denganku bukan berarti tinggal di kutub utara. Kamu masih bisa bertemu dan berhubungan dengan mereka. Bahkan kita bisa tinggal bersama. Tapi hanya mereka, tidak dengan suamimu," bujuk Axel. Pinggan steaknya sudah kosong, ia mendorong sedikit ke depan.
"Entahlah, Xel, terus terang semalam mas Angga mengatakan hal yang sama denganmu." Tangannya sibuk mengaduk-ngaduk jus oranges yang tersisa setengah.
"Menikahimu lagi?"
Nisa terkekeh. "Bukan, dia bilang ingin memulai kembali dari awal, denganku dan anak-anak. Tapi aku belum memberi jawaban, aku masih ragu."
"Kau bisa ragu dengan dia kerena perselingkuhannya, tapi denganku ... apa kau ragu juga?"
"Jangan besar kepala dulu, sebelum kau baca sendiri artikel tentangmu di google."
"Jadi kau meng-google-ku?" Bola mata Axel membesar penuh arti. "Dengar, semua yang tertulis di sana belum tentu benar. Kenapa tidak bertanya langsung pada sumbernya?" Ia berkata seraya mencondongkan tubuhnya.
"Tidak menjamin aku mendapat jawaban yang jujur," sanggah Nisa memberenggut.
***
Sejak mengatakan ingin membina rumah tangga mereka yang telah terkoyak, perlahan-lahan Angga mulai bangkit. Ia mulai merubah semua kebiasaannya selama terpuruk.
Angga mulai berani bertemu dan bersosialisasi dengan rekan kerjanya. Memang tak semua, hanya beberapa orang saja. Namun, sudah bisa membangkitkan rasa percaya dirinya. Langkahnya terasa ringan ketika memasuki gedung miliknya. Meskipun pada awalnya ia harus menggunakan kacamata hitam untuk menutupi kegugupan di depan para karyawan.
Akan tetapi itu tak berlangsung lama, ada Nisa yang selalu menemani setiap jejaknya di kantor. Hingga seminggu kemudian kaca mata hitam tak lagi bertengger di hidung Angga. Bersama itu pula Nisa mulai melepas seluruh tanggung jawab di perusahaan.
Tentu saja perubahan itu disambut baik oleh Santika dan Cakrawangsa. Tak jarang kedua orang tua Nisa meluangkan waktu menginap di rumah sang anak. Hingga membuat rumah itu kembali hidup, penuh canda anak, menantu, dan sang cucu.
Demikian pula dengan El, anak itu mulai melunak, ketika melihat sang ibu akhir-akhir ini sibuk bergelut di dapur menyiapkan sendiri sarapan untuk keluarganya. Namun, sikap lunak El ternyata hanya buat Nisa dan Angga. Sedangkan untuk Dewa ayah kandungnya, ia masih menjaga jarak.
"Sabarlah, semua butuh proses," ujar Angga bijak, ketika mendengar penolakan El untuk berlibur ke Bali bersama Dewa. Dan Dewa hanya tersenyum pahit, memangnya apalagi yang bisa ia lakukan selain menunggu? Meskipun pada akhirnya Dewa harus kembali ke Bali dengan tangan hampa. Tak ada lagi harapan untuk bersama Nisa, setelah melihat keluarga itu mulai harmonis. Namun, setidaknya ia bisa sedikit lega, mengingat El sudah mengetahui jati dirinya.
Sebulan kemudian
Kali ini Axel mengajak Nisa makan malam di salah satu cafe rooftop di kawasan Jakarta utara. Suasana malam yang indah, menyajikan pemandangan kota metropolitan yang bertabur cahaya lampu kelap-kelip. Membuat mata takjub memandangnya.
"Terima kasih sudah membawaku ke sini, tapi maaf ... aku tak bisa berlama-lama."
Axel mendengkus kesal. "Ck, kau tidak sedang melarikan diri. Angga juga tahu, kau sedang bersamaku."
Nisa menghela napas panjang. Memang ia sudah minta ijin, atau lebih tepatnya hanya bilang. Dan Angga tidak berkata apa-apa. Diam menutupi hati yang sedih.
Istrinya makan malam dengan pria lain. Pria yang terang-terangan sudah melamar Nisa. Pria mapan dengan segudang pesona.
Tapi apa bedanya dengan dirinya! Dulu ia pun melakukan hal yang sama dengan Pradipta. Bahkan di saat keluarga mereka sedang baik-baik saja.
__ADS_1
Tentu saja Nisa bisa melihat kegetiran suaminya, tapi ia tak punya pilihan lain. Ia sudah janji memberikan jawaban di hari ini. Lagi pula ini masih wajar menurut Nisa. Mereka tidak ke hotel untuk berbuat asusila, mereka hanya makan malam.
***
Ketika Nisa sampai di rumah, malam belum larut. Ia memang meminta Axel untuk mengantarkan langsung setelah selesai makan. Dan Axel tak membantah.
Ruang tamu telah lengang, anak-anak sudah masuk ke kamar masing. Angga melihat Nisa yang berjalan masuk melewati pintu dengan hati teriris.
"Bagaimana makan malamnya?" tanyanya tak bersemangat.
"Biasa saja. Nothing special kecuali tempatnya. Papa belum tidur? Biasanya jam sepuluh begini, sudah masuk kamar."
"Belum ngantuk. Adek capek?"
"Biasa saja."
Angga tersenyum lega. "Kemarilah, Dek, ada yang ingin aku bicarakan," ujarnya seraya menepuk tempat kosong di sampingnya.
Nisa tak menolak, segera duduk di samping sang suami. "Ada apa, Pah?"
"Boleh aku tanya sesuatu? Jangan jawab kalau keberatan."
Nisa mengangguk, hal ini sudah ia prediksikan sebelumnya. Angga akan meminta penjelasannya.
"Adek menyukai Axel?"
"Kenapa? Papa nggak suka?"
"Bukan, bukan seperti itu."
"Lalu?"
Angga menarik napas berat, mencari kata yang tepat sebelum dilontarkan. "Dia kah orangnya yang telah menggantikanku di hatimu? Kalian akan menikah jika kita berpisah?"
"Papa setuju? Papa bersedia menceraikan aku?"
"Tidak," jawab Angga cepat. "Tentu saja aku tidak berniat menceraikan Adek. Tapi jika kamu mencintai dia, aku rela melepasmu. Asal Adek bahagia. Demi kebahagianmu, aku rela kehilangan Adek dan anak-anak."
Nisa tertegun mendengar kejujuran Angga. Ia tak sanggup mengeluarkan satu kata pun karena keharuan. Ternyata malam ini, setelah ia melepaskan perasaan Axel, ia menemukan kembali pria yang sudah menjadi suaminya bertahun-tahun.
***
Sejak malam itu kata-kata Angga selalu tergiang di telinga Nisa. Kini ia tahu bagaimana kualitas cinta sang suami. Hingga membuat Nisa tak tega untuk meninggalkannya.
Jika Angga rela berkorban demi kebahagian dirinya, Nisa pun harus rela mengorbankan kebahagiannya. Bukankah tempat seorang istri di samping suami?
"Terima kasih sudah memaafkanku," kata Angga bahagia. Saat ini ia tengah menggenggam tangan Nisa, duduk di tepi pantai seraya menikmati jilatan ombak di kaki mereka.
"Bukan cuma papa yang bersalah, aku pun pernah lalai menjaga keluarga ini."
"Adek melakukannya karena keadaan, tak ada unsur kesengajaan."
"Tidak, Pa, aku melakukannya dalam keadaan sadar."
"Kalau itu bisa mengobati luka Adek, aku iklas. Terima kasih sudah memberiku kesempatan kedua. Aku bisa melihat sendiri bagaimana pengorbananmu."
"Aku tak bisa menjanjikan apa-apa, Pah. Cukup jalani saja apa yang sudah digariskan oleh-Nya. Dan maaf juga jika aku belum sempurna dalam melayani papa."
"Jangan dipikirkan. Aku akan selalu sabar menunggu lukamu sembuh. Aku janji, tidak akan melepaskan tangan ini dari genggamanku lagi." Angga semakin mempererat genggaman tangannya.
Nisa tersenyum samar, kemudian menjatuhkan kepala di dada sang suami. Memejamkan mata, mencari getaran-getaran yang dulu pernah mereka rasakan.
__ADS_1
Tamat