
Sejak kejadian kemarin, suasana kerja di kantor terasa sedikit canggung. Bukan hal mudah, untuk bersikap biasa saat harus berpapasan dengan sosok yang telah menanam benih di rahim ini.
"Nis, dipanggil boss," kata Mona di sampingku.
Aku berdecak kesal.
"Kenapa? Apa dia kurang ganteng, sampai wajah dilipat begitu?" bisik Mona membuatku geli.
Aku mengangkat bahu, pura-pura acuh. Melangkah malas ke ruangan Dewa.
Tok, tok!
[Fokus Nisa, fokus! Dia hanya masa lalu! Abaikan dia!]
"Permisi Pak!" kataku. Dewa bangkit dari duduk, melangkah menutup pintu yang sengaja kubuka.
"Duduk! Biasakan menutup pintu, bila masuk ruangan saya!" katanya dingin.
Aku menarik napas dalam-dalam, melihat sikapnya. Namun, bukankah itu jauh lebih baik, dari pada setiap saat mengusikku? Segera menarik kursi dan duduk menunggu perintah.
"Halo Reina, saya lagi membahas laporan bulan kemarin dengan Nisa. Tolong jangan ada yang mengganggu."
Aku mendelik menatapnya, tak terima apa yang dia baru katakan kepada sekretarisnya.
Meletakkan telepon, duduk di pinggiran meja kerja dengan mata yang tajam menatapku.
"Apa yang Bapak inginkan?"
"Tolonglah, saat ini jangan memanggilku dengan sebutan itu! Panggil saja seperti kemarin, saat di apartemen."
Aku bergeming, memainkan ujung blazer.
"Nisa, tolong jangan bersikap begini lagi. Susah payah saya mencarimu. Nomer diblokir, bahkan akun sosmed pun kamu blok!"
[Mencari? Buat apa mencariku?]
__ADS_1
Dia menggeser duduknya, memangkas jarak antara kami. Aku berdiri merasa tak nyaman, membalikkan badan hendak menjauh. Lekas tangannya menarik lengan ini. Meraihku dalam rengkuhannya.
Aku meronta, tapi rengkuhannya semakin kuat. "Tolong diamlah sejenak. Semenit saja. Saya merindukanmu."
Deg!! Hati ini kembali berdesir, [sadar Nis, dia sudah memilki Wanda!] Lirihku dalam hati.
"Terima kasih sudah mengakui kalau anak itu, anak kita." Dia melonggarkan pelukannya. Lekas aku mundur beberapa langkah.
"Kenapa tidak memberitahuku, Kalau waktu itu kamu hamil."
"Buat apa? Untuk mengharapkan belas kasihmu, agar tidak meninggalkanku. Sementara seluruh dirimu, hanya memikirkan Wanda?"
"Saya minta maaf."
"Minta maaf karena sudah meniduriku. Tidak, itu bukan salahmu. Aku yang salah, mengapa mau jatuh dalam pernikahan palsu. Sudah tahu akan berpisah, masih rela juga tidur bersama." Tak bisa kubendung lagi isak diri ini.
Dewa menengadahkan kepalanya, netranya sedikit berair. Namun, lekas dia berbalik. Kedua tangannya bertumpuh pada meja.
"Sudahlah Pak, kita jalani hidup masing-masing seperti sebelumnya." Kuambil map yang dari tadi kubawa. Berjalan kearah pintu.
Berdiri lama depan pintu. Bagaimana harus bersikap saat ini? Mengingat dua tahun lalu, sungguh membuat hati terasa sakit. Aku tahu dia tak pernah mencintaiku, aku sadari itu. Dewa sudah memiliki Wanda sejak lama. Namun mengapa masih nekat melampiaskan hasratnya kepadaku. Sungguh, setelah itu dengan mudahnya dia menalakku. Hari-hariku bagai merasa sebagai ******* yang menjijikkan, hingga kehadiran El yang merubah segalanya.
Aku keluar ruangan, melangkah ke toilet bukan ke meja kerja. Sekuat tenaga menahan isak, agar mata tidak sampai bengkak. Terdiam sesaat, sebelum memperbaiki make up sebisaku.
\=\=\=
Pov Dewa
Ben Elard, sebuah nama yang bagus untuk seorang anak lelakiku. Namun, ada rasa nyeri mendengarnya. Sepertinya Nisa sengaja tak mencantumkan namaku di sana. Wajar saja mengingat luka yang telah aku torehkan di hati dan hidupnya.
Dengan mata yang berkaca-kaca, dia melangkah meninggalkanku, yang baru saja mengucapkan kata talak kepadanya. Kupandangi hingga punggungnya memasuki kendaraan online yang sudah menunggu.
Ibu murka mendengar penjelasanku, saat melihat Nisa mengemasi barangnya. Dia memeluk ibu erat sekali, seolah menumpahkan semuanya pada ibu walau tanpa bersuara. Hanya air mata yang terus mengalir, sebagai penjelasannya.
"Kau luar biasa, Dewa! Saya tidak pernah membesarkanmu untuk merendahkan wanita! Kau sudah menikmati segalanya dari Nisa! Lalu kau ...." Ibu menangis, mewakili sakit hati menantu kesayangannya.
__ADS_1
"Seandainya dia hamil, apa yang akan kau lakukan!"
Dan di sinilah aku, menatap langit-langit kamar dengan rasa bersalah yang menghimpit.
"Ingat perkataan ibu ini, jangan harap restu dariku jika kau membawa Wanda sebagai istrimu!"
Entah mengapa ibu begitu membenci Wanda. Dia mengeraskan hatinya untuk masalah ini.
Aku tak bisa membayangkan bagaimana reaksi mama, kalau dia tahu Nisa sudah melahirkan seorang cucu untuknya.
\=\=\=
Pagi itu aku memasuki kantor seperti biasanya. Ketika berpapasan dengan Nisa, dia hanya mengangguk sejenak, sambil melirik sekilas. Dia nampak biasa dan berbicara seperti biasa. Sama sekali tak membahas masalah kemarin.
Sering aku melihatnya membawa bekal, tentu saja untuk menekan pengeluaran selama di ibu kota. Nisa bukanlah dari keluarga tak mampu, tapi dia tipikal yang enggan menyusahkan orang lain.
Pilu kembali menghujam dada. Kesalahanku sungguh fatal. Aku tersenyum getir. Selama tiga bulan menjalani kehidupan pernikahan, yang kupikirkan hanya bagaimana cara berpisah.
Sungguh menyedihkan, kala mengingat kebodohanku. Bahkan ketika mengetahui tak satu pun keluarganya yang menghubungi kami, karena kehadiranku sudah tak penting lagi.
Entah bagaimana lagi, aku harus menghadapi Nisa. Masihkah El mencari sosok papa yang sudah tergantikan ini.
Kutekan kedua netra, agar tak ada air mata penyesalan yang lolos. Aku yang pergi, malah aku yang merasa paling terluka.
Aku menyalakan ponsel di meja. Melihat foto mantan istri yang akan kurebut kembali.
\=\=\=
Bagaimana kisah mereka selanjutnya? Akankah Dewa berhasil merebut hati Nisa dan El? Ataukah ada sosok lain, sebagai gantinya?
Bersambung
🌷🌷🌷🌷🌷
Please tinggalkan jejak like, komentar atau apa saja, untuk menyemangati author 😁😍🙏🙏
__ADS_1