
Ponsel berdering saat Nisa baru selesai mandi. Tertera nama 'Duda Mesum' di layar. Diletakkan kembali benda pipih tersebut, tak ada niat untuk menjawabnya. Jatuh cinta terlalu pelik buatnya. Apalagi pada lelaki yang berhasil mengoyak-oyak hatinya. Meski takut, cemas, ingin berlari sejauh-jauhnya saat bertemu Dewa dan tak ingin bertemu lagi. Namun, mengapa sampai sekarang dia tak bisa melawan sorot mata tajam itu? Apakah hatinya masih menyimpan asa?
Nisa kembali tersentak kala ponselnya kembali berdering. Kali ini panggilan video call dari Dewa. Perempuan itu mengacuhkan, mencoba menutup mata, beristirahat.
Sementara di sana.
Dewa berjalan mondar-mandir di balkon, tempat favorit sang mantan istri. Dongkol. Tak satupun panggilan darinya digubris, ingin rasanya saat itu juga berada tepat di hadapan Nisa. Helaan napas terasa berat, dia hanya bisa berdoa dan berusaha, agar perempuan itu luluh, mau menerimanya kembali.
Dewa kembali mengirim pesan WA untuk perempuan yang akhir-akhir ini memberikan rasa Nano-nano di hati.
[Assalamu alaikum, cinta sejatiku, napas hidupku, yang selalu wangi sepanjang musim. Teleponnya kok, nggak diangkat? Sudah tidur ya, bidadari surgaku?]
Hening. Nisa belum juga tergerak untuk membaca pesan. Lelaki itu mendesau lesuh. Tak ada satupun pesan masuk dari sang mantan. Bahkan pesannya, belum terbaca sama sekali.
Dia bersiap untuk tidur. Berharap ada keajaiban saat dirinya membuka mata esok.
\=\=\=
Angga membelalakkan mata saat melihat ke layar bel pintu. Nampak Dewa sedang menunggu, dirinya membuka pintu apartemen. "Ada apa dia kemari?" desisnya heran.
Lekas dia membuka pintu tersebut, "Ada apa yah?"
Dewa menyeringai, "Bisa bicara sebentar, Bro?"
"Masalah apa?"
"Tentang Nisa, nggak pakai kekerasan. Saya janji," kata Dewa, tangannya terangkat dengan mengacungkan dua jari.
Angga terdiam sejenak, "Tunggu saya di coffee shop bawah, sepuluh menit lagi."
"Ok, saya tunggu." Dewa memutar badan menuju lift.
.
.
"Ada apa dengan Nisa?" tanya Angga saat pelayan pergi, setelah membawakan pesanan mereka.
"Dia baik-baik. Baiklah langsung saja. Anda sudah tahu bagaimana hubungan saya dan dia?"
__ADS_1
"Tahu, intinya bagi Nisa, hubungan Kalian sudah menjadi bagian dari masa lalunya." Kemudian Angga menyesap pesanan kopi Americano, seteguk.
"Sorry, kalau saya katakan ingin memulai kembali barsamanya. Ada El yang masih butuh kedua orang tuanya."
"Memang benar El butuh kedua orang tuanya, tapi tidak harus bersama kembali," sergah Angga.
Nyess ... seperti ada sesuatu yang menghantam hati Dewa.
"El masih bisa mendapat kasih sayang, bahkan bila kalian sudah memiliki keluarga masing-masing. Jadi saya nggak suka, bila kalian bersama hanya karena El. Sebab tidak menutup kemungkinan kesalahan masa lalu akan kembali berulang," lanjut Angga.
"Jadi?" tanya Dewa.
"Saya tahu kemana arah pembicaraan ini. Begini daripada bertele-tele, saya beritahu. Mari sama-sama berjuang untuk perasaan yang kita miliki dan biarkan Nisa sendiri yang menentukan kemana hatinya akan berlabuh. Tak perlu pakai cara intimidasi, karena biasanya yang tulus, yang akan bertahan."
"Jadi, Anda masih mau berjuang?" tanya Dewa.
"Yup, sudah kepalang tanggung. Bagaimana?"
"Huft, saya pikir ... ya sudah, saya sependapat dengan Anda. Kita berjuang dengan jujur, ok!" Meskipun sedikit jengkel karena Angga tidak mau mundur, tapi dia tetap respect pada lawan bicaranya, hingga mereka harus berpisah.
\=\=\=
Memang biasanya Angga akan menelepon, bila akan menuju kost. Memastikan apakah perempuan itu bersedia berangkat bersama-sama.
"Beginilah nasib orang kesiangan," lirihnya. Gegas dia berjalan setengah berlari, keluar dari kamar kost.
"Assalamu alaikum," sapa seseorang.
"Waalaikum salam, Mas Angga!" jawab Nisa terkejut melihat lelaki itu duduk di bangku semen depan pagar kost.
"Ayo, buruan. Telat kan?" Serta merta menarik tangan Nisa yang masih bengong masuk ke dalam mobil.
"Kok, Mas tahu, aku masih di kost?" tanya Nisa saat telah berada di dalam mobil.
"Gampang, tinggal telepon Mona. Tanya kenapa temannya itu tidak menjawab telepon saya? Ya sudah, dia ceritakanlah semua."
Wajah Nisa bersemu merah, tersipu.
"Mengenai Drakor, Mona ceritakan juga?"
__ADS_1
"Yang mana? Apa mengenai, nonton Drakor sampai jam tiga dini hari?"
Nisa menutup kedua mukanya dengan telapak tangan, "Duh, Mona bener-bener tuh anak!"
"Kenapa mesti malu?"
"Hehehe, nanti nuduh aku fans panatik. Padahal, kan ...."
"Padahal iya," potong Angga cepat.
"Tuh, kan! Ishh ... Mona!"
Angga terkekeh melihat perempuan di sampingnya.
"Nis, ntar malam saya jemput ya?"
"Mau kemana?"
"Ehm, pengen jalan saja. Agak suntuk, kerjaan makin buayak. Nisa maunya kemana?"
Perempuan itu hanya menggeleng tak tahu.
"Kita nonton saja, sesuaikan dengan hobimu. Bagaimana?"
"Heheh, insya Allah, Mas."
"Ok, saya jemput jam tujuh, nanti malam."
"Hu'um," jawab Nisa. Dia mengalihkan pandangan ke jendela samping mobil.
.
.
Bersambung
🌷🌷🌷🌷🌷
Please tinggalkan jejak like, komentar atau apa saja. Untuk mhenyemangati author 😁😍🙏
__ADS_1
Terima Kasih