JODOHKU TUAN DUDA

JODOHKU TUAN DUDA
Permintaan Nisa


__ADS_3

Setelah cuti selama tiga hari, aku kembali menjalani rutinitas seperti sebelumnya. Bekerja. Meskipun demikian, saran dari bang Naresh dan mbak Nindi tetap aku pertimbangkan.


 


Berhenti bekerja bukan saran yang buruk, tapi juga harus dengan pemikiran yang matang. Andai saja bisa membaca masa depan, mungkin tak perlu berpikir lagi.


 


Jika dalam takdirku, terjalin jodoh dengan Angga, sudah pasti memilih resign secepatnya. Toh, insya Allah masalah meteri bukan sesuatu yang memberatkan bagi pengusaha muda itu.


 


Namun, sekali lagi manusia hanya bisa merencanakan, Tuhanlah yang akan menentukan. Dan mengenai masa yang akan datang, tak ada seorang pun yang dapat mengetahuinya dengan pasti.


 


Jangan sampai, hanya karena mementingkan perasaan semata, hak dan kewajibanku terhadap El, terabaikan. Masa depannya bukan hanya ada prioritas, melainkan ada sebuah tanggung jawab sebagai orang tua.


 


Aku menghela napas pelan, memikirkan hal ini sembari berjalan santai menelusuri lantai keramik menuju ruangan divisi marketing.


 


Suasana kantor masih sepi, hanya ada office boy dan office girl yang terlihat sibuk membersihkan di setiap ruangan.


 


Pintu ruangan Dewa terbuka, saat aku lewat. Entah OB atau OG yang sedang bertugas merapikan di sana. Santai saja, nggak mungkin dia datang sepagi ini. Mau apa coba?


 


Kuletakkan tas dalam laci meja kerja. Baru saja menekan tombol power CPU, seorang OB menghampiriku.


 


"Ada apa? Bilik saya belum dibersihkan?" tanyaku terlebih dahulu.


 


"Sepertinya sudah, Mbak. Soalnya tadi saya lihat teman saya sedang mengerjakannya," jawabnya tak tenang.


 


"Trus, ada apa?" Heran melihatnya gelisah.


 


"Anu Mbak, pak Boss kenapa ya?"


 


Aku mengeryitkan dahi, "Nggak kenapa-napa sepertinya. Lagian saya nggak tau apa-apa, soalnya kami tidak tinggal serumah."


 


"Aduh Mbak, pagi-pagi sudah bercanda. Itu lho Mbak, pak Boss diam terus di ruangannya. Saya panggil-panggil, nggak ada jawaban," terangnya.


 


[Apa? Dia sudah datang?]


 


"Yang benar? Masa sih, nggak nyahut dipanggil. Salah manggil kali. Ada caranya sih, manggil pak Boss."


 


"Aduh, kok, saya baru dengar? Caranya?"


 


"Bawain ketan putih, telur dan ayam cemani."


 


"Astagfirullah! Istigfar, Mbak! Pak Boss masih hidup, masa mesti manggil jiwanya, hadeww."


 


Aku terkekeh mendengar celutukannya.


 


"Udah ah, ayo kita lihat dia," ajakku seraya beranjak dari kursi. Kemudian berjalan menuju ruangan Dewa.


 


Terlihat Dewa tengah mendengarkan sesuatu dari headset yang terpasang di telinga. Mata terpejam, kedua kakinya diletakkan di atas meja, dengan tangan melipat di atas perut. Wajahnya terlihat manis dalam kepolosan.


 


"Tolong buatkan teh hangat untuk dia, yah," pintaku pada OB tersebut.


 


"Sekarang, Mbak?"


 


"Enggak, tunggu dua kali puasa, dua kali lebaran. Ya sekarang, Bang Toyibb," ucapku sedikit kesal.


 

__ADS_1


Tanpa menjawab lagi, OB tersebut segera meninggalkanku menuju pantry untuk membuat secangkir teh.


 


Tinggallah aku yang bingung bersama Dewa, yang entah sedang tertidur atau malah pingsan. Kuatur napas yang masih tersengal karena kesal terhadap OB tadi.


 


"Pak, Pak, bangun," ucapku dari jarak tiga langkah dari tempatnya. Namun, dia bergeming. Mungkin kurang dekat.


 


Aku mendekat ke arah Dewa. Memiringkan kepala melihat wajah tampan yang tengah terpejam. Napasnya naik turun dengan teratur seperti orang tertidur. Akhirnya aku berjongkok di dekatnya.


 


"Bangunin apa kelonin, yah," ucapku dalam hati. Astagfirullah! Aku mencubit pipi sendiri, takut khilaf.


 


Kutatap lekat wajah tegasnya. "Andai saja dulu dia peka terhadap perasaannya. Mungkin sekarang masih kelonan di rumah." Kupukul mulut pelan, nggak ada akhlak! Pagi-pagi sudah ngeres!


 


Sudah ah, bagunin cepat! Sebelum ada yang melihat. Tetapi tangan ini, tak melakukan apapun.


 


"Kak, berhentilah mengejarku. Saya sudah bertunangan. Nggak perlu mengkhawatirkan saya dan El, insya Allah kami baik-baik saja. Mas Angga, kan, tajir," ucapku pelan seraya tersenyum.


 


Berdiri, tapi seketika membeku. Kala sebuah tarikan menahan lengan ini dan membuatku berjongkok kembali.


 


"Di sini dulu, sebentar lagi," ucap Dewa dengan mata yang masih terpejam.


 


Aku menelan ludah, tenggorokan serasa nyeri. Wajah serasa kebas, kaku.


 


"Kakak, nggak tidur?" Kupaksakan untuk bertanya, walau jawabannya sudah bisa tertebak.


 


"Anggap saja tidur." Lagi, berbicara tanpa melihatku.


 


Kusentak tangan ini cengkramannya. Kemudian memukul-mukul lengannya. Dewa membuka mata, tertawa kecil seraya melindungi lengan dari amukanku. Kemudian menarik kaki turun dari meja. Melepas headset.


 


 


Dewa berjalan mendekatiku seraya tersenyum, "Coba setiap hari begini terus, pasti nggak pernah mau minta cuti."


 


"Bodoh, ah." Aku mendecak, mengerucutkan bibir.


 


"Bodoh-bodoh gini, tapi minta dikeloni," sindirnya mengulum senyum.


 


Sial! Sial! Kenapa ini terjadi padaku! Merah padam, muka ini. Kutulikan telinga, membalik badan dan lekas pergi dari ruangan itu. Meskipun malu teramat sangat, tapi hati kecil tersenyum bahagia. Tak tau mengapa, kini ada deyar-deyar halus bila berdekatan dengannya.


\===


Saat jam istirahat tiba, hanya tersisa lima orang dalam ruangan termasuk aku. Dewa datang mendekat dengan menenteng sejumlah map.


 


"Nggak istirahat?" tanyanya.


 


"Bentar lagi, Pak. Saya bawa bekal sendiri."


 


"Mau makan siang sama-sama?"


 


Sebenarnya mau banget, tapi saat ingat status dan melihat cincin yang tersemat di jari, membuatku lemas seketika.


 


"Nggak usah, Pak. Terima kasih."


 


"Ok, pesan online saja. Sama-sama makan di kantor," ujarnya beranjak pergi sebelum aku sempat mengucapkan kata, iyess! Ehh, tidak, maksud saya.


\===


Pov Author

__ADS_1


 


Sekitar dua puluh menit kemudian, saat dalam ruangan hanya tersisa aku dan seorang OB. Nampak dari jauh, seorang kurir berjalan masuk ke dalam ruangan Dewa. Mungkin membelikan pesanannya.


 


Tak berselisih lama, terlihat Angga sedang berjalan ke arah bilik tunangannya. Nisa terkesima kelihat, sosok lelaki tampan dan dewasa tersebut ada di sampingnya.


 


Rupanya kedatangan Angga setelah perjalanan bisnisnnya, tak diketahui sebelumnya oleh Nisa. Hingga membuatnya sedikit kelagapan.


 


"Kenapa bengong, Dek?" tanya lelaki bertubuh atletis itu.


 


"Nggak kenapa-napa, Mas. Datang kok, nggak ngabarin dulu."


 


"Biar suprise saja. Temani makan siang, Dek."


 


"Hu'um. Ayo, Mas. Kebetulan belum makan juga," jawab Nisa sumringah.


 


Setelah membereskan peralatan di atas meja, lalu mengambil tas dalam laci. Keduanya berjalan beriringan. Sesekali Angga melemparkan canda yang membuat Nisa terkekeh. Sungguh hubungan yang harmonis.


 


Saat melewati ruangan Dewa, ekor mata Nisa menangkap sosok sang mantan. Rupanya di saat yang sama, Dewa sepertinya ingin menemui Nisa untuk memberikan sekotak makan siang.


 


Saat mata mereka beradu, ada kesedihan dan rasa cinta yang menyatu di sana. Lekas Nisa mengalihkan pandangannya. Sementara Dewa turus berjalan hingga berada di ambang pintu.


 


Kepalanya menyembul keluar, memperhatikan pasangan itu, hingga hilang di pelupuk matanya.


 


[Sakit tapi tak berdarah. Seperti inikah rasanya,] gumamnya dalam hati. Dengan berat hati membuka kotak makanan yang tadi dia pesan. Membuka, kemudian melahapnya.


 


\===


 


Sementara itu, meskipun Angga membawanya ke sebuah restoran mewah, tapi Nisa merasa ada kurang dan tak nyaman di hatinya.


 


"Apa Mas,akan sibuk belakangan ini?" tanya Nisa berusaha tenang.


 


"Sepertinya biasa saja? Ada apa, Dek?"


 


"Ehmm, kalau ditambahin ngurus acara pernikahan nikah kita, apa Mas, masih sanggup?"


 


"Maunya sih\, bulan ini. Tapi sepertinya ___"


 


Angga tersedak, mendengarkan Nisa mengucap seperti itu. Tangannya menyambar gelas yang berisi air putih, menyesapnya separuh.


 


"Dek, jangan bercanda, dong." Dia menatap lekat di mata sang tunangan. Mencoba mencari kejujuran dalam netra bulat itu.


 


"Nggak Mas. Kita nikah bulan ini ya?"


 


Angga menelan ludah, gugup sepertinya.


.


.


Bersambung


 


Please tinggalkan jejak review, star atau apa saja, untuk menyemangati author labil ini.


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2