JODOHKU TUAN DUDA

JODOHKU TUAN DUDA
Niat Angga


__ADS_3

Alisnya yang tebal terangkat satu. Tajam mata elang itu menatapku tak berkedip, menunggu sebuah jawaban.


Aku masih bergeming.


"Asal kamu tau, bukan sekali ini saya melihat anak itu. Ini yang kedua kalinya!"


Deg! Apa yang harus aku katakan? Haruskah berkata jujur?


"Ingat Nis, dosa memutus tali silaturahmi. Apalagi ...." Dia berhenti berbicara.


Terdengar derap langkah tak beraturan, disertai suara canda beberapa orang. Kulirik jam yang menempel di dinding, pukul satu siang. Jam istirahat sudah habis.


Dewa melangkah menjauh saat beberapa rekan, memasuki ruangan. Aku bernapas lega. Untuk saat ini masih bisa menghindar, tapi bagaimana dengan hari-hari selanjutnya?


Mona datang, "Mon, aku sholat dulu. Tadi ngerjain laporan, sampai lupa waktu, jadinya begini. Tolong ya kalau ada telepon."


"Ok, silahkan."


Gegas melangkah meninggalkan ruangan, menuju mushola.


\=\=\=


Titt, titt!


Bunyi klakson mobil mengangetkan aku dan Mona, yang baru saja dari belanja perlengkapan mandi di warung persimpangan jalan.


Seseorang turun dari mobil Fortuner berwarna putih. Erlangga berjalan ke arah kami.


"Hai Nis, assalamu alaikum," kata Angga. Membuka kaca mata hitam yang dia pakai.


"Waalaikum salam, sudah lama Mas, di jalan itu?" tanyaku.


"Nggak juga? Mungkin sekitas lima belas menit."


"Ya lamalah itu, maaf Mas. Kenapa nggak menelfon dulu."


"Sudah, tapi nggak diangkat."


"Iya, ponselku ketinggalan di kamar. Oiya, kenalin teman kantor, sekaligus tetangga dan sahabat."


Mereka pun berkenalan. "Tamunya nggak diajak masuk, Nis?" tanya Mona.


"Nggak Mon, nggak enak sama tetangga yang lain. Duduk di sini, boleh Mas?" Aku menawarkan duduk di bangku semen, depan pagar kontrakan.


"Bolehlah, masa nggak bisa," katanya seraya mendudukkan diri.


"Aku masuk duluan Nis, Mas. Kalian silahkan lanjut."


Mona memutar badan, meninggal kami berdua.


"Ada perlu apa, Mas, sampai harus kemari?"


"Nggak enak ngomongin itu di sini. Kita keluar, mau?"


Sebenarnya saat ini malas keluar, inginnya istirahat saja di kamar. Namun, demi menghargai Angga, kuiyakan saja ajakannya.


Angga kembali ke dalam mobil. Menungguku untuk bersiap. Mona dengan sigap membantuku berdandan, tentu dibarengi segala macam candaannya.


"Ayo Nis, pikat dia dengan pesonamu."


"Apaan sih."

__ADS_1


"Sudah, jangan pura-pura cuek atau nggak mau. Saya saja kalau nggak ingat dengan mas Dwi, sudah kukejar Angga."


"Awas ya, ntar kurekam lho, lalu kirim ke mas Dwi."


"Jahat begitu. Tapi coba pikir lagi, siapa coba yang nggak mau sama Angga? Muda, cakep, sukses dan tajir. Ckck rugi nolak, jodoh unggulan seperti dia."


Aku menggeleng mendengar celotehnya. Kuraih sling bag hitam, yang tergantung di belakang pintu. Kutarik lengan Mona. Mengunci pintu.


"Pulangnya jangan kelamaan ya. Baru jadian nggak usah macam-macam," bisiknya.


Kucubit pinggangnya, dia tergelak. Segera melangkah meninggalkannya. Angga tersenyum melihatku, menghampirinya.


"Mau kemana, Nis?"


"Nggak tau Mas, terserah saja."


"Sudah makan?"


"Makan siang sudah, malam belum. Rencananya tadi mau buat mie goreng sama Mona."


"Wihh, enak dong. Siapa yang masak? Mona atau Nisa?"


"Aku Mas, maklum sudah jadi ibu-ibu. Harus bisa masak untuk El." Ada getir yang kurasa saat mengatakan itu.


"Kalau begitu kita makan dulu. Biar kuat menghadapi hidup ini."


Aku menatapnya sekilas, lalu tersenyum. Dia menghentikan mobil di sebuah restoran masakan padang. Membuka pintu dan mengajak turun.


"Masih suka makan nasi, kan?" tanyanya.


"Iya, memang kenapa?" tanyaku polos.


"Rata-rata sekarang banyak yang beralih ke roti, sebagai makanan pengganti nasi."


Sepertinya Angga kelaparan, beberapa lauk yang terhampar di piring kecil, sudah lolos ke dalam lambungnya. Sedangkan aku hanya menyantap nasi dengan lauk rendang saja.


Selesai makan dia membawaku, mampir ke sebuah cafe yang menyuguhkan life music akustic.


"Mas, janji penjelasan tempo hari, bisa di tebus sekarang."


Dia menatapku, kemudian tersenyum.


"Harus janji dulu, ini hanya antara kita berdua. Tidak boleh melibatkan siapapun selain saya dan Nisa. Bagaimana?"


Aku mengerutkan dahi tak mengerti. Namun, sejurus kemudian aku mengiyakan permintaannya.


"Boleh, aku janji nggak akan melibatkan orang lain. Selain aku dan Mas Angga."


"Satu lagi, nggak pakai acara ngambek-ngambekan."


Aku mengerucutkan mulut, tapi tetap kembali menganggukkan kepala, sebagai tanda persetujuan.


"Baiklah, saya mendapatkan nomermu dari bang Naresh. Begitu juga dengan umur Nisa."


"Kenapa? Apa dia bermaksud menjodohkan kita?" Ada kesal di hati. Namun, aku mencoba tenang mengingat janji yang baru saja terucap.


"Bukan dan salah. Naresh tidak pernah berniat menjodohkan kita. Apa kamu benar-benar tidak ingat siapa saya, Nis? Coba perhatikan baik-baik wajah saya."


Aku menatapnya sekilas. Lalu menunduk melihat gelas kopi di depanku. Tak ada sedikitpun memori yang tertinggal dari orang yang beberapa hari lalu aku kenal.


"Maaf Mas, aku nggak ingat sama sekali."

__ADS_1


Dia menghembuskan napas perlahan.


"Pertama kali kita bertemu saat di depan pintu lift, apartemen *** Nisa menabrak saya. Ingat?"


Apartemen? Seumur hidup ini, hanya saat bersama Dewa, bisa merasakan tidur di bagunan itu. Tombol playback tersentuh sendiri, saat nama lelaki itu terlintas di benak, seperti sekarang.


"Mungkin itu memang terjadi, tapi maaf Mas, sama sekali nggak ingat."


"Ya jelas tidak Nis, saat menabrakku, Nisa hanya menuduk kemudian berlalu, setelah berkata maaf."


Angga menyesap kopi Ristretto, di gelas kecil. Sebelum melanjutkan penjelasannya.


"Setelah itu, sempat beberapa kali kita berpapasan saat menuju minimarket di bawah. Itu berlangsung hanya sekitar tiga kali. Setelah itu, saya tidak pernah bertemu denganmu lagi."


"Kemudian ketemu Naresh, abangmu yang juga teman saya dan tanpa segaja aku melihat foto profil WA saat dia menghungimu. Dari situlah semua bermula."


Aku menarik napas dalam-dalam. Nggak tau harus berkata apa. Hening, hanya suara suasana cafe yang terdengar.


"Bagaimana dengan ulang tahun El, sudah dipikirkan?"


Aku menggeleng lemah. Masih terlalu dini untuk menggelar sebuah pesta Ultah. Dia belum mengerti.


"Kayaknya syukuran saja Mas, bagi-bagi nasi tumpeng untuk tetangga sekitar. Dia masih kecil, belum mengerti apa-apa."


"Boleh aku ikut datang?"


"Dengan senang hati."


Dia tersenyum. "Pulang bareng, ya? Nanti saya ijin sama Naresh. Bagaimana?"


"Asal abang bilang 'iya', aku tidak keberatan."


"Syukurlah. Ehm sudah malam, pulang yuk. Nggak enak anak perempuan, kelayapan tengah malam."


Aku mengangguk senang. Angga betul-betul dewasa.


Segera kami masuk ke dalam mobil, setelah urusan dengan kasir selesai.


"Nis, bisa saya mengenalmu lebih jauh?"


"Mas, bisa bertanya kepada bang Naresh."


Dia terkekeh. "Bukan seperti itu, saya ingin suatu saat kita bisa lebih dari sekedar teman."


Deg!! Apa-apaan ini. Mengapa hatiku bergetar. Kemana perginya trauma yang selalu mengikutiku.


"Mas, nggak malu berteman dengan janda beranak satu?"


Kembali dia terkekah.


"Apa yang salah, selama dia beriman dan saling mencintai? Tenanglah saya tidak memaksa Nisa. Kita pelan-pelan saja, saling mengenal satu sama lain."


Entah mengapa ada sejuk di hati. Namun, buru-buru aku menyadarkan diri. Harus sadar siapa aku dengan status ini.


\=\=\=


Bagaimana kelanjutan kisah Nisa, Dewa dan Angga?


Yuk jangan bosan menunggu episode selanjutnya yah 😙🙏


Bersambung

__ADS_1


🌷🌷🌷🌷🌷


Please tinggalkan jejak like, komentar atau apa saja, untuk menyemangati author 😁😍🙏🙏


__ADS_2