
Pradipta benar-benar sakit hati diputus sepihak oleh Angga. Ia ingin memberitahu pada dunia, cintanya terhadap suami orang bukanlah main-main. Semakin besar ia melakukan tindakan balas dendam, semakin terlihat betapa luas asa yang telah dipersembahkan untuk Angga.
Tak hanya menghancurkan hubungan Nisa dan Angga. Pradipta menyasar kemarahannya pada orang tua Angga. Pria itu mengirimkan video mesum mereka pada Ayah Angga.
Tentu saja hal tersebut memicu jantung lelaki matang itu berdenyut lebih cepat, ketika mengetahui siapa pemeran dalam video yang dikirim oleh Pradipta. Darahnya menggelegak, membuat dadanya terasa panas. Dengan tertatih ayah Angga masuk ke dalam kamar mandi, entah apa yang ingin ia lakukan. Mungkin saja perutnya terasa mual, setelah melihat adegan tidak senonoh dalam video itu dan ingin memuntahkannya.
Namun, karena konsentrasinya tak lagi fokus, serta emosi yang masih menguasai pikirannya, mertua Nisa terpeleset saat masuk ke dalam kamar mandi yang menyatu dengan ruang tidur utama. Kepalanya membentur dinding dengan keras.
Tak ada yang tahu saat ayah Angga terjatuh, ia baru ditemukan satu jam kemudian oleh istrinya sendiri, ketika baru saja pulang dari acara arisan.
Ketika tiba di rumah sakit, keadaan umumnya sangat buruk. Harapan hidup juga tipis, hingga dokter yang menanganinya berwajah murung dan tak berbicara banyak pada keluarga pasien. Pendarahan akibat trauma di kepalanya cukup parah dan harus segera di operasi saat itu juga.
Meskipun para dokter sudah bekerja semaksimal mungkin, serta para keluarga memohon dengan air mata. Namun, Tuhan-lah pembuat keputusan terakhir.
Mertua Nisa pergi tanpa sempat membuka mata lagi. Ia pergi membawa kesedihan, kekecewaan, dan kemarahan. Apa yang akan ia katakan, ketika Sang Pemilik Kehidupan saat menanyakan tanggung jawabnya sebagai orang tua Angga.
Angga bersimpuh di hadapan jenasah sang ayah, hatinya tercabik-cabik saat mengucap maaf. Rasa kehilangannya begitu dalam, saat orang yang penuh wibawa dalam hidupnya telah pergi selama-lamanya. Namun, yang lebih menyakitkan dari semua itu adalah, ketika tahu bahwa dirinya lah, pemicu kematian sang Ayah.
Seorang ART di rumah besar itu, memberikan ponsel milik almarhum pada Angga saat jenasah disemayamkan di rumah duka. ART itu tak bisa mendekati istri almarhum, hingga memutuskan untuk menyerahkan pada Angga.
"Maaf Tuan, tapi saya harus menyerahkan ponsel ini," ujar ART tersebut dengan pelan, khawatir mengganggu jemaah yang sedang melantunkan ayat-ayat suci.
Dan setelah mengecek benda tersebut, mengertilah Angga akan penyebab wafatnya sang ayah. Perih hatinya jangan ditanya lagi, sakitnya bagai ribuan cambukan cemeti yang mengenai kulit. Berdarah dan mencabik-cabik dagingnya.
Nisa tak tahu harus berbuat apa, tetapi ia terus berada di samping Angga. Menabahkannya walaupun hati sendiri masih terkoyak. Namun, Nisa harus menyingkirkan semua itu, saat melihat kesedihan di wajah suaminya. Ternyata Angga tak lebih menderita darinya.
***
__ADS_1
Kepergian sang ayah tiba-tiba, membawa pukulan tersendiri bagi ibu Angga. Ia menjadi jarang bicara dan enggan berkumpul lagi dengan kelompok sosialitanya. Wanita itu lebih suka mengurung diri dalam kamar.
Berkali-kali Nisa memohon pada ibu mertua, agar mau ikut tinggal bersama anak dan cucunya. Namun, selalu saja ditolak.
"Nggak usah, mama di sini saja. Di rumah ini, kenangan dan benda milik papa akan selalu membuat mama merasa dia masih hidup. Kalian tak usah mencemaskanku, papa pasti akan menjaga mama dari tempat yang berbeda."
Merinding tubuh Nisa mendengar ucapan ibu mertua. Namun, ia tak habis akal. Jika mama Angga tak ingin bergabung dengan keluarganya, maka Nisa lah yang akan sering mengunjunginya. Tiap hari ia sempatkan diri menemui mertuanya, walaupun tak lama, tapi Nisa akan selalu menampakkan diri di hadapan mertua. Menemaninya ngobrol walau hanya sebentar.
Namun, apapun yang dilakukan Nisa, tidak dapat mengembalikan keceriaan sang mertua. Badannya semakin kurus karena nafsu makan yang menurun. Mau tak mau Nisa dan Angga membawanya ke dokter.
"Kehilangan pasangan merupakan kejadian besar dalam hidup semua orang, namun efeknya akan lebih buruk jika pasangan meninggal mendadak," ujar dokter Efi.
"Stres akut juga dapat menyebabkan ketidakseimbangan di bagian sistem saraf pusat yang mengontrol detak jantung dan jalur elektris menuju jantung," tambahnya.
Untuk itu, dokter Efi berharap keluarga dapat menjaga dan memberi dukungan untuk mama Angga. Namun, lagi-lagi manusia hanya berencana, tapi Tuhan-lah Sang Penentu. Rasa kesedihan yang mendalam membuat penyakit kardiovaskular yang kambuh serta penyakit mental yangmenghampirinya.
***
Berbagai penderitaan menghampiri Angga, seolah-olah mereka datang untuk menghukum atas dosa demi dosa yang ia lakukan.
Dibalik kesedihannya, diam-diam Angga mencari jejak Pradipta. Ia ingin meminta pertanggung-jawaban mantan karyawannya tersebut. Angga bertekad akan menghadapi pria itu secara gentleman, siap menerima segala kemungkinan terburuk, asal tidak mengganggu keluarganya.
Namun, tak semudah itu mengendus jejak Pradipta di kota sebesar ini. Angga tidak tahu, Pradipta sudah meninggalkan negara ini. Ia membuat identitas palsu sebelum melangkah ke negara Australia. Segala rencana balas dendamnya ia buat dan kendalikan dari negara itu.
Hidup di negara orang tanpa paspor resmi, sudah pasti dicap sebagai pendatang gelap, membuat aktivitas Pradipta terbatas. Ia harus lihai menghindari polisi dan petugas imigrasi agar tidak tertangkap. Untuk menghidupi kebutuhannya, Pradipta kembali menjual dirinya! Bah ... sudah dijadikan profesi pula, kelainan sex-nya itu!
Pradipta tak peduli lagi akan dosa dan penderitaan Angga beserta keluarganya.
__ADS_1
"Ini belum seberapa, tunggu saya Angga! Kita akan segera bertemu!" ujarnya geram, sembari melempar pisau kecil ke arah foto Angga yang tersemat di dinding kamar.
***
"Apa?! Nggak masuk."
"Iya, Bu, sejak ibu pak Angga meninggal, beliau hanya ke kantor tiga hari. Setelah tidak masuk lagi."
"Sudah kalian hubungi ponselnya?"
"Sudah, Bu, tak diangkat. Padahal nomernya aktif. Pesan pun tidak pernah beliau gubris."
Nisa memijat kepalanya yang berdenyut tiba-tiba. Kemana suaminya? Padahal setiap hari Angga selalu keluar menggunakan setelan baju kantor seperti biasa. Memang Nisa tak tahu, apa Angga ke kantor atau tidak. Toh, pria itu sudah dewasa tak perlu lagi diintrogasi.
"Iya, nanti aku coba hubungi pak Angga."
"Tapi Bu, keadaan sekarang cukup mendesak. Saya membutuhkan tanda tangan Beliau hari ini. Jika tidak, kerjasama kita dengan Pt. Adi Karsa terancam batal."
Nisa mendengkus, separah ini kah, pekerjaan yang ditinggalkan Angga.
"Ok, ok, beri aku waktu lima belas menit untuk berpikir."
"Baik, Bu. Saya akan menghubungi ibu kembali, lima belas menit lagi," kata Jovanka di ujung telepon.
Nisa menghempas diri di atas sofa ruang tamu. Telepon Jovanka, sekretaris Angga, membuat ibu dua anak tersebut mendadak migran. Namun, ini bukan saatnya untuk mengeluh.
Meskipun gemas dengan sikap Angga yang abai terhadap tugas kantor, tetapi Nisa segera bertindak. Ia menyingkirkan masalah pribadinya, segera menghubungi penasehat hukum perusahaan. Meminta saran apa yang harus ia lakukan. Dan atas saran dari pengacara tersebut, untuk sementara hingga waktu yang tertentu, Nisa diangkat sebagai direktur pelaksana. Menggantikan Angga yang tidak peduli lagi terhadap tanggung jawabnya.
__ADS_1
Bersambung