
Rupanya, diam-diam Dewa mengikutiku. Saat dengan mas Angga ke butik untuk fitting gaun pengantin. Hal ini membuatnya nekat menemui kedua orang tuaku.
"Nis, Dewa ada di rumah," kata mamah di telepon dan itu sukses membuatku cenat-cenut.
\===
"Kenapa, Nis? Nggak biasanya di kost seharian. Mas Angga keluar kota lagi?" tanya Mona, Minggu siang itu.
"Dia ada. Cuma saya, malas keluar," jawabku lesu. Menekan-nekan remote televisi. Tanpa niat sedikit pun untuk menikmati acara yang disuguhkan di layar kaca itu.
Mona mengambil pengendali jarak jauh dari tangan ini. Kemudian menekan tombol power untuk mematikan televisi, yang kubeli dengan gaji pertamaku tersebut.
"Matiin saja, dari pada rusak." Lalu menaruh remote tersebut di atas nakas.
"Kamu lagi berantem sama masmu?" sidiknya kemudian.
"Nggak. Semua baik-baik saja." Aku menjawab dengan datar.
"Trus, Kamu kenapa, sih? Suntuk banget?" cecarnya.
Aku bergeming. Pikiranku masih tertuju pada telepon dari mamah, barusan.
"Ya sudah, kalau nggak mau cerita. Istirahat, gih, biar kembali fresh. Sore, saya ke sini lagi." Sepertinya Mona menyerah mengorek informasi dariku.
Dia beranjak dari tempatnya, hendak ke pintu.
"Bulan depan, saya dan mas Angga, akan menikah," ujarku.
Mona menghentikan langkahnya. Berbalik melihatku.
"Serius? Bulan depan, Kalian akan menikah?!" pekiknya seraya memberikan seulas senyum antara bahagia dan tak percaya.
"Selamat, ya, Nis. Jadi, tanggal berapa, Kalian nikah? Pestanya di sini atau di desa? Teman-teman dapat undangan semua, kan?" Memberondong dengan banyak pertanyaan. Mona menggenggam kedua tangan ini dengan antusias.
Aku yang semula acuh, melihat kebahagian sahabatku, akhirnya ikut tersenyum.
"Ayo dong, dijawab. Jangan cuma cengengesan saja. Ihh, sebell, deh." Dia pura-pura merajuk. Bibirnya maju setengah senti.
"Insya Allah, Mon, untuk semua pertanyaanmu."
Dia mengernyitkan dahi, menatapku lurus tanpa berkedip. Mungkin heran melihat ekspresiku.
"Kamu, nggak terpaksa, Kan, menikah dengan dia?" tanya Mona hati-hati.
__ADS_1
"Nggak sepenuhnya benar, nggak sepenuhnya salah. Saya yang meminta pernikahan di percepat," jelasku. Ada sesak, yang kurasakan.
"Lantas, mengapa Yang mulia, merasa Gegana?" Mona masih saja mencoba merayuku.
"Gegana?"
"Gelisa, galau dan merana, Zhayeng. Serius nih, kenapa mesti ada galau, diantara tarikan napasmu?"
Aku terdiam sejenak, sebelum akhirnya berkata, "Dewa, Mon. Semua ini saya lakukan, agar dia berhenti berharap untuk hidup bersama lagi."
"Kamu sendiri, bagaimana? Apa sudah benar-benar mengikhlaskan dia?"
"Kalau yang Kamu maksud soal rasa, sebenarnya belum sepenuhnya bisa menghapus rasa cinta ini. Tapi, hatiku juga belum bisa, melupakan segala perlakuannya. Bagaimana dengan mudahnya, dia mencampakkanku, seperti melepas pakaian yang melekat di badan."
Aku menjeda sejenak. Menghirup udara dalam-dalam.
"Kalau mengingat semua itu, sakit banget, Mon. Tapi, melihat dia beberapa waktu belakangan ini. Semangat dan kasih sayangnya buat El, membuatku luluh." Aku mengusap cepat, sudut mata yang terasa berair.
"Ah, sudahlah, Mon. Yang jelas, saya ingin hidup bahagia tanpa dibayang-bayangi masa lalu. Nggak terbayang, bila harus kembali bersama Dewa. Kenangan pahit yang dia berikan, pasti akan selalu mengikutiku selama bersamanya. Bahkan mungkin, suatu saat saya bisa berubah menjadi paranoid, saat tak melihatnya. Takut ditinggal lagi," paparku.
"Saya nggak tau mau ngomong apa, Nis. Sepertinya, yang Kamu lakukan, sudah dipertimbangkan baik dan buruknya. Kamu harus bertanggung jawab, apapun kelak hasilnya. Semoga ke depannya, nggak ada lagi galau diantara kalian," ujar Mona.
"Apa lagi?"
"Sekarang, Dewa ada di rumah. Entah apa yang dia katakan pada orang tuaku."
"Hadew, nekat juga dia. Sepertinya, Boss benar-benar menyesal, sudah nyakitin Kamu."
"Kalau itu, sih, biarkan saja. Asal tidak berhubungan dengan El, nggak masalah."
"Berhubungan dengan El? Maksudnya ... merebut paksa El dari tanganmu?"
"Hu'um, saya takut, Mon," akuku sungguh-sungguh.
Mona beringsut mendekat, merangkul dan menepuk punggungku. Akhirnya, air mata yang sedari tadi kutahan, kini telah menganak dan mengalir deras. Aku tergugu di pundaknya.
"Kamu tadi kuat nahan tangis, tapi giliran berbicara mengenai El, Kamu jadi cengeng."
Aku melepas rangkulan Mona. Menyeka air mata yang masih mengalir.
__ADS_1
"Mungkin semua ibu di dunia ini akan begitu, Mon. Bila berbicara mengenai anak mereka," kilahku.
"Sepertinya, sih. Eh, tapi, Kamu sudah menghubungi orang tuamu lagi?"
"Belum, kata mamah, dia akan menelepon bila ada yang tidak beres."
"Coba telepon, gih. Biar, Kamu bisa tenang," saran Mona.
Aku mengangguk, menuruti saran Mona. Lalu mengambil ponsel yang tergeletak di depanku. Segera menghubungi nomer mamah. Tak perlu menunggu lama, langsung tersambung dengan beliau.
"Dewa hanya menyampaikan permintaan maaf kembali dan juga memberitahu tentang perasaannya terhadapmu. Seandainya saja dia lakukan hal itu sebelumnya, mungkin mamah akan tenang, bila Kalian bisa bersama lagi."
"Dia baik, kok. Bahkan menyampaikan doa, agar Kamu dan Angga bisa hidup bahagia. Dia cuma ingin diberi kebebasan untuk bersama El. Mamah bilang, mengenai itu, sebaiknya Kalian bicarakan sendiri. Ajaklah Angga, bila ingin menemuinya, agar tidak ada fitnah yang mungkin akan timbul."
Seperti itulah hal penting, yang dikatakan mamah saat kami berbicara di telepon. Lega rasanya hati ini, kekhawatiranku ternyata tidak terjadi, alhamdulillah.
"Tuh, kan, nggak terjadi apa-apa. Kamunya saja yang terlalu parno sama Dewa," ucap Mona.
"Alhamdulillah, semuanya aman terkendali. Bisa tenang kembali." Akhirnya aku bisa juga bernapas lega.
\===
Beberapa hari kemudian, aku, mas Angga dan Dewa, bertemu bertiga. Selepas jam pulang kantor. Sesuai saran mamah, untuk membicarakan mengenai waktu buat Dewa dan El bersama.
Dan berkali-kali aku harus mengucap syukur kepada-Nya. Semua bisa berdiskusi dengan baik tanpa ada yang tersulut emosi. Akhirnya kami sepakat, untuk memberi waktu buat Dewa bersama El, pada hari Sabtu dan Minggu.
Dewa bisa membawa El ke rumahnya atau menemui mantan mertuaku, ibu Dewa.
Akhirnya, aku bisa tenang mempersiapkan keperluan pernikahan dengan mas Angga. Tak perlu lagi sembunyi atau mencuri waktu. Sebagai atasanku di kantor, Dewa memberikan ijin khusus untukku.
.
.
Seminggu lagi, jelang hari pernikahanku. Rekan-rekan kantor sudah mengetahuinya, melalui undangan yang aku sebar untuk mereka. Memang berita bahagia, hendaknya tidak disembunyikan, agar aura kebahagian bisa semakin terpancar. Juga menularkan rasa syukur dan senang kepada yang lain. Ini dibuktikan pada diriku sendiri.
\===
Pov Author
Didalam ruang kerja, Dewa menimbang-nimbang undangan yang baru saja Mona berikan padanya. Tertulis nama Nisa dan Angga di sana. Pikirannya kalut dan bingung. Beragam pertanyaan muncul di benaknya. Apakah dirinya harus datang sebagai tamu undangan? Mengapa bukan namanya yang tertulis dalam undangan?
.
.
Bersambung
Please tinggalkan jejak review, star atau apa saja, untuk menyemangati author labil ini.
__ADS_1